
"Aku tidak menyangka, dibalik sikap dinginmu waktu itu juga pakaianmu yang tertutup rapat ternyata menyembunyikan pesona yang luar biasa. Aku tidak menyangka, Arrabella ... kamu sungguh cantik dan nikmat," sanjung Arata sedikit lemas usai kegiatan panasnya dengan Aya yang menyita waktu lebih dari 1 jam.
Aya tersenyum, ia masih belum mengenakan pakaian hanya berbaring tengkurap, menikmati sisa-sisa kenikmatan permainannya barusan sambil beristirahat, netranya menatap lekat maik mata Arata.
"Kenapa kamu mengabaikanku waktu itu?" Tanya Arata, sambil membelai lembut punggung Aya.
"Yang pentingkan sekarang tidak, aku sudah melunasi janjiku, memuaskanmu, tuan."
Cup.
Arata melabuhkan kecupan lembut di bahu Aya.
"Saat itu aku ditebus tuan Takeshi dari ianjo untuk bekerja sebagai pengasuh Himawari. Aku bertekad akan memperbaiki hidupku sebagai wujud terima kasihku pada tuan Takeshi, makanya aku berusaha untuk tidak lagi mau disentuh oleh sembarang pria."
"Jadi hanya tuan Takeshi yang boleh menikmati tubuhmu?"
"Tidak. Tuan Takeshi tidak pernah menyentuhku apalagi memanfaatkan keadaan meski ia memiliki hak penuh atas diriku."
"Yang benar saja. Kamu tidak pernah menggodanya barangkali ... seandainya kamu melemparkan tubuhmu tanpa busana ke tempat tidurnya seperti ini, tentu lelaki itu tidak kuasa lagi menahan dirinya, haha."
Aya ikut tertawa, " Idemu gila tapi aku tidak pernah kepikiran begitu, karena aku sungkan dengan tuan Takeshi."
"Sungkan kenapa? Bukankah kabarnya Takeshi menyukaimu, makanya sampai semarah itu saat aku menggodamu."
"Iya sih, tuan Takeshi juga pernah memintaku jadi istrinya."
"Ja-jadi benar rumor yang beredar bahwa kamu adalah kekasih Takeshi dan diam-diam sudah menikah?" tanya Arata yang jadi ngeri membayangkan nasibnya jika Takeshi tahu dialah dalang penculikan Arrabella dari kampus.
"Yang benar itu, aku menikah dengan Agastya."
"Agastya ... asisten tuan Takeshi itu, kok bisa?" Arata terkejut mendengar info dari Aya.
"Namanya juga saling mencintai, ke mana lagi arah hubungan dua insan yang saling mencintai seperti kami kalau tidak menikah?"
"Iya sih, tapi ... bagaimana dengan tuan Takeshi, kan beliau sampai menyekolahkanmu itu ... kupikir karena akan menikahimu. Apa kalian menikah tanpa sepengetahuannya?"
__ADS_1
"Tidak. Justru tuan Takeshi yang mengatur pernikahan kami, termasuk mendorong Agastya untuk segera menikahiku."
Arata menganguk-anggukkan kepalanya mendengar penuturan Aya. "Lalu sekarang, apa rencanamu?" tanyanya.
"Entahlah. Aku maunya kembali ke pelukan suamiku," jawab Aya jujur.
"Haha ... tidak bisa begitu, sayang," ujar Arata dengan jemari yang mulai sibuk memijat sepasang benda sebesar semangka milik Aya.
"Kenapa? Mami Irene bilang bisa saja asalkan aku mampu membayar tebusan."
"Memangnya mami Irene minta berapa?"
"1 juta rupiah."
"Haha ... tidak mungkin," sangsi Arata.
"Kenapa tidak mungkin?"
"Irene itu banyak akalnya, lihat saja nanti. Lebih baik kau jadi pacarku saja dan memuaskanku, maka aku akan membebaskanmu."
"Gadis pintar, ternyata kamu sangat mengerti. Jadi bagaimana? Mau jadi pacarku tidak?"
"Memangnya apa keuntungan yang kudapat jika jadi pacarmu?"
"Hm, sedang kupikirkan ... yang pasti kamu akan dapat menikmati keperkasaanku dan kita bisa bermain kapanpun kamu mau," lontar Arata sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Haish, tanpa status itu pun kita juga bisa bermain seperti barusan."
"Oh iya, barusan apa, ya?" Ucap Arata dengan tampang bingung.
"Iya. Barusan tadi itu, kamu lupa? Lihat, bahkan kita masih belum mengenakan pakaian." Aya yang kesal malah membalikkan tubuhnya menghadap Arata, membuat gejolak lelaki itu bangkit lagi.
