Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Dia Akan Merebut Sora


__ADS_3

"Tentu. Aku janji akan mengembalikan harga diri dan nama baikmu. Biarlah orang lain menganggapmu perempuan rendahan dan tidak bermoral tapi bagiku, kamu satu-satunya perempuan yang sangat layak diperjuangkan untuk kumiliki," ucap Agastya mantap.


"Jangan melucu, wajahmu tidak cocok jadi pelawak," Aya berusaha menenangkan gemuruh hatinya. Pantas saja Agastya sering curi-curi pandang dan begitu perhatian padanya.


"Astaga, aku tidak melucu, Arrabella. Aku tidak berani bermain-main dengan sesuatu yang berkaitan dengan masa depanku."


"Masa depanmu, maksudmu gimana?"


"Iya. Kamu bagiku adalah masa depanku."


"Aku? Masa depanmu?" Arrabella melemparkan tatapan sinisnya, tapi justru menggemaskan bagi Agastya.


"Tentu. Bukan hanya tuan Takeshi saja, aku juga berniat menikahimu. Aku serius."


"Haha, inilah yang terjadi saat pengkhianat bertemu pengkhianat lainnya. Segalanya jadi terdengar manis dan indah."


"Arrabella, apa pun istilahmu partner in crime sekalipun aku terima asalkan kamu bersedia menjadi kekasihku." Agastya berlutut di hadapan Aya dan mengambil sepasang tangan lembut itu. "Mulai hari ini, maukah kau berbagi hidup denganku, Arrabella?"


"Ah ..." Arrabella cepat-cepat menarik tangannya dari genggaman Agastya tapi tidak bisa karena jemari Agastya lebuh kuat mengcengkram tangannya.


"Pilihlah aku jadi pria masa depanmu, Arrabella. Jangan tuan Takeshi, sebab kelak bila terjadi sesuatu dengan bangsa Jepang, tentu saja tuan Takeshi akan kembali ke negaranya dan ... belum tentu ia membawamu serta ke sana. Lagi pula, untuk lelaki seperti beliau tidak sulit mendapat wanita lain yang tepat untuknya. Tolong pikirkan itu baik-baik," Agastya mencoba mempengaruhi pikiran Aya.


Himawari yang melihat kejadian itu berbalik dan berlari meninggalkan Aya dan Agastya. Membuat Aya semakin kuat ingin melepaskan genggaman tangan Agastya.


"Aku memghargaimu dan mohon jangan begini."


"Jadi, kamu bersedia menerimaku?" tanya Agastya.


"Tidak."


"Jadi, kamu lebih memilih tuan Takeshi yang lebih segalanya dariku?"


"Tidak juga. Kalau iya pun, tentu bukan karena dia lebih segalanya darimu, Agastya."


"Hah, lalu?" tanya Agastya putus asa.

__ADS_1


"Aku tidak memilih siapapun. Baik kamu juga tuan Takeshi." Air mata Aya tampak menganak sungai.


"Ayolah Arrabella, jangan bohongi hati kecilmu. Jika tuan Takeshi kamu beri kesempatan, kenapa aku tidak? Apa karena aku hanyalah seorang asisten?"


Aya berpikir sejenenak, "Tidak. Aku takut tuan Takeshi mencelakaimu jika ..."


"Ya, ya ... kalau aku tidak salah mengartikan, kamu tidak bersedia menerimaku hanya karena takut sama tuan Takeshi?" lontar Agastya dengan senyum manisnya saat tanpa sengaja Aya mengungkapkan penerimaannya terhadap Agastya.


"Sudahlah, walapun jawabanmu samar, aku mengerti. Bagaimana jika kita jalani saja dulu, ok?" Agastya berujar lagi.


Bagai terhipnotis, Aya pun mengangguk pelan. Yah, akhirnya Aya memilih untuk menerima tawaran Agastya.


"Terima kasih, Arrabella." Agastya memeluk Aya erat.


Hanya sebentar, karena Aya cepat melepaskan pelukan lelaki itu dan berlari menyusul Himawari.


***


"Ada apa denganmu, Himawari?" tanya Monic yang melihat gadis kecil tuan Takeshi menghampirinya.


"Kenapa dengan Sora, sayang?"


"Sora berpegangan tangan dengan Agastya," Himawari menunjuk ke arah taman. Monic menyipitkan kedua matanya, walau sekilas jelas sekali kalau dua sejoli itu sedang berpelukan.


'Wah, ada yang tidak benar ini. Apa iya Arrabella bermain-main dengan asisten kepercayaan tuan Takeshi? Hm, dasar gadis nakal,' batin Monic.


"Tenang Himawari, mungkin Sora-mu sedang bersedih jadi Agastya hanya sedang menghiburnya. Biar nanti aku tanya mereka, ya."


