
Hm ... berarti kamu tidak bisa bertemu langsung dengan mereka, tapi harus lewat perantara," ujar pak Daus sambil mengusap janggutnya. "Bagaimana kalau ... aku menemui pihak owner dan pengelolanya?" Lanjut pak Daus lagi.
"Gimana kamu ngomongnya sama mereka?" Tanya pak Ruslan.
"Hm, bagaimana kalau aku bilang, aku akan menebusnya untuk kujadikan istri?"
"Maaf pak Daus, aku tidak setuju," ujar Agastya tegas. Agastya tahu sedang berhadapan dengan siapa tapi ia belum mengenal sepenuhnya bagaimana lelaki paruh baya itu. Bisa saja pak Daus berpura-pura ingin menikahi Aya, lantas benar-bemar menikahi Aya kemudian sebagai 'pembuktian' kata-katanya.
"Lha, terus gimana dong, Agastya? Kalau kita bilang menebus saja, setidaknya harus ada alasan yang kuat. Masa iya aku meminta Arrabella menjadi asisten rumah tanggaku? Mereka pasti akan mengarahkan pada orang lain, alasan memjadikan istri jauh lebih masuk akal," argumen pak Daus.
"Hm, bilang saja teman pak Daus yaitu pak Ruslan ini yang ingin menikahi Aya, em maksudku Arrabella," ujar Agastya lagi meski tidak rela.
"Hah, benar kata Agastya, Haji Daus. Kamu bisa kan bilang, aku yang ingin menebusnya lalau Aya diizinkan keluar. Kalau kamu bilang kamu yang akan menikahinya tapi kemudian Aya kami bawa pergi kan, jadinya janggal," imbuh pak Ruslan yang mengerti maksud Agastya.
"Ya, ya ... baiklah," pak Daus menyahut dengan nada kecewa sebab niat liciknya terbaca.
"Kalau begitu, bisa kita ke sana sekarang?" Pinta pak Ruslan.
"Em, bisa tapi sebaiknya hanya kita berdua saja. Agastya sebaiknya tidak menunjukkan wajahnya agar mereka tidak curiga. Agastya bisa menunggu di sini saja," kata pak Daus sambil meraih amplop dari pak Ruslan dan menafuhnya di saku.
"Eh, sebentar. Aku takutnya Aya yang tidak setuju sebab ... dia belum mengenal pak Ruslan sebelumnya. Bagaimana kalau aku menemui Aya dahulu untuk membicarakan rencana ini?"
"Baiklah kalau begitu. Zain, kamu temani Agastya ke wisma ya, biar abah menunggu di sini."
"Siap, bah," jawab Zain.
"Hm, Agastya ... sebaiknya kamu bawa ini biar urusanmu mudah," pak Daus memberikan sebuah kartu kecil berwarna hijau berlogokan VIP Wisma Evergreen.
"Apa, jadi pak Daus ini ...?"
"Iya, aku salah satu tamu VIP di situ. Maaf Agastya, aku tidak tahu kalau wanita itu istrimu," ungkap pak Daus jujur.
"Baiklah, tidak masalah, pak. Terima kasih," Agastya meraih karti itu dan bersiap menuju wisma Evergreen diantar supir pak Daus.
***
__ADS_1
Dengan adanya kartu itu tentu saja Agastya mudah meenmui Aya, meskipun menimbulkan tanya bagi Arata dan Irene, dari mana ia mendapatkan kartu itu. Namun karema melihat Agastya keluar dari mobil orang yang sangat sihormati di kota itu, mereka jadi tidak berkutik dan memilih membiarkan saja.
"Saya mau short time dengan Arrabella," tegas Agastya.
"Hah, dari mana kamu dapatkan kartu itu?" Tanya Irene.
"Kamu lihat mobil milik siapa yang mengantarku?"
"Ah iya, iya ... tapi apa hubunganmu dengan Haji Daus?"
"Jangan mempersulit kalau tidak mau bermasalah denganku!"
"Baik, baiklah tuan. Em, siapa kamu sebenarnya?" Irene penasaran apalagi setelah Arata membisikinya bahwa lelaki itulah yang telah mengancamnya tempo hari.
"Kalau kamu tidak bisa mengingat siapa aku, berarti kamu memang tidak perlu tahu siapa aku sebenarnya. Cepatlah, aku perlu segera bertemu Arrabella," Agastya setengah memaksa.
"Mari saya antar ke kamarnya," jawab Irene kemudian.
