
"Hai Zain, Aga ... apa kabar kalian?" Sapa Latif yang kapalnya baru saja merapat di dermaga, mengunjungi kediaman Zain, bos-nya.
"Eh, bang Latif. Alhamdulillah, kabar baik. Sudah selesaikah pesanan Haji Idrus Pasar Lama?"
"Sudah Zain, barusan kami antar dan langsung dilunasi. Maaf lama, karena kayu-nya sempat diborong saat di perjalanan. Jadi kami terpaksa masuk hutan lagi, mana tidak ada Aga, tenaga jadi berkurang, hehe."
"Hm, sebaiknya jangan begitu lagi ya, bang. Kasihan calon pemesan jadinya lama menunggu, kalau keseringan bisa saja kita kehilangan pelanggan. Calon pembeli baru, tolong suruh antri dulu. Apalagi Haji Idrus, pelanggan setia kita," tegur Zain.
"Iya. Sekali lagi maaf ya, Zain. Ngomong-ngomong, Aga ... kamu tempo hari kuantar balik ke kota A jadi ketemu perempuan yang kamu curigai istrimu itu? Aku nungguin kamu menyusul ke kapal tapi tidak datang-datang, malah sudah kembali ke Banjar Masin," kini netra Latif beralih pada Agastya.
"I-iya, bang. Maaf, ada sesatu jadi kuputuskan langsung balik sini."
"Oh. Jadi apa benar, ladies top itu istrimu?" Tanya Latif seolah mengolok.
Seketika Agastya merasa hatinya mengecil, sungguh ia tidak mempermasalahkan masa lalu Aya, tapi bagaimana ia menghadapi stigma masyarakat terhadap perempuan penyintas perbudakan ****, termasuk yang seperti Latif ini?
Lagaknya menghakimi seolah dia maha benar dan anti bersentuhan dengan hal-hal maksiat, padahal ketika kesempatan tidak segan mencicipi daun muda bahkan rela membayar mahal. Entahlah, kenapa bisa ada lelaki jenis bang Latif ini. Sudah punya 2 istri cantik bak bidadari surga yang siap melayani kebutuhannya bergantian. Masih pula mencari kehangatan di luaran, ini adalah salah satu alasan mengapa prostitusi tidak pernah bisa dihapuskan di muka bumi, sebab jika pekerja sekks (dalam hal ini perempuan) dianalogikan sebagai bahan konsumsi, maka sudah sepantasnyalah perempuan memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggannya.
Lalu kenapa hanya wanita-nya saja yang di cap nakal, pengguna jasa yang sampai melupakan tanggung jawab terhadap anak istri, yang kadang secara tidak sengaja menularkan penyakit untuk istri soleha-nya di rumah, kenapa tidak ada yang memandangnya rendah?
Sama seperti bang Latif ini, entah kenapa Aga muak melihat kesinisan dan kesan merendahkan yang ditunjukkannya, ditambah lagi fikiran Agastya terlintas bagaimana lelaki berpenampilan rapi dan tampak ber-adab ini saat menggauli Aya saat menjadi wanita malam.
Jujur saja, jika bisa pun Agastya ingin menikahi wanita 'baik-baik' dan tidak bermasalah. Agastya, sama seperti pemuda pada umumnya, ingin gadis perawan yang hanya tersentuh pertama kali olehnya setelah resmi diperistri. Tapi Aya? Ah, tentu Agastya tidak bisa menyalahkan hatinya yang berhenti dan tertambat pada Aya, sebab awal pertemuannya dengan Aya justru karena perempuan itu sedang menjadi gundik tuan Katsuro dan jelas tuan Takeshi menebusnya di ianjo, atau yang biasa disebut rumah bordil. Ya, dalam hal ini Agastya hanya bisa menguatkan hatinya atas masa lalu istrinya itu.
"Ck, pagi-pagi sudah ngelamun. Aga, aku nanya gimana perempuan itu, istrimu apa bukan atau hanya sekedar mirip saja?" Cecar Latif penasaran.
"Ma-maaf, bang. Iya, ternyata perempuan yang kamu maksud itu adalah benar istriku. Aku, dibantu pak Ruslan dan Zain berhasil membawanya kembali."
__ADS_1
"Ga ..." Zain semula berniat menghalangi Agatya mengatakn yang sebenarnya tapi ia fikir lagi, percuma juga apalagi awal Agastya tahu istrinya ada di wisma itu pun karena Latif juga.
"Apa? Arrabella itu benar-benar istrimu, Ga?"
Agastya mengangguk lesu, berbanding terbalik dengan Latif yang antusias.
