Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Meleleh


__ADS_3

"Maaf, aku sungguh gak bermaksud begitu. Aku hanya merasa insecure melihat perhatian tuan Takeshi sama kamu."


"Seandainya aku menanggapi hubungan pura-puraku dengan tuan Takeshi berlebihan dan melewati batas, mas bisa menegurku. Tapi mas tahu sendiri semua atas persetujuan mas juga. Jika mas keberatan, mulai besok aku berhenti belajar. Mulai besok kita keluar dari rumah ini dan memulai hidup kita yang sesungguhnya tanpa bayang-bayang tuan Takeshi lagi."


"Belum bisa sayang, jujur kita masih perlu tuan Takeshi. Apa yang direncanakan tuan Takeshi adalah yang terbaik untuk kita."


"Kalau begitu, berhenti mengatai dirimu sendiri tidak kompeten jadi suamiku apalagi sampai mengungkit masa laluku. Mas tahu, itu sangat sensitif. Mas sudah mengorek luka lamaku."


"Maafkan aku, sayang. Sungguh aku menyesal."


"Aku senang membuat mas lebih menyesal jika mengulangi lagi lain kali."


"Tidak ada lain kali, sayang. Aku janji tidak akan mengulangi lagi."


"Bagaimana aku bisa percaya? Jika sampai mas menyakitiku dengan kata-kata tadi, aku akan benar-benar pergi."


"Jadi sekarang kamu tidak akan benar-benar pergi, kan?"


"Tergantung maunya mas aja."


"Eng ... aku maunya masih yang itu, sayang."


"Yang itu, apa?" Aya melunak.


"Nyoba posisi baru."


"Posisi baru? Seperti ... mas pagi-pagi menggantikan tugasku mengurus rumah, mengurus Himawari, mengerjakan tugas sekolah dan aku boleh bangun siang, ongkang


-ongkang kaki sepanjang hari. Aku jamin, aku akan siap melayani, kapanpun mas mau."


"Hah, bukan begitu yang kumau. Emang ada posisi macam itu?"


"Tepatnya kita bertukar posisi. Biar mas tahu kenapa terkadang aku bisa lelah, bisa gak mood bermesraan masih ditambah tuduhan dari mas kalau itu terjadi karena aku yang tidak puas dengan lelaki amatiran dan membosankan sepertimu."


"Astaga, bukan seperti itu."


"Bukan seperti itu, bukan seperti itu apanya? Omongan mas malah membuatku tersadar dan jadi membandingkan betapa serunya berhubungan dengan pria-pria yang membayarku dibanding mas yang sudah gak pro ditempat tidur, gak membayar plus suka berpikiran negatif."


"Sayang, jangan mulai lagi," mohon Agastya.


Aya memejamkan matanya sejenak sambil menarik dan menghembuskan nafas, "Mas gampang ngomong kayak tadi karena mas tidak tahu bagaimana rasanya melayani lelaki yang tidak diinginkan. Jangan mas kira saat masih jadi wanita penghibur, aku mau dan ikhlas tubuhku dinikmati. Mungkin kalian para lelaki bisa bercinta tanpa hati meski dengan wanita yang tidak kalian kenal sekalipun, asalkan gairahh dan hasratt tersalurkan. Tapi aku tidak, hatiku sakit mas, begituan dengan lelaki yang bukan milikku. Rayuan, desahann, gerakan sensuall yang mengundang gairahh bisa dipalsukan demi menyenangkan lelaki pemakai jasaku tapi hatiku tidak, mas. Bercinta dengan orang yang kucintai dan kuinginkan sungguh berbeda rasanya."

__ADS_1


"Berbeda gimana? 'Kan bentukannya sama aja, prosesnya juga. Hanya mungkin beda sensasi karena tiap orang punya ciri khas dan fantasi berbeda."


"Jujur iya, tapi denganmu aku merasa istimewa, karena aku melakukannya tidak sekedar agar mas puas tapi ibadah. Hal itu tidak bisa kubandingkan dengan saat aku berhubungan dengan lelaki lain, karena mereka bukan suamiku. Dulu aku berzinah sekarang aku melakukannya karena ibadah, menurut mas lebih baik yang mana? Jika mas jadi aku, seandainya dihadapkan pada lelaki ulung di tempat tidur tapi dosa dibandingkan dengan pria amatir tapi syah, lebih nikmat yang mana?" Kembali Aya mengulik perasaan suami yang sempat melecehkannya secara verbal.


"Harus dijawab, sayang?"


"Tentu."


"Pilihan sulit, sayang."


"Jawab saja!" Tegas Aya.


"Aku gak bisa jawab karena gak bisa bayangin jadi kamu, karena yang aku alami justru bercinta dengan wanita berpengalaman yang sudah syah jadi istriku."


