
"A-acara apa, Zain?"
"Ck, masa istrimu kembali ke pelukanmu terus kalian punya rumah baru, kamu gak pingin merayakannya? Karena sesungguhnya Allah sendirilah yang telah memberkatimu sehingga boleh menikmati rezeki dari-Nya. Tidak perlu besar-besaran, cukup mengundang tetangga sekitar serta kawan-kawan kapal saja," saran Zain.
"Benar yang dibilang Zain itu nak Aga, biar rumah baru yang akan kalian tempati nanti terasa nyaman, aman, dan berkah. Cara kita bersyukur bisa dengan berbagai cara, selain secara pribadi bisa juga seperti yang disarankan Zain tadi. Jangan lupa jika kita bersyukur, maka Allah akan meningkatkan keberkahan lebih banyak lagi," pak Ruslan melengkapi saran Zain dengan nasehatnya.
"Hm, terima kasih atas sarannya pak Ruslan, Zain. Allah benar-benar baik sudah mengizinkan kita bertemu, tapi-"
"Tapi apa lagi, Ga? Apa yang membuatmu masih ragu."
"Em, itu ... upah tukangnya gimana, apa sisa uangnya cukup? Atau sisa emas itu dijual habis saja, biar aku tidak terhutang. Tidak apa-apa, kami memulai semuanya dari nol, aku yakin Allah pasti mencukupkan semuanya," sahut Agastya.
"Nah, biar kamu lebih yakin kalau Allah itu benar-benar baik sama kita, maka upah tukangnya jangan jadi beban, Ga."
"Ma-maksudmu gimana, Zain? Jelas saja itu akan jadi beban, kamu kira enak bangun rumah?"
"Ya, aku tidak bilang bikin rumah itu gampang, Ga. Nih, aku mau bilang rahasianya, ya. Kamu pasti tidak tahu kalau abah, aku dan adikku Zaid punya hobi bertukang, jadi rumahmu itu kita bikin sama-sama, kamu juga boleh ikutan, kok."
"Iya, tapi gimana dengan pembayarannya, Zain?"
"Ahaha, emang abah perlu uang berapa dari Agastya, bah?" Sahut Zain sambil membalas senyum ayahnya.
__ADS_1
"Ya ampun Agastya, tidak semua pekerjaan harus dinilai dengan uang, lho. Kita disini semangat kekeluargaan dan gotong-royongnya tinggi, orang-orang yang pernah kamu bantu pasti mengingatmu dan disaat kamu perlu pasti akan ditolong ganti meski tidak persis seperti bantuan yang pernah kamu berikan," jelas pak Ruslan lagi.
"Hm, tidak salah kita berada di lingkaran orang-orang yang baika ya, mas," timpal Aya dengan nada haru.
"Insya Allah, kalian selalu berada di lingkungan yang baik, nak Aya."
"Tapi, pak ... bagaimana jika orang-orang, terutama para tetangga menanyakan keberadaanku yang tiba-tiba nanti, bagaimana jika ada yang tahu aku pernah bekerja sebagai-"
"Ah, ya tidak perlu bercerita. Tidak mengatakan semua bukan berarti berbohong, kok. Nanti kita tinggal bilang kalau kamu baru datang dari Jakarta, menyusul suamimu, begitu saja nak Aya."
"Tapi ..." Aya masih ragu.
"Jangan fikirkan kemungkinan yang tidak-tidak. Toh, kalau pun mereka tahu kamu sebelumnya pernah jadi perempuan wisma evergreen, ya sudah katakan saja dengan jujur itu semua karena kamu diculik dan dijebak, selesai. Aku tahu persis, kamu juga tidak ingin bekerja di tempat yang begituan, kan?"
"Sudahlah. Berhenti mengingat hal buruk yang sudah lewat, sekarang kamu wanita yang merdeka, Aya. Hidup itu terus maju ke depan dan jangan lelah untuk belajar berbenah diri. Allah pasti memampukan kamu mengatasi segala kesukaran selama kamu mampu menjaga marwahmu sebagai perempuan dan juga seorang istri. Bergaullah dengan orang-orang yang tepat, yang bisa menfukungmu menjadi manusia yang lebih baik. Ini bukan berarti aku ingin mengatakan kalau bergaul di lingkungan kami adalah yang terbaik, karena tiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, semua tergantung caramu membawa diri," lagi-lagi pak Ruslan tidak pelit membagikan nasehatnya, sikap beliau tidak ubahnya seorang ayah yang membekali putrinya memulai hidup baru.
