
Alana duduk di kursi dekat parkiran sembari menopang dagunya. Sudah hampir setengah jam ia duduk disana karena menunggu Ray.
Sejak kedatangannya, mobil Ray sudah tidak berada di parkiran. Dan sialnya lagi, ponselnya kini kehabisan baterai membuatnya mau tidak mau hanya bisa menunggu dengan harapan.
Karena terlalu lama menunggu, tanpa sadar Alana tertidur dengan tangan yang masih menopang dagunya.
Hingga beberapa saat kemudian, sebuah bayangan perlahan mendekat ke arahnya dan berhenti tepat di dekatnya. Dia adalah Rian yang juga sedari tadi mencari keberadaan Alana.
Melihat Alana tertidur pulas, Rian memutuskan untuk duduk di kursi menunggu Alana bangun karena tidak ingin mengganggunya.
Ia pun mengeluarkan ponselnya berniat bermain game, begitu pun dengan earphone agar tidak menimbulkan suara.
20 menit kemudian...
Alana tiba-tiba membuka kedua matanya saat terik matahari perlahan menerpa wajahnya membuatnya mau tidak mau membuka kedua matanya. Dan betapa terkejutnya dia, saat mendapati Rian duduk di dekatnya.
"Ri..an? Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Alana gagap
Tanpa menjawab pertanyaan Alana, Rian menghentikan gerakannya dan melepas earphonenya kemudian bangkit dari duduknya.
"Ray pulang lebih awal, jadi kamu pulang denganku" Ujar Rian dengan wajah datarnya
Meski sedikit bingung, Alana tetap bangkit dan mengikuti langkah Rian menuju ke parkiran motornya. Meski sebenarnya ia masih memiliki beberapa pertanyaan namun dengan terpaksa tidak ia ungkapkan jika saja Rian merasa kesal jika ia terlalu cerewet.
Tanpa banyak basa basi, Rian segera menyodorkan helm untuk Alana setibanya di parkiran, yang dengan cepat di ambil dan dipakai oleh Alana.
"Naiklah" Pinta Rian
"Maaf" Tutur Alana memegang bahu Rian saat naik ke atas motor
Rian sama sekali tidak peduli, karena tujuannya saat ini adalah pulang ke rumah untuk melihat kondisi Keyrani.
...***...
Di sisi lain, Keyrani yang tiba di rumah langsung tertidur setelah memakan obat pemberian Ray. Sementara Ray menyibukkan diri di dapur membuat bubur untuk Keyrani.
Setelah selesai, Ray kembali ke kamar dengan nampan yang berisi bubur dan segelas air hangat.
Dengan pelan Ray meletakkannya di meja, kemudian menghampiri dan duduk di dekat Keyrani. Tangannya ia tempelkan di jidat Keyrani dan jidatnya secara bergantian untuk mengecek suhu tubuh keduanya.
"Sepertinya sudah sedikit mereda" Ujar Ray memperkirakan karena sudah tidak sepanas tadi
Meski sedikit tidak tega, Ray perlahan membangunkan Keyrani, untuk memakan bubur yang dibuatnya.
"Key.. " Panggil Ray dengan suara pelan dan lembut sembari mengusap lengan Keyrani
"Hmmm... " Gumam Keyrani perlahan membuka kedua matanya yang masih terasa berat
"Bisa bangun? Aku membuatkanmu bubur" Ucap Ray yang kemudian di angguki oleh Keyrani
__ADS_1
Keyrani kemudian bangun dan bersandar di kasur. Sementara Ray kini mengambil bubur bersiap menyuapi Keyrani.
"Minum dulu"
Ray kemudian menyuapi Keyrani bubur yang baru dibuatnya itu.
"Kamu sudah makan?" Tanya Keyrani karena bukan hanya dirinya yang sakit, Ray juga ikut terkena flu karena dirinya
Ray menggelengkan kepalanya singkat "Aku makan nanti" Ujar Ray sembari meniup buburnya sebelum menyuapi Keyrani
"Kamu juga harus makan obat, bukankah kamu juga flu" Pinta Keyrani kemudian yang hanya di angguki oleh Ray
"Ray... " Tegur Keyrani
"Iya. Aku akan makan nanti.. Sekali lagi" Jawab Ray namun masih fokus menyuapi Keyrani
Keyrani hanya pasrah karena melihat dari sifat Ray, ia tidak akan memakannya jika tidak di desak, apalagi jika hanya untuk sekedar flu seperti itu yang menurutnya bukan sesuatu hal yang serius.
"Sekarang kamu istirahat lagi" Ujar Ray membantu Keyrani berbaring kembali dan memperbaiki selimutnya kemudian ikut berbaring di dekatnya
"Aku sakit Ray" Ujar Keyrani
"Iya. Hanya sampai kamu tertidur. Ok?" Balas Ray sembari mengusap rambut Keyrani
Keyrani kemudian mengangguk sebelum akhirnya menutup kedua matanya. Begitu pun dengan Ray yang hanya ikut berbaring dan masih tetap setia mengusap rambut Keyrani. Menunggu hingga kekasihnya itu tertidur.
