
Karena malam yang semakin larut, Ray dan Keyrani memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Keduanya menempati kamar yang ada di lantai bawah, sementara yang lainnya berada di lantai atas. Hal ini tidak lain karena permintaan Keyrani, khususnya setelah mendengar suara des*han saat keduanya berada di balkon tadi yang membuatnya merasa aneh dan malu.
"Apa menurutmu mereka masih melakukannya?" Tanya Keyrani mengungkitnya kembali
"Mungkin.. " Tebak Ray mengira-ngira
"Wah... Ini sudah hampir 1 jam lamanya. Bukankah itu akan terasa sakit?" Tanya Keyrani dengan begitu polosnya tanpa memperhatikan Ray yang sedari tadi mulai risih dengan pembahasan itu
Terutama karena Ray adalah seorang pria, junior kecilnya bisa dengan mudah terbangun ketika membicarakan hal sensitif seperti ini khususnya dengan Keyrani yang saat ini berbaring di pelukannya.
"Itu tidak menyakitkan... "
"Bagaimana kamu tahu? Jangan bilang kamu pernah melakukannya?" Tanya Keyrani sontak bangun dari tidurnya dan menatap Ray penuh curiga
"Tidak.. Tidak.. Aku belum pernah melakukannya" Sanggah Ray menarik kembali Keyrani kedalam dekapannya
"Serius?" Tanya Keyrani masih kurang percaya
"Iya.. " Jawab Ray pasti karena bahkan tanpa ia melakukannya Ray sudah mengetahuinya
Mendengar hal itu, Keyrani kembali mengeratkan pelukannya pada Ray.
"Key.. " Panggil Ray tiba-tiba dengan nada lirih
"Hmm.. "
"Ayo kita menikah.. " Ujar Ray yang sontak membuat Keyrani melepas pelukannya
"Nikah?"
"Iya. Ayo kita menikah, bukankah sudah saatnya kita menikah?"
"Tapi aku masih kuliah saat ini"
"Tidak masalah, kita bisa bertunangan terlebih dahulu"
"Apa ini tidak terlalu cepat?" Tanya Keyrani masih kurang yakin
"Tidak. Dan lagi, dengan kita bertunangan tidak akan ada laki-laki lain yang akan berani mendekatimu lagi" Ujar Ray masih dengan sifat posesif nya
"Biarkan aku memikirkannya" Balas Keyrani kembali mengeratkan pelukannya
"Kamu tidak ingin menikah denganku?"
__ADS_1
"Bukan seperti itu, rasanya aku masih belum siap jika harus menjadi ibu rumah tangga"
"Yang menyuruhmu menjadi ibu rumah tangga siapa? Hmm? Aku menyuruhmu menjadi istriku, bukan ibu rumah tangga"
"Aku nggak tau, lagian mana ada coba orang ngajak nikah kayak gini. Nggak romantis banget" Protes Keyrani
"Lagian dari tadi kamu nanyanya soal yang di atas mulu, jadinya aku ikut kebelet" Imbuh Ray
"Hah? Kebelet?"
Ray menghela nafasnya panjang, rasanya ia benar-benar ingin menerkam Keyrani saat ini yang benar-benar tidak mengerti naluri prianya.
"Mending kita tidur sekarang.. " Ucap Ray menghentikan pembahasan tadi sebelum dirinya benar-benar kehilangan akal sehatnya karena ulah Keyrani
...***...
Jam di dinding menunjukkan pukul 8 pagi saat terik matahari perlahan mengenai wajah Rani yang saat ini terbaring di kasur. Dengan perlahan ia membuka kedua matanya, sembari berusaha menggerakkan tubuhnya.
"Ackk.. " Ringis Rani merasakan sakit pada area selangkangannya saat ia berusaha menggerakkannya
Tangannya naik memijat kepalanya yang terasa sakit meski tidak sebanding dengan rasa sakit pada area selangkangannya.
"Haaahhh... Apa ini? Kenapa aku tel*njang? Dan acckk.. Mengapa ini begitu sakit?" Ujar Rani kaget saat mendapati dirinya tel*njang tanpa sehelai pakaian
Dengan susah payah, ia mendudukkan dirinya kemudian menyandarkan tubuhnya sembari mengingat kembali apa yang terjadi semalam.
