
Setelah serangkaian perdebatan di meja makan pagi tadi, saat ini di ruang tamu keluarga Bryn berkumpul Keyrani dan Ray, Kakek dan Neneknya, serta Jeri. Sementara yang lainnya memilih tinggal di kamar, tidak ingin ikut campur masalah keluarga ini.
Sejak turun tadi, Keyrani hanya diam memeluk lengan Ray tanpa berniat menatap Kakek dan Neneknya yang sejak tadi menatapnya.
"Apa lagi yang kalian inginkan?" Sarkas Keyrani tanpa menatap keduanya
"Key.. " Tegur Jeri agar Keyrani sedikit bersikap sopan khususnya karena kondisi Neneknya
"Patuhlah... " Pinta Ray pada kekasihnya itu
Keyrani hanya memalingkan wajahnya lalu mempererat genggamannya pada lengan Ray.
"Tolong maafkan Nenek Key. Nenek hanya mengkhawatirkan mu, masa lalu Ray bukan sesuatu yang bisa kamu sepelekan. Dia seorang mafia yang memiliki banyak musuh di luar sana. Bukan tidak mungkin bagi mereka untuk menargetkan mu jika kalian bersama dengan identitasnya saat ini"
"Itu benar. Berhenti bersifat kekanak-kanakan seperti ini. Bukankah kamu sudah mengalaminya kemarin" Tambah Kakek Keyrani
Keyrani sontak berdiri menatap keduanya geram "Mengkhawatirkanku? Bukankah kalian mengkhawatirkan harta kalian? Aku marah bukan hanya karena kalian memintanya melepas identitas, tapi karena kalian yang begitu seenaknya mengatur kehidupanku. Aku tidak pernah bilang setuju untuk menjadi pewaris keluarga ini. Aku tidak menginginkannya"
Jeri memijat pelipisnya pening. Entah apa yang harus dilakukannya untuk meredakan emosi Keyrani dan membuat kedua orang tuanya mengerti.
"Memangnya kenapa jika dulu dia seorang mafia. Aku sama sekali tidak memperdulikan nya, karena saat ini dia adalah kekasihku, calon suamiku dan satu-satunya orang yang aku cintai"
Ray tertegun mendengar penuturan Keyrani. Seolah-olah ia jatuh cinta kembali untuk yang kedua kalinya pada gadis kecilnya itu. Benar-benar sosok gadis yang pantas untuk diperjuangkan.
"Tapi cuma kamu satu-satunya harapan Nenek" Balas Nenek Keyrani lirih penuh harap pada cucu perempuan satu-satunya
"Bagaimana dengan Jeri? Bukankah dia anak kalian?"
"Itu berbeda, Jeri tidak mungkin menjadi pewaris. Dia.. "
"Karena dia laki-laki? Begitu? Apa aturan keluarga begitu penting ketimbang kebahagiaan anak cucu kalian?" Sela Keyrani memotong ucapan Neneknya
"Tunggu dulu.. Apa-apaan ini. Aku tidak pernah bilang menginginkan harta ini" Ucap Jeri ikut menyela pembicaraan
"Aku juga tidak menginginkannya" Balas Keyrani
"Aku memiliki perusahaanku sendiri, sangat tidak mungkin bagiku untuk mengurus perusahaan lagi" Tolak Jeri tegas
"Aku masih kuliah. Belum saatnya untuk memikirkan hal seperti itu. Dan lagi, aku akan menikah dengan Ray. Aku tidak ingin menghabiskan waktu ku mengurus perusahaan dan mengabaikan keluargaku"
"Aku juga akan menikah Key. Dan bahkan Rani mungkin sudah mengandung anakku"
__ADS_1
"Apa maksud kamu?" Tanya Kakek Keyrani kaget mendengar penuturan Jeri
Bukan hanya Kakek Keyrani, semua yang berada di ruang tamu itu kini berbalik menatap penuh tanya pada Jeri meminta penjelasan.
Seketika Jeri menyesali perbuatannya, salahkan dirinya yang tanpa sengaja mengucapkannya. Meski hal ini mungkin saja terjadi karena malam itu, keduanya tidak menggunakan pengaman.
"Bukankah sudah kukatakan aku akan menikah. Soal anak.. Masih belum pasti. Karena ini hanya perkiraan ku saja. Tapi mungkin ia benar-benar akan mengandung anakku"
"Ikut dengan Ayah. Masalah pewaris, kita bicarakan lain waktu" Tutur Kakek Keyrani segera menarik tangan Jeri naik ke lantai atas
"Key.. Bantu Nenek ke kamarnya" Pinta Ray pada Keyrani dengan harapan keduanya bisa saling mengerti
Keyrani menatap Neneknya sebentar. Ia menghela nafas pasrah lalu meraih lengannya membantunya berdiri.
