Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Tidak Seperti Yang Kalian Lihat


__ADS_3

Matahari belum lagi menampakkan sinarnya saat Agastya dan Zain berjalan beriringan menuju kediaman pak Ruslan sambil berbincang.


"Zain, aku tidak mengerti kenapa harus mengalami serupa ini. Apakah sebenarnya aku tidak berjodoh dengan Aya hingga Allah mengizinkan semua ini terjadi?"


"Tetaplah berpikir positif, Aga. Pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian. Kuatkan hatimu dan hadapi saja dengan kepala dingin."


"Aku tahu Zain, tapi terkadang aku lelah juga ... aku, aku bahkan berpikir akan melepas Aya, jika memang itu kehendaknya sendiri. Aku tidak akan menahannya jika memang Aya berkeinginan demikian."


"Hus, jangan begitu, Ga."


"Serius. Aku tahu tidak ada manusia yang luput dari masalah, tapi kenapa sih aku harus mengalami hal yang nyaris sama? Istriku tiba-tiba menghilang lagi, tidak bisakah aku memiliki kisah cinta yang normal? Seperti kamu dan mama Zain misalnya."


"Hm ... sabar, pada hakekatnya setiap orang yang beriman senantiasa akan mendapat ujian dari Allah SWT, apalagi kan Aya saat ini sedang dalam proses memperbaiki hidupnya, tentu banyak rintangannya, Ga. Sebagai imamnya Aya sangat membutuhkanmu, jadi kamu jangan mudah menyerah juga," Zain mengingatkan sahabatnya.


"Terima kasih, Zain. Ngomong-ngomong, tumben jam segini rumah pak Ruslan masih sepi?"


"Wah iya juga, Ga. Abah jarang kesiangan, setelah sholat subuh abah hampir tidak pernah tidur lagi kecuali sedang tidak sehat."


"Lha ini, apa berarti abahmu sedang tidak sehat, atau mungkin sedang menginap di rumah mamamu?"


"Tidak, ini jadwalnya abah dengan Aminah, kok. Kita coba ketuk saja, barangkali abah sedang sibuk jadi belum sempat keluar rumah."


Agastya mengangguk, lalu mereka mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah pak Ruslan beberapa kali.


"Waalaikumsalam," sahut Aminah dari arah belakang Agastya dan Zain.


"Lho Aminah, kamu dari mana?" Tanya Zain keheranan melihat istri abahnya yang berada di luar rumah.


"Dari rumah abahku, kemarin abahku sakit jadi aku menginap di sana semalam. Abahmu belum bangun ya, Zain?"


"Tapi abah ada di dalam, kan?"


"Ada, kemarin aku berpamitan dengan abahmu. Beliau pasti ada di rumah, kok. Sebentar biar aku bukakan pintu, aku punya kunci serapnya," kata Aminah.

__ADS_1


"Assalamualaikum, bah ... ini ada Zain dan Agastya mencarimu," ujar Aminah sambil membuka pintu kamar tidur mereka.


"Ya ampu, abaaaah ... apa yang kamu lakukan?" Pekik Aminah saat melihat suaminya sedang duduk melamun di sisi tempat tidurnya.


"Ada apa Aminah?" susul Zain yang penasaran melihat penyebab Aminah berteriak.


"Abah selingkuh, Zain. Dasar bandot tua kurang ajar!"


"Astagfirullah, abah ... A-aya?" Zain tergugu. Sementara Agastya terkesiap mendengar nama istrinya juga disebut oleh Zain.


"Maaf, aku tidak tahu apa-apa. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan," sahut pak Ruslan lemah seraya memasang sarung dan baju kaos untuk menutupi tubuhnya.


"Tidak seperti yang kalian pikir apanya, hah? Tempo hari aku sudah memaafkan tindakan pelacur yang sudah menggodamu kali ini ... jelas-jelas kamu membawanya ke ranjang kita, bah. Mau mengelak gimana lagi kamu, bah?" Cecar Aminah yang tidak kuasa menahan isak tangisnya.


"Astagfirullahaladzim. Sungguh tidak ada apa-apa antara aku dan Aya. Dia sudah kuanggap seperti anakku sendiri, tidak mungkin aku berniat buruk sama dia. Aku juga tidak tahu kenapa dia ada di sini, Aminah," beber pak Ruslan.


"Halah, alasan saja. Baru satu malam aku tinggal, itu pun aku terpaksa karena ingin menengok abahku yang sedang sakit, tahunya kamu malah membawa wanita lain ke rumah."


