
Sepulangnya Agastya dan Zain, Aya langsung mengunci kamarnya, perempuan itu sangat bahagia sebab sebentar lagi dia akan meninggalkan tempat yang menjeratnya dalam kekelaman. Aya terisak dalam sujudnya, bersyukur walaupun ia adalah seorang yang kotor dan berdoa ternyata masih mendapat perhatian Allah, Allah mendengar dan menjawab harapannya; bertemu kembali dengan mas Aga suaminya.
Usai berdoa, Aya merapikan penampilannya. Ia membawa baju lusuh yang ia kenakan saat pertama kali dibawa ke tempat itu, ia sengaja tidak membawa segala barang yang dimilikinya semenjak tinggal di Wisma Evergreen. Biarlah segala kepunyaan beserta kesialan dan luka hatinya ia tinggal di situ, karena ia yakin di temoat yang baru ia akan memulai segala keceriaan yang baru pula bersama Agastya.
"Hm, mas Aga tentu tidak keberatan jika nanti aku minta belikan pakaian yang baru," gumamnya berkhayal kehidupan seperti apa yang akan ia jalani nanti sambil menunggu pintu kamarnya diketuk.
***
"Selamat datang tuan Daus," sapa Arata dengan ramahnya.
"Hm, ya. Apa Arrabella tidak sedang menerima tamu?" Balas pak Daus datar.
"Oh, tidak. Arrabella sedang free tuan mau menemuinya sekarang?"
"Bukan aku, tapi sahabatku ini, Arata."
"Ah, sebentar. Aku panggilkan Irene dulu."
"Halo tuan Daus, wah ... baru kemarin habis dari sini sudah kangen aja sama kita," sambut Irene dengan gaya centilnya.
Pak Daus berusaha menutupi perasaan tidak enaknya karena ketahuan pak Ruslan mengunjungi tempat itu sebelumnya. "Em begini Arata, Irene. Aku langsung pada pokoknya saja. Aku kemari bersama sahabatku ini, haji Ruslan. Beliau ingin bersenang-senang dengan perempuan terbaik di tempat ini, tolong kasihkan Arrabella untuknya."
"Oh, bisa. Mau short time atau long time?"
"Em, short time saja."
"Baiklah, mari saya antar ke kamarnya, tuan," tawar Irene manja.
Benar saja, kurang lebih 1 jam kemudian, mami Irene memanggilnya.
"Iya mi, ada tamu untukku?"
"He-eh, nampaknya kamu laris manis hari ini, Arrabella. Ini Haji Ruslan, sahabatnya pak Daus, tolong beri pelayanan terbaikmu ya, sayang," Irene mengedipkan sebelah matanya.
"Maaf, tuan ini ... apakah pak Ruslan yang dimaksud oleh Agastya?" Tanya Arrabella sambil menutup pintu kamarnya.
"Benar. Salam kenal Aya, saya Ruslan. Panggil saja aku pak Ruslan, seperti Aga."
Aya menyambut jabatan tangan pak Ruslan dan mencium tangan lelaki tua itu dengan takzim.
"Senang bertemu dengan pak Ruslan."
__ADS_1
"Sama-sama Aya, maaf kita harus menunggu beberapa saat lagi, seolah-olah kita melakukan sesuatu agar mereka tidal curiga kalau semua ini sudah kita rencanakan."
"Baik, pak."
"Em, aku sudah bersahabat dengan Takeshi sejak lama, aku sangat bangga saat beliau minta tolong untuk mengurus Agastya, suamimu. Agastya pemuda yang baik bahkan sudah kuanggap seperti anakku sendiri, makanya aku mau kemari untuk membantunya membawamu keluar dari sini."
"Terima kasih, pak."
"Dan mulai sekarang, kamu juga aku anggap sebagai menantuku."
"Wah, suatu kehormatan untukku, pak."
"Aku juga merasa bahagia turut andil dalam kebahagiaan kalian. Ngomong-ngomong, mungkin kita bisa menemui mereka?"
Aya menatap jam dinding di kamarnya, "Baru 5 menit, pak. Tapi tidak apa-apa jika kita keluar sekarang."
"Baiklah, kufikir sebaiknya biar aku saja yang keluar. Kamu tunggu sebentar, aku mau bicara dengan mereka dulu dan menyelesaikan pembayaran. Kamu silakan beres-beres dulu."
"Iya, pak." Aya mengangguk dan berjalan menuju pintu kamarnya.
***
"Lho kok cepat sekali, pak Haji. Apa Arrabella tidak sesuai dengan harapan?" Tanya Arata saat pak Ruslan sudah kembali.
"Maksudnya, berunah fikiran bagaimana, ya?"
