
Setelah menghabiskan waktu seharian bersama Jeri, Keyrani kini berada di kamarnya. Yang mana sejak tadi siang, Ray masih belum beranjak dari kamar tersebut dan memilih menunggu Keyrani di kamar tersebut.
"Jadi kapan Jeri akan pergi?" Tanya Ray menyandarkan kepalanya pada bahu Keyrani
"Besok. Aku akan mengantarnya ke bandara, kamu mau ikut?" Tanya Keyrani kemudian
"Besok? Sepertinya aku tidak bisa" Jawab Ray karena besok ia memiliki jadwal seminar
"Baiklah" Balas Keyrani tidak mempermasalahkannya
"Ayo tidur, kamu pasti lelah" Ujar Ray membaringkan tubuhnya begitu dengan Keyrani
Sejak berpacaran, sudah menjadi kebiasaan keduanya untuk tidur bersama. Bahkan meskipun Keyrani menolak, Ray akan diam-diam masuk ke kamarnya dan berbaring di sampingnya.
"Apa ini?" Tanya Ray tiba-tiba saat tangannya tanpa sengaja menyentuh anting Keyrani yang tampak sedikit aneh
"Oh, ini anting pemberian Jeri. Aku juga tidak tahu artinya apa, karena dia hanya memberiku satu anting-anting
Ray mengerutkan dahinya saat melihat anting Keyrani yang terlihat begitu aneh namun unik.
"Anting ini tidak bisa lepas" Ujar Ray memperhatikan anting itu lekat
"Iya?" Tanya Keyrani bingung dengan maksud Ray
"Iya. Anting ini hanya bisa dilepaskan oleh orang yang memasangnya. Sepertinya bukan sembarang anting" Ujar Ray sedikit paham mengingat dirinya sudah mengetahui keluarga Keyrani yang tidak sembarangan
Belum lagi, anting yang dipakai oleh Keyrani memiliki inisial keluarga Bryn. Yang mungkin tidak disadari oleh Keyrani. Karena Jeri yang belum menjelaskan secara detail identitas keluarga Keyrani yang sebenarnya.
"Apa ini ada hubungannya dengan kepergian Jeri? Mengapa ia baru memberinya? Mengapa bukan saat ia mengungkapkan identitasnya?" Batin Ray bingung dengan sikap Jeri yang selalu saja begitu misterius
...***...
Keesokan harinya, sesuai janjinya kemarin, Keyrani akan mengantar Jeri ke bandara. Ray yang memang memiliki jadwal hari itu, kini sudah pergi sejak pagi tadi. Mengisahkan Keyrani nyang masih membantu Jeri membereskan baju-bajunya.
"Hanya ini?" Tanya Keyrani pada Jeri saat membereskan koper Jeri yang hanya di isi dengan beberapa pakaian saja
"Iya. Aku tidak suka membawa terlalu banyak barang saat bepergian" Jawab Jeri memperbaiki pakaian yang dikenakannya
"Ayo" Ajaknya meraih tangan Keyrani, sementara tangan yang satunya menarik koper
__ADS_1
Keduanya kemudian keluar dari kamar, yang mana terdapat Rian di luar yang sudah menunggu keduanya.
"Rian?" Bingung Keyrani saat melihat Rian di depan kamar Jeri
"Iya. Aku sengaja menyuruhnya ikut, aku khawatir jika kamu pulang sendiri" Ujar Jeri yang kemudian di angguki oleh Rian
"Oh.. Kalau begitu ayo cepat. Nanti kamu terlambat" Ujar Keyrani kemudian
Ketiganya kemudian berangkat dengan mengendarai mobil Rian yang memang selama ini dibiarkan nya di parkiran.
Selama di perjalanan, Keyrani tak berhenti memeluk erat lengan Jeri "Jangan terlalu la disana, ingatlah untuk pulang" Pinta Keyrani lirih
"Iya. Aku bukannya akan tinggal disana" Balas Jeri "Kamu kenapa jadi manja begini sih? Keyrani yang dulu kemana?" Ujar Jeri mulai iseng
"Memangnya aku yang dulu kenapa?" Tanya Keyrani mengerutkan dahinya
"Keyrani yang dulu bukannya beran... " Jawab Jeri yang langsung terpotong karena Keyrani menutup mulutnya dengan tangannya
"Cukup. Aku tahu, tidak perlu mengatakannya lagi" Sela Keyrani mengerti akan sikapnya yang dulu yang suka seenaknya dan pastinya berandal
Karena dari sejak SMP dan SMA Keyrani sudah menjadi langganan masuk ke ruangan BK, melebihi murid laki-laki pada umumnya. Jadi suatu hal yang sedikit aneh, saat Keyrani tiba-tiba berubah menjadi manja. Namun Jeri tetap bersyukur karena sekarang Keyrani mulai menggantungkan hidupnya pada orang lain, tidak seperti yang dulu yang selalu memendamnya sendiri dan tidak ingin berbagi.
