
"Nah, kita sudah sampai. Ayo naik," kata Agastya yang lebih dulu berdiri dan melompat ke dermaga kayu, lalu mengulurkan tangannya agar mempermudah Aya berpindah ke pelabuhan kecil itu.
"Abah, ikut pulang ke rumahku saja dulu, ya. Kita magriban, trs makan malam bersama," ajak Zain pada ayahnya.
"Baiklah," jawab pak Ruslan. Mereka berempat pun berjalan menuju kediaman Zain yang tidak jauh dari tepian sungai.
***
"Assalamuaikum," Zain mengucapkan salam saat berada di teras rumahnya.
"Yei ... abah pulang, abah pulang," sambut Alif dan Amar berlari menyongsong Zain.
"Eh, jawab dulu salam abah, nak."
"Waalikumsalam," ujar kedua lelaki kecil itu kompak. "Wah ada kai (bahasa Banjar : kakek) juga," dua anak itu menyalami dan mencium tangan abah dan kai-nya bergantian.
"Paman Aga ... ini siapa?" Tanya Alif saat melihat seorang wanita yang bersisian dengan Agastya.
"Oh ini acil (bahasa Banjar : tante, bibi) Aya, nak," jawab Aga sambil tersenyum saat Alif juga menyalimi tangannya.
"Hai acil Aya, salam kenal ulun (bahasa Banjar : saya) Alif dan ini ading ulun (bahasa Banjar : adik saya) Amar," Alif memperkenalkan diri.
Aya tersenyum, hatinya menghangat saat dua bocah lelaki itu bergantian menjabat dan menciumi tangannya dengan takzim.
"Waalaikumsalam," istri Zain tergopoh berjalan menyambut tamunya dan menyalimi mereka satu per satu.
"Hai, istrinya Aga ya? Aku mama Alif," ujarnya memperkenalkan diri.
"Iya, saya Aya, kak," sahut Aya.
"Cantik pantas, Aga rela menunggu sekian lama. Mari masuk," dengan ramah mama Alif mempersilakan tamunya.
"Anggap saja di rumah sendiri, Aya," kata Zain.
"Silakan istirahat dulu sambil bergantian membersihkan diri, ding Aya."
"Iya, kak."
"Eh, mana barang-barangmu?" Tanya mama Alif heran saat nelihat Aya hanya membawa bungkusan kecil.
"Ehm, tidak ada kak. Hanya ini," Aya memperlihatkan bungkusan itu pada mama Alif.
__ADS_1
"Oh, sini ikut aku," mama Alif menarik tangan Aya.
"Nah, ini kamar tempat Aga kalau menginap di rumah kami," mama Alif membukakan pintu kamar itu dan membiarkan Aya masuk.
"Kamu pasti sudah gerah dan ingin mandi, sebentar aku ambilkan sesuatu untukmu," ujarnya sebelum meninggalkan Aya.
"Kamu gak bersih-bersih badan, sayang?" Aga masuk ke kamar, melihat istrinya yang duduk di dipan.
"Sebentar mas, aku nunggu mama Alif mengambil sesuatu untukku."
"Oh. Em, kamu tidak bawa baju ganti?"
"Bawa, ini," Aya mengeluarkan pakaiannya dari bungkusan.
"Lho ini, kan baju yang kamu pakai saat berangkat kuliah dulu, mana baju-bajumu yang lain, sayang?"
"Aku tinggalin di wisma, mas. Sengaja tidak kubawa biar-"
"Ah, aku mengerti. Aku setuju dengan pemikiranmu. Besok minta tolong sama mama Alif membelikan keperluanmu di pasar," tukas Agastya.
"Maaf menganggu," mama Alif berdiri di depan pintu kamar.
"Masuk saja mama Alif. Aku mau mandi sekalian wudhu," ujar Agastya sambil melangkah keluar.
"Tidak apa-apa, kak. Maaf sudah merepotkan."
"Ah, ya tidak merepotkan. Malah aku senang kamu berkenan menumpang di rumah sederhana kami ini."
Aya membuka satu persatu tumpukan kain yang dibawa mama Alif untuknya, ada handuk, daster berlengan panjang, mukena, tapih (sejenis sarung, khusus untuk wanita) dan pakaian dalam yang masih baru sebab merk-nya belum di lepas.
"Wah, terima kasih sekali, kak. Ini lengkap sekali."
