
Motor yang dikendarai Rian perlahan memasuki bengkel. Tanpa berlama-lama Keyrani kemudian turun dari motor dan menghampiri Jeri yang masih disibukkan dengan pekerjaannya. Sementara Rian memilih masuk ke ruangan sekaligus mengganti bajunya.
"Motor aku bagaimana?" Tanya Keyrani setibanya di dekat Jeri
"Sepertinya kamu harus sabar menunggu, karena Body Kit yang kamu mau setidaknya akan memakan waktu 1 minggu untuk tiba" Jawab Jeri
Keyrani menghela nafasnya panjang "Baiklah" Ujar Keyrani pasrah sembari memutar-mutar kunci yang ditangannya "Oh iya, kamu ingat saat aku bilang suka sama dosen aku?"
"Iya. Kenapa? Sudah kamu katakan?"
"Belum, tapi Aku diajak ketemu sama tante dia" Jawab Keyrani
"Apa? Kok bisa?" Ujar Jeri kaget kemudian menghentikan gerakannya dan berbalik ke arah Keyrani
"Duduk dulu, biar aku ceritakan" Ujar Keyrani kemudian menarik Jeri untuk duduk di kursi "Jadi tadi pagi aku kan ketemu sama dosen aku. Katanya tantenya mau ketemu aku. Nah aku baru ingat kalau aku pernah datang ke pesta ulang tahun tantenya dan mengaku sebagai pacarnya" Tutur Keyrani
Jeri memegang kepalanya mencoba mencerna perkataan Keyrani "Kamu pura-pura jadi pacar dosen kamu di depan tantenya dia? Begitu?" Tanya Jeri memastikan yang kemudian di angguki oleh Keyrani
"Iya. Awalnya aku nggak ada niat seperti itu. Tapi dia-nya tiba-tiba nyuruh aku jadi pacar pura-pura nya dan aku nggak bisa nolak makanya aku setuju"
Mendengar penjelasan Jeri, tangan kirinya naik memukul jidat Keyrani geram karena Keyrani baru memberitahunya hal sepenting itu.
"Kok dipukul sih" Protes Keyrani memegang jidatnya "Bukannya bagus, kan aku bisa tahu dia suka sama aku atau tidak" Ujar Keyrani
Jeri menghela nafasnya panjang "Jadi kamu tetap mau pura-pura jadi pacarnya dia?" Tanya Jeri pasrah
"Nggak. Aku maunya jadi pacar sungguhan" Ujar Keyrani to the point
"Dasar.. Nanti kalau nangis jangan datang padaku" Tutur Jeri tidak mengerti lagi dengan sifat Keyrani
"Hhhmm.. Sayangnya aku. Jangan gitu dong" Ujar Keyrani bersikap manis sembari memeluk Jeri dari samping
Jeri hanya membiarkan Keyrani memeluk dirinya karena Keyrani sudah dianggapnya sebagai adik mengingat dirinya merupakan seorang anak tunggal. Kehadiran Keyrani dalam hidupnya benar-benar seperti hadiah Tuhan untuknya.
"Udah ah, kamu bau" Ujar Keyrani iseng kemudian melepas pelukannya dan segera pergi meninggalkan Jeri, sebelum Jeri memukulnya kembali
"Key.." Sebel Jeri menoleh kearah Keyrani yang kini masuk di ruangan
__ADS_1
"Kamu benar-benar dekat dengan Kak Jeri" Ujar Rian saat Keyrani memasuki ruangan sembari tertawa melihat ekspresi sebal Jeri
"Yah, dia adalah orang paling berharga di hidupku. Disaat semua orang, keluarga maupun temanku meninggalkanku, hanya Jeri yang selalu ada di sisiku" Tutur Keyrani kemudian duduk di dekat Rian
"Sungguh beruntung"
"Memang benar, aku beruntung memilikinya. Karenanya aku bisa merasakan figur seorang kakak termasuk ayah yang tidak pernah aku dapatkan" Tutur Keyrani dengan nada sedih, begitu pun dengan Rian yang hanya diam mendengar tanpa berniat merespon karena melihat suasana hati Keyrani yang tiba-tiba berubah
Drrtt.. Drrtt..
Ponsel Keyrani tiba-tiba berdering. Membuat ruangan yang tadinya sunyi kini terisi oleh suara getaran ponsel Keyrani.
