
Elsa duduk di kursi ruang kerjanya sembari mengatuk-ngatukkan tangan kirinya di meja, sementara tangan yang satunya sibuk membalik kertas di depannya yang berisikan informasi terkait Ray, pria yang ditemuinya kemarin dan merupakan pemilik saham terbesar saat ini di perusahaan itu.
Semakin ia memikirkannya, dirinya semakin dibuat pusing sekaligus khawatir. Karena informasi yang didapatnya sama sekali tidak membantu karena informasi yang didapatnya bukan secara rinci terutama karena Ray menghabiskan waktunya di uar negeri selama ini.
Hingga kemudian, pintu ruangan tiba-tiba terbuka memperlihatkan asistennya yang kini berjalan dengan raut wajah panik ke arahnya.
"Ada apa?" Tanya Elsa
"Silahkan Ibu lihat berita ini" Ujar asisten tersebut menyerahkan ipad di tangannya yang kini memperlihatkan berita terkait anaknya Leon
Wajahnya seketika pucat, tangannya naik menutup mulutnya kaget dengan berita yang baru saja di bacanya.
"Perintahkan semua bagian humas agar segera menghapus berita ini jangan sampai tersebar lebih luas lagi. Sekarang! " Ujar Elsa Emosi
"Baik Bu" Jawab asisten tersebut kemudian segera berlari keluar menuruti permintaan dari Elsa
Dengan cepat, Elsa bangkit dari duduknya kemudian meraih tasnya dan segera berjalan keluar meninggalkan ruangan tersebut. Dengan langkah terburu-buru Elsa masuk ke dalam mobilnya dan segera mengemudikannya menuju ke rumah.
Selama di perjalanan, Elsa beberapa kali memukul setir mobilnya karena kesal dan marah dengan perilaku anaknya yang sudah pasti akan memperngaruhi citranya di perusahaan. Belum selesai memikirkan tentang Ray yang tiba-tiba saja datang ke perusahaan, kini ia kembali di buat pusing oleh perilaku anaknya Leon yang sudah kelewat batas.
...***...
Tak berselang lama kemudian, Mobil yang dikendarai Elsa perlahan memasuki pekarangan rumahnya. Elsa turun dari mobil dengan langkah terburu-buru dan raut wajah penuh amarah, berjalan menuju ke kamar anaknya.
Tanpa mengetuk atau memanggil namanya, Elsa membanting pintu kamar Leon. Dan betapa terkejutnya dirinya saat menemukan Leon bersama dengan perawat yang di sewanya kini tengah ber******h di kasur.
"LEON" Teriak Elsa murka menatap nanar ke arah putranya
Dengan cepat, Leon bangkit dari kasur dan melepas penya***nnya kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, begitu pun dengan perawat tersebut yang kini memasang wajah panik karena ketahuan.
"Ma.. " Sebut Leon dengan raut wajah paniknya tidak menyangka akan kedatangan Ibunya secara tiba-tiba
__ADS_1
Elsa berjalan ke arah putrannya dengan nafas menggebu karena emosi dan..
PLAK..
Sebuah tamparan Elsa layangkan ke pipi anaknya, ia benar-benar kesal dan marah sekaligus tidak menyangka bahwa putranya akan berubah menjadi orang seperti itu. Menjadi seorang pria yang tidak normal.
"Datang ke ruang kerja Mama. Sekarang" Pinta Elsa dengan suara yang ditinggikan sebelum dirinya berbalik pergi karena Ia muak melihat Leon begitu pun dengan perawat yang di sewanya itu
Elsa yang sengaja menyewa perawat laki-laki karena ulah Leon yang kemarin ternyata justru menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Karena kelainan se****l dari putranya. Ia lupa, bahwa suami yang merupakan ayah dari Leon juga merupakan seorang g*y. Yang mana dirinya memutuskan bercerai karena alasan tersebut. Namun Ia masih sedikit syok dan tidak menyangka karena Leon justru mewarisi gen tersebut dari ayah kandungnya.
Dengan cepat, Leon segera mengenakan kembali pakaiannya dan menatap kesal dan sinis ke arah perawat yang kini meringkuk di atas kasurnya. Sebelumnya akhirnya beranjak pergi meninggalkannya di kamar, menuju ke ruang ibunya.
Leon membuka pintu ruang kerja ibunya, menampilkan ibunya yang kini berkacak pinggang di depan meja kerjanya dengan raut wajah kesalnya.
