
Sejak di kantin tadi, Rani tidak berhenti memperhatikan ponselnya. Jika sewaktu-waktu Jeri membalas pesan yang dikirimnya.
"Ada apa denganku, mengapa begitu berharap pesan ini akan dibalas" Batin Rani memperhatikan layar ponselnya dan segera menutupnya kembali agar bisa fokus pada perkuliahan
"Kamu kenapa? Ada masalah?" Tanya Keyrani berbisik setelah memperhatikan Rani yang sedari tadi tidak fokus memperhatikan materi
"Tidak ada. Hanya sedikit pusing.. " Jawab Rani dengan alasannya
"Kamu tidak memikirkan yang tadi kan?" Tanya Keyrani mengungkit masalah di kantin
"Oh tidak. Itu terserah mereka untuk beranggapan" Jawab Rani lirih mengingat kembali kejadian di kantin
Keyrani tidak membalas lagi, tangannya naik mengusap punggung Rani berusaha menenangkan, sebelum akhirnya kembali memperhatikan ke depan begitu pun dengan Rani.
...***...
Di sisi lain, terdapat Lisa, Aaron, dan Rian yang masih berada di kantin tadi karena ketiganya sudah tidak memiliki kelas lagi, jadi memilih menghabiskan waktu di kantin.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" Tanya Aaron
"Tidak ada. Aku hanya akan menunggu hingga Keyrani selesai" Jawab Rian
"Bagaimana dengan Ray?"
"Dia masih ada seminar"
Aaron terdiam sejenak sedikit ragu dengan pertanyaannya selanjutnya.
"Kamu masih menyukainya?" Tanya Aaron pada akhirnya membuat Lisa sontak menoleh memperhatikan ekspresi Aaron bukannya Rian
"Iya. Aku sudah berusaha, tapi semakin aku berusaha, aku justru semakin menyukainya" Ujar Rian lirih sembari menghela nafasnya pasrah
Aaron sedikit tertegun mendengar penuturan Rian, Ia tidak menyangka jika perasaan Rian justru lebih besar dari apa yang ia rasakan.
"Bukannya kamu berjanji mengantarku ke toko buku?" Ujar Lisa memecah keheningan yang sedikit canggung itu dan menarik lengan Aaron agar bangkit dari duduknya
"Kami duluan pergi yah" Ujar Lisa berpamitan dan menarik lengan Aaron pergi meninggalkan Rian
"Sejak kapan aku punya janji?" Tanya Aaron kebingungan
Lisa menghela nafasnya "Aku tidak menyukai suasana seperti itu, begitu tegang dan canggung" Ujar Lisa
Alis Aaron terangkat naik mendengar penuturan Lisa yang sedikit membingungkan baginya.
"Sudahlah, ayo pulang" Ujar Lisa segera berjalan menuju parkiran motor Aaron
Aaron memiringkan kepalanya bingung dan memilih mengikuti Lisa menuju ke parkiran.
__ADS_1
Selama di perjalanan Lisa hanya diam, tidak seperti biasanya yang selalu cerewet. Kali ini ia memilih diam dan menikmati hembusan angin yang menerpa kulitnya.
"Ada apa lagi dengannya" Batin Aaron tidak terbiasa dengan sikap diam Lisa
"Apa aku benar-benar tidak punya kesempatan" Batin Lisa menatap nanar punggung Aaron
Keduanya bergulat dengan pikiran masing-masing hingga tanpa disadari, keduanya telah tiba di kos.
Lisa segera turun dari motor, melepas helm dan meletakkannya. Sebelum akhirnya berjalan masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan Aaron sedikit pun.
"Apa aku berbuat salah?" Gumam Aaron kebingungan, kemudian masuk ke dalam kamarnya
...***...
Di sisi lain, Rian yang sedari tadi menunggu kedatangan Keyrani kini berada di parkiran mobilnya. Setelah mendapat pesan dari Keyrani yang telah selesai dengan kelasnya.
Dari kejauhan, Rian sudah bisa melihat Keyrani yang kini berjalan ke arahnya dengan pandangan yang terlihat kosong seolah memikirkan sesuatu.
"Apa ada yang terjadi?" Tanya Rian saat Keyrani tiba
"Tidak. Hanya saja, selama perkuliahan aku perhatikan Rani tidak bisa fokus" Jawab Keyrani masih memikirkan sifat Rani
"Oh. Mengapa hari ini semuanya bersikap begitu aneh" Ujar Rian
"Semuanya?"
"Sejelas itu" Batin Keyrani paham dengan hubungan keduanya
"Sudahlah, ayo pulang aku benar-benar lapar" Pinta Keyrani kemudian, karena tidak ingin terlalu memikirkannya
...***...
