
Setelah makan malam romantis tadi, kini keduanya duduk bersama di sofa ruang tamu, dengan tangan Ray merangkul bahu Keyrani sembari bersandar pada sofa.
"Antar aku pulang" Pinta Keyrani menyenggol tubuh Ray
"Kamu tidak ingin bermalam?" Tanya Ray menoleh ke arah Keyrani
"Aku baru saja di tegur tadi siang dan sekarang kamu mengajakku bermalam" Ujar Keyrani mencubit pinggang Ray
"Sst.. Bercanda loh aku" Ringis Ray mengusap pinggang bekas cubitan Keyrani
"Berhenti berpura-pura. Aku bahkan tidak menyentuh kulitmu. Ayo cepat antar Aku Pulang" Tutur Keyrani berdiri dari duduknya dan menarik tangan Ray berusaha membuatnya berdiri
Dengan cepat ekspresi Ray berubah karena dirinya memang berpura-pura sakit "Dasar tidak romantis" Gerutu Ray kemudian berdiri
Keyrani hanya tersenyum kemudian memegang lengan Ray dan berjalan keluar menuju mobil.
"Rasanya seolah sama saja kita berpacaran ataupun tidak" Ujar Keyrani sembari memasang seatbelt
"Bagaimana bisa itu sama. Jika dulu Aku sedikit enggan untuk menyentuhmu, tapi sekarang Aku bisa dengan berani. Seperti ini.." Sambung Ray meraih tangan Keyrani dan mengecupnya pelan
Wajah Keyrani berseri, senyum diwajahnya terukir dengan begitu lebar. "Apa sebaiknya Aku tidak perlu pulang?" Tanya Keyrani kemudian berusaha mengisengi Ray sembari mendekatkan wajahnya padanya dengan alis yang dinaikkan menunggu jawaban Ray
Mendengar penuturan Keyrani, Ray segera menoleh ke samping, berusaha mengontrol dirinya dengan tangan naik mengipasi bajunya karena merasa panas.
"Ayo kita pulang" Ujarnya dengan gugup kemudian segera menyalakan mobil sebelum dirinya benar-benar membuat Keyrani tidak pulang malam ini
Sementara Keyrani hanya tersenyum jahil melihat tingkah Ray yang begitu lucu. Belum lagi karena telingannya yang sudah benar-benar memerah.
20 menit kemudian, mobil Ray berhenti di depan rumah Keyrani. Ia segera turun dan berniat membukakan pintu untuk Keyrani namun segera di dahului oleh Keyrani.
"Ngapain kamu? Mau bukain pintu gitu maksudnya?" Tanya Keyrani kembali iseng
"Hmm.." Ray memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya
"Mengapa kamu begitu suka berenggut seperti itu. Aku bukannya tidak suka kamu membuka pintu, tapi kamu pacarku bukan seorang pelayan" Tutur Keyrani meraih lengan Ray dan menempelkan wajahnya pada otot lengan Ray berusaha bersikap lucu
__ADS_1
Bibir Ray berkedut berusaha menahan agar dirinya tidak tersenyum saat ini.
"Sudahlah, Aku mau masuk" Ujar Keyrani melepas tangannya karena Ray tidak menggubrisnya
Dengan cepat Ray mencegah Keyrani dan menarik tangannya "Dasar kamu" Gemes Ray mencubit hidung Keyrani
"Sakit tau" Gerutu Keyrani mengusap hidungnya sembari memanyunkan bibirnya
Ray tersenyum gemes kemudian meraih tengkuk Keyrani dan mengecup hidungnya pelan "Sekarang sudah sembuh" Ujarnya kemudian
"Mengapa kamu suka sekali mengecup hidungku?" Tanya Keyrani heran meski dengan jantung yang berdegup kencang
"Bagaimana kalau disini" Tutur Ray membungkuk mengecup bibir Keyrani singkat
Keyrani yang belum siap, tertegun kaget dengan sikap agresif Ray "Pulanglah" Usir Keyrani mendorong tubuh Ray "Ini tidak aman untuk kesehatan jantungku" Tutur Keyrani kemudian menyentuh dadanya yang berdetak begitu cepat
Sementara Ray hanya tersenyum kemudian berjalan masuk ke dalam mobil "Aku akan menghubungimu" Ujarnya membuka kaca jendela mobil
"Iya. Hati-hati" Sahut Keyrani sembari melambaikan tangannya
Ddrrttt...Drrttt...
Ponsel Ray tiba-tiba bergetar, dengan segera Ia meraih ponselnya di sakunya dan mengangkatnya yang ternyata dari Jhon.
