Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Belum Rezeki


__ADS_3

Sama seperti Zain, Agastya pun membangun dermaga kecil di tepi sungai yang masih termasuk lahannya. Dermaga itu berfungsi untuk membongkar muat kayu yang akan diolah di pabriknya juga untuk mempermudah pengantaran kayu olahan yang sudah jadi untuk pembeli.


"Belum ngantuk, sayang?" Tanya Agastya pada Aya usai mereka menunaikan sholat isya.


"Belum, mas. Ada apa?"


"Kita santai di dermaga, yuk."


"Boleh sebentar aku ambil kerudung dulu," Aya bergegas mengambil kain itu di lemarinya. Aya memang tidak berhijab seperti mama Zain, tapi dalam kesehariannya Aya mengenakan pakaian yang tertutup dan biasa mengenakan kerudung jika keluar rumah.


Pantas saja Agastya mengajak istrinya santai di dermaga kecil mereka, ternyata malam itu tampak gemilang berhiaskan purnama yang benderang di hiasi taburan bintang di sekelilingnya.


"Wah aku merasa dejavu dengan keadaan ini, mas."


"Dejavu?"


"Hm ... semacam merasakan peristiwa atau pengalaman sekarang tapi pernah dialami di masa lalu," jelas Aya.


"Hehe, benar juga. Pengalaman serupa ini pernah kita alami dulu waktu tinggal di Irian, kita duduk di tepian danau memandang indahnya sinar bulan yang terpantul di air, persis seperti saat ini," Agastya merapatkan tubuhnya pada Aya.


"Mas yang saat itu menghiburku karena terlalu sering meratapi nasibku sehingga lupa bersyukur atas keindahan ciptaan Tuhan lainnya. Lalu disaksikan rembulan, mas berjanji akan menjagaku dan menjadikanku satu-satunya wanita dihidup mas. Terima kasih untuk ketulusanmu, mas," ujar Aya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Agastya.


"Ternyata kamu masih ingat, sayang?"


"Bagaimana bisa lupa, mas? Kata-katamu malam itu kemudian jadi penguatku, terutama di saat-saat kita tidak bersama. Aku juga mengingat 'Mangata', gambaran perasaan saat kita melihat bayangan bulan di permukaan air yang berbentuk seperti jalan itu, nama yang akan kita berikan jika kita memiliki anak laki-laki," gumam Aya.


Agastya tersenyum sambil merangkul istrinya. "Mangata, Arunika, Lembayung Senja, Langit Biru. Aku mau anak-anak kita punya nama unik dan bermakna indah."


"Aku setuju, mas."


"Aya, malam ini disaksikan rembulan, sekali lagi aku mau menegaskan janjiku ... akan menjagamu dengan seluruh hidupku, menjadikanmu satu-satunya wanita dihidupku dan wanita yang kuinginkan mendampingi hidupku hingga menua dan maut memisahkan kita." Agastya menempelkan dahinya pada dahi Aya sambil menggenggam erat tangan istrinya.


"Mas sudah sering bilang gitu."


"Haha, iya juga. Aku takutnya kamu lupa, sayang."


"Tidak mungkin, mas."

__ADS_1


"Terima kasih, aku sangat mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu, mas."


"Kita pulang, yuk. Ada hal yang harus kita bereskan."


"Apa, mas? Aaaa." Aya terpekik saat Agastya menggendongnya menuju rumah.


"Turunkan mas, aku malu," protes Aya.


"Ngapain malu? Kita ini suami istri, harus saling menunjukkan kalau kita saling mengasihi, dong."


"Tapi gak di depan umum juga kali, mas. Malu kalau dilihat orang."


Agastya hanya terkekeh, kakinya yang jenjang membuat langkahnya melebar dan cepat tiba di rumah.


Bruk. Agastya menaruh pelan tubuh Aya di tempat tidur. "Bersiaplah," bisik Aga.


"Bersiap apa, mas?" Agastya tidak menyahut, ia malah keluar kamar untuk mengunci pintu depan.


"Ck, masa harus dikatakan dengan jelas sih, sayang? Aku mau melengkapi pernyataan cintaku dengan perbuatan."