"Aku titip Key, tolong jaga dia saat aku tidak ada. Meskipun aku tahu, bahkan meskipun aku tidak mengatakannya kamu pasti melakukannya" Pinta Jeri kepada Rian sembari memegang bahunya
"Iya kak. Aku akan menjaganya dengan baik" Balas Rian kemudian
"Aku pergi" Ujar Jeri kemudian tak lupa mengecup pelan kening Keyrani sebagai tanda perpisahan
"Hati-hati" Ujar Keyrani sedikit terisak karena tidak ingin berpisah dengan Jeri mengingat dirinya baru saja mengetahui fakta terkait Jeri
Dengan langkah yang berat, Jeri menarik kopernya menjauh dari keduanya sembari melambaikan tangannya sesekali.
"Ayo kita pergi" Ujar Rian kepada Keyrani sembari merangkul bahunya berusaha menenangkan
"Iya" Jawab Keyrani masih sedikit terisak
...***...
Setelah mengantar Jeri, Rian maupun Keyrani memilih pergi ke kampus, dimana keduanya kini berada di kantin kampus bersama yang lainnya.
__ADS_1
"Kenapa? Kok murung gitu kelihatannya?" Tanya Lisa kepada Rian sembari menunjuk Keyrani yang sedari tadi seolah tidak berselera makan
"Kak Jeri pergi" Jawab Rian
"Pergi? Kemana? Kok mendadak? " Tanya Rani sontak kaget mendengar jawaban Rian membuat yang lainnya menatapnya bingung
"Kamu kenapa kaget begitu?" Tanya Lisa heran
"Oh.. Nggak.. Itu.. Bukannya Key baru tahu kalau Jeri keluarga dia, kok pergi?" Jawab Rani sedikit gugup
"Ada urusan mendadak di Negara S" Jawab Rian kembali
"Oh.. " Gumam Rani kemudian meraih ponselnya dan berniat menghubungi Jeri mengingat saat Jeri mengantarnya pulang, keduanya berjanji untuk bertemu di bengkel Jeri untuk mengambil mobilnya
"Oh iya, Kata Kak Jeri mobil kamu sudah bisa diambil di bengkel" Sahut Rian mengingat kembali
"Mobil?" Heran Lisa kembali
"Kemarin mobilku mogok di jalan, nggak sengaja ketemu Kak Jeri. Jadi dibantuin" Jawab Rani masih gugup
"Oh.. " Balas Lisa namun dengan senyum kecilnya
"Kamu kenapa senyum?" Tanya Aaron tanpa sengaja melihatnya
"Nggak. Salah lihat kamu" Sangkal Lisa tidak berniat mengutarakan pikirannya
Rani yang tadinya mengeluarkan ponselnya, kini mencari kontak Jeri berniat menghubunginya. Entah kenapa, sejak Jeri mengantarnya pulang ia mulai sering mengingatnya. Dan lagi, sikap perhatian Jeri kepadanya benar-benar melekat dipikirannya.
Rani menatap Aaron sekilas, ada perasaan pilu yang kini dirasakannya. Rani akui dirinya merasa bersyukur bertemu Jeri, namun di sisi lain Ia berharap sikap Aaron dapat lebih perhatian padanya sama seperti sifat Jeri kepadanya.
Lisa yang sedikit penasaran dengan Rani, Diam-diam melirik ke arah ponsel Rani berniat mengintip nya.
"Siapa?" Tanya Lisa menaikkan alisnya menggoda Rani
"Bukan siapa-siapa hanya seorang teman" Jawab Rani kembali gugup
"Oh.. Seorang teman" Ujar Lisa mengangguk kembali mengisengi Rani diikuti yang lainnya yang hanya ikut tertawa
Rani yang melihat reaksi Aaron merasa sedih, yang entah seperti apa reaksinya jika tahu orang yang disukai Rani justru adalah Aaron.
__ADS_1
Keyrani yang sedari tadi hanya mendengar, sadar akan ekspresi Rani yang seolah terpaksa tersenyum menanggapi yang lainnya. Karena satu-satunya yang tahu akan perasaan Rani yang sebenarnya adalah Keyrani.