
"Apa yang kulakukan, kelakuan yang bagaimana maksudnya? Lihatlah aku sudah bertaubat, aku sudah memperbaiki hidupku dan mengabdi hanya pada Aga, suamiku." Aya berusaha membela diri.
"Aish, mengabdikan diri hanya pada suami, lantas kenapa kamu mau diajak pergi sama pak Ruslan. Kamu tentu telah menggoda pria yang lebih pantas jadi ayahmu," tuduh ibu-ibu lain membuat Aminah tersenyum menang.
"Hei, jangan main tuduh begitu. Aku tahu persis apa yang terjadi," mama Alif tiba-tiba menyeruak di kerumunan orang itu. "Kalian ini macam tidak tahu saja siapa Aminah, jangan termakan hasutannya," ucap mama Alif dengan lantang dan tatapan penuh amarah pada Aminah.
"Aish, paling malas kalau perempuan bunting satu ini ikut campur. Apa yang kubilang ini fakta dan lihat, aku sendiri yang mengalami suamiku bersamanya. Mama Alif, apa kamu baru akan percaya jika giliran suamimu yang masuk perangkapnya? Ibu-ibu, apa kalian tidak takut suami kalian juga terperdaya oleh perempuan ini, hah? Apa yang kulakukan ini semata untuk menjaga suamiku dari pelacur ini, agar keutuhan rumah tanggaku tetap terjaga. Aku harap kalian mengerti maksudku dan satu-satunya cara adalah mengusir dia dari sini," hasut Aminah lagi.
"Benar! Dia harus pergi dari kampung kita secepatnya!"
"Iya, perempuan ini bagaikan virus yang akan menodai martabat kita saja. Cih, apa jadinya jika orang-orang pada tahu kalau kita membiarkan pelacur hidup bebas di lingkungan kita."
"Dan tentu saja, yang membelanya pastilah orang yang setuju dengan yang dia lakukan," ujar ibu-ibu saling bersahutan dengan nada tinggi akibat termakan perkataan Aminah, kompak.
Pak Ruslan tidak mengerti situasi ini. Ia sungguh tidak bisa berkata-kata lagi, jangankan melindungi Aya, membuat kata-katanya bisa dipercaya pun tidak.
"Mama Alif, ini bagaimana? Abah tidak bisa mikir lagi. Padahal abah hanya ingin menolong Aya dan membawanya ke tempat kalian," bisik pak Ruslan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, bah. Setidaknya kita harus menahan Aya hingga abah Alif dan Aga kembali," sahut mama Alif pada mertuanya.
Sejak awal Aminah kesal dengan Agastya yang mengacuhkannya, ia menjadi semakin tidak suka saat tahu kedatangan istri Agastya ke situ atas andil suaminya. Lalu informasi dari Latif yang mengatakan bahwa Aya adalah wanita bayaran di wisma Evergreen, seolah menjadi angin segar bagi Aminah. Aminah kira selera Agastya bagus, ternyata cuma wanita yang ... sudah sering dicelup-celupin sama banyak pria. Aih, sama aja kan dengannya? Agastya-nya saja yang sok suci.
Saat tahu Zain dan Agastya harus pergi mengurus sesuatu, Aminah seolah melihat kesempatan terbuka untuk mengusir Aya dan kalau perlu menyingkirkan pak Ruslan juga. Sekali tepuk, dapat 2 lalat. Aminah yakin, dengan pesonanya dia pasti mampu menggaet Agastya.
"Maaf, jika kalian terbukti menyaksikan Aya berbuat tidak senonoh bahkan berzinah, silakan saja kalian mengusirnya tapi ini bukan begitu kejadiannya. Kalian harus pikirkan baik-baik ... kenapa Latif menghampiri Aya disaat Aga tidak ada di rumah dan membuatnya berteriak. Aku datang ke pabrik untuk mengecek kualitas kayu, aku tidak sendirian mendengar teriakan Aya, ada karyawan mereka juga. Lalu saat aku ingin melindungi Aya dan menjauhkannya dari Latif, tiba-tiba Aminah datang dan menuduh yang bukan-bukan. Ini sangat kebetulan sekali," ujar pak Ruslan dengan suara pelan.
