Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Pria dingin?


__ADS_3

Setelah menyaksikan Keyrani dan Ray di kolam renang, Alana mengurungkan niatnya untuk ke dapur dan memilih kembali ke kamar dengan raut wajah kecewa dan sedih.


"Apa seharusnya aku tidak datang kesini?" Gumam Alana yang kini meragukan keputusannya


Demi bertemu dengan Ray, Alana meninggalkan ayahnya sendiri.


Karena teringat ayahnya, Alana meraih ponselnya yang ada diatas meja berniat untuk menghubungi Ayahnya.


Setelah beberapa saat panggilan teleponnya akhirnya tersambung "Halo.. " Ucap Ayah Alana dari seberang


"Halo Pa" Balas Alana


"Apa ada yang terjadi?" Tanya Ayah Alana


"Tidak ada. Alana hanya merindukan Papa" Jawab Alana


"Oh.. Bukankah itu keinginan kamu untuk bertemu dengan Ray"


"Iya. Alana tahu"


"Bagaimana dengan Ray? Dimana dia? Sudah lama Papa tidak berbicara dengannya"


"Hmm, besok saja Pa. Sepertinya Ray sudah tertidur" Jawab Alana mencari alasan karena ia tidak mungkin menghampiri Ray dan Keyrani di kolam renang


"Baiklah" Balas Ayah Alana


"Kalau begitu, sekarang Papa istirahat dan jaga kesehatan Papa selama Alana disini" Pinta Alana


"Iya. Kamu tidak perlu khawatir. Kamu juga jaga kesehatan, kalau ada apa-apa langsung kabari Ray"


"Iya-iya Alana tahu, sudah dulu yah Pa. Muach... " Tutur Alana mengakhiri panggilan teleponnya dengan kiss bye yang selalu dilakukannya sebagai tanda sayang pada ayahnya


Setelah memutus panggilannya, Alana merebahkan tubuhnya di kasur sembari memegang perutnya yang sedari tadi lapar.


Alana memutuskan menutup matanya sejenak, sembari menunggu Keyrani dan Ray naik ke atas karena ia tidak ingin jika bertemu dengan keduanya khususnya setelah apa yang dilihatnya tadi.


...***...


Alana perlahan membuka matanya setelah hampir satu jam lamanya tertidur. Tangannya masih dengan posisi yang sama, yakni memegangi perutnya yang sedari tadi berbunyi menahan lapar.


Sembari menghela nafasnya, Alana bangkit dari tidurnya kemudian berjalan mulai keluar dari kamar. Karena jika ia berusaha menahannya lagi, mungkin ia akan pingsan karena rasa lapar.

__ADS_1


Alana berbalik menatap ke kolam renang setelah menuruni tangga "mereka sudah tidak ada" Gumam Alana lirih kemudian kembali melanjutkan langkahnya ke dapur


"Apa yang harus kumakan?" Tanya Alana pada dirinya sendiri sembari membuka kulkas dengan salah satu tangan masih memegangi perutnya


Belum sempat Alana melihat ke dalam kulkas, ia sudah terduduk di lantai. Tenaganya benar-benar sudah habis setelah menuruni tangga tadi.


"Apa yang kamu lakukan disini?"


Seketika Alana mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara yang baru saja menegurnya itu.


"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu mempedulikanku" Jawab Alana enggan untuk memberitahu karena Rian hanya akan bersikap acuh dan tidak perduli lagi padanya


Seperti yang diperkirakan olehnya, Rian tidak meresponnya lagi dan hanya melewatinya untuk membuka kulkas.


"Dasar dingin" Gerutu Alana dalam hati merutuki pria dingin di depannya ini


Rian kemudian meraih air dari kulkas kemudian meneguknya. Sesaat setelah ia meneguk air tersebut pandangannya teralihkan pada Alana yang terlihat menahan sakit.


Rian kemudian menatap ke arah kulkas dan mengambil pasta dan beberapa bahan lainnya.


"Ternyata dia juga lapar?" Batin Alana memperhatikan Rian yang kini sibuk memasak


Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut keduanya, hanya ada kecanggungan diiiringi suara desiran bahan-bahan masakan Rian di wajan.


Sementara Alana, hanya bisa diam memperhatikan dan menunggu Rian selesai memasak. Karena dirinya saat ini sudah kelaparan setengah mati.


