
Haacciuuhh...
Untuk kesekian kalinya, Keyrani kembali memegangi hidungnya yang sudah sedari semalam terasa gatal. Yang bahkan obat dari Ray seolah tidak berguna sama sekali.
"Tumben banget nih anak ketawa mulu, perasaan dari kemarin-kemarin jarang banget. Emang kenapa sih? Lucu banget kayaknya" Celetuk Dafa yang sudah sedari tadi memperhatikan Rani tertawa
Mendengar ucapan Dafa, Rani berusaha mengontrol tawanya agar tidak meledak lagi. Namun tiap kali ia ingin membuka mulut, ia kembali dibuat terpingkal-pingkal jika membayangkannya kembali.
Keyrani yang mengetahuinya hanya bisa berenggut sembari mengusap hidungnya sesekali karena alasan Rani tertawa menyangkut tentang dirinya.
Tak kunjung mendapat jawaban, Dafa menghela nafasnya kemudian bersandar di kursi dengan tangan menyilang.
"Maaf-maaf... Tiap kali membayangkannya aku jadi tidak bisa berhenti tertawa" Ujar Rani mengangkat tangannya
Haaciiuhhh...
Mendengar Keyrani bersin, Rani kembali tertawa kecil. Hingga kemudian ia memasang wajah datarnya "Jadi aku baru saja menyaksikan duet bersin di kelas hahaahaa.. " Ujar Rani menjelaskan sembari tertawa kembali
"Duet bersin?" Heran Dafa dengan kedua alis bertaut karena asing dengan kata-kata Rani
"Iya. Duet bersin, selama di kelas Rani dan Pak Ray duet bersin ack.. " Ujar Rani yang langsung mendapat pukulan di lengan oleh Keyrani yang masih memasang wajah berenggut karena kejadian itu
Selama di kelas, Keyrani selalu bersin dan siapnya Ray justru ikut tertular membuat keduanya secara bergantian bersin di kelas.
Rani yang merupakan satu-satunya orang yang mengetahui hubungan Ray hanya bisa menahan tawa. Khususnya karena reaksi dari mahasiswa lain yang benar-benar kebingungan meski beberapa ada juga yang tertawa karena kejadian lucu itu tanpa mengetahui hubungan keduanya.
"Jadi apa yang terjadi? Bagaimana bisa kalian terserang flu bersamaan seperti itu?" Tanya Rani kemudian sembari menoleh ke arah Keyrani
Keyrani menghela nafasnya kasar "Semalam aku berenang dengan Ray. Mungkin karena sudah terlalu larut dan cuaca dingin, aku langsung terkena flu" Ujar Keyrani menjelaskan
"Bagaimana dengan Pak Ray?"
Sekali lagi Keyrani menghela nafasnya, karena sejak semalam ia sudah menegur Ray agar tidak tidur dengannya tapi tetap saja kekasihnya itu benar-benar keras kepala dan justru memeluknya dengan erat saat tidur belum lagi saat Ray mengecup bibirnya yang sudah pastinya ia akan tertular flu Keyrani.
"Itu salah dia sendiri yang keras kepala, bagaimana bisa dia bersikeras untuk tidur denganku" Imbuh Keyrani sedikit geram
"Kalian tidur bareng?" Celetuk Dafa baru mengetahuinya
Namun berbeda dengan Rani yang sudah tidak kaget lagi karena selama di Negara S, Pak Ray dan Keyrani bermalam di kamar yang sama
Keyrani kemudian menganggukkan kepalanya membuat Dafa sontak menatapnya penuh prasangka sembari menunjuk Keyrani.
__ADS_1
"Aisshh... " Paham akan maksud Dafa, Keyrani sontak memukul jidat Dafa dengan sumpit yang dipegangnya
"Ackk... " Ringis Dafa mengusap jidatnya
"Hentikan pikiran kotormu itu, aku dan Ray hanya tidur tidak lebih" Ujar Keyrani pasti
"Ohh.. " Sahut Dafa mengejek seolah tidak mempercayai khususnya Ray yang seorang pria,tidak mungkin ia bisa tahan bermalam dengan seorang gadis, karena jika itu dirinya ia pastinya tidak akan tahan
Melihat respon Dafa, Keyrani hanya menatapnya pasrah kemudian bangkit dari duduknya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Rani menahan lengan Keyrani
"Balik. Aku titip absen, kepalaku benar-benar berat. Aku ingin tidur" Jawab Keyrani
"Sendiri?"
"Nggak. Aku bareng Ray" Jawab Keyrani yang kembali membuat Dafa menatapnya aneh
"Sudah kukatakan tidak ada hal seperti itu. Jadi hentikan pikiran kotormu itu. Aku pergi, Ray sudah menungguku sedari tadi" Imbuh Keyrani sebelum akhirnya berbalik meninggalkan Dafa dan Rani berdua di meja
Dafa hanya tersenyum puas setelah mengisengi Keyrani kemudian kembali memakan makanannya.
