
1 jam sebelum kepulangan Keyrani dan yang lainnya ke hotel, Ray mendapat pesan dari Jhon mengenai lokasi tempat Keyrani berada.
Dengan cepat Ray segera mengemudikan mobilnya menuju ke hotel tersebut. Namun karena perjalanan dari tempatnya berada menuju ke hotel itu terbilang cukup jauh sehingga membuat Ray harus mengemudikan mobilnya selama hampir 1 jam setengah.
Setelah tiba di hotel, tanpa berpikir panjang lagi. Ray segera membooking satu kamar lagi. Yang sengaja ia pesan untuk kedua teman Keyrani karena ia yakin ketiganya hanya akan membooking satu kamar saja.
Sesuai dengan perkiraannya, tepat setelah Ray menekan belum pintu kamar tersebut. Rani membuka pintu kamar dengan raut wajah kagetnya dan kembali menutup pintu.
Ray mengerutkan dahinya kemudian kembali menekan bel. Dan untuk kedua kalinya, pintu terbuka memperlihatkan Lisa yang juga sontak memasang wajah kaget dan berniat menutup pintu. Namun dengan sigap, tangan Ray naik menahan pintu tersebut dan membukanya dengan lebar.
Tepat setelah pintu terbuka, sorot matanya langsung terkunci pada Keyrani yang kini berdiri mematung ditempatnya.
"Aku memesan sebuah kamar untuk kalian" Ujar Ray menyerahkan sebuah cardlock kepada keduanya
Lisa menatap Keyrani sejenak sebelum akhirnya menerima cardlock tersebut, mengerti akan maksud Ray yang menginginkan ruang pribadi untuk keduanya.
Setelah kepergian keduanya, kini tersisa Keyrani dan Ray di kamar. Keyrani yang tadinya balas menatap Ray kini memalingkan wajahnya kemudian duduk di kasur.
Ray mengikuti Keyrani dan duduk di sampingnya. Kepalanya menunduk ke bawah dengan tangan disatukan. Membuat suasana di kamar tersebut seketika menjadi tegang dan canggung karena tidak ada satu pun yang berbicara.
"Kenapa kamu diam?" Tanya Keyrani memulai pembicaraan tanpa menoleh ke arah Ray
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu" Jawab Ray lirih
"Kalau begitu tidak perlu mengatakannya" Imbuh Keyrani bangkit dari duduknya berniat pergi meninggalkan Ray
Namun dengan sigap, tangan Ray meraih lengan Keyrani untuk menghentikannya.
"Dia siapa?" Tanya Ray tiba-tiba masih dengan suara pelan
"Siapa maksud kamu?" Tanya Keyrani tidak mengerti
Ray meraih ponselnya kemudian memperlihatkan foto yang dikirim Jhon. Melihat foto itu, membuat Keyrani mengerti mengapa Ray bisa menemukannya.
"Dia temanku" Jawab Keyrani santai
__ADS_1
"Tapi kenapa kamu ikut dengannya ke pesta?" Tanya Ray setelah melihat gaun yang dikenakan Keyrani begitu pun dengan jas yang dikenakan Sean
"Kenapa? Kamu tidak percaya denganku?" Tanya Keyrani menatap Ray dengan sorot mata geram
"Aku percaya denganmu, tapi tetap saja aku tidak suka. Aku benci saat melihatmu bersama orang lain" Imbuh Ray
"Kamu egois Ray" Balas Keyrani dengan suara bergetar
"Key.. " Ucap Ray mengangkat wajahnya menatap wajah Keyrani yang kini mulai memerah menahan tangis
"Kamu egois..... Kamu hanya memikirkan perasaanmu saja, tapi tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku" Ujar Keyrani meremas dadanya yang terasa sesak
"Kalau kamu tidak suka melihatku dengan orang lain. Bagaimana denganku? Apa aku pernah mengatakan jika aku suka melihatmu dengan orang lain? Aku juga merasakan sakit saat melihatmu dengan orang lain Ray.. Bukan cuma kamu saja.. hiksss..." Ucap Keyrani terisak
Air matanya kini jatuh berlinang membasahi pipinya. Begitu pun dengan Ray yang kini tertegun mendengar ungkapan Keyrani.
"Maafin aku Key, aku tidak bermaksud seperti itu" Ujar Ray memohon
"Kamu jahat Ray.. Kamu berubah.. Kamu bukan Ray yang aku kenal dulu.. Kamu bahkan berbalik dariku demi bertemu dengan Alana.."