...***...
Aaron dan Lisa yang sudah sejak pagi tadi sama sekali belum menampakkan batang hidung mereka di kampus. Kini tengah berada di kamar Lisa.
Aaron dengan posisi tengkurap dengan tangan menopamg dagunya sembari menatap Lisa yang saat ini duduk membelakangi nya sibuk dengan laptopnya.
"Berapa lama lagi aku harus menunggu?" Tanya Aaron
"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk balik ke kamarmu" Balas Lisa tanpa menoleh ke arah Aaron
Aaron menghela nafasnya panjang kemudian berbalik dan menatap langit-langit kamar Lisa. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 3 sore, namun ia masih di tempat yang sama dari sejak pagi tadi.
"Kamu nggak lapar? Aku lapar? Ayo keluar makan" Ajak Aaron sembari memegangi perutnya yang memang sudah kelaparan
Lisa kemudian berbalik menatap Aaron di kasurnya sejenak kemudian beralih pada jam di dinding.
"Sudah sore ternyata" Batin Lisa kemudian menutup laptopnya menghentikan aktifitasnya
"Ayo" Ajak Lisa kemudian setelah memberrskan buku dan laptopnya membuat Aaron sontak bangkit dari tidurnya dengan wajah berbinar
"Kamu mau makan dimana?"
"Di kantin" Jawab Aaron
__ADS_1
"Hmm.. Di kantin?" Ujar Lisa kurang yakin karena keduanya masih belum memberitahu yang lainnya akan hubungannya
"Kenapa?" Tanya Aaron tidak mengerti
"Bagaimana kalau yang lain curiga" Ujar Lisa was-was
"Kenapa? Bukannya bagus kalau yang lainnya tahu kita berpacaran" Ujar Aaron tidak berniat menyembunyikan hubungannya sama sekali
"Tapi aku belum siap.." Ujar Lisa lirih
"Baiklah. Itu terserah kamu, lagi pula mereka tidak akan curiga karena setiap hari kita sudah sering bersama. Jadi mau ke kantin? Atau ke tempat lain saja?" Tanya Aaron merangkul bahu Lisa mencoba mengerti keinginannya
"Yaudah kita ke kantin kalau begitu" Putus Lisa pada akhirnya
Keduanya kemudian menuju ke kantin kampus, yang mana kos keduanya tidak begitu jauh dari kampus. Belum lagi, keduanya sudah terbiasa dengan makanan di kampus ketimbang makanan di tempat lain, untuk itu kantin kampus selalu menjadi pilihan pertama untuk keduanya.
Kantin tampak sepi saat keduanya tiba, yang mungkin karena sudah jam 3 dan beberapa mahasiswa sudah pulang karena jadwal perkuliahan hanya sampai jam 3 saja.
"Sangat aneh melihatmu perhatian kepadaku" Ujar Lisa tiba-tiba terutama saat membayangkan hubungan keduanya dulu yang bisa dibilang layaknya tom and jerry yang selalu bertikai
"Bukankah itu normal, aku perhatian pada pacarku sendiri" Ujar Aaron dengan senyum di wajahnya menggoda Lisa
Dan benar saja, sontak Lisa merasa malu dan bingung harus berbuat apa setelah melihat tingkah Aaron. Yang benar-benar berbeda dengan dirinya yang dulu yang selalu berteriak ke arahnya dan sekarang ia benar-benar lembut dan memperlakukannya dengan istimewa.
Hingga tiba-tiba keduanya dikagetkan dengan kedatangan Dafa yang entah dari mana.
"Ayoo.. Ngapain kalian berdua senyum-senyum gitu, ini juga muka kamu kenapa merah gitu?" Ujar Dafa menatap keduanya bergantian sembari menunjuk wajah Lisa
"Kaget tau.. " Ujar Aaron memukul kepala Dafa karena hampir keselek makanan yang dikunyah nya
"Iya-iya sorry deh" Ujar Dafa duduk di tengah dengan pandangan masih menatap keduanya penuh curiga
"Kalian dari mana aja seharian ini gak keliatan?" Tanya Dafa kemudian
"Aku punya banyak tugas" Ujar Lisa jujur
"Iya sama.. "
"Tugas apaan kamu?" Tanya Dafa tidak percaya dengan Aaron
"Ya tugas, ada lah pokoknya" Jawab Aaron ngawur
"Oh iya, yang lain pada kemana?" Tanya Lisa mengalihkan pembicaraan
"Pulang. Keyrani lagi sakit"
"Sakit? Sakit apa? Parah nggak?" Tanya Lisa khawatir
"Nggak. Demam kayaknya" Jawab Dafa yang membuat Lisa menghela nafasnya lega
__ADS_1