"Oh iya, kamu kenapa sendiri? Aaron dan Rian?" Tanya Rani sadar
"Aku juga tidak tahu, karena seharian ini aku belum bertemu dengannya" Jawab Rani
"Aneh, kok bisa barengan gitu hilangnya. Apa mereka menyembunyikan sesuatu?" Tanya Dafa menerka-nerka karena keduanya kerap kali menghabiskan waktu bersama membuat Dafa mau tidak mau menaruh curiga akan keduanya
Seketika nafsu makan Rani hilang mendengar perkataan Dafa yang memang tepat sasaran. Keduanya memang menyembunyikan fakta bahwa keduanya sudah berpacaran dan hanya masalah waktu hingga keduanya mengungkapkannya atau terungkap sendiri.
"Aku selesai, kamu bisa melanjutkannya karena aku ingin ke perpustakaan" Ujar Rani tiba-tiba bangkit dan meninggalkan Dafa yang kini duduk mematung karena ia tiba-tiba saja ditinggal sendiri
...***...
Di sisi lain, Keyrani yang kini tiba di parkiran segera masuk ke dalam mobil Ray.
"Apa tidak apa-apa kamu ikut pulang seperti ini?" Tanya Keyrani khawatir mengingat Ray masih berstatus dosen di kampusnya
Ray berbalik kemudian menyentuh kening Keyrani "Aku sudah meminta izin dan lagi badan kamu panas" Ujar Ray lebih merasa khawatir akan keadaan Keyrani yang sepertinya terserang demam
"Hmm, kepalaku benar-benar terasa berat" Balas Keyrani sudah menyadarinya sembari menyandarkan kepalanya di kursi
__ADS_1
"Kalau begitu ayo ke rumah sakit" Ujar Ray tiba-tiba membuat Keyrani sontak membuka matanya
"Tidak-tidak. Kita pulang ke rumah saja, aku akan membaik setelah memakan obat dan vitamin" Ujar Keyrani membujuk Ray karena dirinya benar-benar tidak ingin ke Rumah Sakit hanya karena demam yang menurutnya tidak terlalu parah ini
"Bagaimana kalau tambah parah?" Tanya Ray khawatir
"Tidak akan, jadi ayo kita pulang sekarang" Balas Keyrani yakin
Ray menatap Keyrani kemudian menghela nafasnya dan mengikuti permintaan Keyrani untuk tidak ke rumah sakit.
Ray kemudian melajukan kembali mobilnya yang tadi sempat tertunda. Dengan Keyrani yang kini kembali menutup matanya.
Beberapa menit berlalu, Keyrani kembali membuka kedua matanya karena ia sama sekali tidak bisa tertidur. Hingga kemudian, Ia tiba-tiba teringat Alana yang masih berada di kampus.
"Ahh... Bagaimana dengan Alana? Siapa yang akan mengantarnya pulang?" Tanya Keyrani
Mendengar pertanyaan Keyrani, Ray baru sadar jika ternyata masih ada Alana yang sudah dilupakan karena terlalu khawatir akan keadaan Keyrani.
"Rian?" Ujar Keyrani tiba-tiba teringat akan Rian yang juga keduanya berada di Fakultas yang sama
Setelah berfikir sejenak, Ray kemudian meraih ponselnya dan menghubungi Rian.
.....
"Halo kak" Ujar Rian setelah panggilan tersambung
"Kamu masih di kampus?" Tanya Ray
"Hmmm.. "
"Kalau begitu, kamu tidak keberatan bukan jika pulang bersama Alana. Aku dan Keyrani sudah pulang terlebih dahulu, karena Keyrani demam"
"Keyrani demam? Jadi bagaimana dia sekarang?" Tanya Rian ikut merasa khawatir
"Untuk sekarang baik-baik saja. Jadi bagaimana? Kamu mau kan?" Tanya Ray kembali
....
"Baiklah" Jawab Rian setelah jeda yang cukup lama yang sepertinya ia memikirkannya dengan seksama mengingat ia dan Alana sama sekali tidak pernah berinteraksi dan justru memasang tembok masing-masing
"Kalau begitu aku mengandalkanmu" Ujar Ray yang hanya dibalas gumamam oleh Rian sebelum akhirnya keduanya menutup panggilan masing-masing
__ADS_1
"Dia mau?" Tanya Keyrani
"Iya. Dia mau" Jawab Ray membuat Keyrani merasa lega sebelum akhirnya menyadarkan kembali tubuhnya di kursi