Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Amarah


__ADS_3

"Hhhmmphhhaahh... Siapa?" Tanya Ibu Tiri Ray dengan nada tinggi saat selotip yang membekap mulutnya di lepas secara paksa membuat kulitnya terasa nyeri


Ray hanya diam tidak berniat menjawab, kemudian membuka penutup kepalanya lagi.


"Kamu.. " Geram Ibu Ray emosi tepat saat dirinya bertatapan dengan Ray yang hanya memperlihatkan smirk di wajahnya


"Kaget? Hah? " Tekan Ray menarik rambutnya kebelakang mendongakkan kepalanya


"Jangan bilang kamu tidak memperkirakan hal ini saat kamu membuat rencana busukmu itu"


"Seharusnya kamu terima saat aku hanya merebut harta orang tuaku kembali, bukannya kembali dengan semua rencana busukmu itu yang hanya membuang-buang waktu saja" Tegas Ray emosi


"Kenapa? Kamu tidak bisa menemukannya?" Balasnya tanpa mengetahui semua yang terjadi


"Bukankah sudah kukatakan, kamu hanya membuang-buang waktumu saja. Kamu bahkan tidak mengenal orang yang bekerja sama denganmu" Imbuh Ray dengan tatapan merendahkan


"Apa maksudmu?" Tanyanya kemudian


"Kamu pikir orang seperti Sean bisa dengan mudah tunduk hanya karena ancaman mu itu? Hngg.. Kamu terlalu meremehkannya" Balas Ray


"Kamu... " Emosi Ibu Tiri Ray memuncak memikirkan rencananya yang ternyata gagal menekan Ray


"Tidak perlu merasa menyesal, sebaiknya kamu nikmati nafas-nafas terakhir mu di dunia ini" Ancam Ray sembari duduk di kursi depan Ibu Tirinya


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya nya berusaha memberontak saat bawahan Ray kembali menutup mulut dan wajahnya


"Dan juga, kamu tidak perlu merasa khawatir pada anakmu itu, karena aku sendiri yang akan mengurusnya" Tambah Ray membuat Ibu Tirinya semakin memberontak memikirkan nasib anaknya yang masih berada di dalam penjara saat ini


Entah apa yang akan dilakukan Ray setelah ia lepas, namun satu hal yang pasti, tidak ada kebahagiaan yang menantinya dan hanya ada rasa sakit dan putus asa.


Karena tak ingin mengotori tangannya, Ray menyerahkan Ibu Tirinya pada Jhon dan yang lainnya. Artinya mereka bebas berbuat sesuka hati mereka terhadapnya. Sementara dirinya, memilih kembali ke rumah Sean menghampiri Keyrani.


...***...


Di sisi lain, di kediaman Sean. Lisa dan yang lainnya benar-benar melakukan berbagai macam hal di rumah Sean. Dapur yang tadinya tertata dengan rapi, kini benar-benar hancur karena perbuatannya. Ia benar-benar melampiaskan semua ke kesalahannya pada rumah Sean.


"Apa ini tidak keterlaluan?" Tanya Rani mulai sedikit menyesal


"Apa yang kamu takutkan, sekarang aku benar-benar kesal. Jika dia tidak pulang sekarang, rumah ini benar-benar akan hancur di tanganku" Gurau Lisa dengan senyum jahatnya

__ADS_1


Sementara itu, Keyrani yang sudah seharian ini tidak keluar dari kamar, memutuskan keluar setelah membersihkan dirinya di kamar mandi.


"Apa yang terjadi disini?" Ujar Keyrani kaget dan segera berlari menuruni tangga, khawatir jika Ray dan Sean berkelahi saat dirinya tertidur


"Lisa? Rani? Apa yang kalian lakukan? Apa yang terjadi?" Tanya Keyrani kebingungan saat mendapati Lisa dan Rani di dapur


"Key.. Kamu sudah bangun.. " Imbuh Lisa segera berlari memeluk Keyrani begitu pun dengan Rani


"Aku benar-benar khawatir.. " Ujar Rani yang juga diangguki oleh Lisa


"Apa yang dia lakukan padamu? Hmmm? Apa dia berbuat jahat padamu? Cepat katakan padaku? Biar aku membalasnya" Tanya Lisa menggoyang tubuh Keyrani memeriksa setiap inci


"Aku tidak apa-apa. Lupakan soal itu, apa yang terjadi disini? Bagaimana bisa seperti ini?" Tanya Keyrani mengalihkan pertanyaannya dan balik bertanya kepada keduanya yang kini memasang wajah tidak bersalah


"Bukan aku yang melakukannya, ini perbuatan Lisa.. " Elak Rani berusaha menghindar


"Wahhh... Bagaimana bisa kamu mengkhianatiku seperti ini" Tukas Lisa tidak percaya "Jelas-jelas ini perbuatan kita berdua" Ujar Lisa membela diri


"Tidak.. Tidak.. Ini memang perbuatan kita berdua, tapi dalang sebenarnya dari ini semua adalah Ray" Imbuh Lisa setelah memikirkannya kembali yang mana Ray yang pertama kali memikirkan hal ini


"Ray?"


