Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Kecelakaan


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu yang lumayan lama di Mall. Keyrani akhirnya kembali ke rumah setelah pukul 5 sore dengan diantar oleh sang kekasih.


Belum sempat Keyrani menjejakkan kakinya masuk ke dalam, Devi sudah terlebih dahulu menghampirinya.


"Oh jadi sekarang udah jadi sugar baby?" Sahut Devi setelah melihat Keyrani lagi-lagi diantar oleh Ray. Dan pastinya karena uang yang dilihatnya dulu, yang ia yakini pemberian dari Ray.


"Jaga omongan kamu" Tekan Keyrani menunjuk tepat di wajah Devi


"Kenapa? Emang bener kan? Kamu jadi sugar baby, kalau nggak dapat dari mana uang yang kemarin kalau bukan dari hasil ngejalang" Balas Devi dengan semua tuduhannya itu


PLAK..


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Devi membuatnya terperanjak kaget karena Keyrani berani memukulnya saat berada di rumah.


"Apa-apaan kamu" Teriak Devi tidak terima sembari memegang pipinya yang kini terasa berdenyut


"Kamu yang apa-apaan. Jaga bicara kamu, selagi aku masih bersikap lembut kepadamu" Bentak Keyrani dengan sorot mata tajamnya


"Keyrani" Teriak ayah Keyrani dari dalam  rumah yang ternyata melihat kejadian itu


"Ccckkk.. " Keyrani berdecak kesal lagi-lagi Devi membuat citranya semakin rusak di depan ayahnya


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya ayah Keyrani saat tiba di dekat keduanya


Sementara Devi kini memasang wajah memelasnya seolah-olah menjadi korban disini.


"Dia pantas mendapatkannya" Jawab Keyrani masih menatap tajam kearah Devi "Dasar munafik" Umpatnya saat melihat air mata Devi yang perlahan keluar


"Udah Pa hiks. Ini memang salah Devi hiks" Ujar Devi yang kini mulai mengeluarkan air mata buayanya


"Kamu lihat, bahkan setelah apa yang kamu lakukan Devi masih membela dirimu" Hardik Ayah Keyrani

__ADS_1


Keyrani tertawa miris mendengar perkataan ayahnya "Aku nggak butuh pembelaan dari gadis munafik seperti dia" Ujar Keyrani tajam


"KEYRANI" Murka sang ayah dan..


PLAK..


Sebuah tamparan mendarat di pipi Keyrani yang sontak membuat Keyrani menatap tajam ke arah ayahnya dengan mata yang perlahan merah karena emosi.


"TAMPAR PA.... TAMPAR SEPUASNYA?" Teriak Keyrani tidak kalah besar dengan suara sang ayah sembari menepuk pipinya yang tadi di tampar oleh ayahnya


"Memangnya sejak kapan Papa mau dengerin perkataan Key hiks.. Sejak dia dan Ibunya hadir di rumah ini. Papa perlahan berubah hikss.. Aku Anak kandung Papa bahkan tidak ada artinya ketimbang dia yang cuma anak tiri di rumah ini" Tutur Keyrani tajam yang kini perlahan mulai menangis


"Key.. " Lirih Ayah Keyrani 


"Asal Papa tahu. Papa adalah ayah terbodoh yang pernah Key lihat dan Aku benar-benar kecewa karena memiliki seorang ayah seperti Papa" Tutur Keyrani menunjuk tepat wajah ayahnya kemudian beranjak pergi menuju parkiran. Menyalakan motornya dan segera melajukannya ke jalan raya.


Sementara Ayahnya kini tertegun kaget mendengar penuturan anaknya yang tidak terduga itu. Tangan yang tadi digunakannya menampar wajah Keyrani kini perlahan gemetar karena merasa bersalah.


"Pa.. Keyrani hanya emosi sesaat. Jangan terlalu memikirkannya" Ujar Devi berusaha menenangkan ayah Keyrani sembari membantunya masuk ke dalam rumah.


...***...


Sementara itu Keyrani kini melajukan motornya di jalan raya dengan tangan sesekali naik menyeka air matanya. Merutuki nasib malangnya ini.


"Papa bahkan tidak menahan Key untuk pergi" Tutur Keyrani terisak kecewa karena hatinya dipatahkan oleh ayah kandungnya sendiri.