Di malam harinya, Aaron yang sedari tadi dibuat bertanya - tanya dengan perubahan mood Lisa memutuskan ke sebuah minimart dan membeli es krim dan beberapa cemilan.
Tok.. Tok.. Tok..
"Lis.. " Panggil Aaron mengetuk pintu kamar Lisa
Tok.. Tok.. Tok..
"Lis.. " Panggil Aaron sekali lagi sebelum akhirnya pintu kamar terbuka dari dalam memperlihatkan Lisa dengan penampilan acaknya setelah bangun tidur
"Ada apa?" Tanya Lisa memelas sembari menggaruk kepalanya
"Kamu tidur? Apa aku mengganggu?" Tanya Aaron merasa tidak enak mengganggu istirahat Lisa
"Tidak. Masuklah" Ujar Lisa mempersilahkan dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya
__ADS_1
Tanpa berlama-lama, Aaron kemudian masuk kedalam dan meletakkan cemilan yang baru saja di belinya di atas meja.
Aaron memperhatikan sekitar kamar, selama ini ia memang belum pernah masuk kedalam kamar Lisa karena biasanya Lisa yang datang ke kamarnya.
"Rapi.. " Batin Aaron kagum dengan kamar Lisa yang terlihat begitu rapi dan bersih. Semuanya tersusun dengan teratur dan tidak berlebihan
Tak berselang lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Lisa dengan wajah yang masih sedikit basah.
"Apa ini?" Tanya Lisa memperhatikan belanjaan Aaron
Aaron terdiam, matanya fokus menatap satu per satu bagian wajah Lisa yang basah karena air.
"Apa ada yang salah dengan wajahku?" Tanya Lisa memegang wajahnya karena Aaron yang sedari tadi memperhatikannya
Aaron menggelengkan kepalanya, berusaha membuyarkan lamunannya "Tidak.. Tidak ada kok" Jawab Aaron terbata sembari menghela nafasnya yang sedikit tidak teratur
"Oh, tadi aku melihatmu sedikit tidak bersemangat. Makanya aku membelikanmu es krim dan beberapa cemilan. Cobalah" Ujar Aaron mengeluarkan belanjaannya
"Es krim storbery?" Ujar Lisa meraih es krim yang dibeli Aaron
"Kamu tidak suka?" Tanya Aaron karena dirinya hanya mengambil es krim sesuai seleranya
"Aku menyukainya" Timpal Lisa kemudian membuka es krim tersebut begitu pun dengan Aaron
Suasana terasa begitu sunyi dan canggung, karena keduanya hanya diam dan menikmati es krim masing-masing tanpa mengangkat pembicaraan.
Hingga kemudian, sorot mata Aaron berpindah pada wajah Lisa. Dimana di sudut bibir sebelah kanannya terdapat es krim yang menempel.
"Ada es krim di bibirmu" Ujar Aaron menunjuk sudut bibir Lisa
"Oh.. " Sontak Lisa mengusap sudut bibirnya
Namun Aaron yang sedari tadi menahan dirinya, akhirnya mengangkat tangannya dan membersihkannya untuknya.
Seketika Lisa tersentak kaget dengan perlakuan Aaron yang tiba-tiba. Jantungnya berdetak begitu cepat yang mungkin sudah bisa didengar oleh Aaron.
Sementara Aaron, yang tadinya reflek masih memegang dagu Lisa. Matanya diam menatap ke dalam mata Lisa. Ada yang aneh dengan dirinya. Sejak kejadian tempo hari, saat Lisa mengobatinya. Pandangannya terhadap Lisa mulai berubah.
Diikuti dengan detakan jantung yang semakin cepat, nafas keduanya seolah menburu dan tanpa sadar jarak di antara keduanya kini hanya tinggal beberapa centi lagi. Membuat keduanya dapat dengan jelas merasakan deru nafas masing-masing yang semakin lama semakin menggebu.
Hingga kemudian, bibir keduanya bersentuhan. Tak ada gerakan, namun beberapa saat kemudian Rian menggerakkan bibirnya dan mulai ******* bibir Lisa. Begitu pun dengan Lisa yang kini membalas ******* Aaron.
Keduanya berciuman cukup lama, hingga tiba-tiba Aaron menarik bibirnya menjauh, berusaha menyadarkan kembali dirinya.
"Apa yang kuperbuat.. " Batin Aaron menundukkan kepalanya kemudian menatap Lisa yang kini memasang wajah penuh tanya dengan apa yang baru saja terjadi
Aaron menggaruk gusar rambutnya, sebelum akhirnya bangkit dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Lisa yang kini mematung di tempatnya.
__ADS_1