
Takeshi yang selesai membuat sarapan, merasa heran saat Ryujo belum juga kembali menyampaikan hasil pemeriksaannya.
"Kemana Ryujo, apakah dia menemukan sesuatu yang ganjil?" gumamnya. Ia lalu memanggil Monic dan Himawari untuk bersantap pagi.
"Himawari, papa mau mencari Sora. Kamu sarapan sama Monic dulu, ya," kata Takeshi pada anaknya.
"Monic, titip Himawari. Aku mau menyusul Ryujo."
"Baik, tuan."
Saat berjalan ke sisi belakang rumah utama, sayup-sayup Takeshi mendengar suara Ryujo, seperti sedang marah-marah.
"Astaga. Kenapa dengan hari ini? Sudahnya bangun tidur harus dihadapkan pada amukan Himawari, sekarang lagi ... uh, apa yang membuat Ryujo semarah itu, ya?" kata Takeshi sambil memacu langkahnya ke sumber suara.
Jalan Takeshi terhenti saat melihat beberapa tentaranya berjejer di depan salah satu kamar barak.
"Ada apa?" tanyanya tapi tidak ada yang bersedia menyahut, membuat Takeshi memilih masuk ke kamar tempat Ryujo mencak-mencak.
"Ryuj- hah? Arrabella, kenapa kamu ada di sini?" Takeshi terperangah melihat gadis yang pernah dimintanya untuk menjadi istrinya itu duduk berbalutkan selimut. Walaupun tidak ada yang mengatakan, Takeshi dapat menebak apa yang terjadi apalagi saat indera penglihatannya menangkap benda-benda yang bertebaran di lantai.
"Siapa yang melanggar aturanku, silahkan keluar dari komando-ku, dan kamu Arrabella, lekas kembali ke rumah utama," titah Takeshi sambil berbalik ke luar kamar diikuti Ryujo juga Aya.
Saat mereka tiba di rumah utama, ternyata Himawari tertidur di kamar Monic, menangis hebat membuat gadis kecil itu kelelahan dan tidur lebih cepat.
"Arrabella, silakan bersihkan badanmu dan segeralah ke ruang makan jika sudah selesai. Kamu juga Ryujo," ucap Takeshi.
"Siap, tuan."
***
Ryujo menghampiri kamarnya di mana ada istrinya yang tengah berbaring dengan Himawari.
"Syukurlah kamu sudah kembali. Sayang, Arrabella sudah ketemu, ya?" tanya Monic berbisik, takut suaranya mengusik Himawari.
"Iya."
"Di mana?"
"Barak tentara."
"Apa? Jadi dia tidur dengan tentara?"
"Ssttt," Ryujo menempelkan telunjuk di bibirnya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu?"
"Nanti aku ceritakan, aku mau membersihkan badanku dulu. Kamu mau menemaniku mandi?"
"Ish, ada Himawari, sayang."
"Memangnya kenapa? Dia kan sudah tidur."
"Ck, kamu tidak lihat lenganku dijadikan bantalnya? Aku takut kalau bergerak, dia akan bangun dan mengamuk lagi."
"Halah, alasan saja," sahut Ryujo seraya memasuki kamar mandi.
Sementara itu Aya juga membersihlan dirinya di toilet dalam kamarnya.
Matanya menatap cermin, disitu terpampang tubuhnya yang berhiaskan sisa-sisa pergumulannya semalam.
Jujur saja, dahaga batinnya terpuaskan setelah sekian lama harus memendam rindu kehangatan tubuh lelaki tapi ... rasa puas itu hanya menyisakan perasaan yang kosong, hatinya sakit saat menyadari telah mengkhianati kekasihnya, mas Aga.
"Mas Aga, maafkan aku. Aku ceroboh dan tidak bisa menjaga diriku. Aku terima jika kamu tidak lagi menginginkanku jadi wanita yang halal bagimu," gumam Aya. Usai membersihkan tubuhnya, Aya segera menemui Takeshi dan Ryujo yang sudah menunggunya.
Kedua lelaki itu sudah berada di ruang makan, menanti Aya bergabung.
"Ryujo, apa aku terlalu keras dalam mendidik anak buahku?" tanya Takeshi dengan perasaan gamang.
"Hah, aku merasa bersalah pada Agastya dan Arrabella, apa yang harus kulakukan Ryujo?"
"Entahlah. Jika saja Agastya berjiwa besar, tentu ia bisa memaklumi kejadian yang menimpa Arrabella. Tapi tuan, mengingat kejadian Arata dan yang barusan kita lihat tadi, aku fikir kondisi Arrabella tidak akan aman jika terus bersama kita baik di kapal maupun di kamp seperti ini. Kita harus mengusahakan agar Arrabella aksesnya tertutup dari perhatian ratusan tentara kita yang seperti serigala lapar jika melihatnya."
