
Agastya lelaki yang teguh pada pendiriannya, rupanya didikan tuan Takeshi melekat baik di sanubarinya. Terpisah dari istri hampir 4 tahun tidak membuat iman-nya goyah. Ia percaya ketika ia menjaga dirinya dari segala macam godaan, istrinya Aya yang entah kini sedang berada di mana juga sedang berjuang menjaga diri sebaik yang ia lakukan. Agastya yakin, Tuhan akan mempertemukan mereka suatu saat nanti.
Berulang kali Agastya hanya bisa tertawa kecil saat mendengar Latif dan teman-teman yang lain membagikan pengalamannya bersenang-senang dengan perempuan di Wisma Evergreen.
"Bang Latif menang banyak tuh dapat meniduri ladies paling top di wisma Evergreen," celetuk salah satu pekerja.
"Haha, bayarannya mahal banget tapi sangat sesuai dengan kepuasan yang kudapatkan," sahut Latif dengan tawa merekahnya.
"Lain kali kita mampir ke wisma itu lagi ya, bang. Aku penasaran sama ladies yang menemanimu semalam."
"Boleh, tapi kamu harus kerja lebih keras lagi biar gak bokek gara-gara ladies itu," timpal Latif.
"Gak masalah, kan demi bisa senang kayak abang ... saking gak ada lagi ladies yang nganggur dan abang yang gak mau gantian, jadinya semalam aku dapatnya sama mami mereka. Cantik sih, pelayanan juga ok tapi masih kurang hot dibandingin ladies itu, siapa sih bang namanya?"
"Irene?"
"Bukan, kalau Irene kan yang mami-mami itu, yang noni Belanda itu lho bang, yang katanya ladies kebanggaan Evergreen," cecar pekerja itu.
"Ooh yang itu, soalnya aku juga sempat makai Irene juga sebelum sama noni Belanda itu. Aaa, siapa sih namanya? Ah, iya ... Arrabella," sahut Latif yang sontak membuat hati Agastya bergetar.
Irene? Arrabella? Mungkinkah ini hanya kebetulan semata? Batin Agastya.
"Ehm, maaf ... jadi di wisma itu, ada ladies noni Belanda bernama Arrabella?" Agastya yang semula hanya pendengar cerita, akhirnya membuka suara.
"Iya, Ga. Cantik banget, mulus, pelayanannya hot ... pintar mijet lagi. Pokoknya top banget, dah," jawab Latif seolah mempromosikan kelebihan perempuan yang telah ditidurinya.
"Apa rambutnya bergelombang dan matanya berwarna hazelnut seperti rambutnya juga?" Tebak Agastya.
Satu sisi ia senang jika benar itu Aya, istrinya tapi sisi lain hatinya berharap wanita yang dimaksud bukanlah Aya-nya.
"Iya Ga, kenapa? Kamu kenal sama perempuan itu?" Tanya Latif.
"Tidak tahu juga. Tapi nama dan juga ciri-cirinya kok mirip istriku yang diculik itu, ya?" Gumam Agastya.
"Ah masa, emangnya istrimu noni Belanda?"
"Iya. Papinya orang Belanda dan maminya orang Jawa asli. Ehm, bolehkah aku tidak ikut bekerja? Aku mau memastikan,"
__ADS_1
"Haha ... kamu ini, bilang aja mau senang-senang. Makanya kalau diajak refreshing gak usah sok suci gitu. Sentuhan wanita itu kebutuhan primer lho, aku faham betul."
"Eng, aku bukan mau senang-senang, tapi ..."
"Ah, sudahlah ... dari pada kamu penasaran dan mumpung kapal kita belum jauh dari pelabuhan, baiklah." Latif lalu menyuruh nakhoda kapal putar haluan, kembali ke pelabuhan sebelumnya.
"Apa tadi nama wismanya, bang? Tanya Latif sebelum meloncat ke pelabuhan.
"Evergreen. Baiklah Aga, selamat melepas rindu, haha," celoteh bang Latif dari kapal, sambil melambaikan tangannya.
***
Wisma Evergreen.
Kini langkah Agastya berhenti persis di depan pagar bangunan kokoh nan asri itu. Sekilas memang tidak tampak kalau rumah itu menyediakan jasa plus-plus, sebab dari depan, wisma itu menggambarkan tempat yang nyaman buat beristirahat.
Agastya menghela nafas, berharap hatinya kuat menghadapi apapun yang terjadi didepan. Langkahnya mantap menuju recepsionis, memesan sebuah kamar.
"Sendirian saja, pak?" Tanya gadis petugas resepsionis.
