Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Amarah Seorang Ibu


__ADS_3

Kerumunan orang-orang perlahan memenuhi halaman Rumah Sakit. Beberapa yang menyaksikan berteriak histeris melihat kejadian yang baru saja terjadi. Seorang gadis muda kini terbaring tidak berdaya di tanah. Cairan merah kental mengalir dari kepalanya memenuhi daerah sekitarnya.


Dari arah pintu Rumah Sakit beberapa perawat segera berlari ke arah gadis tersebut yang entah masih bernafas atau tidak.


Sementara itu, Bi Eka yang baru saja tiba di Rumah Sakit melihat kerumunan tersebut dan penasaran dengan apa yang terjadi. Hingga kemudian kedua manik matanya melihat sosok perempuan yang begitu dikenalnya kini terbaring tak berdaya di tanah.


"Siti... " Teriak Bi Eka segera menghampiri tubuh Siti kemudian merangkul dan membawanya ke pelukannya "Siti.. Hiks.. Hiks.. " Teriaknya sekali lagi


Bi Eka menangis sejadi-jadinya. Anak semata wayangnya berusaha meninggalkannya sendiri.


Seorang perawat memeriksa denyut nadinya pada pergelangan tangan. Namun sayangnya nyawa Siti sudah tidak tertolong lagi mengingat lokasi tempatnya melompat merupakan lantai 4 Rumah Sakit.


"Anakku tidak mungkin pergi.. Jangan tinggalkan Ibu.. Bangun Siti.. Hiks.. Hiks.. " Teriak Bi Eka mengusap wajah putrinya yang sudah pucat dan memutih


Sementara para perawat yang ada disana segera memindahkan tubuh Siti sebelum kerumunan orang-orang semakin bertambah lagi. Meski beberapa sudah pergi karena tidak tega dan merasa ngeri melihat kejadian tersebut.


Setelah tubuh Siti dibawah masuk, Bi Eka segera menuju ke ruang keamanan untuk memeriksa CCTV. Karena sebelum kepergiannya  keadaan Siti masih baik-baik saja meski dalam keadaan menangis.


Sesampainya di ruang keamanan, amarah Bi Eka semakin memuncak melihat rekaman saat Leon datang menghampiri Siti. Memegang erat tangannya dan membentak nya tanpa memperdulikan sakit yang dirasakan Siti.


Sebelum bunuh diri, Siti menangis di kamar. Memukul perutnya, perut yang saat itu tengah mengandung anaknya dengan Leon. Hingga kemudian pandangan Siti terhenti pada jendela kamar. Siti turun dari tempat tidurnya dan menuju ke jendela tersebut. Menatap ke arah bawah sejenak hingga kemudian melompat.


Setelah menyaksikan rekaman itu, Bi Eka keluar dari ruang keamanan. Tangannya terkepal dan segera keluar dari rumah sakit menuju ke rumah. Selama diperjalanan, sorot pandangan matanya terlihat kosong. Seorang Ibu yang kehilangan anak kandungnya tidak berbeda dengan kehilangan dunianya. Dunianya hilang dan dihancurkan.


Tak berselang lama, Bi Eka tiba di rumah tersebut. Dengan langkah yang terburu-buru segera menuju ke arah dapur dan meraih sebuah pisau disana. Dan tanpa berlama-lama segera berjalan menuju ke kamar Leon.


Sekali lagi membanting pintu kamar yang tidak berdosa itu di dinding. Tidak ada siapapun di ruangan tersebut, namun dari luar kamar mandi terdengar suara air yang mengalir. Seseorang tengah mandi.


Bi Eka memutuskan berdiam di depan pintu kamar mandi menunggu Leon keluar dari kamar mandi.


Tak berselang lama kemudian, Leon keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk. Dengan sigap Bi Eka menusuk Leon dari belakang saat Leon menutup pintu kamar mandi.


"Bi.. " Lirih Leon berbalik menatap Bi Eka yang berdiri di belakangnya dengan mata memerah penuh amarah

__ADS_1


"Anakku bunuh diri, kamu pantas mendapatkan ini" Ujar Bi Eka melepas genggamannya pada pisau kemudian jatuh tersungkur di lantai


Begitu pun dengan Leon yang kini memegang pisau, hingga sepersekian detik kemudian tubuh jatuh di lantai. Pandangannya perlahan mengabur hingga kemudian Leon terbaring tidak sadarkan diri.


Sementara Bi Eka hanya memandangnya sembari menangis meratapi kematian anaknya.


Tak berselang lama, Ibu Leon masuk ke dalam kamar dan segera berteriak histeris melihat pemandangan di hadapannya. Anaknya terbaring lemah dan tidak berdaya di lantai.


