Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Nostalgia


__ADS_3

Saat ini Leon tengah dirawat di rumah sakit. Meski begitu luka tusukan yang disebabkan oleh Bi Eka tidak mengancam nyawanya karena luka tersebut belum sampai menembus dinding abdomen nya. Sehingga tidak termasuk luka tusukan berat. Terutama karena saat Bi Eka menusuknya, Ia tidak mendorongnya jadi luka tusukan yang terjadi tidak terlalu menembus ke dalam tubuh Leon.


Hal ini menjadi salah satu pertimbangan dalam persidangan karena korban tidak mengalami luka berat. Sehingga Bi Eka yang tadinya terancam hukuman 5 tahun penjara, kini menjadi 3 tahun penjara. Mengingat kondisi mental Bi Eka yang mengalami syok karena anak semata wayangnya mengalami bunuh diri .


"Dengan ini pihak pengadilan memutuskan bahwa saudari Eka Sulastri akan dijatuhi hukuman 3 tahun penjara atas tindak pidana penganiayaan yang membuat korban mengalami luka ringan" Kata Hakim kemudian mengetuk palu sebanyak 3 kali sebelum akhirnya berdiri dan meninggalkan ruangan sidang


Ibu Leon bangkit dari duduknya dengan wajah kesal akan keputusan hakim yang hanya menghukum pembantunya 3 tahun saja. Sementara itu, tersangka Bi Eka segera di bawah ke kantor polisi oleh polisi yang ada disana.


Setelah kedatangan Ray di kantor polisi, Bi Eka memutuskan untuk bekerja sama dengan pengacara yang di sewa oleh Ray. Yang merupakan salah satu pengacara terbaik di kota tersebut. Menceritakan setiap detil kejadian dan alasan dibalik perbuatannya. Termasuk kedatangan Leon di rumah sakit yang diketahui oleh Bi Eka.


Ray yang sedari tadi datang menyaksikan persidangan duduk di kursi bagian tengah bersama dengan Jhon merasa puas dengan keputusan dari hakim. Khususnya setelah menyaksikan wajah kesal yang ditunjukkan oleh Ibu Tirinya saat meninggalkan persidangan.


Di sisi lain, Ibu Leon yang tampak kesal dan marah karena keputusan itu membanting semua barang-barang yang ada di meja kerjanya.


"Siapa? Siapa yang membantunya?" Tanyanya kemudian pada asistennya


"Saya tidak menemukan informasi apapun terkait orang tersebut, semuanya seakan sengaja ditutupi. Tapi, pengacara yang membela tersangka merupakan salah satu pengacara paling berpengaruh di kota X" Jawab asisten tersebut menjelaskan


"Arrggg.. Kurang ajar. Aku ingin kamu cari tahu, cari tahu sampai dapat" Bentak Ibu Leon kesal


"Baik" Jawab asisten tersebut kemudian beranjak dari tempatnya dan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Ibu Leon yang masih dalam keadaan emosi


...***...


Setelah meninggalkan pengadilan, Ray mengemudikan mobilnya sendiri. Mengubah tujuannya ke suatu tempat. Meski pun Ia merasa bersyukur atas pengurangan hukuman yang diterima oleh Bi Eka. Namun tetap saja, ini tidak adil untuknya karena Ia tidak bisa meminta pertanggungjawaban atas meninggalnya anaknya karena merupakan bunuh diri.


Ray menghentikan laju mobilnya di depan sebuah  rumah yang tak lain merupakan rumah dari Ibu Keyrani. Ia pun keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam.


"Rasanya seperti bernostalgia" Ujar Ray kemudian duduk tepat di depan rumah tersebut. Yang merupakan tempat yang ditempatinya duduk dan bercanda bersama dengan Keyrani sewaktu kecil


Ray memperhatikan di sekitar rumah. Tidak ada perubahan signifikan yang terjadi selain rumput-rumput yang kini memenuhi sebagian dari halaman. Karena terlalu fokus memperhatikan Ray tidak sadar akan kedatangan seseorang dari arah belakang yang tak lain adalah Keyrani yang ternyata berada di dalam rumah sejak tadi.