Agastya lalu melucuti pakaiannya sendiri satu per satu, "Kalau begini kamu mengerti tidak apa yang harus kita bereskan?"


Wajah Aya langsung bersemu merah saat melihat suaminya yang sudah tidak mengenakan apa pun sebagai penutup tubuhnya. Aya bangun dari pembaringannya dan duduk di sisi tempat tidur.


"Sini aku enakin dia dulu." Hap, Aya yang sudah mengerti maksud suamianya itu langsung meraih pusaka suami yang sudah menegang dan memanjakan bagian favoritnya itu dengan mulutnya.


"Ssshhh, nah begitu sayang. Kamu hebat," desis Agastya sambil menikmati permainan istrinya.


"Kamu ngapain begitu?" Tanya Agastya heran melihat istrinya menaikkan kedua kakinya ke dinding usai mereka bercinta.


"Katanya biar cepat hamil, jadi cairan yang semprotkan tadi biar bertahan dulu, mas."


"Masa, sih?"


"Iya, ibu-ibu pengajian yang bilang gitu. Kebanykan ibu-ibu itu melahirkan hampir 1 atau 2 tahun, mas. Katanya banyak anak, banyak rezeki jadi kebanyakan dari mereka gak ada yang pernah pakai kontrasepsi seperti aku dulu, gak boleh sama suaminya gitu."

__ADS_1


"Oh. Nanti kamu mau kubikin tiap tahun melahirkan juga?" Agastya iseng menanggapi.


"Ish mas ini ... satu aja belum jadi-jadi, mau bikinin aku hamil tiap tahun."


Agastya terkekeh, "Ini sudah lewat 5 menit kamu kayak gitu. Gak enak aku lihat kamu gitu, ntar yang ada aku malah pengen lagi lho, sayang."


"Mas, cukup sehari 2 kali, ya. Jangan minta bonus-bonus gitu kecuali aku yang pengen," Aya memasang mode galaknya.


"Iya sayang, iyaaa ... mas juga udah capek, mau istirahat. Ayo bersihkan badan," kata Agastya seraya meraih tubuh Aya ke gendongannya menuju kamar mandi.


***


"Sayang, maaf hari ini aku menemani Zain menyusul kapalnya karena terjadi terkena razia, kayu-kayu mereka disita," ujar Agastya pada istrinya.


"Hm, urusan kios gimana, mas? Aku tidak hapal jenis dan harga kayu."


"Kan ada karyawan, biar mereka saja yang ngurus. Kamu cukup di rumah saja seperti biasa."


"Baiklah. Mas ..." Aya memasang mode manja seolah melarang suaminya pergi.


"Hm, iya sayang? Wajahmu kok ditekuk gitu. Aku tidak boleh pergi, ya?"


Aya menggeleng. "Aku lagi kesal, tamu bulananku datang lagi."


"Lho, memangnya kenapa?"


"Artinya aku gagal hamil lagi, deh," ungkap Aya.


Agastya tersenyum setelah mengerti penyebab mood istrinya kurang baik.


"Tidak apa-apa, belum rezeki. Yang penting kita sudah meminta pada Allah dab berusaha," hibur Agastya.


"Mas tidak marah?"


"Sayang, meski pun aku mau kita segera diberi momongan tapi semua terserah pada ketentuan Allah. Dia tahu yang terbaik dan kapan waktu yang tepat bagi kita," sahut Agastya.


"Tapi aku tetap saja kesal, mas. Kenapa kita tidak seberuntung orang lain, apa karena aku yang terlalu sering memakai pencegah kehamilan?"

__ADS_1


Agastya ingin sekali menjawab 'bisa jadi' tapi ia tahu jawaban itu hanya akan membuat Aya merasa bersalah saja dan tentunya akan semakin memperburuk mood istri cantiknya itu.


"Aya, istriku sayang ... jika kita sudah mempercayakan semuanya pada Allah, maka tidak ada alasan untuk mengeluh apalagi menggerutu. Tetap syukuri apa pun keadaan kita saat ini." Usai berkata begitu, Agastya melabuhkan kecupan di dahi Aya.


__ADS_2