"Jadi boleh dong kapan-kapan aku-"
"Heh, bang Latif ingat, ya. Kamu boleh meniduri perempuan itu sesukamu saat dia masih di wisma evergreen, tapi sekarang ceritanya sudah berbeda, bang. Aya adalah istri teman kita sendiri, tidak boleh diganggu. Hormati Aga sebagai suaminya, dong."
"Halah, Aga bisa apa, sih ... kalau ternyata istrinya tidak keberatan meladeniku. Aku bersedia membayar mahal kok."
"Bang tolong, jangan kurang ajar, ya. Aya sampai bisa menjadi perempuan wisma itu awalnya karena dijebak oleh Irene dan Arata," sergah Zain. Aga hanya diam saja, tidak tahu harus bertindak apa. Inilah resiko yang turut ditanggungnya, menikahi perempuan yang nota bene-nya adalah mantan pelacur.
"Haha, kamu ini lucu, Zain. Aku tidak peduli, awalnya dijebak atau tidak, maunya sendiri atau tidak jadi wanita penghibur, tetap saja tidak bisa menghapus kenyataan kalau ... Arrabella adalah perempuan liar yang sangat mampu memuaskanku hassratku. Kalau kamu tidak percaya, cobalah Zain. Mama Zain yang sedang hamil itu tentu goyangannya di ranjang tidak se-hot Arrabella. Noni Belanda bertubuh langsing, dengan buah dada dan bokong yang padat, belum lagi liangnya yang legit, sempit dan menggigit itu. Wah ..."
Agastya pun melayangkan bogem mentahnya pada bang Latif yang selama ini ia hormati.
"Hei, kamu ini kenapa? Aku hanya berkata apa adanya, jangan emosional begitu, dong," protes Latif yang enggan membalas serangan Agastya.
"Sabar, Ga. Istighfar," Zain berusaha menenangkan Agastya, ia menarik tubuh sahabatnya itu dan menyuruhnya duduk kembali.
"Bang Latif, maaf. Fikirkan jika Aya posisinya sebagai istri atau pun saudara perempuanmu, bang. Apa abang ikhlas membiarkannya dipermainkan lelaki?" Zain memberi pengertian pada Latif.
"Iya kan, aku bilang tadi kalau perempuannya juga mau, harusnya tidak masalah, dong. Bahkan jika diseriusi, istrinya yang cantik itu bisa menolong perekonomian Agastya. Sama-sama untung, kok. Aku puas, istrinya kubayar lalu kukembalikan lagi dan Aga bisa memakai lagi istrinya. Sederhana, bukan?" sambut Latif angkuh membuat emosi Agastya kembali terpancing.
"Aga, diam ditempatmu!" Cegah Zain dengan sedikit membentak.
__ADS_1
"Bang, tolonglah ... walaupun aku baru mengenal Aya, aku tahu kalau dia adalah wanita baik-baik."
"Baik-baik apanya? Jelas-jelas dia wanita bayaran begitu, Zain. Kamu bisa ngomong gitu karena belum pernah mencicipi betapa nikmatnya apem merekah milik Arrabella saja, haha."
"Ada apa ini, kok ramai sekali?" Ujar Aminah yang tiba-tiba sudah berada di bengkel kerja Zain.
"Eh, ibu Aminah. Lama tidak bertemu," sapa Latif ramah pada istri ke tiga pak Ruslan itu.
"Mau apa kamu kemari, Aminah?" Tanya Zain.
"Abahmu bilang semalam istri Agastya datang, jasi aku ingin berkenalan," sahut Aminah lembut.
"Oh, istri Aga sedang berbelanja dengan mama Alif. Datang saja lain kali, kamu pulang saja. Urus suamimu sana!" Usir Zain.
"Ck, abahmu sudah pergi ke perkebunan pagi-pagi sekali, aku kesepian di rumah," ucap Aminah dengan lirikan manja pada Latif.
"Haji Ruslan tidak ada di rumah, bu?"
"Iya."
"Wah, mau ada atau tidak ada suami sebaiknya ibu jangan keluyuran. Siapa tahu asa tamu penting," kata Latif sambil mengedipkan sebelah matanya sekilas.
"Hm, baiklah. Aku pulang dulu," pamit Aminah yang bergegas meninggalkan kediaman Zain.
"Oh iya, keperluanku kemari adalah untuk mengantar setoran, hasil penjualan kayu, Zain. Juga upah Aga," ujarnya seraya menaruh uang di atas meja.
"Baiklah, aku terima ya, bang," sahut Zain seraya memberikan uang bagian Agastya.
__ADS_1
"Nah ... beres, ya Zain, Ga. Aku permisi dulu, ada perlu soalnya jadi tidak bisa berlama-lama di sini." Setelah berkata begitu, Latif pun pergi.