"Em ... perempuan itu sangat cantik. Bolehkah aku memilikinya?"
"Memiliki, bagaimana pak Haji?"
"Aku mau membawanya keluar dan menjadikannya istriku agar boleh kunikmati tanpa berbagi dengan pria lain, bisa?"
Arata bertukar pandang dengan Irene. Satu sisi mereka bangga karena Arrabella, 'anak asuh' mereka itu lagi-lagi berhasil menggaet pria yang tampaknya berpengaruh dan berkantong tebal. Tentu bukan orang biasa karena pria ini datang bersama orang terpandanga nomor 1 di kota A, tapi sisi lain mereka juga sedih akan kehilangan magnet sekaligus aset terbaik Wisma Evergreen.
"Bisa saja, pak Haji tapi bayarannya mahal sebab Arrabella adalah yang ladies top kami."
"Aku tahu, kalau tidak untuk apa sampai aku mau memperistrinya. Katakan saja, berapa aku harus menebusnya?"
"Sat- eh ... dua juta, pak Haji," jawab Arata yang seketika menaikan tarif.
"Ck, kenapa sampai semahal itu? Kuranglah, perempuan itu juga sudah tidak gadis lagi dan ... tentunya sudah sangat sering dipakai orang," nego pak Ruslan.
__ADS_1
"Wah, tidak bisa pak Haji."
"Haji Daus, bagaimana ... aku maunya Arrabella saja, tapi tarifnya kemahalan, apa harus kusuruh orang-orangku menghancurkan tempat ini?"
"Arata, bukan perkara sulit bagi Haji Ruslan untuk mendapatkan wanita mana pun yang diinginkan, tolong kuranginlah sedikit," timpal pak Daus.
"Aduh gimana ya, tuan Daus. Tuan kan tahu sendiri kalau Arrabella keluar, berarti penghasilan kami akan jauh berkurang, makanya kami menentukan harga yang besar sebagai jaminan kami ke depannya," alasan Arata.
"Hei, Arata ... kamu tahu, kan kalau aku yang selama ini berperan melindungi usaha gelapmu ini? Izin yang legal cuma usaha penginapan saja, aku bisa saja melakukan sesuati agar kedua usahamu ini ditutup sama sekali, dan jangan lupa, sahabtku ini sangat berpengaruh, jangan lupa kamu itu cuma pendatang, bukan hal yang sulit menyingkirkanmu," pak Daus setengah mengancam.
"Begini saja. 1,2 juta ya atau tidak? Kalau iya, aku bayar sekarang, kalau tidak ... kamu akan tahu akibatnya," tegas pak Ruslan.
Arata nampak berfikir, padahal dapat 1 juta saja sudah membuatnya kaya dengan memanfaatkan orang lain, tanpa harus bekerja keras.
"Ba-baiklah kalau begitu," di depan Arata menyahut begitu dengan lesu padahal hatinya girang bukan main.
"Deal?"
"Ya, deal."
Pak Ruslan lalu mengeluarkan kwitansi beserta surat pernyataan. "Silakan tanda tangan di sini," perintahnya pada Arata.
"Nah, sudah beres semua. Tolong bawa Arrabella ke hadapanku," ujar pak Ruslan lagi.
***
"Arrabella, kamu ditunggu orang penting menunggumu, di bar," kata Irene lesu.
"Oh, siapa mi, kenapa tidak kemari saja?" Aya yang sudah menebak siapa tamu penting itu pura-pura heran.
"Hah ... temannya tuan Daus ingin kamu jadi istrinya dab sudah menebusmu. Kamu berkemaslah dan cepat temui mereka.
"Ba-baik," Aya mengambil bungkusan yang berisi selembar pakaian beserta sebuah amplop lalu segera mengekori langkah Irene.
"Lho, cepat sekali kamu berkemas, kenapa barang-barangmu tidak kamu bawa?" Irene berbalik dan bertanya dengan heran.
"Em ... bukankah seseorang yang menebusku itu orang kaya, mi? Pasti dia tidak keberatan membelikan pakaian baru untukku. Pakaian dan barang-barang yang kutinggalkan di sini bagikan saja pada teman-teman. Dan amplop ini isinya tabungan selama aku bekerja di sini," Aya memberikan amlop berisikan uang 85 ribu untuk Irene.
"A-Arrabella, ah ... kamu tahu aku sangat kehilanganmu," Irene memeluk Arrabella.
"Aku juga, mi. Akhirnya aku bisa keluar dari sini karena ternyata ada orang yang sanggup menebusku, seperti syarat yang mami ajukan."
__ADS_1
"Yah, baiklah. Jika kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu, silakan kembali ke sini kapan saja," kata Irene.
'Hah, jangan harap,' batin Aya.