"Aku ke kamar duluan. Kalian bisa bicara baik-baik. Ingat untuk tidak membuatnya emosi" Bisik Ray pada telinga Keyrani
"Baiklah" Balas Keyrani pasrah lalu berjalan pergi
Begitu pun dengan Ray yang kini merasa lega karena permasalahan Jeri yang secara tidak sengaja meringankan masalahnya dan Keyrani.
...***...
Keyrani tiba di kamar Neneknya. Sejak tadi, tak ada satu pun yang berbicara. Hanya ada suasana canggung diantara keduanya.
"Nenek tahu, kamu kesal dan marah pada sikap kami yang egois. Tapi kami sama sekali tidak memiliki pilihan lain. Kamu satu-satunya harapan kami untuk mempertahankan keluarga ini"
"Aku tahu. Tapi meski aku tahu, aku akan tetap menolak permintaan kalian karena aku tidak pernah menyukai kehidupan seperti ini"
"Apa Ibumu bahagia selama hidupnya?"
"Aku tidak tahu. Ibu tidak pernah membagi perasaannya kepadaku yang mungkin karena aku yang masih terlalu kecil. Tapi di ingatanku, senyum Ibu tidak pernah memudar sekali pun saat bersamaku"
"Ternyata begitu... "
"Maaf Nek. Jika Nenek menginginkanku untuk menjadi cucu perempuan di rumah ini, aku mungkin akan setuju. Tapi jika kalian memintaku untuk menjadi pewaris keluarga ini, maka aku memilih bersikap egois dan pergi dari rumah ini" Tutur Keyrani lalu meletekkan bingkai foto itu kembali, sebelum melekang pergi meninggalkan Neneknya yang kini duduk merenungi perkataan Keyrani
...***...
Keyrani kembali ke kamar menghampiri Ray yang tengah menunggunya sejak tadi.
"Bagaimana dengan Nenek? Kamu tidak berdebat dengannya lagi kan?"
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan, aku tidak sedurhaka itu"
"Tapi seharian ini kamu sudah keterlaluan.. " lirih Ray pelan tak ingin Keyrani mendengarnya
"Apa yang kamu katakan?"
"Tidak.. Tidak.. Ayo beristirahat, kamu pasti lelah setelah berdebat seharian ini" Ray mendoring Keyrani ke kasur, membaringkan nya diikuti dirinya yang ikut berbaring di sampingnya
Ray yang baru saja berniat mematikan lampu, terhenti saat Keyrani tiba-tiba saja menarik tubuhnya dan menindih nya.
"Key.. Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Ray was-was
"Kita sudah mengenal dari sejak kecil, kita sudah lama berpacaran dan bahkan sebentar lagi akan menikah"
Ray mengerutkan keningnya dengan alis terangkat mencoba memikirkan maksud dari ucapan Keyrani.
"Key.. Jangan bilang maksud kamu.. "
"Iya. Bukankah sekarang waktu yang tepat untuk melakukannya.. " Ujar Keyrani tepat di telinga Ray berniat menggodanya
"Tidak Key.. " Tolak Ray membantu Keyrani bangun begitu pun dengan dirinya
"Kamu tidak ingin melakukannya?" Tanya Keyrani mengerutkan keningnya kecewa
"Bagaimana mungkin aku tidak ingin, setelah berusaha menahannya selama ini"
"Lalu kenapa menolaknya?"
"Kita belum menikah. Bukankah sudah kukatakan, aku tidak akan melakukannya jika kita belum menikah"
"Tidak ada salahnya melakukannya lebih dahulu, lagi pula kamu sudah pasti akan menikahiku" Tutur Keyrani serius
Ray menatap mata Keyrani. Sorot mata yang seolah memberitahunya untuk segera menyentuhnya, menjadikannya miliknya.
Dengan nafas yang kian memburu, Ray kembali membaringkan Keyrani di bawahnya, tangan kirinya ia gunakan menopang tubuhnya sementara tangan yang satunya ia gunakan mengelus wajah dan rambut Keyrani.
"Kamu serius?" Tanya Ray dengan suara beratnya namun pelan membuat Keyrani yang mendengar seketika dibuat merinding terutama karena Ray berbicara di dekat telinganya yang merupakan daerah sensitif nya
"Iya. Aku menginginkanmu" Balas Keyrani dengan nada bergetar menahan hasratnya yang tentunya semakin membuat Ray tak bisa menahannya lagi
...
__ADS_1
...