
Agastya membiarkan saja Aya terlelap meski azan subuh berkumandang, ditatapnya wajah wanita penguasa harinya itu lekat-lekat.
"Pagi sayang, semoga harimu menyenangkan," gumam Agastya seraya melabuhkan kecupan di pucuk kepala istrinya sebelum ia beranjak mengambil wudhu.
"Mama Alif, ini buat belanja, ya," Agastya menaruh sejumlah uang di atas meja makan.
"Ya Allah, Aga ... kamu ini selalu saja begini, pakai nitip-nitip uang belanja segala," protes mama Alif.
"Ini tidak seberapa mama Alif, kalian sudah sangat baik mau menampungku dan istriku," imbuh Agastya.
"Ah, ini kok malah lebih banyak dari biasanya? Berasa kayak ibu kost deh aku."
"Haha ... kan berdua sekarang berdua yang numpang hidup di sini, makanya aku lebihin."
"Ah, macam sama siapa aja kamu ini, Ga. Hm, ya sudah. Aku terima ya, Aga. Alhamdulillah," mama Alif mengambil uang dari Agastya.
"Pagi," sapa Aya pada mama Alif dan Aga dengan suara seraknya. "Mas Aga kok gak ngebangunin aku, sih? Kan aku jadi kesiangan," gerutu Aya.
"Sudah tidak apa-apa, Aya. Kamu pasti kelelahan," sahut mama Alif.
"Sayang, tolong bikinkan kopi untukku, ya. Aku mau ke bengkel kerjanya Zain di sebelah," ujar Agastya seraya mengelus punggung tangan Aya.
"Ya, baiklah, mas."
"Apa yang bisa kubantu, kak?" Aya merasa nyaman memanggil mama Alif dengan sebutan 'kak' pada wanita yang mungkin seumuran dengan Clay, kakaknya."
"Hm, apa ya? Kamu bikinkan kopi untuk suamimu saja dulu, nanti kamu kembali ke sini membanguku membuat nasi kuning," sahut mama Alif yang sedang mengaduk bumbu masak merah di wajan.
"Ding Aya, tolong sekalian bawakan ubi rebus ke bengkel, ya," pinta mama Alif.
"Baik, kak."
Aya tersenyum, melihat aktivitas pagi di rumah keluarga Zain. Pantas saja Agastya betah tinggal di situ. Ah, lagi-lagi Aya rindu suasana rumahnya saat di Magelang dulu yang selalu ramai, tapi kini semua tinggal kenangan. Aya hanya bisa menyapa orang-orang kesayangannya dalam kenangan angan-angan saja.
"Hei, tamu kok malah bersih-bersih?" Tegur mama Alif saat melihat Aya menyapu rumah.
"Lho, katanya anggap saja seperti di rumah sendiri, kak? Harusnya tidak apa-apa kalau aku bantu-bantu."
"Ah ya sudah, se-nyamanmu saja kalau begitu, ding. Aku mau membantu anak-anak bersiap ke sekolah dulu," ujar mama Alif membiarkan Aya meringankan tugasnya. Bagi seorang wanita, tentu berdiam diri dan hanya terima beres bukanlah hal yang menyenangkan, mama Alif mengerti itu.
"Ding Aya, kamu mandilah. Nanti kita antar anak-anak sekolah terus ke pasar."
__ADS_1
"Baik, kak," sahut Aya sambil membuang pakaian yang ia gunakan saat ke rumah Zain kemaren di tempat pembakaran sampah.
"Lho ding, kenapa kamu buang bajumu? Mubazir, ding. Bajunya masih bagus itu."
"Hem, tidak apa-apa kak. Baju itu dibeli dari uang haram juga, sengaja aku buang untuk buang sial, hehe." Mama Alif yang tahu kisah Aya mengangguk.
"Meski kalau berjilbab mungkin aku sepertinya belum siap tapi aku mau pakai pakaian yang tertutup seperti kakak.
"Alhamdulillah, ding. Tidak apa-apa ding semua perlu proses, yang penting niatnya. Ingat pesan abah tadi malam, kita harus menjaga marwah kita sebagai wanita ... maka sudah sepantasnya jika kita menjaga aurat kita demi menghindari hal-hal yang tidak baik."
"Iya, kak." Aya sudah siap, ia mengenakan pakaian lain yang diberi oleh mama Alif semalam padanya, kemeja berlengan panjang dan celana kulot berwarna hitam, sangat kontras dengan kulit bening Aya.
"Kamu cantik sekali, ding," puji mama Alif.
"Karena pakai baju dari kakak, hehe,"
"Bisa aja kamu, ayo berangkat," ujar mama Alif saat melihat kedua putranya sudah siap ke sekolah.
