
Beberapa minggu berlalu, Aya lebih menutup diri sejak 'insiden' ia dituduh Aminah telah menggoda pak Ruslan dan terbongkarnya statusnya yang pernah menjadi wanita penghibur di di wisma evergreen. Bisa dibilang, Aya hampir tidak pernah keluar rumah meskipun hanya untuk mengurus tanaman yang tumbuh di pekarangan rumahnya. Bahkan untuk keperluan belanja kebutuhan dapur, Agastya-lah pergi ke pasar.
Bagi Agastya tidak masalah, asalkan Aya nyaman dan berharap istri tercintanya itu bisa berdamai dengan keadaan dan situasi menjadi normal kembali. Sementara Aya, mengikuti saran Zain dan istri untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Khalik sehingga Agastya sengaja mendatangkan ustadzah untuk membimbing Aya mendalami ilmu agama dan menyempurnakan ibadahnya.
Sebagai imam, Agastya sadar kalau ia pun memiliki banyak keterbatasan dalam menuntun istrinya, sehingga ia memerlukan orang lain yang lebih mengerti untuk membantu Aya ke jalan yang benar, sebab keyakinan yang sekarang, baru dianut oleh istrinya saat mereka akan menikah dulu.
"Sayang, tadi aku membelikanmu ini," kata Agastya sambil memberikan bungkusan pada Aya.
"Apa ini, mas?"
"Buka saja," jawab Agastya sambil tersenyum.
"Mas, kamu ingin aku mengenakan ini?" Aya membuka bungkusan dan membentangkan beberapa potong pakaian itu dihadapan mereka.
"Iya, tapi aku tidak memaksa. Se-siap-mu saja, sayang."
"Terima kasih, mas." Aya pun mencoba mengenakan pakaian longgar yang menutupi auratnya dari kepala hingga kaki. "Ta-tapi, aku rasa ... ah, apa aku pantas mengenakan ini, mas?"
"Hm, hanya menganjurkan saja, sayang. Se-siap-mu saja, bukan paksaan tapi akan lebih baik jika kamu mulai belajar berpakaian seperti itu terutama jika akan keluar rumah."
"Ah, aku takutnya dibilang sok menutup-nutupi kalay aku ..."
"Sudahlah sayang, ingat kata mama Alif ... jangan biarkan tujuanmu goyah karena terlalu memikirkan bagaimana pendapat dan pandangan orang lain. Istriku, apa pun jika memang diniatkan, mas yakin kamu akan pantas dan pasti menemukan ketenangan saat mengenakan pakaian yang sesuai syariat. Kamu tahu kalau sebenarnya seorang muslimah wajib menutup auratnya dan aku sebagai suami bakal dilempar ke api neraka jika membiarkanmu tidak menutup aurat," Agastya memberi pengertian pada Aya.
"Hm, baiklah mas. Aku tidak mau mas jadi disiksa hanya karena aku tidak mentaatimu, aku akan berusaha memenuhi kemauanmu," Aya pun memeluk suaminya.
"Hei, ini bukan saja kemauanku tapi memang sudah menjadi kewajibanmu, istriku. Pelan-pelan saja, kamu pasti bisa dan akan terbiasa," Agastya membelai lembut punggung Aya.
"Iya, mas."
"Ngomong-ngomong, kamu masih berhalangan, ya?"
"Iya, mas. Halanganku kali ini tidak seperti biasanya, datang lebih cepat dari yang seharusnya tapi tidak banyak, hanya berupa bercak. Maaf, aku jadi ragu saat akan melayanimu mas, takut haram."
__ADS_1
"Ya kalau ragu tidak apa-apa, sayang. Aku malah khawatir bercak itu pertanda ada yang tidak beres dengan kesehatanmu."
"Em, memang badanku terasa tidak enak akhir-akhir ini. Kepalaku sering pusing dan perutku terkadang kram," adu Aya.
"Kita harus secepatnya memeriksa keadaanmu ini ke dokter, sayang. Mas takut sesuatu yang serius terjadi sama kamu."
"Nanti saja, mas. Sejauh ini aku masih merasa baik-baik saja, kok."
"Hm, baiklah tapi kalau bercaknya masih keluar sampai besok kita periksa ya , sayang."