"Pak Ruslan, apakah bapak sangat menginginkan istriku?" Tanya Agastya dengan suara yang bergetar, kentara sekali kalau ia sedang mengatur emosinya.


"Tidak Ga, sungguh aku juga tidak tahu kenapa bisa istrimu berada di sini. Setelah magrib, aku merasa kepalaku berat makanya langsung berbaring tahu-tahu pagi ini saat terbangun, kudapati Aya di sampingku dan kami ... ka-kami sama-sama tidak berpakaian."


"Dan kamu Aya, kenapa bisa ada di kamar pak Ruslan?" Agastya melemparkan tanya pada istrinya.


"Hiks ... aku juga tidak tahu, mas. Tadi malam, tidak lama setelah kamu pergi ada seseorang yang masuk ke kamar kita dan saat bangun, aku sudah ada di sini," jawab Aya ketakutan. Sungguh, belum pernah ia melihat Agastya semarah ini sebelumnya. Segala kalimat penuh cinta dan keramahan suaminya itu menghilang saat mendapati dirinya yang berada di satu tempat tidur dengan pria yang sangat berjasa bagi mereka.


"Siapa lelaki yang berani membawamu kemari?"


"Orang yang tempo hari mencoba mengangguku, mas."


"Latif?" ujar Zain.


Aya mengangguk.

__ADS_1


"Tidak mungkin Latif, pasti hanya mirip saja. Abah kan punya banyak uang, bisa saja ia membayar seseorang yang mirip Latif untuk membawa Aya kemari," jawab Aminah terkesan membela kekasih gelapnya itu.


"Tapi sungguh aku tidak melakukan itu, demi Allah. Untuk apa aku sampai mengupah orang demi merusak rumah tangga Aga dan Aya yang kukasihi seperti anak dan menantuku sendiri?" ujar pak Ruslan dengan suara yang lemah.


"Bisa saja. Huh, pantas kamu sudah tidak lagi mau menyentuhku rupanya karena kamu punya rasa dengan perempuan lain," omel Aminah.


"Tidak, tidak seperti itu Aminah. Sungguh belakangan ini aku hanya sedang banyak kerjaan dan kelelahan saja."


Aminah tersenyum sinis mendengar tuturan suaminya, padahal ia sengaja memberikan obat tidur bersamaan dengan obat jantung pak Ruslan agar suaminya itu cepat terlelap dan ia bebas bermesraan dengan Latif.


"Hm, sekarang mau kalian bagaimana? Pak Ruslan, jika memang sebegitunya anda menginginkan istriku, baiklah ... aku akan menalaknya."


"Aga!"


"Mas!" pekik Zain dan Aya berbarengan.


"Aga, tolong ... jangan mengambil keputusan apapun disaat hati sedang panas. Aku mengerti yang kamu rasakan tapi tolong, ini bisa kita bicarakan baik-baik," mohon Zain pada Aga.


"Kamu bisa bicara begitu karena lelaki itu abahmu dan bukan istrimu yang berada disitu," sahut Agastya.


"Dengar dan telaah dulu, Aga. Jangan tergesa-gesa," ujar Zain lagi.


"Zain benar, Ga. Kita bisa bicara baik-baik. Aku dan Aya memang terbangun di tempat tidur yang sama dan dalam keadaan yang ... tapi demi Allah, abah sama sekali tidak ada menyentuh istrimu, nak," ujar pak Ruslan dengan wajah dan suara yang memelas.


"Hah, susah melawan orang yang berpengalaman dalam mengolah fakta. Bah, bukankah waktu itu kamu bilang jika kamu mau, kamu bisa saja menikahi perempuan ini?" celoteh Aminah yang sengaja memantik amarah Agastya.


"Jika aku menemukan Aya bersama pria lain saat ia masih berstatus sebagai wanita wisma aku bisa memahami, tapi ini ... Aya, kamu sudah bersamaku. Aku tahu mungkin aku tidak sempurna sebagai suami tapi tidak dengan cara seperti ini juga," ujar Agastya seraya berbalik meninggalkan rumah pak Ruslan.


"Aya, cepat kenakan kembali pakaianmu dan kita susul suamimu," kata Zain.


"Aga, tunggu dulu. Kita bisa bicarakan baik-baik," Zain berusaha menahan langkah sahabatnya.


"Tidak perlu!" Tegas Agastya.

__ADS_1


__ADS_2