
Sering Irene mendapati Aya menangis sambil sesekali berteriak dan mengatakan '... mereka menyakitiku,' hal itu sangat menyentuh hatinya sebagai sesama wanita. Irene juga pernah mengalami kekerasan seksuall makanya Irene tau bagaimana menangani Aya.
Cukup diberi obat anti depresan dan kasih sayang, itu bukanlah hal yang sulit bagi Irene terlebih karena Aya berpotensi menjadi tambang emas ianjo, makanya dengan senang hari Irene merawat dan mensupport Aya.
"Arrabella, kamu senang tinggal disini?" tanya Irene yang berusaha menjalin keakraban dengan Aya.
Aya mengangguk, bagaimanapun pavilliun Irene yang bangunannya terpisah dengan ianjo sangat nyaman dibandingkan kamp interniran, di sini makanannya enak-enak, air selalu tersedia dan leluasa. Hanya, di sini tidak ada teman sebaya untuk bermain.
"Syukurlah, semoga kamu betah ya, Arrabella."
"Mi, eng ... aku, aku sampai kapan akan tinggal di sini?" tanya Aya sambil meremass ujung kemejanya.
Irene tersenyum, "Maaf Arrabella, ini sudaj ada aturannya ... kamu bisa keluar jika ada yang mampu menebusmu, 300.000 gulden"
"Ja-jadi, seandainya aku punya uang sejumlah itu berarti aku bisa bebas keluar dari sini?"
"Tentu saja, sayang. Kenapa?"
"Ada yang bilang kalau sudah masuk ianjo maka itu akan seumur hidup tetap di situ."
"Ah, itu untuk yang berperilaku buruk dan kurang menarik saja, kalau cantik sih ... pasti ada yang menebusnya dari sini, contohnya nyonyamu itu."
"Nyonya Monic?"
"Benar, Monic itu sama sepertimu, noni Belanda. Ayahnya perwira, ibunya Manado, dia dari kamp yang ada Bandung. Dibeli dan ditebus oleh Isao, makanya hidupnya enak gitu. Tapi kata Isao sekarang dia sudah pergi, dan mengganti uang yang dikeluarkan Isao dulu."
"Jadi, nyonya Monic sudah tidak tinggal di rumah itu lagi?"
"Iya, mungkin ada lelaki kaya yang sanggup mengganti uang Isao. Kalau cantik memang seperti itu, bebas aja. Kamu juga bisa seperti Monic, apalagi kalau bisa merawat diri."
"Jadi ada kemungkinan seperti itu, ya?"
"Tentu. Makanya kamu harus jasi gadis baik, ramah pada tamu yang datang, layani mereka dengan baik agar kamu mendapat tips yang banyak dan ... mungkin ada yang membayarmu agar bisa bebas dari sini," tutur Irene setengah merayu.
__ADS_1
Mendengar angka yang disebutkan Irene membuat Aya bersemangat, bagaimanapun dia harus segera dari tempat itu. Aya tahu, dia harus segera membenahi dirinya agar memenuhi syarat yang diajukan Irene, apapun itu ... Aya tahu apa yang harus dilakukannya, ya ... apapun itu.
Apa yang dikhawatirkan lagi? Toh semua sudah terlanjur, terpisah dsri keluarganya, kehilangan masa depannya dan sebagai perempuan dia sudah 'rusak' ditambah lagi sekarang statusnya adalah jugun iunfu, gadis ianjo, meskipun bukan itu sama sekali bukan impiannya.
"Mami, tolong bimbing aku menjadi perempuan yang bisa membuat seirang pria sanggup membayarku 300.000 gulden," tekad Aya berusaha profesional.
"Bagus! Aku suka perempuan yang kuat sepertimu. Asalkan kamu mau, kamu bisa mendapatkan hal yang setimpal dengan upayamu dan tentu saja bukan hal yang sulit karena dengan senang hati aku mendukung keinginanmu yang ingin segera terbebas dari tempat ini," balas Irene.
"Mmm." Aya mengangguk kuat.
"Pertama, kamu harus berpikir positif mengenai kenapa kamu ada di ianjo dan apa yang harus kamu kerjakan di sini. Yang sudah terjadi kemaren-kemaren itu, anggap sebuah kesialan yang tidak perlu terulang lagi, karena kamu sudah mengantisipasi."
"Antisipasi?"
"Iya. Kita mengantisipasi maksudku meminimalisir kemungkinan berulangnya penyiksaan seperti waktu itu."
Mendadak kepala Aya berputar-putar. "Tapi ... mereka menyakitiku." Ucap Aya setengah berbisik, bagaimanapun perlakuan itu sangat melukai hati dan fisiknya. Rasanya sulit sekali memaafkan apa yang sudah dilakukan pria-pria itu terutama Isao.
