Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Pasangan Ulat Bulu


__ADS_3

"Oh iya, keperluanku kemari adalah untuk mengantar setoran, hasil penjualan kayu, Zain. Juga upah Aga," ujarnya seraya menaruh uang di atas meja.


"Baiklah, aku terima ya, bang," sahut Zain seraya memberikan uang bagian Agastya.


"Nah ... beres, ya Zain, Ga. Aku permisi dulu, ada perlu soalnya jadi tidak bisa berlama-lama di sini." Setelah berkata begitu, Latif pun pergi.


"Halah tadi aja santai, malah ngomong yang tidak-tidak begitu si ulat bulu datang dan bilang abah tidak ada di rumah, langsung tiba-tiba ada perlu," gumam Zain yang lebih mirip gerutuan tapi masih dapat didengar Agastya.


"Ulat bulu, maksudnya bu Aminah mama tiri kamu, Zain?" Tanya Agastya sambil menahan tawa mendengar istilah Zain, kok bisa pas gitu.


"Siapa lagi? Sementara abah menyarankan istrimu untuk menjaga marwah dan auratnya eh ... istrinya sendiri tidak berahklak."


"Hus, gak boleh gitu, Zain. Bagaimana pun bu Aminah adalah istri abahmu."


"Halah, aku hanya mengakui mama Zais sebagai mama tiriku, Aminah hanya remahan rengginang. Kamu tidak tahu kalau, Aminah itu ramai digunjingkan orang? Kelakuannya minus, masih mending pelacur ... menjual diri demi bertahan hidup. Lha kalau Aminah, sudah semua kebutuhan lahir batinnya dipenuhi abah, hidup mewah tapi ... dia membuka kedua kakinya pada pria mana saja yang dia mau untuk memuaskannya, termasuk Latif itu."


"Hah, gak boleh suudzon Zain."


"Kalau gak percaya, ayo kita ke rumah abah sekarang. Pasti pasangan ulat bulu itu sedang asyik saling menggaruk badannya yang gatal itu."


"Hahaha," Agastya sudah tidak dapat lagi menahan tawanya.


"Aku serius Aga, mama Alif pernah memergoki Aminah berduaan dengan pria lain saat abah tidak ada di rumah."


"Ah, hanya berduaan barangkali ada perlu apa gitu."


"Menurutmu keperluannya apa sampai kuda-kudaan tanpa busana di kamar tamu?"


"Ehm ... nah, aku baru mau jujur sama kamu, Zain."

__ADS_1


"Apa?"


"Saat pertama ke rumah abahmu, dia juga beberapa kali masuk ke kamar tempatku beristirahat."


"Sempat megang-megang tongkat saktimu, gak?"


"Gak-lah, gila aja sampai kuizinkan wanita lain menyentuh barang pusakaku selain istriku. Bu Aminah cuma sempat, mengelus kakiku sampai ke arah tongkatku saja dengan kakinya saat kami makan malam semeja dengan ayahmu. Berani sekali mama tirimu itu, Zain. Belum lagi malam harinya, dia menari-nari diluar jendela. Dia pakai gamis yang berkancing di depan tapi malam itu dia sengaja melepas semua kancing bajunya dan menunjukkan bagian yang seharusnya tidak boleh aku lihat. Makanya pagi-pagi aku minta segera diberi pekerjaan sama abahmu."


"Haha .. ketimbangan, digoda habis-habisan sama ulat bulu, nanti malah ketularan gatalnya dan ... kamu malah tidak mampu menolak pesonanya."


"Iya Zain, mana istriku masih tidak tahu kabarnya dimana ... kan, sulit menahan hassrat di satu sisi, tapi di sisi lain justru mendapat tawaran untuk menuntaskan."


"Haha, aku paham. Ngomong-ngomong, sebenarnya Aminah itu pacarku waktu SMP, Ga. Dia dinikahkan dengan abah karena orangtuanya terjerat hutang dengan rentenir. Padahal abah niat awalnya murni membantu, tapi bapaknya minta agar Aminah diperbolehkan jadi pembantu yang merawat mamaku yang sakit-sakitan. Abah yang gampang kasihan tentu saja bersedia, tapi ... bukannya merawat mama, dia malah sengaja menggoda abah. Dia kudapati tidur telanjaang bersama abahku. Abahku bersumpah tidak pernah menyentuhnya, namun Aminah bilang sudah dilecehkan."


"Jadi abahmu dijebak, begitu ya?"


"Aku kecewa, selain aku yang masih sayang sama Aminah waktu itu ... abah seolah tidak berperasaan menikah lagi disaat mamaku sakit, padahal dia punya istri lain yang masih sanggup melayaninya, tapi kenapa pacarku dikawinin juga gitu, Ga."