"Kamu benar Ryujo, aku semalam sudah membicarakan masalah tugas baruku di ibu kota dengan Agastya. Meskipun tidak ada kejadian itu, aku memang berniat mengajak Agastya, Arrabella dan Monic ikut serta menempati rumah dinas, bagaimana menurutmu?"
"Wah, saya sangat setuju tuan. Kita bisa mencarikan guru les untuk nona Himawari dan ... Monic yang kehamilan semakin besar, perlu memeriksa kandungannya juga mempersiapkan kelahiran anak kami di tempat yang lebih baik."
"Benar, Ryujo. Banyak keuntungan jika nanti kita menetap di ibu kota."
"Selamat pagi tuan Takeshi, tuan Ryujo." Aya yang sudah rapi dan jauh lebih segar bergabung bersama kedua lelaki itu.
"Pagi Arrabella, mari kita sarapan dulu. Setelah itu baru kita bahas mengenai kejadian yang menimpamu," sahut Takeshi sambil menarik kursi dan mempersilakan Aya duduk.
Aya mengangguk lalu turut bersantap bersama Takeshi dan Ryujo.
"Hm Arrabella, tolong maafkan prajuritku yang sudah berlaku tidak senonoh padamu, ya," ucap Takeshi setelah selesai dengan hidangan paginya.
Aya yang menunduk menyahut ragu, "Em ... tidak apa-apa, tuan."
__ADS_1
"Ck kamu bilang tidak apa-apa? Apa kamu senang digilir begitu?" sungut Ryujo.
Aya menggeleng, " Eng ... mereka tidak sepenuhnya salah, tuan."
"Aya, jangan membela bajingan yang bahkan namanya saja tidak kamu ketahui. Kami tahu ini bukan salahmu sebab mereka telah menjebakmu. Mereka memberimu obat bius, obat perangsangg ... ck, mereka benar-benar sudah merencanakan dengan baik," timpal Ryujo lagi.
Aya terisak. "Tuan aku menyesali kecerobohanku dan yang jadi ketakutan terbesarku sekarang adalah ... Agastya."
"Memangnya kenapa dengan Agastya?" Tanya Takeshi, ingin melihat kejujuran Aya.
"Em ... ."
Jemari Aya tampak sibuk memilin ujung kemeja untuk mengalihkan kebingungannya menyusun kalimat yang pas.
"Ma-maafkan saya tuan, sa-sayaaa ... memilih Agastya menjadi kekasih saya," jawabnya gagu.
"Oh, jadi ceritanya kamu menolak jadi istriku, begitu?" Lagi, Takeshi bertanya dengan tampang yang dibuat dingin.
Aya semakin ketakutan dibuatnya.
"Ampun tuan. Ini salah saya telah menerima cinta Agastya. Kalau tuan tidak berkenan, hukum saya saja. Jangan mas Aga, tuan," mohon Aya yang sudah duduk bersimpuh di lutut Takeshi.
Takeshi memandang Ryujo yang nampak menahan tawa.
1 detik.
2 detik. Takeshi membiarkan saja Aya menumpahkan air mata di lututnya.
Detik ke 3, Takeshi dan Ryujo tidak tahan lagi, tawa keduanya pun pecah. Membuat Aya menghentikan tangisnya, menatap Takeshi dan Ryujo bergantian.
"A-ada apa? Kenapa tuan-tuan tertawa?"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya saja, kekasihmu mas Aga itu sudah mengatakan semuanya padaku dan Ryujo mengenai hubungan kalian, semalam. Sekarang aku mau tahu, apa kamu juga serius menjalani hubungan kalian?"
"Se-serius, tuan."
"Benarkah? Apa kamu bersedia menikah dengan mas Aga-mu itu?" tanya Takeshi lagi.
"Ah, sa-saya tidak tahu, tuan."
"Tidak tahu, bagaimana? Kamu tadi bilang serius."
"Iya, saya serius. Tapi tidak tahu dengan mas Aga setelah tahu kejadian barusan. Apa dia bisa menerimaku yang kotor ini atau tidak. Aku pasrah, terserah mas Aga saja." Jawaban Aya kembali membuat Takeshi dan Ryujo bertukar pandangan.
__ADS_1
"Hah, baiklah. Kalau begitu kita tunggu mas Aga-mu kembali dan kita akan segera tahu bagaimana reaksi juga keputusannya mengenai hubungan kalian," ujar Takeshi sambil berjalan meninggalkan ruang makan.