__ADS_1


"Wooaaahhhh" Teriak Keyrani memukul punggung Ray berusaha mengagetkannya


"Hhaahh" Kaget Ray segera melompat dari tempat duduknya


"Hahahahaaha" Keyrani tertawa begitu riangnya memperhatikan ekspresi terkejut Ray yang terlihat lucu baginya


"Key.. " Teriak Ray kesal namun dari dalam lubuk hatinya justru Ia merasa senang "kamu belum berubah Key. Masih jahil seperti dulu" Batin Ray sembari melihat ke arah Keyrani yang masih saja menertawai nya


Setelah puas tertawa. Keyrani duduk di tempat Ray tadi diikuti oleh Ray yang duduk di samping masih dengan wajah kesalnya.


"Maaf.. Maaf.. Berhenti memasang wajah seperti itu. Lagi pula salah kamu sendiri, melamun di depan rumah orang lain" Ujar Keyrani masih terkekeh "Apa yang kamu lakukan disini?" Tanyanya kemudian


"Tadi ngga sengaja lewat, jadi Aku singgah" Jawab Ray mencari alasan


"Serius?" Tanya Keyrani tidak percaya dan memperhatikan raut wajah Ray


"Iya" Jawab Ray singkat "Bagaimana denganmu mengapa kamu disini? aku bisa saja mengira jika kamu tinggal di rumah ini" Tanya Ray penasaran


"Saudara tiri?"


"Iya. Aku punya saudara tiri. Namanya Devi jurusan ilmu komunikasi"


"Hmm" Gumam Ray mengerti karena sebenarnya dia sudah tahu hanya saja sedikit ingin berbasa-basi layaknya orang yang baru kenal


Keyrani menghela nafasnya panjang "kamu tahu, dulu aku pernah punya sahabat kecil. Aku dan dia sering menghabiskan waktu di tempat ini. Saling menceritakan dan bahkan menertawakan kehidupan masing-masing karena memiliki ayah yang bodoh setelah menikah lagi" Ujar Keyrani mengingat kembali masa kecilnya


"Dimana dia sekarang?"


"Aku tidak tahu" Jawab Keyrani menghentikan ucapannya sejenak "Dia pergi tepat setelah berjanji tidak akan meninggalkanku sendiri" Lanjut Keyrani


"Bagaimana jika dia kembali?"

__ADS_1


"Entahlah. Mungkin aku akan memukulnya. Tega-teganya dia pergi tanpa berpamitan kepadaku. Dasar jahat" Kesal Keyrani


"Aku disini Key. Duduk tepat disampingmu" Batin Ray


Dua sahabat kecil yang harus rela berpisah hanya karena permasalahan keluarga yang dialami. Menanggung rasa sakit akan perpisahan karena ego dari orang tua masing-masing.


Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Matahari di langit perlahan menghilang digantikan cahaya bulan di malam hari. Keduanya berbincang cukup lama dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.


"Kita seperti ini sudah termasuk teman bukan? " Tanya Keyrani kepada Ray yang saat ini duduk di sampingnya sembari memainkan ponselnya


Tangannya yang tadi sedang meng scroll layar hpnya kini terhenti "hmm,, aku pikir dulu" ujar Ray sedikit bercanda


"Kamu tidak mau?" Tanya Keyrani segera menghadap ke arah Ray menatapnya intens seakan tidak terima "kenapa? Bukannya kamu seharusnya bangga bisa berteman dengan Keyrani yang cantik dan manis ini? Hmm?" Tambah Keyrani dengan segala kenarsisannya


Ray mengerutkan keningnya melihat tingkah menggemaskan Keyrani. Rasanya saat ini tawanya akan segera meledak melihat tingkahnya.


"Oke.. Oke.. Berhenti bersikap seperti itu" Ujar Ray dengan nada pasrah meski sebenarnya Ia menyukainya


Keyrani kembali membetulkan posisi duduknya dan meraih ponselnya "Oke. Jadi sekarang kita adalah teman. Kamu punya Ig?"


"Ig?" Tanya Ray kebingungan seolah baru pertama kali mendengarnya


"Instagram, kamu tidak punya?" Tanya Keyrani


Ray menggeleng kepalanya menandakan Ia tidak punya Instagram.


"Aishh, kamu menyia-nyiakan wajah tanpamu itu" Ujar Keyrani merebut ponsel Ray


"Apa yang kamu lakukan?"


"Membuatkanmu akun Instagram" Ujar Keyrani mulai mengetik

__ADS_1


Ray hanya diam pasrah dengan apa yang dilakukan Keyrani meski sebenarnya ia sama sekali tidak mengerti karena selama ini Ia tidak pernah tertarik dengan dunia media sosial karena terlalu berinteraksi dengan orang lain yang bahkan sebagian besar tidak saling mengenal.


__ADS_2