"Bukan seperti itu Key.. Kamu salah paham.. " Ujar Ray menggelengkan kepalanya
"Jadi apa? Kamu melihatku dengan Rian hari itu, makanya kamu berbalik dan pergi ke kamar Alana? Aku tidak salah kan?"
Ray terdiam. Apa yang dikatakan Keyrani memang benar adanya. Ia memang berbalik karena melihat Keyrnai bermain basket dengan Rian dengan begitu senangnya.
"Aku lemah.. Aku juga bisa merasakan sakit saat orang yang aku cintai jalan bersama dengan orang yang aku tahu juga mencintai pacarku. Jika kamu menyuruhku bersabar atau mengerti, sepertinya kamu harus kecewa karena aku tidak sanggup menahan rasa sesak ini"
"Tidak Key.. " Ucap Ray sontak meraih tengkuk wajah Keyrani dan menyatukan jidatnya
"Kamu tahu kan, aku hanya mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu" Ujar Ray meneteskan air matanya
Keyrani benci perasaan ini. Perasaan ibah karena melihat Ray meneteskan air matanya di depannya. Ia memang kecewa tapi tetap saja ia tidak sanggup jika melihat pria yang dicintainya ini berlutut menangis di hadapannya.
"Key.. " Ucap Ray meremas tangan Keyrani "Maafin aku Key, aku salah. Aku mohon... jangan pergi lagi dariku" Ucap Ray lirih
__ADS_1
Keyrani tertegun. Ia memang pergi diam-diam tanpa memberitahu Ray. Tapi tetap saja, sejak kepergiannya ia tidak berniat untuk pergi selamanya. Ia hanya pergi untuk melepas stressnya saja.
Keyrani mengusap air matanya kemudian menatap Ray yang masih menunduk di depannya "Bangunlah.. " Pinta Keyrani pelan namun tegas
"Tidak.. " Ray menggelengkan kepalanya menolak "Aku tidak akan bangun sampai kamu memaafkanku" Ujar Ray kekeh
"Ray.. Aku bilang bangun" Pinta Keyrani sekali lagi
"Aku tidak mau. Kamu harus janji tidak akan pergi dariku lagi" Ucap Ray masih kekeh
Keyrani menghela nafasnya pasrah "Aku janji. Jadi sekarang bangunlah" Ucap Keyrani pada akhirnya sembari membantu Ray bangkit dari duduknya
Ray kemudian berdiri dan langsung memeluk tubuh Keyrani erat. Keyrani terdiam sejenak sebelum akhirnya membalas pelukan Ray. Ia memang masih belum menerima keberadaan Alana, tapi bukan berarti ia rela melepas Ray begitu saja.
...***...
Di sisi lain, Rani berjalan mondar mandir sedari tadi khawatir akan keadaan Keyrani.
"Berhenti mondar mandir seperti itu, kepala ku pusing melihatmu" Ujar Lisa tampak bodoh amat
"Kamu tidak khawatir? Bagaimana jika keduanya bertengkar?" Tanya Rani khawatir
"Tidak akan" Balas Lisa singkat dan yakin dengan feelingnya
"Bagaimana kamu tahu?" Tanya Rani kembali
Lisa menghela nafasnya sembari menatap Rani "Karena mereka saling mencintai, jadi berhenti merasa khawatir seperti itu" Jawab Lisa sembari memperbaiki posisinya berniat untuk tidur
"Bagaimana jika aku menghubungi Sean?" Tanya Rani tiba-tiba mengusulkan membuat Lisa sontak berdiri dan merebut ponsel Rani
"Sebaiknya kita tidak perlu ikut campur urusan mereka" Ujar Lisa menyita ponsel Rani
"Tapi kan aku khawatir.. " Ucap Rani namun terpotong saat jari telunjuk Lisa menempel di bibirnya
"Aku juga khawatir. Tapi kita tidak seharusnya mencampuri urusan mereka khususnya menghubungi Sean. Karena dengan kedatangan Sean, justru akan semakin memperunyam masalah keduanya" Ujar Lisa meyakinkan Rani
__ADS_1
Rani berfikir dan mencerna perkataan Lisa yang kini masuk akal baginya. Kemudian ikut duduk di kasur, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Diikuti Lisa yang kini kembali berbaring seperti semula.