Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Not Bad


__ADS_3

Baru saja Aya berbaring, tubuhnya langsung direngkuh oleh lelaki itu.


"Ah, nyamannya berpelukan dengan gadis cantik dan wangi sepertimu," ujar lelaki itu.


'Jadi maunya cuma ditemenin tidur sambil berpelukan saja, padahal aku sudah siap jika dia mau ... ah, syukurlah,' gumam Aya.


Baru saja Aya terlelap dalam dekapan lelaki yang belum dikenalnya itu, tiba-tiba ia terbangun karena merasa sesak dan panas.


Ternyata karena pria itu sedang berada di atas tubuhnya.


"Hai cantik." Akeno menelusuri tiap inci wajah Aya dengan jemarinya. Manik berwarna hazelnut dibingkai bulu mata yang lentik dan alis yang tersisir rapi, rambut sebahu dengan ujung ikal berwarna sama bola matanya, hidung mancung, bibir penuh berwarna merah muda. Ah, Akeno tampak mengagumi keindahan di depan matanya.


Aya menguap sambil mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum mendapatkan kesadarannya. Hampir saja ia mendorong lelaki yang tengah membelai wajahnya itu jika tidak mengingat perannya saat itu.


"Eng ..." Aya mengerang pelan.


"Bangun tidur aja cantik banget gini." Pujian lelaki itu sontak membuat pipi Aya bersemburat merah.


Aya tahu sanjungan lelaki itu akan bermuara ke mana, tapi ... walaupun mami Irene sudah membekalinya banyak 'ilmu' tetap saja Aya bingung jika harus dia yang mulai dan mempraktekan ajaran mami Irene.


"Apa yang kamu pikirkan, hm?" tanya lelaki itu.


"Tidak memikirkan apapun. Aku hanya ... terkejut," sahut Aya yang sudah menguasai keadaan.


"Aku menginginkanmu," bisik lelaki itu sebelum menghujani wajah Aya dengan kecupan.


"Ah ..." desaah Aya pelan.


"Suka?" tanya lelaki itu.


Aya tersenyum sambil membuka mulutnya yang diartikan lelaki itu sebagai ajakan untuk menautkan bibir mereka lebih intens.


Hap.


Akeno langsung melumaat bibir Aya yang sejak pertama dilihatnya sudah sangat menggoda.


'Balas,' Aya teringat kata-kata Isao. Aya memfokuskan pikirannya pada lelaki dihadapannya. Perlahan ia menerima dan membalas ciuman Akeno.

__ADS_1


"Ah, ternyata bibirmu semanis senyummu, sayang," lagi-lagi Akeo menyanjung Aya, membuat Aya merasa nyaman.


'Tolong lakukan baik-baik dan jangan menyakitiku,' pinta Aya dalam hati.


Seolah mendengar, Akeno memperlakukan Aya dengan lembut, membuat Aya terbuai dan semakin menikmati permainan lelaki itu. Bahkan turut bergerak aktif mengikuti naluri lelakinya, membuka pakaiannya agar Akeo bebas mengakses bagian-bagian tubuhnya yang semula tertutup.


"Wow! Ini sungguh malam keberuntunganku. Wajahmu cantik, tubuhmu indah, mulus, kencang. Aku suka," tutur Akeo yang langsung sibuk berpetualang di tiap sudut tubuh Aya hingga ke bagian yang tersembunyi.


"Umh ..." Aya meleguh, tapi itu tidak membuat Akeno menghentikan aksinya, ia justru semakin intens memanjakan Aya. Memberikan sensasi geli dan nyaman bersamaan terutama saat Akeno menyapukan lidahnya di lembah kenikmatan yang tertutup hutan kecil di sudut sana.


"Ah, aku sudah tidak dapat menahannya ..." bisik Akeno dengan suara parau, membuat bulu kuduk Aya makin meremang. Akeno bergerak, mengangkat tubuhnya dan langsung mengarahkan pusakanya ke sudut yang sudah licin.


Blessss.


Gagal dan Akeno meracau tidak jelas.


Yang kedua kali, Akeno kembali mengarahkan senjatanya ke tempat yang benar, dan ... jleb. Meskipun sesak, pedang tumpul itu memasuki sarungnya.


Awalnya hanya gerakan kecil yang kemudian berlanjut hentakan dengan intensitas ringan menjadi keras membuat Aya beberapa kali mendesah bahkan terpekik.


"Sayang, panggil aku Akeno dan teriakan namaku," ujar pria itu dengan seringaian.


