
Cantik, menawan dan penuh cinta, itulah makna yang terkandung dari nama 'Arrabella', dan Aya kemudian menjadi seseorang yang sesuai dengan identitas yang dilekatkan padanya. Hanya saja kecantikan dan kemolekan tubuhnya jadi menawan banyak pria untuk menikmati raganya walau hanya sesaat. Irene dan Arata yang pintar membaca peluang menjadikan Arrabella boleh 'dimiliki' lelaki mana pun yang sanggup membayar dan turut menikmati hasil dari keringat dan air mata Arrabella. Menyedihkan sekaligus menjijikan, kenapa takdir begitu kejam mempermainkan hidupmu, Arrabella? Dan kamu pun seolah tidak berdaya keluar dari kondisi itu.
---
Mangata tersentuh membaca bagian itu. Terlepas dari pemeran asli Arrabella yaitu Geetruida, ibunya sendiri, Mangata jadi berpikir ... kenapa prostitusi seolah dibolehkan sejak zaman kolonial, penjajahan Jepang hingga saat ini, dari tingkat kota hingga pedesaan, prostitusi selalu mendapat tempat, itu karena kebutuhan atau keserakahan?
Tiap orang bisa saja memiliki asumsi untuk membenarkan dirinya tapi memang begitu, selagi ada kebutuhan maka jadilah permintaan yang mengakibatkan munculnya penawaran beserta nilai yang disepakati kedua belah pihak. Sekali lagi kebutuhan 'itu' muncul karena apa, apakah jika tidak mendapat kepuasan sekssual, seseorang akan mati? Tentu tidak, bukan? Mangata sendiri walau pun sudah berusia cukup matang berusaha untuk menjauhkan diri dari hal menjerumuskan itu, sebab sekali saja ia terperosok ia yakin akan ketagihan seperti para pria yang suka mencari kesenangan diluaran, contohnya ya para lelaki yang telah memakai jasa Geetruida dulu. Meski penasaran, Mangata tahu akan senikmat apa 'sesuatu' itu, main sendiri saja bisa membuatnya lega apalagi kalau ada partner, hihi. Mangata memgang prinsip hanya melakukan 'itu' hanya dengan wanita yang halal untuknya.
Ah ... kapan Arunika bisa halal untuknya jika ternyata ia dan gadis pilihannya itu malah satu nasab, yang artinya haram untuk dinikahi. Sementara ini Mangata belum ada rencana melirik gadis lain terutama jika benang kusut antara Geetruida dan Sagara belum terurai.
***
Kembali ke bab lanjutan novel yang ditulis Geetruida, 'Kabut Cinta Noni Belanda'.
Pak Ruslan baru saja kembali ke rumah utama yang ia tempati dengan Aminah sang istri ketiga, hari itu kedatangan tamu, yang menunjukkan tanda pengenal serta keping perak kecil berstempel yang memastikan ia adalah utusan Takeshi, tamu itu memberikan sepucuk surat dari sahabatnya.
Segera saja pak Ruslan membuka dan membaca surat itu dengan perasaan tidak sabar.
Kyoto, Januari 1949.
Kepada yang terkasih sahabatku pak Ruslan.
__ADS_1
Apa kabar, pak?
Aku harap bapak dan keluarga, baik-baik saja. Saat ini aku sudah kembali ke Jepang, tepatnya sekarang aku tinggal di Kyoto bersama Ryujo-mantan ajudanku dulu- dan keluarganya juga putriku, Himawari.
Pak Ruslan, aku telah memutuskan keluar dari dunia militer dan politik karena aku mau hidup tenang dan bebas dari segala macam kewajiban yang mengikatku pada institusi tertentu layaknya orang biasa, tanpa jabatan apalagi kekuasaan seperti dulu. Sekarang aku sedang memikirkan usaha untuk mata pencaharianku, rencana sih, aku mau menjual produk olahan hasil hutan Kalimantan di Kyoto, jika berkenan ... bersediakah pak Ruslan menjadi pemasok utamanya? Atau setidaknya bapak punya rekomendasi yang bisa bekerja sama denganku nantinya. Tolong ya, pak.
