Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Rumah Jeri 3


__ADS_3

Jeri dan Rani yang baru saja berciumam di balkon, tanpa sadar keduanya kini berada di kamar Jeri yang berada tepat di samping balkon tadi.


Berbeda dengan Rani yang seolah sudah tidak sadar dengan apa yang diperbuatnya, Jeri masih sedikit sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya.


Jeri menghentikan gerakannya dan menjauh dari Rani berusaha menormalkan pikirannya, karena apa yang diperbuatnya ini benar-benar salah.


Dengan tangan menggaruk gusar rambutnya, Jeri menatap Rani yang seolah menatapnya dengan pandangan meminta lebih.


"Tidak Rani.. Ini salah.. Kamu sudah benar-benar mabuk.. " Ujar Jeri


"Aku.. tidak mabuk.. " Balas Rani menggelengkan kepalanya meski dalam keadaan linglung karena tidak akan ada orang mabuk yang mengakui dirinya tengah mabuk


"Tidak.. Sebaiknya aku mengantarmu ke kamar.. " Ujar Jeri segera meraih tangan Rani berniat membawanya ke kamarnya


Namun belum sempat ia meraih tangan Rani, Rani sudah lebih dahulu mendorongnya ke kasur.


"Rani.. Ack.. " Ringis Jeri saat Rani tiba-tiba menindihnya dan berbaring di atasnya


"Kuharap besok kamu bisa ingat dengan jelas apa yang kamu lakukan ini.. " Ujar Jeri pasrah melihat Rani yang saat ini tengah memainkan tangannya di dada bidangnya


Sikap Rani saat ini benar-benar membuatnya kelimpungan. Sedari tadi ia sudah berusaha menahan hasratnya untuk tidak berbuat sesuatu hal yang melewati batas, karena ia juga seorang pria normal. Namun di sisi lain, ia juga sadar akan Rani yang saat ini masih di bawah pengaruh alkohol.


Bersamaan dengan Jeri yang masih berkutat dengan isi pikirannya, Rani semakin berani dan mulai membuka satu persatu kancing baju Jeri.


"Ran.. " Panggil Jeri namun tidak ada balasan dan pada akhirnya ia membalik tubuh Rani membuat dirinya kini berada di atas tubuh Rani


Rani masih tidak berkutip dan sibuk membuka kancing bajunya dengan pelan satu persatu.


"Ini salah... " Gusar Jeri bangkit berdiri


"Kenapa? Kamu juga tidak suka denganku? Hiks.. " Ujar Rani mulai meneteskan air mata karena Jeri yang sedari tadi menolaknya


"Mengapa semua orang tidak suka denganku.. "  Ujar Rani mulai mengeluarkan isi hatinya akan rasa kecewanya karena cinta yang bertepuk sebelah tangan

__ADS_1


"Tidak.. Bukan itu maksudku" Ujar Jeri panik karena melihat Rani menangis "Sekarang aku tanya padamu, kamu menyukaiku?"


Rani terdiam sejenak kemudian menatap Jeri lirih "Kamu tahu, aku baru saja kehilangan cinta pertamaku namun anehnya aku tidak merasa terlalu sedih ataupun kecewa. Tapi tiap kali aku merasa sedih karena dia, aku justru mengingatmu.. " Ujar Rani berterus terang


Sejak awal, saat ia mengetahui hubungan Aaron dan Lisa, Rani memang merasa sedih dan kecewa namun rasa kecewa yang dirasakannya entah kenapa tidak terlalu menyakitkan baginya, yang bahkan sesuai yang dikatakannya ia justru tiba-tiba teringat Jeri.


"Jadi apa aku menyukaimu? Aku tidak tahu.. Aku tidak tahu.. " Ujar Rani linglung


Sementara Jeri yang masih diam menatap Rani, kini meraih tengkuk Rani dan kembali menciumnya yang tentu saja langsung di balas oleh Rani.


Ruangan yang tadinya sunyi, kini di penuhi suara keduanya yang larut dalam cumb*an masing-masing. Jeri yang sedari tadi berusaha memulihkan isi pikirannya, kini tidak perduli lagi dan mulai melepas kemejanya, begitu pun dengan Rani yang ikut menanggalkan bajunya


"Aku janji akan bertanggung jawab.. " Ujar Jeri sebelum akhirnya kembali menindih tubuh Rani dan mencium bibirnya dengan kasar dan rakus dengan tangan kanan perlahan mer*mas buah dada Rani membuat Rani mend*sah tak karuan


Jeri berpindah pada leher jenjang milik Rani dan meninggalkan banyak tanda kepemilikannya disana dan secara perlahan turun ke area sensitif Rani membuat Rani semakin mend*sah hebat karena perlakuannya.


