Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Room No.17


__ADS_3

Ting..


Sebuah notif pesan masuk di ponsel Leon yang saat ini masih terlelap di tempat tidur namun segera terbangun karena notif yang sudah ditunggu-tunggunya itu.


"Room No.17 Hotel Fantasy" isi pesan tersebut


Tanpa berlama-lama Leon segera bangkit dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri sembari bersiul riang.


Beberapa saat kemudian, Leon keluar dan segera mengenakan pakaiannya. Seperti biasa, masih dengan setelan jas hitam yang dipadukan dengan dasi abu-abu layaknya seorang pekerja kantoran.


Rumah tampak kosong dan sepi saat Leon turun dari kamarnya. Karena Ibunya setiap hari akan berada di  kantor mengurusi berkas-berkas perusahaan dan sibuk berkutat dengan laptopnya.


Leon tidak terlalu perduli dengan hal tersebut karena selama ini Ibunya tidak pernah mempercayainya untuk hal yang berkaitan dengan perusahaan. Leon kemudian keluar dari rumah dan segera masuk ke mobil. Kemudian melajukan mobilnya ke alamat yang ditentukan.


Beberapa saat kemudian, Mobil Leon berbelok meninggalkan jalan raya, kemudian berhenti di sebuah lorong yang tampak ramai dari gelak tawa para pelanggan karena terdapat deretan toko kelontong, warung kopi, angkringan dan warung makan.


Mobil sedan hitan yang dikendarainya berhenti di bangunan Hotel Fantasy yang berada tepat di depan warung makan di lorong tersebut.


Leon memarkirkan mobilnya kemudian keluar dan berjalan masuk ke dalam hotel menuju ke kamar no.17 yang merupakan salah satu kamar VIP di hotel tersebut.


Sesampainya di kamar tersebut, Leon segera masuk ke dalam kamar menampakkan seorang pria yang saat ini tidak sadarkan diri di kasur.


Leon tersenyum dan berjalan dengan begitu bersemangat menghampiri pria itu. Ujung lidahnya keluar membasahi kedua bibirnya.


"Sempurna" Ujar Leon mengusap pelan wajah pria tersebut


Leon berdiri kemudian menanggalkan jas yang dikenakannya dan melemparnya ke sembarang arah. Memperhatikan sekitar ruangan yang kini sudah diisi dengan kamera-kamera yang nantinya akan digunakannya untuk siaran langsung.


Dddrrrttt....drrrttt..


Dengan sigap Leon meraih ponsel yang berdering di sakunya dan mengangkatnya.


"Bagaimana?" tanya pria dari seberang


"Dia benar-benar sempurna untukku" Jawab Leon memandangi pria dihadapannya

__ADS_1


Seorang pria dengan kulit putih bersih miliknya. Wajahnya kecil dengan bulu mata lentik. Ditambah bibirnya yang merah berisi. Khas seorang pria berumur 17 tahun. Bahkan hanya dengan memandangnya saja, sudah membuat Leon bersemangat dan tidak tahan untuk segera melahapnya.


"Bersiaplah. siaran langsung akan kita mulai 30 menit lagi" Pinta pria dari seberang kemudian memutus panggilan


Sementara pria yang sedari tadi belum sadarkan diri, perlahan membuka pelan matanya. Melihat hal itu, Leon segera menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


"Kamu bangun?" Tanya Leon masih dengan tangan yang mengelus wajah mungil miliknya


"Dimana aku? siapa kamu?" Tanya pria itu gugup dan sedikit menjauh dari Leon


"Kamu tidak perlu tahu, yang harus kamu ingat saat ini. Bagaimana cara memuaskan ku" Jawab Leon dengan tangan perlahan turun mengelus leher dan dada pria itu


Pria itu bergidik ngeri dan segera menepis tangan Leon dari tubuhnya. Kedua matanya berkedut takut dan memperhatikan seisi ruangan yang dipenuhi kamera.


"Apa yang ingin kamu lakukan? Biarkan aku pergi" Ujarnya gugup kemudian segera turun dari kasur


Leon hanya menyeringai memperhatikan tingkah pria tersebut tanpa berniat menghentikannya karena kamar tersebut tidak akan bisa di buka karena kunci berada di tangan Leon.


"Biarkan aku pergi.." pinta pria itu menggedor pintu tersebut


"apa maksudmu?" tanya pria menghampiri Leon


"Layani aku" Jawab Leon dengan seringainya


Pria itu terdiam dengan kedua tangan yang sudah dikepal "Kenapa? Aku tahu bahwa kamu tidak pernah tertarik pada wanita" Ujar Leon berbisik di telinga Pria itu membuatnya segera berbalik ke arah Leon


"Kamu butuh uang dan aku memilikinya. Tapi dengan satu syarat, layani aku" lanjut Leon


Air mata pria itu perlahan jatuh. Selama ini, ia memang tidak pernah tertarik dengan wanita manapun. Tapi Ia justru tertarik pada pria meski dia selama ini tidak pernah menunjukkannya.