"Benar, kalau kalian ingat perkataan Aga ketika memberikan sambutan saat tasyakuran tempo hari, dia bilang ... kalau ada yang kurang pantas mereka mohon diberi petunjuk serta nasehat, agar mereka yang sebagai pendatang bisa hidup berdampingan, bertetangga dan menjalin kebersamaan bersama kita di sini. Bicarakan dulu baik-baik, bukannya malah main usir saja," sambung mama Alif membuat bungkam orang-orang yang ada di situ.
Aminah terbelalak, tidak menyangka suaminya tahu konsep yang sedang dimainkannya.
"Aku sangat menghargai niat baik kalian yang katanya ingin menjaga kemaslahatan lingkungan kita, tapi kusarankan agar sebaiknya tidak gegabah dalam memutuskan tindakan, jangan berdasarkan hasutan saja. Bukti harus kuat dulu," pak Ruslan mengeluarkan dompet dari saku-nya dan mengambil beberapa lembar uang. Saat beliau akan membagikan uangnya, kerumunan itu malah bubar tanpa permisi.
Pak Ruslan tersenyum kecil. "Aminah, kalau kamu sudah bosan jadi istriku, bilang saja. Jangan melibatkan orang yang tidak ada urusannya dengan kita apalagi sampai mengumbar aib seseorang. Aku bisa menceraikanmu saat ini juga, jika itu yang kamu inginkan," tegas pak Ruslan pada istrinya sambil berlalu.
"Sialan. Aku benar-benar harus menunggu waktu yang tepat untuk menyingkirkan 2 makhluk ini," gerutu Aminah dalam hati sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Ding aya, sebaiknya kamu di rumahku saja sampai suami kita pulang. Aku takut nanti ada yang mengganggumu setelah tahu kamu pernah bekerja di situ," ujar mama Alif sambil menggandeng Aya menuju rumahnya.
"Ah, aku hanya bisa merepotkanmu saja, kak," ujar Aya saat mereka tiba di rumah mama Alif.
"Minum dulu dan tenangkan dirimu, ding." Mama Alif menaruh segelas air di meja tamu.
"Kejadiannya begitu cepat dan tidak kumengerti, kak. Ya ampun, aku sungguh menyesal kenapa bisa jadi perempuan yang seperti itu dulu dan menjadi stigma ..."
"Sabar ding, anggap saja ini bagian dari proses pemurnianmu sebagai pribadi yang berjalan menuju taubat. Kamu harus kuat hati dan terus dekatkan dirimu pada Allah. Jangan fikirkan pandangan dan perkataan orang lain, fokus mohon tuntunan Allah saja. Abaikan hal-hal yang akan melemahkan niatmu."
"Hm, setelah ini akan jauh lebih sulit bagiku, kak. Bahkan keluar rumah saja ... bayangkan kak, sekarang orang-orang jadi tahu kalau aku ini dulu pelacur. Apa kakak tidak malu berteman denganku?"
"Haha, malu gimana? Yang penting sekarang kamu sudah bukan pelacur lagi. Ding, aku malah bangga jika karena kita berteman, kamu bisa menemukan hidayahmu. Kita bisa saling dukung mendapatkan ridho-Nya. Jangan kecil hati, orang-orang yang tadi ingin mengusirmu pun hidupnya belum tentu lebih baik darimu. Ada saja yang tampaknya religius tapi busuk," kata mama Alif tanpa menyebutkan nama orang yang dia maksud.
"Ah, tapi aku ... karena apa yang dikatakan bu Aminah mengenai masa laluku adalah suatu kebenaran."
Mama Alif tersenyum. "Lalu rencanamu apa, ding? Mengubah masa lalu? Haha. Dengar, ketika seseorang menemukan jalan yang benar, selalu saja ada sesuatu yang membuat seseorang itu merasa tidak patut lalu goyah dan kembali ke jalan yang sebelumnya. Ingat ding, fokus pada tujuanmu dan abaikan omongan yang tidak perlu," support mama Alif pada Aya.
__ADS_1