"Ada apa?" Tanya Ray langsung
"Leon sudah keluar dari rumah sakit Tuan. Apa yang ingin Tuan lakukan selanjutnya? " Jawab Jhon yang ternyata melaporkan tentang Leon yang selama ini sengaja di awasi di rumah sakit
"Untuk sementara tetap awasi pergerakannya saja dan laporkan jika ada yang aneh" Jawab Ray setelah berfikir sejenak
"Baik tuan" Balas Jhon kemudian
Ray segera mematikan panggilannya dan menaruh ponselnya kembali di sakunya. Tangannya mengepal sembari memegang setir mobilnya. Sorot matanya menajam menatap ke arah jalan "Kali ini bukan rumah sakit yang akan kamu tuju, tapi aku akan membuatmu bertemu dengan calon Ibu dan Anak yang telah kamu buang" Tutur Ray dengan penuh penekanan
Sementara itu di sisi lain, Leon yang baru saja pulang ke rumah. Duduk di ruang tamu dengan kursi rodanya menunggu kedatangan Ibunya sembari memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Berhenti bermain lagi Leon" Tegur Ibu Leon dari kejauhan yang kini berjalan menghampirinya
Mendengar hal tersebut, Leon dengan sigap menurunkan ponselnya dan mematikannya.
"Gara-gara ulah kamu ini, citra kamu di perusahaan menjadi tidak bagus. Mama sudah bersusah payah meyakinkan mereka agar nantinya kamu yang menggantikan posisi Mama, tapi apa yang kamu lakukan sekarang? Main game?" Tutur Ibu Leon kesal dengan sifat anaknya itu
"Leon akan membuktikannya, jika Mama mempercayakannya padaku" Balas Leon berusaha meyakinkan Ibunya
Ibu Leon menggeleng pelan "Untuk sekarang Kamu fokus untuk kesembuhan kamu. Setelah itu, Mama akan menempatkan mu di salah satu cabang perusahaan untuk kamu urus" Ujar Ibu Leon
"Terserah Mama, Kali ini Leon tidak akan mengecewakan Mama" Jawab Leon dengan yakin
"Tapi ingat Leon, sekali kamu membuat masalah lagi. Mama tidak akan segan-segan kepadamu. Kamu tahu kan sifat Mama bagaimana" Balas Ibu Leon mengancam anaknya sendiri yang selama ini hanya membuatnya menyelesaikan setiap masalah yang dibuatnya
"I..iya Ma. Leon paham" Ujar Leon sedikit gugup melihat sorot mata yang ditunjukkan oleh Ibunya
"Kamu bisa naik" Ujar Ibu Leon sembari memegang keningnya kemudian duduk di kursi
Sementara Leon kini naik ke lantai dua tempat kamarnya berada dengan bantuan seorang perawat. Kali ini bukan seorang wanita melainkan seorang pria yang memang berprofesi sebagai seorang perawat yang sengaja di bayar oleh Ibu Leon untuk membantunya selama dalam tahap pemulihan.
Begitu pun dengan pembantu di rumah, Ibu Leon sengaja memilih pembantu yang sudah berumur puluhan dan belum memiliki anak gadis. Untuk menghindari kejadian seperti sebelumnya.
Namun satu hal yang dilewatkan oleh Ibu Leon, yakni perawat pria yang terbilang masih muda yang di sewanya itu. Selama pembicaraan di ruang tamu tadi, beberapa kali Leon berusaha mencuri pandang ke arahnya.
Leon yang baru saja tiba di kamarnya segera turun dari kursi rodanya. Lidahnya keluar menyapu bibirnya yang begitu kering. Kemudian berbalik ke arah perawat tersebut yang kini memasang wajah khawatir jika sewaktu-waktu Leon terjatuh dan membuat lukanya terbuka kembali.
"Hati-hati Tuan" Ujarnya dengan kedua tangan bersiap menahan Leon
"Kamu begitu mengkawatirkanku" Ujar Leon sedikit mendekat ke arah pria tersebut
"Apa yang ingin Tuan lakukan?" Tanya Pria itu sedikit gugup
Leon tersenyum singkat kemudian menyandarkan kepalanya pada dada pria tersebut sembari mengelus nya lembut "Bawa Aku ke kamar mandi. Aku ingin buang air kecil" Pinta Leon
Pria itu menghela nafasnya kecil karena ternyata Leon menyuruhnya membantunya ke kamar mandi. Dengan sigap Ia membantu Leon berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
Meski dalam hati Leon, dia memang tertarik dengan pria di hadapannya ini. Tapi mengingat tatapan Ibunya yang begitu menakutkan membuat nyalinya menciut dan mengurungkan niatnya.