"Iya, sama-sama. Untungnya ukuran badan kita tidak berbeda jauh, hanya badanmu lebih tinggi, jadi bisa muat. Oh iya, ini semua untukmu. Jangan dikembalikan," ucap mama Alif.
"Benarkah?"
"Iya, sebagai salam perkenalan, hehe."
"Baiklah kak, sekali lagi terima kasih banyak. Em, besok kakak bisa mengantarku ke pasar untuk membeli perlengkapanku?"
"Tentu saja ding, dengan senang hati. Aku tinggal dulu ya, kamu silakan bersih-bersih."
__ADS_1
***
"Yah," gumam Aya saat sudah berada di kamar mandi dan melihat bercak merah di kain segi tiga, penutup bagian bawahnya.
"Kakak maaf, em ... apa kakak punya kain atau handuk kecil?" Aya menghampiri mama Alif yang tengah meracik makan malam mereka.
"Hm ... untuk apa, ding?"
"Eh itu, anu kak ... aku datang bulan," ungkap Aya malu.
"Oh, lagi halangan? Sebentar ya, aku carikan kain baru untukmu." Wanita hamil itu bergerak gesit masuk ke kamarnya.
Aya pun menunggu sambil nelanjutkan pekerjaan mama Alif tadi.
"Eeh, tamu kok malah masak?" Tegur mama Alif.
"Tidak apa kak, kalau gak ngapa-ngapain aku-nya malah jadi gak enak."
"Aish, santai saja. Oh iya, ini syukurnya aku punya beberapa handuk kecil yang bisa kamu jadikan pembalut, lekaslah dipasang."
Aya mengangguk, "Terima kasih, kak. Kakak silakan kalau mau maghrib-an, nanti ini biar aku bereskan."
"Baiklah, ding. Aku tinggal dulu, ya."
Usai menunaikan sholat, keluarga Zain yang biasanya hanya terdiri 4 orang itu kini terasa lebih ramai atas keberadaan pak Ruslan, Aga dan Aya. Mereka duduk melingkar di atas tikar purun yang di gelar Zain. Aga dan Aya membantu mama Alif membawa piring, air minum nasi dan beberapa lauk dan menaruhnya si tengah-tengah tikar.
"Kalau Aga sudah biasa, mungkin ding Aya sedikit asing dengan menu kita malam ini. Nah silakan dicoba, selamat menikmati," ujar mama alif setelah mereka berdoa.
"Em ... kalau ikan saluang goreng dan sambal acan (terasi), aku sudah sering memakannya, kak. Tapi kedua menu ini belum pernah," kata Aya sambil menyendokkan lauk itu ke piringnya.
"Oh, kalau yang berkuah santan ini namanya gangan humbut. Humbut ini berasal dari tunas pohon kelapa dan yang satu ini namanya oseng mandai," mama Alif menyendokkan lauk itu ke piringnya.
"Mandai, ini sayur apa, kak?" Aya keheranan melihat menu yang asing baginya.
"Kulit cempedak, ding."
"Oh, yang sejenis nangka itu, ya. Ternyata bisa dijadiin lauk," gumam Aya lalu mencicipi menu baru itu. "Hm, enak kak, gurih-gurih gitu."
Makan bersama keluarga seperti membuat Aya teringat saat dulu masih berkumpul bersama keluarganya di Magelang. Menu-nya memang berbeda, tapi suasananya ... ah, sudah lama sekali Aya tidak merasakan kebersamaan yang hangat seperti ini. Jadi pingin merasakan lagi masakan maminya yang tidak ada saingannya itu. Tapi ah, tidak cuma mami-nya, kini Aya juga rindu dengan papi Adolf Vooren, kak Clay, Gerry dan si bungsu Aldert. 'Ya Allah entah di mana mereka sekarang?' Jaga dan lindungi keluargaku ya Allah,' Batin Aya.
"Sayang, kalau makan jangan sambil ngelamun," Agastya menyikut Aya.
__ADS_1
"Eh ... ma-maaf, mas. Suasana makan seperti ini, aku jadi teringat saat masih tinggal di Magelang," Aya menghentikan suapannya dan menghapus air mata di pipinya.
"Jangan khawatir jika Allah berkehendak, nanti kalian akan bertemu, tapi seandainya jika tidak ... bersyukurlah sekarang kamu punya kami, sebagai keluarga barumu," hibur pak Ruslan.