"Tidak, tidak begitu, Monic. Sora tidak sedang bersedih."


"Lalu, menurutmu kenapa, sayang?"


"Tadi Agastya bilang gini, papa-mu bilang tidak baik memaksakan kehendak, bagaimana kalau ternyata Sora lebih senang bersama orang lain dari pada papa-mu? Terus, Agastya juga tanya bagaimana kalau Sora tidak mau jadi mama-ku? Monic, aku takut dia akan merebut Sora dari papa," ungkap Himawari dengan nada getir.


Monic terkesiap atas hasil analisa gadis kecil dihadapannya itu. Bukankah selama ini Aya tergolong hati-hati dalam bergaul terutama dengan lawan jenis, bahkan dengan tuan pembebasnya Takeshi sekalipun, Arrabella menjaga pandangannya. Lantas, kenapa justru kali ini Arrabella membiarkan dirinya dipeluk lelaki muda itu? Sebegitu tidak pekanyakah Monic sampai tidak memperhatikan adanya percikan api asmara antara Agastya dan Arrabella?

__ADS_1


"Hani, huh ... huh, kenapa kau tinggalkan aku?" tanya Aya dengan nafas memburu, menghampiri Himawari yang tengah bercakap dengan Monic.


"Aku marah karena kamu membiarkan Agastya memegang tanganmu," balas Himawari sambil mendengus.


Aya terperanjat atas jawaban dari bibir mungil nona kecilnya itu. "Ah, Hani itu ..." Duh, Aya kehilangan kata-katanya.


"Aku akan laporkan ke papa kalau kamu dan Agastya tadi berpelukan," ancam Himawari.


Monic menatap tajam manik mata Aya, "Arrabella, jika kamu sudah selesai mengurus nona muda, ajak Agastya untuk menemuiku. Ada yang mau kubicarakan dengan kalian," titahnya sambil berlalu.


Sesungguhnya Monic bingung harus bersikap gimana, membiarkan Aya dan Agastya berduaan tentu bukanlah tindakan yang benar, terlebih karena dia tahu kalau tuan Takeshi menyukai Aya.


***


"Jadi, bisa kamu jelaskan ada hubungan apa diantara kalian berdua?" Monic memulai interograsinya.


"Nyonya, aku menyukai Arrabella dan ... kami baru saja jadian." Jelas Agastya dengan suara tegasnya.


"Jadian? Maksudmu kalian adalah ... sepasang kekasih, sekarang?"


"Hm, iya nyonya," Agastya mengambil jemari Aya dan menggenggamnya.


"Astaga Agastya, kamu bagaikan pagar yang makan tanaman. Tugasmu kan menjaga orang-orang yang dikasihin oleh tuan Takeshi, kenapa kamu malah memacari gadis incaran tuanmu sendiri?" ucap Monic dengan nada gusar, membuat Aya tertunduk.


"Memang benar tuan Takeshi menyukai Arrabella, tapi kenyataannya Arrabella malah menerimaku jadi kekasihnya, nyonya," sahut Agastya percaya diri.


Monic mengurut pelipisnya, "Huh, kalian ini ... bagaimana nanti reaksi tuan Takeshi jika memgetahui semua ini? Himawari sampai berujar kamu akan merebut Sora dari papanya. Kalian tidak berfikir efeknya nanti gimana? Memang tuan Takeshi adalah sosok yang baik dan fair, tapi bagaimanapun beliau berasal dari pihak penguasa yang terkenal bengis. Agastya, Arrabella ... tidak tahukah kalian kalau hidup kalian ini ada ditangan beliau, hah? Tuan Takeshi bisa saja memisahkan kalian atau bahkan melakukan sesuatu yang diluar dugaan kita demi mencapai tujuannya," Monic mengingatkan.


Agastya tampak termenung sambil terus menggenggam jemari Aya. Sudah lama ia memikirkan hal ini, dia menyukai Arrabella bahkan semenjak menemui gadis itu saat masih berstatus jugun ianfu yang melayani tuan Katsuro. Dia tidak mempermasalahkan hal itu, bahkan sempat bertekad untuk bisa menebus gadis itu dari ianjo, untuk jadi miliknya.


"A-aku siap menanggung apapun resikonya," sahut Agastya.


"Huh, kamu ini ... benar-benar tidak bisa dibilangin. Begini saja, bisakah kalian untuk sementara menjalani hubungan kalian diam-diam saja, dulu? Paling tidak, sampai aku menemukan cara yang tepat membicarakannya pada suamiku, agar tuan Takeshi tidak marah," usul Monic.


"Tapi gimana kalau Himawari yang mengatakan pada papanya, seperti yang dia katakan tadi?" Aya buka suara.

__ADS_1


__ADS_2