"Ma.. " Sebut Leon ragu-ragu karena kini dirinya diselimuti rasa takut
Elsa menghela nafasnya kasar kemudian mengambil Ipad di mejanya dan menyodorkan nya kasar pada anaknya.
Leon meraih Ipad tersebut kemudian menscrollnya. Sontak salah satu tangannya naik menutup mulutnya kaget karena berita yang kini menampilkan dirinya.
Bukan hanya itu, selain berita dirinya yang mengidap kelainan se****l, terdapat juga beberapa cuplikan saat dirinya berhubungan dengan beberapa orang baik itu perempuan maupun laki-laki. Yang mana cuplikan tersebut berasal dari siaran langsung yang dilakukannya.
"Ini kenapa.. " Ujar Leon kaget karena situs siaran langsung yang begitu dijaga ketat dan dirahasiakan kini terkuak di khalayak umum
"Kenapa kamu bilang? Kamu benar-benar merusak reputasi Mama, Leon. Mau di taruh dimana muka Mama" Bentak Ibu Leon menunjuk tepat di wajah anaknya
"Aku.. Aku.. Aku janji akan berubah Ma. Tolong bantu Aku Ma" Ujar Leon memohon dengan tangan disatukan sembari berlutut di depan Mamanya
Sekali lagi Elsa menghela nafasnya kasar kemudian merogoh ponselnya yang kini bergetar di sakunya.
"Ada apa?" Tanya Elsa sedikit kasar
__ADS_1
"Maaf Bu. Bagian Humas sudah berusaha untuk memblokir semua berita, tapi tetap saja berita masih terus bermunculan tanpa bisa dikendalikan" Jawab asisten tersebut dengan suara terbata-bata karena panik
"Arrggg.. " Elsa memutus panggilan telpon dan berteriak histeris dengan tangan mendoring semua yang ada di meja kerjanya karena kesal
"Lihat apa yang kamu lakukan. Beritanya sudah menyebar ke masyarakat. Dasar tidak berguna" Ujar Elsa bengis menatap tajam ke arah anaknya, kemudian berbalik pergi berniat meninggalkan kamar
"Maa.. Leon harus bagaimana Ma..?" Tanya Leon segera memegang lengan Ibunya
"Lepas. Mama muak melihat wajah kamu" Balas Elsa menepis tangan putranya kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari kamar
"Aaarrgghhhhh" Leon mengacak-acak rambutnya frustasi kemudian segera merogoh ponsel di kantongnya berniat menghubungi rekan-rekannya namun..
Tidak ada satupun yang mau menerima panggilan Leon yang mungkin bahkan sudah memblokir nomornya karena tidak ingin terseret ke dalam kasus tersebut.
"Aaarrghhh" Teriak Leon kembali histeris kemudian membanting ponselnya ke lantai karena tak kunjung mendapatkan respon.
Dirinya benar-benar kebingungan karena hanya dirinya yang ada di video tersebut, wajahnya terpampang dengan begitu jelas berbeda dengan wajah para korbannya yang dibuat blur. Seolah sengaja untuk mempermalukan dirinya seorang.
...***...
Sementara itu di sisi lain, Ray yang menjadi dalang dari keluarnya berita tersebut kini berdiri di dekat jendela kamarnya sembari memutar-mutar gelas wine di tangannya.
"Kamu minum?" Tanya Keyrani yang kini memeluk tubuh Ray dari belakang, karena sedari tadi Keyrani tertidur di belakang Ray
"Hm.. Kamu bangun" Sahut Ray berbalik dan meletakkan gelas tersebut di meja, kemudian mengecup pelan kening Keyrani
"Kamu bahagia?" Tanya Keyrani penasaran dengan apa yang dirasakan Ray setelah berbuat seperti itu
"Aku tidak tahu" Jawab Ray bingung karena dirinya sama sekali tidak merasakan apapun setelah membalas saudara tirinya
Keyrani hanya terdiam mendengar jawaban Ray, karena dirinya tahu meski Ray berhasil membalas dendam dan merebut semua apa yang seharusnya menjadi miliknya, Ray tidak akan pernah bisa merasa bahagia dan justru akan merasa kosong. Karena balas dendam tidak akan ada gunanya ketika orang yang diratapi kini sudah tidak ada di dunia.
__ADS_1