"Ah, kalau begitu tolong ingatkan aku bagaimana rasanya saat tubuh kita menyatu, sayang." Kali ini, Arata yang memimpin permainan. Ia dengan sengaja membalas 'penyiksaan' yang dilakukan Aya tadi dengan terus mencumbu, bermain lama-lama hingga Aya merintih, memohon agar intinya dipenuhi tombak perkasa milik Arata.
"Ah, ah ... lebih dalam lagi," rengek Aya saat dibawah kendaluli Arata.
__ADS_1
Aya benar telah berusaha melupakan zona nyamannya saat masih bersuami, saat masih tinggal di rumah tuan Takeshi. Ia memilih membenarkan diri dengan memutuskan menikmati saja 'profesi'nya saat ini, sementara belahan jiwanya mas Aga, di pulau lain hanya bisa berdoa untuk keselamatannya, kesehatannya berharap sang istri baik-baik saja dalam lindungan Tuhan. Ya, Tuhan memang mendengarkan doa tulus Agastya untuk Aya, namun 1 hal yang dia tidak ketahui, istrinya juga nyaman dalam kungkungan lelaki lain.
Harapan mami Irene terkabul, setelah sukses melayani Arata, segera saja Aya menjadi primadona, menjadi wanita impian sekaligus tujuan utama para pria hidung belang yang datang ke wisma Evergreen dan tentu saja ia dibayar mahal untuk pelayanan plus-plusnya itu.
Para lelaki itu tidak keberatan merogoh kocek lebih dalam demi bisa bersama wanita cantik dan menikmati belaiannya, justru jadi kebanggan tersendiri bagi mereka bisa berbagi peluh dengan Aya.
Aya, meski tahu sedang bergumul di dunia gelap, ia tidak lupa untuk berdoa. Meski tahu penuh nista ia masih berharap mendapat pengampunan dan pengarahan menuju hidup yang benar. Siang dan malam kapan pun ada kesempatan, Aya senantiasa berdoa untuk suami dan juga keluarganya, meminta suatu saat nanti mereka dipertemukan lagi dan hidup bahagia. Ada kalanya Aya ingin mengakhiri hidupnya saja, namun harapan dan itulah yang kemudian menguatkannya, membuatnya ingin meneruskan hidup, setidaknya sampai doanya terkabul.
"Mami, berapa yang harus kubayarkan jika aku mau berhenti bekerja di sini?" Tanya Aya saat akan memulai tugas barunya setelah melayani Arata semalaman.
"Seperti yang pernah kubilang, 1 juta rupiah."
"Mami yakin angka itu cukup? Aku takutnya jika aku sudah punya 1 juta, mami malah minta lebih lagi.
"Hah ... kamu baru saja mulai melayani tamu, belum juga sepekan kamu sudah menanyakan itu. Kamu serius tidak mau bekerja denganku, sayang?"
"Iya."
"Huh, jangan harap! Seandainya kamu mampu menebus dirimu sendiri dan bebas dari sini, apa kamu fikir kamu bisa hidup nyaman tanpa menjual diri di luar sana? Kamu lupa kalau keahlianmu hanya itu?" lontar Irene dengan nada sisnis. Sengaja, biar Aya berfikir betapa tidak berdayanya ia jika ingin hidup benar.
"Bukankah sering kukatakan, aku bisa bekerja apa pun, mam ... jadi buruh sekalipun, asalkan aku tidak lagi harus menjual diriku."
"Cih, jangan ngimpi ketinggian seperti punguk yang merindukan bulan, Arrabella. Arata tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Apa yang sekiranya membuat Arata berubah fikiran?"
"Tidak tahu. Mungkin juga tidak ada sebab tadi pagi Arata menyampaikan mau menjadikanmu kekasihnya dan kamu hanya boleh melayaninya saja."
"Jika memang itu jalan aku keluar dari sini, aku bersedia jadi pacarnya dan melayaninya kapan pun dia mau. Asalkan ada kepastian, dia bisa mengeluarkanku dari sini," tegas Aya.
"Aku yang rugi. Sudah menampungmu secara cuma-cuma dan menanggung hidup lelaki itu pula, kalau kalian malah pacaran ... tidakkah artinya aku justru memfasilitasi kalian bersenang-senang saja tanpa ada andil mencari nafkah di sini? Ingat Arrabella, Arata punya kuasa sekaligus licik. Aku sarankan sebaiknya kamu menolak tawarannya itu sebab dia malah keenakan. Sudah nyaman tinggal di sini, malah dapat bonus mendapatkan kehangatan tubuh kita tanpa membayar se-rupiah pun."
"Baiklah."
"Jadi kamu mau terus menerima dan memberikan pelayanan terbaik untuk tamu kita, kan?" tanya Irene.
__ADS_1
"Hm, aku tidak punya pilihan lain, mam," jawab Aya lesu.