"Leon.. " Teriak Ibu Leon menghampiri anaknya yang sudah tidak sadar


"Apa yang kamu lakukan?" Bentak Ibu Leon mengguncang tubuh Bi Eka


"Anakku bunuh diri. Hiks.. Hiks.. Bunuh diri.. Dia pantas mendapatkannya.. " Ujar Bi Eka menangis dan sepersekian detik kemudian menatap tajam ke arah Ibu Leon


"Arggg.. " Teriak Ibu Leon kemudian bangkit menelpon ambulance dan kantor polisi


Tak berselang lama, ambulance tiba dan segera membawa Leon menuju ke rumah sakit. Diikuti oleh polisi yang kini memborgol tangan Bi Eka dan membawanya ke kantor polisi.


...***...


"Ada apa?" Tanya Leon mengangkat tubuhnya sembari meraih handuk di tempat duduk


"Leon ditikam" Jawab Jhon


"Ditikam?"


"Iya Tuan. Leon ditikam oleh pembantunya sendiri. Dari yang aku dapatkan, anak pembantunya hamil dan stress sehingga memilih bunuh diri. Ibunya tidak terima dan menikam Leon" Jawab Jhon menjelaskan


"Bagaimana dengan pembantu itu?"


"Saat ini dia berada di penjara. Ini informasi tentang nya" Jawab Jhon menyerahkan dokumen berisi informasi terkait pembantu tersebut


"Bi Eka.. " Lirih Ray membaca dokumen tersebut

__ADS_1


Nama yang tidak asing bagi Ray. Meski hanya satu tahun lamanya, namun Bi Eka pernah merawatnya sewaktu kecil. Disaat Ibunya meninggal, satu-satunya orang yang tetap setia ada, menghiburnya dan merawatnya adalah Bi Eka.


"Siapkan mobil ! Kita ke kantor polisi" Pintah Ray kemudian beranjak meninggalkan kolam menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap


"Baik Tuan" Jawab Leon sedikit membungkuk dan segera beranjak dari tempatnya setelah Ray pergi menuju ke parkiran mempersiapkan mobil seperti yang diperintahkan


Tak berselang lama, Ray keluar dari rumah dengan mengenakan setelan jas lengkap. Dan segera masuk ke dalam mobil. Tanpa berlama-lama Jhon segera menginjak gas melajukan mobil menuju ke kantor polisi.


20 menit kemudian, mobil yang dikendarai Jhon memasuki pintu masuk dan berhenti di depan kantor polisi. Keduanya pun turun dari mobil dan masuk ke dalam.


Kini keduanya berada di dalam sebuah ruangan yang lengkap dengan pembatas kaca yang digunakan sebagai pemisah antara tahanan dan pengunjung.


Seorang wanita dengan wajah pucat dan tatapan kosong duduk di depan Ray dengan bantuan seorang sipil penjaga.


"Bi.. " Panggil Ray menatap ke arah Bi Eka


Mendengar hal itu, Bi Eka hanya menatap kosong ke arah Ray tanpa berniat menjawab.


"Aku Brian Bi" Ujar Ray kemudian


"Brian? " Lirih Bi Eka dengan satu tangan memegang kaca di hadapannya seolah tidak percaya dengan pendengarannya


"Iya Bi. Aku Brian Carlos Redwoof" Ujar Ray menegaskan kembali siapa dirinya


Bi Eka menangis kedua tangannya naik menutupi wajahnya seolah tidak percaya dengan pendengarannya. Anak laki-laki yang selama ini dianggap hilang bahkan beberapa menganggapnya meninggal kini berada di hadapannya.


"Waktu kita terbatas, aku hanya akan mengatakan beberapa kata saja" Ujar Ray


"Aku akan menyewa seorang pengacara untuk Bi Eka, untuk membantu meringankan hukuman Bibi. Tapi aku mau Bibi bekerja sama dengan mereka dan menceritakan semuanya dengan jelas"


"Tidak.. Anakku telah mati. Tidak ada gunanya aku bebas" Ujar Bi Eka menangis meratapi kepergian anaknya


"Lalu apa? Bibi akan tinggal di penjara sementara orang yang telah membuat anak Bibi tersiksa hingga meninggal hidup dengan nyaman. Begitu Bi? " Geram Ray namun tidak ditanggapi oleh Bi Eka yang masih menangis

__ADS_1


"Pengacara yang aku sewa akan datang menemui Bibi, jadi aku berharap Bibi bisa bekerja sama. Karena aku tidak akan pernah membiarkan bajingan itu bebas dan menikmati hidupnya setelah apa yang dia lakukan" Kesal Ray kemudian bangkit dari duduknya meninggalkan Bi Eka yang masih larut dalam kesedihannya


__ADS_2