"Ackk... " Teriak Rani kaget menahan sakit, yang sontak membuat Jeri menghentikan gerakannya dan kembali mencium Rani dengan tangan yang masih berada di area sensitif Rani dan berusaha menggerakkannya secara perlahan hingga Rani mampu dan bisa menahannya


Karena perlakuan Jeri yang lembut padanya, secara perlahan Rani mulai beradaptasi dan mampu menahan rasa sakitnya yang semakin lama semakin dinikmati oleh dirinya meski dengan tangan yang masih dengan setia meremas punggung Jeri saat ia merasakan sakit.


Ditengah pergulatan Jeri dan Rani, terdapat Keyrani yang saat ini duduk sendiri di balkon menunggu kedatangan Ray. Keyrani yang awalnya berniat tidur dengan Alana terpaksa mengurungkan niatnya saat Ray tiba-tiba saja menelponnya dan mengatakan ia akan datang.


"Bukankah seharusnya ia sudah tiba.. " Gumam Keyrani melirik ke arah jam ditangannya yang kini menunjukkan pukul 11 malam


"Sebaiknya aku mengambil selimut.. " Ujar Keyrani saat sekujur tubuhnya mengigil karena terkena angin malam


Tepat saat Keyrani berjalan menuju ke kamar, ia bertemu dengan Ray yang juga baru saja tiba.


"Kamu sudah datang.. Bagaimana kamu masuk? " Ujar Keyrani berbelok dan menghampiri Ray


"Pintunya terbuka jadi aku langsung masuk saja.. " Jawab Ray menunjuk ke bawah "Kamu sendiri? Dimana Jeri dan yang lainnya?" Tanya Ray memperhatikan sekitar rumah yang terlihat sepi


"Sepertinya mereka sudah tidur"

__ADS_1


"Bagaimana denganmu? Kenapa belum tidur?"


"Aku baru saja ia ingin tidur saat kamu tiba-tiba menelpon ku" Ujar Keyrani lirih


"Kalau begitu ayo tidur.. "


"Tidak.. Tidak.. Aku tidak mengantuk sekarang" Tolak Keyrani


"Jadi?"


"Ayo duduk di balkon" Jawab Keyrani menunjuk ke arah balkon yang masih dipenuhi oleh bekas makanan mereka tadi "Kesanalah, biar aku mengambil selimut dulu" Ujar Keyrani segera berlari masuk ke dalam kamar sementara Ray mengikuti perkataannya dan berjalan ke arah balkon


Tak berselang lama kemudian, Keyrani kembali dengan membawa dua selimut ditangannya. Kemudian memakaikannya satu pada Ray dan dirinya satu.


"Kamu minum?" Tanya Ray saat memperhatikan kaleng bir yang tergeletak di meja


"Sedikit, ini tidak bisa dibilang minum" Ujar Keyrani beralasan "Ayolah, jika aku mabuk aku pasti tidak akan menemanimu disini" Sambung Keyrani menyendarkan kepalanya pada tubuh Ray


Hingga tiba-tiba perhatian keduanya teralihkan saat keduanya dengan samar mendengar suara ******* yang entah dari mana datangnya.


"Apa aku tidak salah dengar..?" Tanya Keyrani kebingungan sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar "kamu mendengarnya kan? Bukankah itu suara desa..han... " Tanya Keyrani memelankan suara saat mengatakan des*h*n


"Siapa lagi yang datang kesini?" Tanya Ray


"Hanya ada Aku, Alana, Rani, Lisa, Rian, Aaron dan Dafa. Alana tidak mungkin karena ia sudah tidur, Dafa dan Rian juga tidak mungkin. Aaron dan Lisa aku tidak tahu karena tadi Lisa mabuk"


"Jeri dan Rani?" Tanya Ray karena Keyranj melewatkan keduanya


"Ahh... Aku memang meninggalkan keduanya di balkon tadi.. Tapi itu tidak mungkin mereka kan?" Tanya Keyrani tidak percaya jika suara itu dari keduanya mengingat hubungan keduanya yang bahkan masih terlihat canggung


"Tapi apa mereka sedang melakukan itu.. hmm.." Tanya Keyrani tiba-tiba penasaran sembari menggigit bibirnya


"Hmm.. " Ray menganggukkan kepalanya yang sontak membuat Keyrani menutup mulutnya tidak percaya sembari mengerjapkan matanya

__ADS_1


"Tapi kenapa aku jadi malu begini.. " Ujar Keyrani sembari menyembunyikan kepalanya di dada Ray


__ADS_2