Tok, tok. Irene mengetuk pelan kamar Aya.
"Ada tamu VIP untukmu," kata Irene yang langsung meninggalkan Aya.
"Hai," sapa Agastya.
"Mas!" Aya berlonjak girang saat melibat siapa tamu yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Em, kamu tidak mempersilakan kami masuk?"
"Ah, maaf mas. Ayo silakan masuk. Mas sama siapa ini?" Tanya Aya sambil melihat pada Zain.
"Ini sahabatku, Zain. Dia dan ayahnya yang selama ini menolongku.
"Baiklah. Salam kenal mas Zain," Aya mengulurkan tangannya namun hanya dibalas dengan kedua tangan yang ditangkup didada oleh Zain.
"Salam kenal juga, Aya," sahut Zain sambil mengangguk hormat.
__ADS_1
"Silakan duduk, mas."
"Aya, waktuku tidak banyak namun ada hal penting yang mau kusampaikan."
"Apa itu mas, apa terkait rencana kita itu?" Aya melihat ke arah Zain.
Agastya yang mengerti maksud pandangan istrinya menyahut, "Zain tidak apa-apa, justru dia adalah bagian dari rencana kita. Begini, kami tadi mengunjungi pak Daus, pemimpin daerah sini dan kami sepakat untuk membebaskanmu dengan cara ... em, rencananya pak Ruslan akan mengutarakan niatnya untuk menikahimu dan membayarkan uang tebusannya."
"Hah, kenapa harus seperti itu caranya, mas? Kalau memang uangnya sudah ada, ya langsung dibayarkan saja ke Irene," protes Aya.
"Tidak bisa, kalau tinggal bayar takutnya mereka mencari alasan lain untuk tetap menahanmu, sayang. Tapi kalau pak Ruslan bilang akan menikahimu, maka artinya kamu akan langsung dibawa pergi dari sini."
Aya tampak berfikir. "Apa iya akan semudah itu, mas?"
"Kami harap begitu dan ini tidak semudah kelihatannya, kok. Yang penting kamu keluar dari sini, dan itu juga nantinya akan dikawal oleh orang-orangnya pak Daus hingga dermaga, bagaimana?"
"Tapi aku ragu, mas. Bagaimana kalau pak Ruslan punya niat lain?" Ungkap Aya.
"Mbak Aya, maaf ikut menimpali percakapan kalian berdua, awalnya aku yang memberi ide seperti itu bahkan tadi pak Daus juga sempat menyarankan hal yang serupa, tapi dia menawarkan dirinya yang akan menikahimu, tapi ditolak Agastya.Aku juga setuju sih dengan pendapat Agastya dan juga menurut abahku akan aneh jika rencananya kamu ditebus untuk dinikahi pak Daus tapi kenyataanya malah kamu kami bawa pergi, pasti janggal, bukan? Nah, kalau aku sedikit berbeda ... sebab kami atau tepatnya aku tidak mengenal beliau, iya kalau murni membantu. Lha kalau ternyata melenceng, bagaimana?" Papar Zain.
Aya manggut-manggut, "Jadi, jika nanti pak Ruslan datang kemari ingin menebusku ... aku harus menerima tawaran itu?"
"Benar sekali, mbak Aya dan setelah proses transaksi selesai kami akan kami bawa pulang. Kamu dan suamimu akan berkumpul kembali bersama kami."
"Baiklah, kalau begitu aku setuju. Aku percaya karena mas Aga sendiri yang mengemukakan usul ini tadi. Terima kasih, mas Zain. Kamu dan abahmu baik sekali, sudah menolong aku dan mas Aga."
"Sudah seharusnya sebagai sesama harus saling tolong-menolong selagi ada kesempatan," sahut Zain.
"Aya, kalau begitu aku dan Zain pamit dulu, ya. Sampai bertemu kembali."
"Em, mas ... kapan pak Ruslan kemari?"
"Hari ini juga, sebentar setelah kami kembali dari sini maka pak Ruslan dan pak Daus akan kemari, sayang."
"Wah, rasanya aku tidak sabar mas ..." Aya memeluk suaminya erat-erat.
__ADS_1
"Kangen-kangenannya lanjut nanti lagi, Aya. Biar cepat beres dan kita segera pulang ke Banjarmasin sebelum maghrib." Perkataan Zain sontak membuat Agastya dan Aya saling melerai pelukan demgan wajah yang memerah.