"Abah Alif, aku ngantar Alif dan Amar terus langsung ke pasar sama Aya, ya," pamit wanita itu sambil menciumi tangan kanan suaminya.
"Baik, hati-hati ya, sayang."
Agastya terpaku, entah kenapa Aya selalu cantik dengan apapun yang ia kenakan. Bahkan pakaian yang tertutup seperti ini tidak mampu menyembunyikan pesonanya. "Maaf mama Alif, bolehkah kamu pinjamkan kerudung untuk istriku?" Kata Agastya.
"Bisa, sebentar aku ambilkan," wanita hamil itu segera melesat ke kamar mengambilkan pesanan Agastya.
"Nah ... sempurna," puji Agastya saat melihat kepala Aya tertutup khimar. "Hati-hati, sayang. Eh, ini uang untukmu, belilah keperluan pribadimu seperlunya."
"Terima kasih, mas. Kami pergi dulu, assalamulaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Agastya dan Zain berbarengan.
"Ga, aku senang akhirnya kamu dan istrimu bersatu," kata Zain pada sahabatnya, saat kedua istri mereka dan anak-anak berangkat.
"Iya, Zain ... syukurlah, ini berkat kemurahan Allah melalui kamu dan pak Ruslan."
"Alhamdulillah. Itu semua atas seizin-Nya, Ga. Eh, gimana semalam berasa pengantin baru, kan?"
"Gak tunai, Zain. Aya lagi halangan," jawab Agastya sambil nyengir.
"Haha, kasihan. Sudah nunggu lamaaa eh sekalinya sama-sama malah kehalangan tamu."
__ADS_1
"Iya sih, tapi gak apa-apa. Yang penting sekarang kami sudah bersama lagi."
"Nanti kalau dah selesai langsung gaspoll biar cepat jadi, Ga."
"Siap, bang. Gak sabar punya anak seperti Alif dan Amar-nya kalian."
"Semoga Allah mengabulkan keinginan kalian, Ga."
***
Sebagai orang yang baru ditambah tampangnya yang setengah bule itu tentu saja menarik perhatian banyak orang di sepanjang perjalanan.
"Ui mama Alif, dengan siapa ini?" Sapa beberapa orang yang ditemui mereka.
"Oh ini bini (istri) Aga," sahut mama Alif.
"Bungasnya ae (cantik sekali, ya)," rata-rata orang yang bertanya pada mama Alif menyahut begitu.
"Bungas artinya apa, kak?" Tanya Aya.
"Cantik, kalau untuk laki-laki artinya tampan," jawab mama Alif. "Aya, kita sarapan dulu, ya. Meski pun di rumah ada makanan, tapi aku lagi pengen makan di luar," mama Alif mengajak Aya ke sebuah warung makan kevil.
Aya melihat hidangan yang terhidang, berupa ketupat kecil dibelah dua yang disiram kuah santan kental, serta ikan gabus bakar di atasnya dan taburan bawang goreng.
"Ini namanya ketupat kandangan, Aya. Nikmatnya jika ditambah sedikit sambal binjai," jelas mama Alif sesaat sebelum mengucapkan doa makan.
"Enak, kak. Gurih berpadu rasa pedas, asam, manis dari sambalnya, jadi endes banget. Sempurna."
"Syukurlah kalau kamu suka. Kita perlu sarapan, buat tenaga berkeliling nantinya, haha."
Usai sarapan, mama Alif mengajak Aya membeli kebutuhan dapur. Beras, gula, bawang, minyak goreng sayur-sayuran, ikan dan cemilan, lalu meminta tukang becak mengantarkan belanjaannya ke rumah.
"Apa tidak apa-apa belanjaan kita diantar sama tukang becak begitu, kak?"
"Tidak apa-apa. Aku kenal baik sama tukang becaknya, masih tetangga kita kok, dan aku sudah biasa begitu dari pada harus kemana-mana bawa barang, capek ding."
Setelah barang-barang belanjaannya diangkut, mama Alif mengajak Aya menuju ke beberapa lapak yang menjual pakaian jadi.
Bergaul dengan mama Alif, melihat bagaimana wanita itu bersikap serta Aya yang dikasih uang sama suami untuk modal ke pasar pagi-pagi dan berbelanja, membuat Aya merasa sudah seperti istri sekaligus ibu rumah tangga sejati saja.
"Hm, dikasihi dan dinafkahi suami sudah .. kini aku pengen cepat punya anak dengan mas Aga, biar aku lebih sempurna sebagai wanita," harap Aya dalam hati.
__ADS_1