Mendengar hal itu, Keyrani hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Sean nanti.


"Jadi apa yang harus dilakukan sekarang?" Tanya Rani


"Apalagi, kalian yang melakukannya, jadi sekarang kalian juga yang membereskannya" Ujar Keyrani


"Tidak... Tidak... Aku tidak mau, lagi pula aku masih kesal dengan dia, jadi dia pantas mendapatkan ini" Kekeh Lisa tidak setuju


"Ini hanya salah paham, oke? Salah paham! Jadi tidak perlu membencinya karena Sean sudah mengakui semuanya" Ujar Keyrani menjelaskan


"Aku tidak perduli.. " Ujar Lisa masih kekeh kemudian berpaling dan berjalan ke ruang tamu


"Jadi bagaimana sekarang?" Tanya Rani


"Sudahlah.. Biar aku yang menjelaskannya nanti" Jawab Keyrani mencoba menenangkan


Bersamaan dengan itu.. Keyrani dan Rani yang tadinya berada di dapur sontak kaget dan segera berlari ke arah ruang tamu saat sebuah suara tamparan keras tiba-tiba terdengar.

__ADS_1


PLAAKKK...


"Lisa.. " Panggil Keyrani menghampiri Lisa yang kini menatap Sean penuh amarah


"Jangan menghentikanku, dia pantas mendapatkan hal ini" Ketus Lisa tidak perduli


"Aku tidak akan melawan, aku tahu aku salah" Ujar Sean pasrah


"Kamu memang tidak punya hak untuk melawan Sean.. Aku benar-benar tidak menyangka, bahwa kamu akan dengan tega berbuat hal seperti ini" Ujar Lisa masih dengan nada tinggi


"Cukup Lisa.. " Sela Keyrani dengan suara tak kalah tinggi agar Lisa berhenti


"Aku bukan Keyrani yang bisa dengan mudah memaafkan seseorang" Imbuh Lisa sebelum akhirnya berbalik pergi dengan raut wajah emosi


"Maaf.. Dia memang seperti itu, biar aku membujuknya nanti" Ujar Keyrani


"Aku paham Key, kamu tidak perlu meminta maaf" Balas Sean


"Tapi sebelum itu, aku berharap kamu tidak marah. Dia hanya merasa kesal, sehingga melampiaskan nya pada rumahmu" Ujar Keyrani menjelaskan dengan hati-hati


Sean yang awalnya bingung dengan maksud Keyrani, seketika mengerti saat dirinya mengedarkan pandangan pada seisi rumahnya yang kini terlihat seperti kapal pecah.


"Woww.. " Sean menggelengkan kepalanya sembari menghela nafasnya berusaha mengatur perasaanya yang kini campur aduk


"Kamu tidak apa-apa kan? Aku janji akan membereskannya kembali"


"Tidak perlu, aku akan menyuruh seseorang membersihkannya" Cegat Sean tidak perduli lagi mengingat rumah ini sudah lama tidak ditinggalinya jadi tidak masalah bagi dirinya jika harus mengganti semua perabotan yang sudah lama itu


"Key... " Panggil Rian tiba-tiba dari arah tangga yang kini menghampiri Keyrani dengan cepat


"Kamu tidak apa-apa kan? Aku benar-benar khawatir" Ujar Rian tanpa sadar memeluk Keyrani membuat yang lainnya kaget termasuk Alana yang juga ikut turun bersamanya


"Aku tidak apa-apa" Balas Keyrani menepuk pundak Rian


"Siapa?" Tanya Sean penasaran karena ini pertama kalinya mereka bertemu


"Jadi dia?" Ujar Rian was-was kemudian menarik lengan Keyrani menjauh dari Sean dengan sorot mata tajam


Keyrani menghela nafasnya kasar dengan tangan menepuk jidatnya, bingung harus bagaimana meredakan emosi semua orang.

__ADS_1


__ADS_2