Ah, pantas saja Lucia jatuh hati, perlakuannya manis sekali, pikir Aya yang mulai beradaptasi mengimbangi kemesraan pria itu.


"Hei ... apa yang kau pikirkan? Mari bersenang-senang," ujar Akeno saat Aya berhenti mendesah.


"Ahhh ..." pekik Aya tertahan, saat Akeno kembali menghujamnya lebih kuat.


"Teriakan namaku, sayang," pinta lelaki itu.


"Ah Akeno ... oh, Akenoooo," gumam Aya dengan mata terpejam. Sungguh perlakuan lelaki ini jauh lebih baik dari Isao dan Aya sangat menikmati.


Walaupun masih sangat pemula, Akeno sangat menyukai permainan Aya bahkan sepertinya akan menjadi candu baginya. Ternyata Aya pintar mengimbanginya dan berhasil membuat Akeno seperti tidak kenal lelah menggempur Aya dengan berbagai gaya hingga nyaris pagi.


.


.

__ADS_1


Aya melewati joging dan sarapannya pagi itu, karena baru terbangun setelah pukul 8. Demikian juga dengan Akeno yang baru terbangun saat aya berusaha membebaskan diri dari dekapannya.


Cup.


Akeno mengecup dahi Aya. "Kamu luar biasa, nanti malam kamu jangan duduk di ruang tamu, sebab aku akan kembali tidur bersamamu. Tunggu aku, ok?"


Aya mengangguk dan tersenyum melepas kepergian Akeno.


"Not bad," gumam Aya seraya menaruh 100 gulden pemberian Akeno barusan ke dalam amplop.


Aya mulai paham cara kerja dan maksud perkataan mami Irene tempo hari ... jadi ceritanya ia yang melayani dan dibayar, tapi kedua belah pihak yang terpuaskan. Ya, Aya tidak munafik ... senang sudah disanjung, dimanjakan, dipuaskan dapat bayaran pula.


***


"Gimana, seru?" tanya mami Irene yang tahu-tahu sudah muncul di kamar Aya saat Aya baru selesai mandi.


Aya tersenyum lebar sambil mengacungkan jempolnya.


"Makanlah, kamu harus segera memulihkan staminamu. Malam ini tuan Akeno mengunjungimu lagi, jadi kamu tidak perlu menunggu tamu lain," ujar Irene seraya menaruh nampan berisikan makanan 4 sehat 5 sempurna di nakas.


"Terima kasih, mi."


"Aku sengaja mengantarkan ini untukmu sekalian ingin melihat keadaanmu. Melihat senyum sumringah tuan Akeno, aku menduga kamu pasti sangat lelah dan mungkin saja dibuatnya kesulitan berjalan," kata Irene sambil tersenyum.


Aya tersenyum simpul dengan pipi yang memerah mengingat aktivitas mesranya dengan Akeno beberapa jam yang lalu.


"Ah itu ... hanya sedikit perih tapi tidak terlalu," sahut Aya sambil mengunyah makanannya.


"Tapi dia tidak menyakitimu, kan?"


"Tidak, justru sebaliknya, mi."


"Ah, syukurlah. Tadinya aku sempat khawatir, kamu ketemu lelaki yang menyakitimu dan ... membuatmu trauma berhubungan."


"Aku juga sempat takut, mi. Untungnya tuan Akeno memperlakukanku dengan sangat baik tidak seperti tuan Isao dan teman-temannya waktu itu ..." Aya menunduk sambil mengaduk makanannya. Perlahan sudut matanya berair.


"Hei sudahlah, jangan diingat-ingat lagi kejadian itu. Seandainya kamu bertemu dengan lelaki yang pernah menyakitimu pun, jangan takut. Ingatlah 1 hal ... sejahat-jahatnya seseorang pasti ada sisi baiknya dan sebaik-baiknya seseorang pasti ada sisi jahatnya."

__ADS_1


Aya tampak berpikir sejenak. "Jadi para lelaki yang pernah menyakitiku itu belum tentu datang untuk menyakitiku lagi?"


"Hm ... bisa jadi, tapi aku tidak bisa berjanji karena memang ada type lelaki brutal yang suka melakukan itu dengan cara yang tidak wajar, ada juga yang semena-mena terhadap wanitanya karena pengaruh alkohol atau sedang ada masalah yang kemudian dia lampiaskan amarahnya pada ... kita," jawab Irene hati-hati.


__ADS_2