Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Amarah Keyrani


__ADS_3

Keyrani membuka kedua matanya, menatap lekat-lekat wajah kekasihnya yang kini tertidur pulas di sampingnya. Lalu turun dari kasur, menuju ke meja dan meraih sebuah bir di laci lalu duduk di sofa.


Selama hampir 30 menit Keyrani duduk terdiam sembari meminum bir tersebut. Sebelum akhirnya keluar dari kamar, dalam keadaan sedikit linglung karena pengaruh dari alkohol.


Dengan tangan bertumpu di dinding, Keyrani berjalan perlahan menuju ke ruang kerja Kakeknya yang berada tak jauh dari lorong kamarnya.


Keyrani masuk ke dalam, lalu di duduk bersandar di sofa menatap lurus ke arah meja yang berada tepat di depannya. Tepatnya pada kursi yang saat ini tengah diduduki oleh Kakeknya.


"Apa yang kamu lakukan tengah malam begini?" Tanya Kakek Keyrani yang masih berada di ruang kerjanya sejak tadi


Keyrani hanya diam memperhatikan, tanpa sedikit pun suara.


"Kamu minum?" Tanya Kakek Keyrani setelah mencium aroma alkohol dari Keyrani, alisnya sedikit terangkat dengan kerutan yang perlahan terukir di dahinya


"Sedikit"


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu minum tengah malam begini? Ray? Dimana dia? Apa dia tidak mencegahmu?"


"Kenapa?" Tanpa menghiraukan pertanyaan Kakeknya, Keyrani balik bertanya dengan tatapan tajam meminta penjelasan


"Kenapa kalian harus berbuat seperti itu? Apa kepergian ibuku belum cukup? Apa harta itu begitu penting untuk kalian?"


"Ini untuk kebahagian kamu sendiri" Ucap Kakek Keyrani mengerti arah pembicaraan Keyrani


"Kebahagiaan? Siapa kalian hingga berani mengatur kebahagiaanku?" Sarkas Keyrani tajam


"Keyrani!" Tegur Kakek Keyrani


"Apa aku salah? Aku datang ke rumah ini karena aku masih menghormati kalian sebagai orang tua dari ibuku, tapi bukan berarti kalian bisa begitu seenaknya mengatur kehidupanku"


"Aku sama sekali tidak perduli dengan keluarga ini, apalagi menjadi pewaris keluarga ini. Aku memiliki kehidupanku sendiri dan hanya aku yang berhak memutuskannya"


"Bagaimana dengan nenekmu? Dia sakit, hidupnya tidak akan lama lagi. Keinginannya satu-satunya agar kamu bisa menjadi pewaris keluarga ini"


"Kalian mengancamku?"


"Bukan seperti itu, Kami hanya tidak ingin kamu berada dalam bahaya. Kamu tahu sendiri bagaimana masa lalu Ray, akan ada banyak bahaya yang menghampirimu di masa depan"


Keyrani tertawa kecil mendengar penuturan Kakeknya "Jadi menurut Kakek, aku akan tetap aman jika aku menjadi pewaris keluarga ini"


Kakek Keyrani terdiam menunduk. Memang benar, saat Keyrani menjadi pewaris keluarga, ia hanya akan menjadi sasaran dari orang-orang yang sejak dulu mengibcar posisinya.


"Jika memang ada kebahagiaan di rumah ini, Ibu tidak mungkin pergi waktu itu" Tutur Keyrani lalu bangkit berdiri meninggalkan Kakeknya yang masih diam menunduk merenungi semua perkataan Keyrani


...***...


Tepat di saat Keyrani keluar dari ruangan tersebut, ia bertemu dengan Jeri yang entah sejak kapan berada di depan ruangan tersebut.

__ADS_1


"Kamu mendengarnya?"


"Hmm.. Kurang lebih"


"Apa aku salah?"


Jeri menyeringai kecil, lalu menarik lengan Keyrani menuju ke salah satu ruangan yang berada di lantai ketiga.


"Ini dimana?"


"Kamar ibumu" Ucap Jeri saat membuka pintu kamar tersebut


Keyrani masuk sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan yang tampak begitu bersih dan terawat.


"Masih seperti dulu. Sepertinya mereka tidak merubahnya" Ucap Jeri berasa bernostalgia


"Apa Ibu benar-benar tidak bahagia di rumah ini?"


"Aku tidak tahu. Ibumu tidak pernah benar-benar memberitahuku perasaannya. Dia selalu menyembunyikan semuanya dariku. Termasuk saat ia berencana pergi dari rumah ini"


Sama halnya dengan Jeri, Keyrani juga tidak memiliki banyak ingatan tentang Ibunya. Terutama karena Ibunya pergi saat ia masih berumur 11 tahun. Trauma akan kecelakaan itu membuat ingatannya terasa samar di pikirannya.


