Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Rencana Tugas Baru


__ADS_3

Agastya menyetujui saran Ryujo. Benar jika nanti ia bisa menetap sebagai penjaga di kediaman baru tuan Takeshi dan jauh dari lingkup para tentara, tentu usahanya dalam membatasi kesempatan Aya jadi incaran serigala lapar akan tercapai.


"Em, nanti di ibu kota ... tuan Takeshi akan menempati rumah dinas atau tangsi khusus?" Agastya ingin lebih memastikan.


"Rumah dinas di kawasan khusus pejabat negara, bukan tangsi lagi, Agastya. Aku yakin, tuan Takeshi pasti membutuhkan pengawal di kediaman itu, dari pada harus repot cari pekerja baru, kenapa tidak memilih orang pilihan yang jelas-jelas bertanggung jawab sepertimu. Oh, astaga ... ." Ryujo memukul dahinya sendiri.


"Eh, ada apa tuan?"


"Tadi sebelum ke sini, tuan Takeshi menanyakan di mana keberadaan Arrabella. Kamu tahu dia di mana sekarang?"


"Tidak tuan, dari tadi siang aku tidak melihatnya. Sepertinya Aya sedang banyak kerjaan."


"Oh, aku terakhir melihatnya saat makan malam."


"Hm, mungkin sekarang sedang di kamar menidurkan Himawari."


"Himawari tadi digendong tuan Takeshi menuju kamar tidur utama, gadis kecil itu tentu rindu dengan papanya."


"Iya, sih ... kalau begitu, apa perlu kita cari Aya, tuan?"


"Sudah jam segini, Himawari tidak ribut mencarinya juga dan kita tidak ada perlu dengannya, kecuali kamu yang mungkin rindu pada gadismu itu," canda Ryujo.


"Ah, tuan Ryujo bisa saja. Rindu sih tapi gak sampai harus mengganggu istirahatnya juga, tuan. Biar saja, toh besok juga ketemu."


"Baiklah. Oh iya, aku mau kembali ke kamar, kamu tolong cek pintu dan jendela sebelum tidur ya, Agastya."


"Siap, tuan."


"Hm, jangan lupa kabarkan kalau rakit bambumu sudah jadi," pesan Ryujo sebelum meninggalkan kamar Agastya.


"Haha, tentu tuan." Agastya mengekori langkah Ryujo yang keluar dari kamarnya. Dengan teliti ia mengecek pintu dan jendela rumah utama dari bagian depan. Begitu sampai di area dapur, Agastya terkejut saat melihat pintu itu masih terbuka lebar.


Ia melongokkan kepalanya keluar, barangkali Aya masih berada di luar untuk membakar sampah seperti biasa.


"Aya," panggilnya dengan suara sedang.


Tidak ada sahutan. Agastya berjalan menuju bak yang dijadikan tempat membakar sampah. Sudah bersih, apinya sudah mati, hanya menyisakan abu saja.


"Astaga Aya, ternyata kamu bisa juga ceroboh," gumam Agastya yang kemudian bergegas masuk dan mengunci pintu bagian belakang itu.


Agastya berdiri di depan pintu kamar Aya dan berniat mengetuk. Tangannya sudah hampir menyentuh daun pintu namun segera ia urungkan niatnya.


"Ish, aku mau ngapain mencarinya?" tanya Agastya dalam hati. "Aya tentu sudah tidur nyenyak, tidak enak membangunkannya hanya untuk bilang 'aku rindu'. Hihi, Himawari kan sedang tidur dengan papanya, jadi Aya sendirian di dalam ... kalau trus Aya bilang 'aku juga rindu' trus meluk, apa gak bahaya nantinya? Ah, sudahlah dari pada menimbulkan fitnah, lebih baik aku segera kembali ke kamarku." Monolog Agastya pada dirinya sendiri.


Meskipun malam telah beranjak larut, Agastya belum mengantuk. Dari tadi dia hanya bolak-balik saja di dipannya, "Hai hati kenapa gelisah?" gumam Agastya.


Sayup-sayup telinganya menangkap obrolan diselingi tawa berderai para tentara yang baru memijak darat usai berlayar bersama tuan Takeshi. Entah apa yang dibicarakan, karena jarak rumah utama dengan barak tentara cukup jauh, kurang lebih 100 meter.

__ADS_1


Tok, tok.


"Agastya, kamu sudah tidur?" tanya Takeshi.


"Belum, tuan." Agastya membuka pintu kamarnya.


"Maaf, apa kamu melihat Arrabella?"


Agastya menggeleng, "Terakhir aku bertemu dengannya tadi siang, tuan."


"Tadi Himawari mencarinya, dan menyuruhku mengajak Arrabella tidur bersama kami."