Berbagai pertanyaan kini memenuhi pikirannya. Kelemahan yang selama ini disembunyikan nyatanya membuatnya dapat menghasilkan uang meski dengan cara yang paling kotor dari yang terkotor. Haruskah ia berkorbar sehina ini hanya untuk uang? Apa yang akan dikatakan orang tuanya jika ternyata uang yang diperolehnya dari hasil melayani orang lain?


Semua pertanyaan itu memenuhi otaknya. Namun percuma saja, karena satu-satunya pilihannya saat ini adalah melayani pria di hadapannya ini. Dan Ibunya yang saat ini terbaring di rumah sakit akan terselamatkan.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya pria itu masih dengan suara bergetar

__ADS_1


"Kamu tidak perlu melakukan apapun, karena aku yang akan memimpin" Ujar Leon kemudian berjalan ke arah kamera dan menghidupkannya "Kamu tidak perlu khawatir soal video ini, Karena video ini tidak akan tersebar ke khalayak umum" tambah Leon sedikit mengurangi rasa khawatir pria tersebut


Camera On


Leon berjalan menghampiri pria itu yang masih dengan perasaan gugupnya dan menarik tangan pria itu membuatnya meringis pelan kemudian menghempaskan tubuhnya ke kasur. Hingga kemudian membuka paksa baju milik pria itu.


Manik mata Leon menatap puas tubuh pria itu. Perut rata nan mulus dilengkapi dengan kedua n***e berwarna pink yang terlihat begitu lembut. Serta keringat yang perlahan keluar dari pori-pori tubuh karena rasa gugupnya.


Tanpa berlama-lama, Leon segera membuka kemeja yang dikenakannya. Memperlihatkan tubuh kekar dan sexy yang dimilikinya. Leon mendekatkan wajahnya menatap lekat-lekat mata pria itu kemudian mengecup pelan bibirnya dan secara perlahan memperdalamnya. Sementara tangan kirinya meraba perut rata milik pria tersebut dan bermain di sekitarnya membuat pria itu sesekali bersuara.


Mendengar hal itu membuat Leon menarik paksa celana pria itu. Membuatnya sontak menutup wajahnya yang malu karena saat ini dirinya berada dalam keadaan tanpa sehelai kain pun yang menutupi.


Leon tersenyum melihat tingkah menggemaskan pria tersebut. Wajahnya merona begitu pun dengan daun telinganya yang kini sudah memerah padam menahan malu. Meski begitu, tubuhnya seakan meminta lebih dan lebih lagi. Sesuatu yang aneh perlahan bergejolak dalam dirinya. Hanya dengan sentuhan Leon saja, membuat dirinya seakan-akan tersengat listrik.


Tak ingin berlama-lama, Leon membalik paksa tubuh pria itu yang membuatnya memunggunginya. Dan terjadilah pergulatan hebat antar polisi yang saling memiliki pistol🗿


"****.." teriak Leon saat akhirnya mencapai k*****s begitu pun dengan pria itu yang sedari tadi menahan d***h hingga tak sadarkan diri setelah Leon menarik pistol miliknya dan berjalan ke arah kamera.


Camera Off


Selama ini Leon memiliki ketertarikan baik kepada wanita maupun pria sekalipun. Dalam kehidupan normalnya Leon belum pernah berpacaran dengan seorang pria, namun Leon sedikit lebih tertarik untuk berhubungan s**s dengan seorang pria ketimbang wanita yang selama ini dilakukannya ketika berada di bar.


Setelah pergulatan hebat yang dilakukannya, Leon meninggalkan pria itu di kasur dan beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tanpa menghiraukan pria tersebut, Leon mengambil dan mengenakan pakaiannya kembali dan beranjak meninggalkan ruangan tersebut.


Sementara di sisi lain, Ray yang sedari tadi duduk memperhatikan layar laptop yang ada dihadapannya sedikit tertegun. Sudut matanya berkedut menperhatikan siaran langsung tersebut.


Siaran langsung yang menampilkan saudara tirinya, Leon tengah bergulat dengan seorang pria muda yang masih berumur 17 tahun. Ray menghela nafasnya panjang kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi.


Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Jhon yang kini berjalan ke arah Ray kemudian menyerahkan sebuah flashdisk kepadanya "Sesuai intruksi dari anda. Semua bukti sudah saya masukkan kesini"


"Yasudah. Kembali lah istirahat" Pinta Ray yang kemudian diangguki oleh Jhon karena sudah semalaman ini Jhon mengorbankan waktu tidurnya untuk mengurus masalah ini


Setelah kepergian Jhon, Ray meraih flasdisk tersebut kemudian mencolokkannya pada laptop. Menampilkan semua rekaman-rekaman video yang telah diambil oleh Leon selama ini termasuk video yang baru saja di tontonnya. Ray kemudian mengirim video tersebut ke hpnya, yang nantinya akan digunakan sebagai awal dari rencana balas dendamnya.

__ADS_1


__ADS_2