"Apa jangan-jangan aku melakukannya dengan Kak Jeri.. " Tebak Rani mulai panik karena ia sama sekali tidak mengingatnya
"Aarrghhh.. Dasar bodoh kamu Rani.. Bagaimana bisa kamu melakukannya.. " Ucap Rani mengacak-acak rambutnya
Hingga kemudian, pandangannya berhenti pada noda merah di sampingnya "Ahh.. Aku benar-benar melakukannya" Tutur Rani memperhatikan noda merah tersebut
"Aku sudah tidak.. Arrggghh.. " Rani kembali mengacak-acak rambutnya tidak sanggup mengatakannya jika ia sudah kehilangan keperaw*nannya
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, membuat Rani yang sedari tadi merutuki dirinya sontak menutup dirinya dengan selimut tanpa melihat siapa yang datang, namun jika tebakannya benar itu pasti adalah Jeri.
"Kamu bangun?" Tanya Jeri perlahan mendekat kemudian duduk di dekat Rani
Tidak ada jawaban, Rani sama sekali tidak tahu harus bereaksi apa khususnya karena dirinya masih dalam keadaan tel*njang saat ini.
"Rani.. " Ucap Jeri berniat melepas selimut Rani
"Stop.. Aku malu.. " Ujar Rani mengeratkan genggamannya
__ADS_1
Sudut bibir Jeri naik melihat tingkah Rani yang begitu menggemaskan.
"Aku sudah melihat semuanya semalam" Tutur Jeri kemudian yang sontak membuat Rani memunculkan kepalanya
Rani seketika menggigit bibirnya dan memalingkan wajahnya saat menatap wajah Jeri yang saat ini memamerkan smirk di wajahnya.
"Aku kita hmmm... benar-benar melakukan..itu hmmm... semalam..?" Tanya Rani terbata-bata tanpa menatap ke arah Jeri
"Bukankah jawabannya ada pada tubuhmu" Jawab Jeri bersikap misterius
Rani menghela nafasnya pasrah. Karena satu-satunya jawab dari rasa sakit yang dirasakannya saat ini sudah pasti karena ia sudah melakukannya.
"Aku akan bertanggung jawab, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkannya" Ujar Jeri dengan tatapan serius sembari menggenggam salah satu tangan Rani
"Apa kamu menyukaiku?" Tanya Rani lirih
Jeri mengangguk pelan "Sepertinya aku memang menaruh rasa padamu" Jawab Jeri semakin yakin khususnya setelah kejadian semalam
Rani terdiam, perasaan senang dan sedih kini dirasanya secara bersamaan.
"Aku akan bertanggung jawab, apa yang kamu khawatirkan saat ini, aku akan berusaha agar hal itu tidak terjadi. Jadi kamu tidak perlu terlalu memikirkannya" Ujar Ray lembut sembari mengusap kepala Rani berusaha menenangkan
"Sekarang biarkan aku mengobati lukamu" Ujar Jeri membuka salep yang sedari tadi dipegangnya
"Luka?" Tanya Rani tidak mengerti
"Iya. Bukankah itu terasa sakit?" Tanya Jeri menunjuk ke arah sel*ngk*ngan Rani yang memang sedari tadi terasa sakit
"Haahh.. Tidak.. Biarkan aku sendiri " Tolak Rani segera
"Yakin? Emang kamu bisa?" Tanya Jeri memastikan meski ia sudah tahu jawabannya
Rani menggelengkan kepalanya pelan. Bahkan sekedar untuk bergerak saja, ia sudah tidak bisa. Bagaimana mungkin ia memakai salep sendiri yang lokasinya bahkan tidak dilihatnya.
Sekali lagi sudut bibir Jeri terangkat naik melihat raut wajah Rani yang kini memerah.
"Biarkan aku melakukannya, lagi pula aku sudah melihatnya semalam" Ucap Jeri kembali mengingatkan Rani akan kejadian semalam
Sedikit ragu-ragu, Rani perlahan membuka sel*ngk*ngannya dengan dibantu Jeri yang kini dengan lembut memakaikan salep di area sensitifnya.
Rani menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, tak sanggup menatap Jeri yang saat ini bisa dengan jelas melihat area sensitifnya.
"Bagaimana aku akan menjelaskan hal ini pada yang lainnya" Batin Rani mengingat kembali jika masih ada Keyrani dan yang lainnya di luar yang mungkin sudah mencarinya sejak semalam
__ADS_1
"Apa yang lainnya tahu aku disini? " Tanya Rani ragu-ragu
"Tidak. Sepertinya mereka masih belum bangun" Jawab Jeri karena sempat keluar mengambil salep dan tidak mendapati satu orang pun di rumahnya yang artinya mereka masih belum bangun