"Oh. Em, apa tuan belum mengantuk?"


"Aku tadi tidur siang, jadi ... apa aku tidak kamu perbolehkan masuk ke kamarmu?"


"Maaf, tuan. Hehe, silakan duduk," sahut Agastya kikuk.


"Agastya, maaf ... tadi Himawari mendesakku untuk segera menikahi Arrabella."


Dheg!


Agastya terhenyak, meski tuannya berbicara pelan.


"Anakku juga bilang, kalau aku tidak cepat maka kamu akan mendahuluiku, hehe ... omongan anak kecil kok didengarkan, ya. Hm, kata Himawari kalian sering berduaan apa benar?" ujar tuan Takeshi hati-hati.


"Em, tuan ... maaf. Sebenarnya, aku dan Arrabella ... ."


Agastya mengangguk ragu.


"Hah, syukurlah. Harusnya aku mendengar kata hatiku sedari awal, haha," Takeshi memberi jawaban yang tidak terduga dan justru membuat Agastya bingung.


"Ke-kenapa, tuan?"


"Aku tahu kalau kamu melihat gadis itu dengan cara istimewa, tapi malah kuabaikan demi Himawari. Eh, malah aku mencoba keberuntunganku untuk boleh menjadikannya istriku."


"Jadi, tuan tidak marah?"


"Marah kenapa?"


"Ah, karena sudah merebutnya dari tuan."


"Oh. Tidak, tidak, kamu tidak merebutnya. Arrabella kan hanya kutawari menjadi istriku, dia belum memberi jawaban. Tapi itu sudah tidak perlu karena ... kamu serius bisa bertanggung jawab sama gadis itu, bukan?"


"Siap, tuan."


"Bersedia mencintainya dengan segenap hati dan hidupmu?" tanya Takeshi layaknya seorang ayah pada calon menantu.

__ADS_1


"Siap, tuan."


"Nah, maka nikahi Arrabella secepatnya. Tidak baik berpacaraan terlalu lama, Arrabella walaupun masih muda tampaknya cukup matang jadi pendampingmu. Agastya, aku merestui hubungan kalian."


"Jadi?"


"Hah, jadi apa lagi yang kamu tanyakan? Aku mau kalian segera meresmikan hubungan, itu saja."


"Oh, hehe. Jadi tuan tidak keberatan aku dan Arrabella ... ."


"Jawabanku cukup jelas, Agastya. Apa kamu mau aku berubah fikiran?"


"Tidak tuan, jangan sampai. Terima kasih."


"Hm, baiklah. Pesanku jangan dulu bikin dia hamil saja." Ucap Takeshi sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Hah?"


"Kamu lupa, kalau gadismu itu masih sangat muda untuk menjadi seorang ibu? Organ reproduksinya belum layak untuk menampung benihmu," kata Takeshi terang-terangan.


"Oh, i-iya, tuan."


"Setidaknya tunggula 2 atau 3 tahun lagi. Ini demi kesehatan calon istri dan anakmu juga."


"Baik tuan, saran yang bagus sekali. Em, bagaimana dengan Himawari, pasti dia akan marah jika Arrabella tidak jadi mamanya."


"Haha, jangan difikirkan. Namanya juga anak-anak, sebentar juga dia akan lupa, apalagi jika kamu dan Arrabella tetap memperhatikannya dengan penuh kasih sayang seperti biasa. Aku bisa jelaskan pada anakku nanti."


"Terima kasih, tuan."


"Eng ... Agastya, tapi jika sampai aku tahu kamu menyia-nyiakan Arrabella, jangan salahkan aku kalau berubah fikiran."


"Tentu tuan, jangan khawatir."


"Bulan depan aku akan mendapat tugas tambahan di ibu kota dan mendapat rumah dinas di sana. Bagaimana kalau kamu kuberi tugas baru?"


"Tugas baru apa tuan?"


"Yah semacam pengatur rumah tangga begitu. Kamu tidak lagi jadi asisten yang harus mendampingiku kemana-mana tapi seperti tugasmu di sini, nanti di ibu kota kamu yang bertanggung jawab atas segala keperluan logistik di sana."


"Tapi tetap digaji, kan tuan?" Agastya cengengesan.


Takeshi menaikkan sebelah alisnya, "Sudah diberi tempat tinggal, pakaian dan makanan yang layak serta boleh membawa istri, apa masih perlu di beri gaji?"


"Hehe, maaf, tuan."


"Ck, kamu ini gimana, sih? Namanya bekerja untukku dan mengurus segala keperluanku, masa tidak ku gaji, emangnya kerja rodi?"

__ADS_1


"Haha, tuan bisa bercanda juga rupanya."


"Astaga Agastya, memangnya tampangku seserius apa, sih?"


__ADS_2