"Nah, makanya mas jangan lagi mempermasalahkan sesuatu yang tidak kuanggap masalah. Aku kalau keberatan pasti aku katakan dan asal mas tahu, aku sudah melupakan semuanya saat yakin mas mencintaiku dan benar-benar mas bisa menerimaku yang tidak sempurna ini."


"Iya, sayang. Maaf, aku juga banyak kekurangan. Buktinya aku bisa khilaf seperti tadi."


"Karena itu, disaat aku lelah dan tidak mood melayani kebutuhan mas jangan lalu berpikiran karena aku enggan bercinta dengan pria yang membosankan. Aku hanya ingin apa adanya, mas. Bukankah yang namanya ibadah harus ikhlas, tidak boleh melakukannya dengan terpaksa? Lagi pula mas sendiri mengajarkanku, kebutuhan suami tidak melulu soal ranjang, jadi harusnya mas jangan berpikiran negatif saat aku terkesan menolak."


"Maafkan aku sayang. Terima kasih, sebagai istri kamu memang berhak menegurku saat berbuat kesalahan."


"Hah, mau apa?"


"Mengingatkan kalau dulu aku adalah pelacur dan mas mau aku kembali melacurkan diriku."


"Tidak, jangan berfikiran begitu."


"Baiklah. Bagaimana pun kita baru menikah, perlu lebih saling menyesuaikan dan saling memberi waktu untuk belajar. Aku baru belajar mengenai hak dan kewajianku sebagai istri dan mas juga begitu. Dan itu tidaklah instan, mas. Perlu proses."


"Terima kasih sayang, aku bersyukur punya istri yang pengertian sepertimu. Ternyata cara berpikirmu lebih dewasa dari usiamu."


"Gak usah menyanjungku begitu, sekarang tunjukkan padaku posisi apa yang mas mau tadi?" jawab Aya sambil melangkah kembali menuju tempat tidur mereka.


"Eh itu ... katanya lagi tidak mood. Aku tidak memaksa, besok aja, sebaiknya kita tidur aja sekarang."


"Fahami pertanyaanku dengan benar, mas. Aku hanya minta mas menunjukkan saja, bukan praktekkan," ujar Aya sambil melepaskan penutup tubuhnya.


Agastya tercekat dan menelan air liurnya. 'Ini gimana sih, katanya gak mood tapi malah menggoda begini?' batin Agastya.


"Mas?"

__ADS_1


"I-iya sayang?" Agastya menaiki tempat tidur.


"Tunjukkan padaku," ucap Aya dengan pose menggoda dan sudah tidak mengenakan apapun.


"Sayang, kamu mau menguji imanku?"


"Tidak. Waktu belum menikah, kamu tidak tergoda saat aku menawarkan kehangatan."


"Itu beda. Saat itu aku memang berusaha menahan diri agar tidak khilaf."


"Bedanya dengan sekarang apa, tampilanku masih kurang menggoda? Waktu itu masih ada bagian yang tertutup sekarang polosan, masa tidak mau?"


"Astaga, kamu ini benar-benar ... tentu beda menahan diri saat belum syah dan tahu rasanya bercinta dibanding sekarang." Aya terkekeh saat Agastya melucuti pakaiannya sendiri, kini mereka sama polosnya.


Agastya meraup rakus bibir Aya yang setengah terbuka, menjelajah lidah dan geligi lalu turun menyusuri leher jenjang istrinya, terus menuju dua gundukan favoritnya. Menyesapp, memilinn dan meremass kedua bongkah itu bergantian.


"Ah, mas ..." rintih Aya.


Agastya menghentikan aksinya, "Bagaimana, masih tidak mood, sayang?"


"Hmmh, kamu malah membakar mood-ku mas," jawab Aya setengah suara.


"Wah, hancur dong."


"Meleleh, mas."


"Apanya?"


"Ini," Aya menarik jemari suaminya menyentuh sudut diantara kedua kakinya. Tentu saja Agastya bahagia saat mendapati lelehan hangat disitu, makin aktif jemarinya menari, makin bertambah kehangatannya.


"Sayang ikhlas, kan?"


"Iyah, ayo mas ... coba posisi seperti fantasimu."


"Bangunlah." Agastya mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur. Aya segera menghampiri suaminya dan siap-siap mengangkangii dari depan.


"Bukan begitu, berbaliklah."


Aya membelakangi dan mendudukkan dirinya di pangkuan Agastya.


"Arahin, mas," pinta Aya sebelum mengambil kendali atas kedalaman dan kecepatan bercinta mereka malam itu. Keduanya baru tahu kalau bercinta sangat ampuh meredakan perselisihan yang baru saja terjadi. Lebih-lebih Aya, yang dengan posisi itu mendapatkan sensasi berbeda dari biasanya sehingga ia berulang kali mendapat pelepasannya.

__ADS_1


__ADS_2