Oh iya, apakah Agastya masih tinggal di situ bersamamu? Apakah dia sudah punya usaha? Apakah ada kabar mengenai istrinya yang diculik itu, atau malah mereka sudah bertemu saat ini?
Harap segera dibalas ya, pak dan titipkan balasannya pada orang yang mengantarkan surat ini padamu. Terima kasih.
Salam hangat dari sahabatmu : Takeshi.
Takeshi saat itu menolak pembayaran hutang dari pak Ruslan dan meminta uang tersebut digunakan untuk mengajak orang lain sukses bersama, secara tidak langsung Takeshi mengajarkan tentang indahnya berbagi dengan siapa saja tanpa pamrih apalagi pilih-pilih. Adalah suatu kebahagiaan bagi pak Ruslan saat bisa menularkan kembali semangat yang ia dapatkan dari sahabatnya yang nota bene adalah golongan bercap penjajah itu. Nilai-nilai yang kemudian iaa tanamkan juga terhadap anak-anak dan juga orang-orang dekatnya.
Usai membaca surat itu, pak Ruslan langsung membuat balasannya, masih dengan hati dan wajah yang bermimik gembira.
Banjarmasin, Januari 1949.
Teruntuk sahabatku : Tuan Takeshi.
Hai tuan Takeshi yang baik hati, kupikir tuam sudah lupa denganku, setelah sekian lama ... aku senang sekali akhirnya aku mendapat kabar darimu.
__ADS_1
Kabarku baik, tuan. Istriku masih 3, anakku juga masih 2 orang tapi cucu sudah mau 5, haha.
Tuan Takeshi kapan punya istri lagi, perlukah sahabat tuamu ini mencarikan gadis Banjar untukmu?
Sayang sekali aku tidak bisa lagi memanggilmu sebagai 'Laksamana' tapi baiklah, aku menghargai keputusanmu yang tentu sudah lama kau renungkan.
Aku menyambut baik rencana usahamu itu, tuan dan aku sarankan, jika memungkinkan sebaiknya tuan ke Banjarmasin saja agar dapat melihat secara langsung potensi apa saja yang bisa kita kembangkan.
Agastya aman sejahtera di sini, tapi dia tidak tinggal bersamaku juga tidak membuka usaha seperti yang kau sarankan. Pemuda itu malah memilih bekerja jadi pembatangan, ikut kapalnya Zain. Ketampanannya tidak berkurang malah badannya tambah kekar dan kulitnya makin legam gara-gara harus keluar masuk hutan mencari kayu. Dia masih belum menemukan keberadaan istrinya itu dan tidak pula tergerak menikahi gadis cantik lainnya di sini meskipun ada beberapa kerabatku yang berminat mengambilnya jadi menantu, tapi Agastya hanya tersenyum, rupanya mantan asistenmu itu sudah lulus untuk menjadi sejiwa dengan tuan Takeshi yang tidak mudah berpindah ke lain hati.
Aku benar-benar berharap tuan Takeshi kemari.
Dari sahabatmu : Ruslan Ahmad.
Pak Ruslan melipat suratnya dan memberikan pada seseorang yang menunggunya menulis surat balasan untuk Takeshi. Tidak lupa beliau juga menitipkan cindera mata untuk sahabatnya juga untuk si kurir.
"Terima kasih telah jauh-jauh kemari, anak muda," kata pak Ruslan saat pemuda perantara itu berpamitan.
Saat tahu sahabatnya sudah tidak terikat dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai perwira tinggi Angkatan Laut Jepang, pak Ruslan tahu kalau Takeshi pasti mau berkunjung ke Banjarmasin. Pak Ruslan rindu berbincang dan mendapat suntikan semangat serta kalimat-kalimat positif dari Takeshi, ajakan kerja sama tentu disambut baik oleh pak Ruslan.
Dari jauh pak Ruslan melihat Zain dan Agastya berjalan menuju rumahnya. 'Wah pemuda itu, seolah tahu kalau aku baru saja mendapat kabar dari tuan Takeshi,' gumam pak Ruslan yang kemudian menunggu di teras.
__ADS_1