"Jadi jenis kebahagiaan apa yang akan aku dapatkan jika aku tinggal di rumah ini? Aku sama sekali tidak melihat adanya kebahagiaan di rumah ini"


"Key.. "


"Aku benar kan. Aku tidak pernah menginginkan harta ini, aku tidak membutuhkannya. Bahkan jika Ray menyetujui permintaan mereka, bukan berarti aku akan menyetujuinya juga"


"Tidak perlu khawatir. Biar aku yang mengatasinya. Tidak ada yang perlu berkorban di antara kalian"


"Besok aku akan pergi"


"Key.. "


"Tidak. Jangan mencegahku, aku sudah memutuskannya. Aku sama sekali tidak perduli dengan apa yang terjadi di rumah ini. Tidak ada satu pun orang yang berhak mengatur kehidupanku"


Jeri menghela nafasnya pasrah. Sangat tidak mungkin baginya untuk membujuk Keyrani saat ini.


"Kalau begitu istirahatlah, aku akan menemuimu lagi besok"


"Aku akan tidur disini"


"Baiklah" Jeri lalu bangkit membantu Keyrani berbaring dan memperbaiki selimutnya. Lalu beranjak pergi setelah mematikan lampu kamar tersebut


...***...


Keesokan paginya, Ray terbangun dengan mendapati Keyrani sudah tidak berada di sampingnya. Ray tidak terlalu memikirkannya karena mngira ia akan berada di dapur atau bersama yang lainnya karena sekarang sudah jam 7 pagi.

__ADS_1


Setelah mengganti pakaiannya, ia segera turun ke lantai bawah menghampiri yang lainnya.


"Kamu sendiri? Keyrani mana?"


"Dia belum turun?"


"Belum" Jawab Lisa menggelengkan kepalanya begitupun dengan yang lainnya yang menunjukkan raut wajah tidak tahu


"Tidak perlu mencarinya. Dia ada di atas" Sela Jeri yang baru saja datang


"Di atas?"


"Di kamar ibunya. Sebentar lagi dia akan turun" Jawab Jeri berusaha santai menyembunyikan kejadian semalam


"Kita bisa makan sambil menunggunya" Ucap Jeri lalu menarik pengan Ray ke meja makan


Ray yang sedikit merasa curiga dan khawatir, hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Jeri dan duduk di meja makan bersama dengan yang lainnya.


10 menit berlalu...


Keyrani akhirnya turun dengan penampilan rapi setelah membersihkan dirinya, terutama karena semalam ia meminum sebotol bir.


"Key.. " Panggil Ray lalu mempersilahkannya duduk di kursi samping Kakek dan Neneknya


Keyrani tidak membalas. Ia hanya terdiam, lalu memakan sarapannya tanpa menghiraukan ekspresi kebingungan yang lainnya.


Sementara Jeri hanya menunduk menatap makanannya, tanpa berniat memakannya. Sejak semalam, ia sama sekali tidak bisa tertidur. Salahkan dirinya yang sudah membuat semuanya seperti ini. Ia benar-benar tidak menyangka jika orang tuanya akan benar-benar bersikap seperti itu.


Hening...


Tak ada satupun yang berani bersuara di meja makan itu. Hingga kemudian, Keyrani meletakkan sendok yang di peganganya lalu menatap satu per satu orang yang ada di meja makan.


"Key..?"


"Maaf... Aku memutuskan untuk pulang hari ini" Tutur Keyrani merasa bersalah pada sahabatnya termasuk Ray yang kini menatapnya bingung


"Keyrani!" Sontak Kakek Keyrani berdiri menatap serius cucunya itu


"Aku akan pulang. Dengan atau tanpa persetujuan dari kalian" Balas Keyrani


"Apa maksud kamu nak? Apa kamu tidak suka tinggal disini? Ini baru 2 hari sejak kedatangan kamu" Ucap Nenek Keyrani menghampiri Keyrani


"Yah.. Aku baru dua hari dan aku sudah tidak tahan tinggal disini" Balas Keyrani dengan sorot mata marah


"Key.. " Jeri akhirnya bangkit berdiri


"Diam. Semalam sudah kukatakan. Aku akan pulang hari ini, tidak ada satu pun dari kalian yang berhak menghentikanku" Ujar Keyrani dengan tatapan tajam berusaha mengontrol emosinya yang kini hampir meledak

__ADS_1


"Ikut denganku" Tutur Ray segera menarik lengan Keyrani menjauh dari meja makan


Sementara yang lainnya hanya diam membisu bingung harus berbuat apa dalam kondisi seperti itu. Khususnya setelah Keyrani yang begitu marah seperti itu.


__ADS_2