Keyrani mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi seseorang.


"Jer.. " Panggil Keyrani saat panggilannya terhubung


"Jer.. " Panggilnya kembali

__ADS_1


"Kamu kenapa Key? Kamu menangis? Dimana kamu sekarang?" Tanya Jeri perlahan panik saat mendengar suara Keyrani yang serak dan terisak


"Papa jahat Jer, Papa jahat..hikss.. Papa nggak sayang sama aku, anak kandungnya sendiri" Keluh Keyrani


Selama ini, dari sejak Keyrani SMP. Jeri selalu ada disisinya. Kerap kali Keyrani bertengkar dengan ayahnya orang pertama yang akan dihubungi nya adalah Jeri yang selama ini sudah dianggapnya sebagai kakaknya. Satu-satunya orang yang selalu percaya dan berada di sisi Keyrani.


"Kamu dimana sekarang? Biar aku menjemputmu" Sahut Jeri semakin panik namun hanya ada suara kendaraan yang didengarnya bercampur dengan suara isakan dari Keyrani


"KEYRANI...BERHENTI SEKARANG JUGA" teriak Jeri tersadar bahwa saat ini Keyrani tengah membawa motor


Keyrani tidak memperdulikan Jeri yang kini berteriak menyuruhnya berhenti dan semakin melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata tanpa memperdulikan suara klakson dari pengendara lain yang perlahan geram karena Keyrani tiba-tiba saja menyalipnya.


Hingga kemudian, tanpa memperhatikan lampu lalu lintas yang kini berwarna merah. Sebuh mobil dari arah samping tiba-tiba melaju dengan kecepatan cepat. Begitu pun dengan Keyrani yang masih sibuk mengusap air mata dengan ponsel di tangannya tanpa memperdulikan di sekitar. Dan..


BRUKKKK...


Motor yang dikendarai Keyrani menabrak mobil tersebut membuat tubuh Keyrani terlempar dari motor yang kini masih berputar di jalanan. Sementara beberapa mobil di sekitar dengan cepat membanting setir dan menginjak rem agar tidak mengalami tubrukan lagi.


Keyrani terbaring di jalan. Kesadarannya perlahan mengabur. Sensasi dingin menjalar di kepalanya dengan cairan merah kental yang kini perlahan keluar dan memenuhi sekitar tubuh Keyrani. Samar-samar ia melihat beberapa orang berkerumun di dekatnya hingga kemudian ia menutup mata tak sadarkan diri.


Sementara di sisi lain, Jeri yang baru saja menaiki motornya berniat menghampiri Keyrani. Tertegun kaget saat mendengar bunyi tabrakan yang begitu keras dari benda pipih yang dipegangnya itu.


Dengan raut wajah cemas dan panik. Jeri segera melajukan motornya menyusuri jalan raya mencari keberadaan Keyrani.


Hingga kemudian, tak jauh dari tempatnya berada. Tepatnya di lampu merah Jl. Melati terdapat kerumuman warga beserta ambulance yang baru saja tiba. Dengan sigap Jeri segera menghentikan laju motornya dan berlari ke arah ambulance tersebut.


Dan benar saja, gadis yang baru saja dihubungi nya itu kini terbaring tidak berdaya dan tak sadarkan diri.


"Key.. Bangun Key" Pinta Jeri segera menghampiri tubuh Keyrani panik kemudian ikut naik ke dalam ambulance sembari menggenggam erat tangan gadis kecilnya itu.


Tak berselang lama kemudian, ambulance berhenti di depan rumah sakit. Beberapa perawat perlahan keluar dari rumah sakit menghampiri mobil dan segera membawa Keyrani masuk ke dalam. Begitu pun dengan Jeri yang kini berlari mengikuti dari belakang kemudian berhenti saat Keyrani di bawah masuk ke dalam IGD.

__ADS_1


Jeri kemudian duduk di kursi menunggu dengan raut wajah khawatir dan cemas sembari merutuki dirinya sendiri yang tidak becus dan terlambat menghampiri Keyrani.


"Aku akan membuatmu mengerti arti dari kehilangan seseorang" Tutur Jeri tajam yang kini diliputi rasa kecewa, amarah dan benci.


__ADS_2