"Mas, tolong temuin mama Alif minta dia panggilin tukang pijat langganannya saja. Badanku rasanya remuk banget gini."
"Baiklah kalau begitu, tapi kalau bercaknya masih keluar, kita tetap harus ke dokter lho, ya."
"Iya mas Aga, sayang," jawab Aya.
***
"Kamu sakit, ding?" Tanya mama Alif yang menemani Aya di rumah.
"Gak juga, cuma badanku mudah lelah, kak. Padahal aku tidak bekerja berat. Ke pasar saja mas Aga, aku cuma ngurus rumah, masak sama bersih-bersih saja."
"Hm, mual-mual, tidak?"
"Tidak, hanya malas makan."
"Oh, kalau siklus haid-mu, gimana? Telat gak?" Cecar mama Alif lagi.
"Tidak ini malah datangnya lebih cepat dari biasanya tapi gak deras cuma bercak-bercak coklat."
"Berapa lama?"
"2 hari-an ini."
__ADS_1
"Kalau begitu ... cil, nanti perut adingku di raba aja ya, jangan di pijat takut ada 'isi'nya," kata mama Alif pada acil Saadah.
"Inggih, bu," sahut acil Saadah.
Mendengar perkataan mama Alif, Aya malah terkekeh, "Kakak ini ... jelas saja perutku ada isinya, kan aku biar pun malas makan, perutku tidak kubiarkan kosong."
"Memang seharusnya begitu, ding. Rasa tidak selera makan itu harus dilawan dan usahakan tetap terisi makanan sebab siapa tahu saat ini kamu sedang 'isi'," ujar mama Alif lagi.
"Iyalah isi, kan aku makan, kak."
"Ck, bukan isi yang itu tapi bakal bayi, maksudku, ding."
"Hah, memang bisa? Kan sekarang aku sedang datang bulan."
"Bisa saja. Waktu hamil Amar aku mirip kami juga gejalanya, ding. Tapi memang telat beberapa hari tapi giliran haid yang keluar cuma bercak coklat 3 hari terus pas bulan berikutnya aku gak ada haid lagi, langsung periksa ke bidan, ternyata benar lagi hamil sekitar 3 bulan."
"Ini aku tidak telat haid, kak. Malah datang lebih cepat apa mungkin hamil?" selidik Aya yang dalam hatinya sangat bahagia jika ada kemungkinan saat ini sudah mengandung benih suaminya.
"Tolong berbalik, bu. Saya mau urut bagian depan," ucap acil Saadah pada Aya.
Aya pun langsung membalikkan badannya, yang semula telungkup menjadi telentang.
"Mungkin itu bukan haid, ding. Gimana hasil pemeriksaan sementaramu, cil? Tanya mama Alif pada tukang pijat yang sedang mengurut pelan perut Aya.
"Em ... benar, bercak itu sepertinya bukan haid, mama Alif. Kemungkinan ibu Aya ini memang hamil, tapi masih sangat kecil. Saya tidak berani memastikan tapi kalau bercaknya berhenti dan haidnya tidak datang-datang lagi, pasti hamil ini," jawab tukang pijat.
"Benarkah, cil?" Aya bahagia mendengar penjelasan acil Saadah, meski pun kesannya masih belum pasti tapi setidaknya ada harapan.
"Alhamdulilah, ding. Doa kita diijabah. Nah, mulai sekarang kamu harus hati-hati. Jangan beraktivitas sampai kelelahan, makannya di jaga terus kalau bawaannya pengen tiduran, ikutin aja. Sama satu lagi, karena ini masih belum pasti, sementara kalau Aga minta hak-nya jangan dulu dikasih. Soalnya ini, kalau benar sudah isi, kasihan karena masih terlalu muda menghadapi goncangan dari abahnya," kata mama Alif setengah bercanda.
"Iiih, kakak ini, lho. Hm, tapi masukannya boleh juga, kak. Lagi pula badanku rasanya gak enak gini, mana semangat buat gituan, hihi. Eh, tapi jangan bilang-bilang sama mas Aga dulu ya, kak. Kalau memang sudah pasti baru aku kasih tahu. Aku gak mau melihat mas Aga kecewa kalau yang ini ternyata gak jadi."
"Beres, ding. Tenang saja, nanti kita buat kejutan untuk si calon ayah," kata mama Alif.
__ADS_1