"Oh, pantas kamu selalu sinis sama dia. Jangan-jangan kamu masih ada rasa sama bu Aminah," goda Agastya.


"Amit-amit, Ga. Yang lebih parah waktu mama Alif baru melahirkan dulu. Kan ceritanya setelah melahirkan mama Alif aku antar pulang ke kampungnya karena aku aku akan pergi membatang. Lha ada saat aku tidur sendirian di rumah ini, tahu-tahu terbangun karena merasa tongkatku diremas-remas. Aku fikir itu mama Alif tapi pas ingat istriku masih masa nifas dan tinggal di rumah orangtuanya, bergegas bangun. Ya kamu tahulah siapa pelakunya. Kebetulan juga, saat itu abah ke rumahku dengan maksud minta ditemani mencari Aminah yang tidak ada di rumah. Aku sempat ribut dengan abahku, Aminah dengan polosnya bilang aku yang memintanya datang ke situ, kurang ajar bukan?"


"Wah, parah Zain. Pantas saja kamu gak respek sama mama tirimu yang satu itu, haha."


"Makanya, tindakannya itu membuat aku tidak saja ribut dengan abah tapi juga dengan mamanya Zain. Untungnya kemudian mama Alif percaya kalau Aminah memfitnahku. Lihat saja di rumah itu, tidak ada pekerja laki-lakinya, bukan karena abah tidak mau tapi karen para pekerja itu memilih berhenti ketimbangan terus digoda sama nyonya majikan."


"Kenapa mereka pilih berhenti, kan gajih dapat ... goyangan ulat bulu dari sang nyonya juga dapat, Zain?"


"Lha, kamu kenapa malah menghindari godaan Aminah waktu itu?"

__ADS_1


"Iya kan, karena aku tahu dia istri abahmu, sementara abahmu baik banget sama aku dan aku posisinya kan pria beristri, jadi mending aku menghindar saja."


"Sama, alasan mantan pekerja di rumah itu juga sama sepertimu, Ga. Kecuali Latif dan tukang becak yang biasa mengantarnya kemana-mana, itu."


"Astaga! Dan abahmu tidak bertindak, Zain?"


"Huh, abah kan memang gitu, gak mudah percaya desas desus kalau tidak membuktikan sendiri. Sementara kemungkinan terbongkarnya kecil karena, mereka pintar mengatur waktu."


"Sampai segitunya ya, Zain."


"Hu-um, dulu alasannya sama aku dia menyesal menikah dengan abah, karena hanya istri ke tiga, pembagiannya tidak adil 10 hari di sini, 10 hari di sana terus apalagi karena abah sudah tua, mainnya cuma sebentar tidak memuaskan. Lah, dia tahu abahku tidak memuaskan tentu punya pengalaman pembanding yang lebih memuaskan dia, iya kan?"


"Hihi, ngeri aku mendengarnya, Zain. Ternyata ada ya, perempuan yang dengan sengaja menghempaskan harga dirinya demi kepuasan sesaat begitu?"


"Hah, aku malah mikirnya jangan-jangan Aminah itu seorang maniak, punya kelainan. Abahku selalu berusaha memenuhi tuntutan Aminah lho, termasuk kebutuhan ranjangnya ... abah bahkan minum jamu tiap gilirannya tidur dengan Aminah. Pernah kutanya untuk apa minum gituan, abah bilang ... mama mudamu itu gak kenal pagi, siang, malam, kalau dia belum puas abah gak boleh keluar kamar, Zain."


"Wuih, staminanya ok punya tuh, Zain."


"Mungkin juga. Coba saja biar memastikan," canda Zain.


"Gak ah, kita ini punya istri. Mau gimana-gimana ya terima saja kekurangan dan kelebihannya."


"Iya, iya. Aku percaya, kamu bisa saja melahap Aminah sejak pertama berada di sini jika memang kamu mau. Tidak seperti bang Latif, mau apem halal, apem haram dihajar terus sama dia."


"Haha. Berarti mereka cocok, Zain. Ulat bulu pasangan yang pas ya, sesama ular bulu juga, kali."


"Haha, kamu benar juga, Ga. Eh, keburu siang ... ayo kita ke lokasi calon rumahmu," ujar Zain.


Kedua sahabat itu pun meninggalkan rumah dan menuju tempat yang akan dijadikan tempat tinggal Aga dan Aya kelak, hanya berjarak 10 meter saja dengan rumah Zain.

__ADS_1


__ADS_2