Aya menatap tajam Irene yang berbicara lembut padanya, meminta penegasan dari perempuan itu untuk menepati kata-katanya.
"Tidak semua pria yang datang ke sini untuk melampiaskan hasratnya. Beberapa ada yang sekedR datang untuk melepaskan penat, karena itu mereka perlu seseorang yang mengerti mereka. Mereka hanya perlu telinga kita dan perlakuan yang lembut, itu kadang cukup bagi mereka memerlukan kenyamanan. Kenyamanan dari seorang perempuan yang cantik, adalah impian sebagian besar lelaki. Baik, pelajaran pertama mari kita merawat tubuhmu ... ."
Hari itu Irene mengajarkan Aya merawat tubuhnya. Irene menyuruh Aya mengganti pakaiannya dengan kain sarung yang sudah diberi karet keliling di bagian atasnya.
Lalu dengan lembut, Irene membalur seluruh tubuh Aya dengan minyak kelapa lalu mulai mengoleskan lulur alami yang dibuatnya sendiri, kemudian menyapukan susu cair ke kulit Aya, setelah lulur itu bersihkan.
Beralih ke kepala Aya, dengan cekatan Irene membuat cream dari daging buah alpukat yang sudah dihancurkan, dicampur sedikit madu dan minyak urang-aring lalu mengoleskannya ke seluruh bagian kepala dan rambut Aya beserta pijatan yang membuat Aya merasa nyaman lalu membungkuskepala Aya dengan handuk hangat.
"Berbaring di sini, Arrabellela," pinta Irene sambil menepuk bantal di dekatnya.
Sekarang, giliran merawat kulit wajah Aya. Irene mengajarkan bagaimana membersihkan wajah, lalu melakukan massage ringan dan menekan titik-titik tertentu di wajah dilanjutkan dengan mengoles semacam pasta yang berupa campuran tepung beras dicampur bubuk kopi dan susu yang sudah dicampur air mawar dan sedikit minyak kelapa, lalu ketika setengah kering melalukan gerakan memutar untuk meluruhkan kulit yang mati. Irene membersihkan wajah Aya dengan handuk kecil yang dibasahi air hangat. Setelah itu Irene mengoleskan masker berbahan madu di seluruh wajah Aya dan menaruh potongan timun di kedua kelopak matanya.
"Kamu harus merasa rileks, jangan bergerak ataupun memikirkan apapun," imbuh Irene lagi. Aya pun menurut, dirawat seperti itu, benar-benar membuat Aya merasa nyaman dan tertidur sebentar.
__ADS_1
"Arrabella, mandi yang bersih." Suruh Irene, seraya memberikan sampo, conditioner dan juga sabun mandi. "Ini untukmu, simpanlah agar tidak terpakai oleh orang lain, ok?"
"Mmm," Aya meraih benda pemberian Irene dan membersihkan tubuhnya.
Tok ... tok ... . Irene mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya, mi? Sebentar lagi aku selesai," sahut Aya.
"Buka sayang," Irene menyodorkan semangkok air dan sapu tangan pada Aya. Aya menerimanya dengan dahi berkerut.
"Ini air rebusan sirih, kalau kamu sudah selesai, basuh bagian kewanitaaanmu dengan ini, terus keringkan dengan kain kecil ini."
"Ya."
Aya keluar dari kamar mandi dengan perasaan senang dan percaya diri.
"Bagaimana? Segar kan rasanya?" tanya Irene.
"Iya, mami. Terima kasih."
"Pakai ini sayang," Irene lagi-lagi menyodorkan beberapa benda sambil menjelaskan bagaimana cara mengaplikasikannya dan apa saja manfaatnya.
"Habis mandi, penting untuk menjaga kelembaban dan kebersihan kulit wajah dan tubuhmu."
Aya mengikuti instruksi Irene.
"Nah, sekarang ... lepas celana dalammu dan duduk di sini," perintah Irene. Ah, Aya pikir semua sudah selesai, ternyata masih ada rangkaian perawatan lain.
Aya pun duduk diatas kursi kecil yang bolong dibagian tengahnya.
"Ini namanya ratus, perawatan istimewa untuk bagian pribadi kita, agar tidak infeksi dan keputihan juga untuk menghilangkan bau tidak sedap di bagian itu, jadi secara tidak langsung akan memuaskan pasangan kita," jelas Irene.
Aya mengingat baik-baik rangkaian perawatan tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala serta bahan apa saja yang digunakan. Ribet memang, karena ada beberapa perawatan wajib tiap hari, namun ada juga yang cukup 1 atau 2 minggu sekali. Aya sudah bertekad, demi 300.000 gulden ingin menjadi wanita pemikat yang membuat seorang pria mau membayarnya mahal ataupun yang mampu membebaskannya dari ianjo.
__ADS_1