"Terima kasih wejangannya, pak. Kini aku merasa percaya diri menapak kehidupanku ke depan bersama mas Aga," sahut Aya mantap.
"Harus itu, nak Aya. Tiap pribadi itu berharga dan tidak semua mampu menjalani kehidupan seperti yang kau alami."
Aya mengangguk, ia menggenggam erat jemari suaminya.
__ADS_1
Kini netranya memperhatikan pohon-pohon yang semula berjejer di kiri kanan sungai mulai jarang dan berkurang, dari jauh sudah tampak sebuah peradaban manusia.
Banyak terdapat rumah lanting di sisi sungai, rumah tradisional suku Banjar yang pondasinya berupa rakit mengapung. Bukan rakit yang terbuat dari bambu seperti yang pernah dibikin Agastya dulu, tapi ini tersusun dari tiga buah balok kayu atau batang pohon kayu yang besar sebagai landasannya dan supaya tidak hanyut terbawa air, rumah lanting itu diikatkan pada tiang kayu yang menancap di dasar sungai. Rumah lanting akan selalu dalam kondisi terombang-ambing akibat gelombang dari kapal atau alat transportasi lain yang hilir mudik di sungai.
"Wah, apa tidak pusing tinggal di rumah yang bergoyang-goyang tiap kali ada gelombang?" Ujar Aya lugu.
"Kalau sudah biasa ya tidak dong, sayang. Kan itu sebenarnya kalau ditelisik dari segi aspek lingkungan, rumah lanting memberikan keuntungan sebagai penahan erosi dan mengantisipasi gelombang sungai.
"Hm, begitu ya tapi kenapa bisa ada rumah apung begitu, apa karena tidak punya lahan untuk membuat rumah, mas?"
"Haha," pak Ruslan tidak dapat menahan tawanya mendengar pertanyaan Aya. "Jadi begini nak Aya, dulu awal-awal terbentuknya masyarakat Banjar, sebagian masih ada yang tinggal secara nomaden di perahu-perahu. Lalu mereka membuat rumah lanting sebagai penunjang aktivitas mereka berdagang. Itu kamu lihat sendiri, beberapa rumah juga merangkap warung kecil. Itu karena manfaatnya yang dijadikan tempat tinggal bagi para pedagang dan keluarganya yang berada di sungai. Nah, mereka memiliki mata pencaharian mengolah hasil hutan dan menangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan sendiri juga dijual. Kegiatan tukar menukar itu dilakukan antar perahu lalu kumpulan dari orang-orang perahu yang berjualan terus berkembang dan bertambah banyak hingga pada akhirnya menjadi pasar. Ga, kapan-kapan Aya diajak jalan pagi melihat pasar terapung," pinta pak Ruslan diakhir penjelasannya.
"Siap, pak," sahut Agastya.
"Hah, pasar terapung? Jadi yang berjualan di sungai gitu?"
"Iya, baik yang jual maupun yang beli, sama-sama pake perahu kecil yang kami sebut jukung. Jual beli bisa pakai uang, bisa juga dengan barter jualan," imbuh pak Ruslan lagi.
"Hm, begitu rupanya. Eh, semakin ramai nih, apakah kita sudah di kota Banjar Masin?" Tanya Aya antusias.
"Betul Aya dan selamat datang di Banjar Masin," sahut Zain seraya mengurangi laju mesin speed boatnya dan mengarah ke tepi. Alat transportasi sungai itu perlahan merapat ke sebuah dermaga kecil.
__ADS_1
"Nah, kita sudah sampai. Ayo naik," kata Agastya yang lebih dulu berdiri dan melompat ke dermaga kayu, lalu mengulurkan tangannya agar mempermudah Aya berpindah ke pelabuhan kecil itu.