Namun berbeda dengan apa yang dipikirkan Alana, Rian tiba-tiba menatapnya "Makanlah" Ujarnya meletakkan spagehti yang baru saja di masaknya di atas meja


Alana sontak mengerutkan keningnya heran sembari menatap punggung Rian yang kini berjalan menjauh darinya.


"Untukku?" Tanya Alana sembari menunjuj dirinya sendiri penuh heran


Dengan susah payah Alana bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke meja makan, dirinya masih seolah tidak percaya. Rian yang bahkan tidak pernah berbicara dengannya tiba-tiba berinisiatif memasakkan sesuatu untuknya.


Tak ingin terlalu memikirkannya, Alana memutuskan untuk memakannya karena dirinya sudah tidak kuasa lagi jika harus memasak lagi.


Sementara di sisi lain Rian yang baru saja tiba di kamarnya, menggaruk gusar kepalanya "Aku pasti sudah gila, bagaimana bisa aku memasak untuknya" Gerutu Rian tidak mengerti dengan dirinya saat ini


...***...


Aaccchhiiuuu...

__ADS_1


Keyrani yang baru saja keluar dari kamar mandi tiba-tiba saja bersin, membuat Ray sontak menghampirinya.


Ray kemudian menempelkan tangannya di jidat Keyrani untuk memeriksa suhu tubuhnya.


"Sepertinya aku kena flu" Ujar Keyrani mengusap hidungnya


Ray tidak memperhitungkan hal ini saat berada di kolam renang tadi, terutama keduanya habis bermain basket di luar yang mana suhu udaranya sudah dingin ditambah keduanya kembali bermain di kolam tadi dan menghabiskan lumayan banyak waktu di dalam air.


"Tunggu disini" Pinta Ray mendudukkan Keyrani di kasur


Sementara dirinya kini berjalan keluar dari kamar. Ray berniat ke dapur untuk mengambil air hangat sekaligus obat flu untuk Keyrani.


"Alana? Kamu baru makan?" Tanya Ray setibanya di dapur dan mendapati Alana di meja makan


"Iya" Jawab Alana mengangguk


"Kamu sakit?" Tanya Alana kemudian saat melihat Ray mengambil obat dari kotak p3k


"Bukan aku, tapi Keyrani" Jawab Ray sedikit menggelengkan kepalanya "Aku naik dulu" Sambungnya kemudian dengan langkah terburu-buru meninggalkan Alana yang hanya bisa menatap lirih kepergiannya


"Benar-benar beruntung, Keyrani bisa merebut hatimu yang selama bertahun-tahun ini selalu kuperjuangkan" Gumam Alana lirih mengingat semua perjuangannya hanya untuk sekedar dekat dengan Ray yang merupakan cinta pertamanya


Sementara itu, Ray yang sudah tiba di kamar Keyrani segera menyuapi Keyrani obat yang baru saja di ambilnya.


"Tunggu.. " Ujar Ray meminum sedikit air yang dibawahnya jika saja air tersebut terlalu panas


"Sekarang istirahatlah" Ounta Ray membantu Keyrani mambaringkan tubuhnya


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Keyrani saat Ray memeluknya dan bersiap tidur di dekatnya


"Apa?" Tanya Ray


"Aku sedang flu, bagaimana jika kamu tertular karena tidur bersamaku" Ujar Keyrani was-was


Ray menghela nafasnya kemudian mengeratkan pelukannya pada Keyrani tidak perduli dengan apa yang dikatakan Keyrani.


"Tidak masalah, karena seharusnya aku yang merasakannya bukan kamu" Ujar Ray perhatian namun Keyrani yang mendengarnya sontak memukul dada Ray


"Kenapa memukulku?" Tanya Ray


"Aku hanya ingin memukulmu" Jawab Keyrani karena sejujurnya selama berpacaran Ray jarang mengungkapkan kata-kata seperti itu karena keduanya menunjukkan perhatian lewat tindakan bukan ucapan seperti yang dilakukan Ray barusan dan Keyrani masih belum terbiasa dengan Ray yang seperti itu

__ADS_1


"Sudahlah, ayo tidur" Ujar Ray mengakhiri pembicaraan keduanya sembari menutup matanya di susul oleh Keyrani yang kini berada di dalam dekapannya


__ADS_2