Keyrani meraih ponselnya yang kini menampilkan nama Ray. Dengan segera Keyrani menjawab panggilan tersebut.
"Mengapa tidak mengirimkanku alamatnya?" Tanya Ray dari seberang
"Aku lupa. Aku akan segera mengirimnya" Jawab Keyrani menepuk jidatnya karena melupakan hal sepenting itu
"Baiklah" Balas Ray kemudian memutuskan panggilan
...***...
Setelah mendapat alamat tempat Keyrani berada. Tanpa berfikir panjang, Ray langsung bergegas menuju ke alamat tersebut meski jam masih menunjukkan pukul 5 sore.
Tak berselang lama mobil Ray kini berhenti di depan bengkel J'One milik Jeri mengingat jarak dari kampus menuju ke bengkel tersebut lumayan dekat.
Ray turun dari mobil kemudian menghampiri Keyrani dan Jeri yang kini tengah berbincang sembari mengutak-atik mesin mobil.
"Key" Panggil Ray saat berada di dekat keduanya
Keyrani segera berbalik dan sedikit kaget akan kedatangan Ray yang bisa dibilang terlalu cepat "Kamu sudah datang" Ujar Keyrani dengan tangan sengaja menyenggol Jeri kemudian berjalan menghampiri Ray
"Iya. Aku lihat lokasinya lumayan dekat dari kampus, jadi aku langsung kesini" Ujar Ray beralasan
"Sayang.. Dia siapa?" Tanya Jeri iseng sembari merangkul pundak Keyrani
Hal itu sontak membuat Keyrani melotot ke arahnya "Ehh.. Hmm... Kenalin dia Ray dosen Aku di kampus" Ujar Keyrani sembari melonggarkan rangkulan Jeri
__ADS_1
"Oh.. Jeri" Ujar Jeri mengulurkan tangannya
"Raymon" Jawab Ray meraih tangan Jeri
Keduanya bertatapan dengan tangan yang masih bersalaman seolah enggan menurunkan harga diri masing-masing.
"Masuk dulu yuk" Ajak Keyrani melepas genggaman keduanya kemudian menarik lengan Ray masuk ke ruangan sebelum suasana semakin canggung
"Kamu duduk dulu disini, biar aku cuci tangan dulu sebentar" Ujar Keyrani kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi
Sementara Ray hanya memperhatikan seisi ruangan dan sesekali melirik ke arah luar ruangan memperhatikan Jeri yang sedari tadi juga memperhatikannya. Tak berselang lama, Keyrani keluar dari kamar mandi dan segera merapikan barang-barangnya.
"Ayo" Ajak Keyrani setelah merapikan isi tasnya kemudian berjalan keluar ruangan diikuti oleh Ray "Jer, aku pergi dulu" Ujar Keyrani saat melewati Jeri sembari mengangkat tangannya
"Hm.. Hati-hati" Ujar Jeri masih dengan pandangan berfokus ke arah Ray
Keduanya bertatapan cukup lama hingga kemudian Ray berbelok dan masuk ke dalam mobilnya begitu pun dengan Keyrani.
Selama di perjalanan keduanya terdiam cukup lama seakan bingung untuk memulai percakapan. Hingga kemudian suara Ray memecah keheningan.
"Dia siapa?" Tanya Ray memulai pembicaraan yang memang sedari tadi sudah penasaran
"Oh, teman Aku" Jawab Keyrani
"Teman? Tapi kok manggil sayang" Tanya Ray jealous
"Kalau lagi iseng memang gitu orangnya. Lagian dia itu sudah aku anggap layaknya saudara Aku" Tutur Keyrani menjelaskan
"Oh"
"Jujur deh sama Aku, Kamu cemburu kan?" Ujar Keyrani menoleh ke arah Ray sembari menunjuknya
"Hah? Aku tidak cemburu. Aku hanya penasaran saja" Ujar Ray mengelak
Keyrani tertawa kecil melihat reaksi Ray belum lagi karena telinganya yang kini mulai memerah karena malu "Oh jadi nggak cemburu. Tapi kok nanya itu mulu, dua kali loh" Ujar Keyrani semakin iseng mengingat tadi pagi di kampus Ray juga menanyakan pertanyaan yang sama dan dengan raut wajah yang sama kepadanya
Sementara Ray hanya bisa memegang telinganya tanpa berniat melihat ke arah Keyrani yang kini menertawai nya.
__ADS_1