"Iya."
"Oh, boleh. Tolong diatur ya, mbak," jawab Agastya.
"Baik, pak. Nanti jam 4-an bapak datang aja ke bar di lantai 2," pesan gadis itu sambil memberikan kunci kamar pada Agastya dan menunjuk loby yang dimaksud.
Tidak lama datang petugas lain yang mengantarkan Agastya menuju kamar istirahatnya.
Bruk. Agastya menghempaskan tubuhnya di kasur yang empuk itu. Ia melirik jam dinding yang menghiasi dinding kamar, pukul 3.30. Ah, masih 30 menit lagi, Agastya lalu bangkit membersihkan dirinya dan bersiap menuju bar di lantai 2.
Tepat jam 4 sore, Agastya sudah berada di bar yang dimaksud petugas resepsionis tadi. Agastya memilih kursi yang letaknya di pojokkan, memesan kopi hitam dan beberapa cemilan pengganjal perut.
"Sendirian, mas?" Sapa seorang wanita cantik pada Agastya.
"Uhuk," Agastya tersedak melihat wanita yang baru saja menyapanya. Wanita itu ... Irene. Benar, tidak salah lagi, dia adalah Irene pengelola ianjo tempat tuan Takeshi menebus Aya dulu, tapi sepertinya Irene tidak mengenali Agastya. Agastya yang sekarang, tubuhnya lebih kekar dan legam dibanding saat masih jadi asisten tuan Takeshi, belum lagi kumis dan jambang yang dibiarkannya tumbuh subur menghiasi wajahnya juga rambut gondrong yang sengaja diikatnya, membuat tampilannya jauh beda dibanding dulu yang berambut cepak.
"Iya, sendirian aja nih, mbak," sahut Agastya setelah menguasai keadaan, sambil menampilkan senyum manisnya.
__ADS_1
"Perlu teman? Saya Irene," Irene memberikan tangan kanannya pada Agastya.
"Boleh. Carikan perempuan terbaik di wisma ini," Agastya menjabat tangan Irene tanpa menyebutkan namanya.
"Mau yang lokal, Indo-Cina atau Indo-Belanda?"
"Hm ... Indo-Belanda saja."
"Tapi mahal."
"Berapa?"
"100 rupiah short time dan 300 rupiah buat long time, dari malam sampai malam besoknya lagi," Irene menjelaskan tarif pekerjanya.
"Baik, tidak masalah. Itu, perempuan yang kabarnya ladies paling top di wisma ini, kan?"
"Iya, namanya Arrabella."
Dheg! Agastya terkejut saat nama istri yang dicarinya selama ini, disebut dengan jelas, tapi ia tetap berusaha menyembunyikan raut terkejut dan kecewanya.
"Hm, bisa minta dia ke kamarku sekarang?"
"Wah ... kalau sekarang tidak bisa, sedang ada yang makai dia mas. Sama saya aja dulu mas, gimana?" Irene menawarkan diri.
"Hm ..." Agastya menatap wanita cantik dihadapannya.
"Short time 50 rupiah aja dan sekarang aku free," iming Irene lagi sambil memainkan sebelah matanya.
"Ah, yang noni Belanda itu bisanya, kapan?"
"Besok pagi, mas. Masih lama, sama saya aja dulu, ya? Permainanku juga gak kalah hot sama Arrabella," rayu Irene sambil meraih dan berusaha membelai jemari Agastya.
Agastya menjauhkan tangannya dari jangkauan Irene. Sungguh ia merasa jijik melihat kelakuan sok mesra perempuan itu.
"Maaf, saya maunya Arrabella saja, mbak. Besok pagi, saya tunggu dia ke kamar 103," sahut Agastya membuat Irene cemberut. Baru kali ini ada tamu yang menolak tawarannya hanya karena ingin mencicipi manisnya tubuh Arrabella. Biasanya para pria yang gagal mendapat Arrabella, mau-mau saja menerima tawaran Irene yang harganya jauh lebih murah tapi sama-sama bisa memuaskan.
"Baiklah. Saya minta persekotnya dulu ya, mas. Sebagai tanda jadi," ujar Irene lagi.
__ADS_1
"Ok. Ini khusus buat kamu, diluar bayaran gadis itu. Tolong atur agar aku bisa bersamanya besok pagi." Agastya memberikan 100 rupiah pada Irene, dan itu cukup membuat Irene kembali ceria. Bagaimana tidak, tanpa lelah berkeringat ia mendapat uang yang cukup besar dari lelaki yang baru pertama mengunjungi wisma Evergreen.