Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Kami Menyesal


__ADS_3

Maaf mengganggumu malam-malam begini Irene, tapi pimpinanku membutuhkan Arrabella sekarang," kata Ryujo mewakili Takeshi yang menunggu di mobil.


"Tidak bisa tuan Ryujo, kesepakatannya besok pagi. Lagi pula, sudah ada tamu yang bersedia membayar mahal Arrabella malam ini."


"Aku akan mengganti uang lelaki itu, cepat suruh Arrabella bersiap, kalau tidak ... aku tidak menjamin keamanan ianjo malam ini akibat kemarahan tuan Takeshi," ancam Ryujo mengada-ada.


"Ah, baiklah, baiklah ... mohon tunggu sebentar tuan," sahut Irene panik. Irene yang tidak mau bermasalah dengan tuan dingin atasan Ryujo itu bergegas menuju kamar nomor 8.


"Arrabella, tuan Takeshi menginginkanmu malam ini, cepatlah bersiap," titahnya pada Aya.


"Apa tuan Takeshi sudah membawa uang tebusan?" tanya Aya sambil memasukan beberapa barangnya ke dalam tas.


"Iya."


"Bukankah mami bilang, aku harus berpamitan dengan teman-temanku dulu?"


"Ah, itu tidak penting. Nanti biar aku yang menyampaikan. Lagi pula mereka justru akan senang kamu pergi karena para pria langganan yang sempat beralih karena memujamu akan kembali ke pelukan mereka."


Hanya perlu 5 menit, Aya sudah siap mengikuti Irene menemui seseorang di ruang tamu.


"Tu-tuan?" Aya tercekat saat melihat sosok kedua kali ini ditemuinya.


"Iya, ini tuan Ryujo. Lelaki yang waktu itu membelimu untuk Isao," terang Irene.


"Bu-bukannya tuan Takeshi yang ..."


"Hm, Arrabella ... jangan takut, kali ini aku bersungguh-sungguh membawamu untuk pimpinanku. Maaf atas apa yang kulakukan tempo hari, itu semua demi memuluskan rencanaku. Ah, nanti kita bahas di mobil. Ayo, tuan Takeshi sudah menunggumu.


Aya hanya mengangguk lemah, berdoa agar kejadian tempo hari tidak terulang lagi.


"Irene, ini 500.000 gulden titipan tuan Takeshi," ujar Ryujo memberikan amplop pada Irene.


"Baik. Sampaikan terima kasihku pada tuan Takeshi," Irene menyambut amplop tebal itu dengan gembira.

__ADS_1


"Ingat, begitu kau menerima uang ini maka Arrabella sudah tidak ada kaitannya lagi dengan kamu dan ianjo. Kamu paham, kan?"


"Ah, i-iya."


***


"Arrabella, aku sungguh-sungguh minta maaf atas kejadian tempo hari. Tidak seharusnya aku turut dalam rencana Isao yang ingin membalaskan dendamnya," kata Ryujo saat mereka berjalan menuju mobil.


Aya masih diam, mencoba mencerna maksud perkataan Ryujo.


"Silakan," Ryujo membukakan pintu mobil bagian tengah untuk Aya.


"Selamat malam, Sora," sapa Takeshi sambil menoleh ke belakang.


"Malam, tuan," balas Aya tersenyum sambil memperhatikan tuan barunya itu. Mengingat mami Irene yang tadi mengatakan tuan Takeshi sangat memginginkannya malam ini ... sungguh, Aya tidak menangkap sedikitpun kesan mesum ataupun genit diwajah lelaki yang terbingkai senyum manis itu.


"Maaf harus menjemputmu larut malam seperti ini, seolah ada hal yang darurat sehingga aku harus lebih awal ke ianjo. Himawari terbangun, menangis, mengamuk, mencarimu. Bahkan dia tidak mau tidur lagi karena katanya gara-gara dia tidur, kamu jadi pergi."


"Jadi, apa Hani tuan tinggal dalam keadaan masih menangis? Siapa yang menjaganya?" tanya Aya dengan nada khawatir.


"Tidak, dia berhenti menangis saat kami bilang akan segera menjemputmu, dia bersama Monic istri Ryujo di tangsi, jadi aman," sahut Takeshi.


"Monic? Nyo-nyonya Monic?" Aya heran.


"Iya, Monic-nya Ryujo," jawab Takeshi.


"Ah, biar aku jelaskan pada gadis ini, tuan," kata Ryujo seolah meminta izin. "Jadi begini Arrabella, itulah sebabnya aku meminta maaf padamu ... seharusnya dulu itu aku yang membeli sekaligus menebus Monic, karena aku ingin meresmikan hubungan kami terlebih dahulu, namun Isao curang dan membuatku aku kalah cepat darinya. Rupanya aku dan Monic sama-sama punya rasa sehingga kami diam-diam menjalin hubungan rahasia. Singkatnya, setelah aku melengkapi dokumen yang harus dilengkapi sebagai syarat pernikahan, baru aku membawanya pergi. Sekali lagi maafkan aku juga Monic, Arrabella, secara tidak langsung kamilah yang membuatmu menjadi jugun ianfu. Disaat kamu bersama Isao, aku mengajak Monic keluar dari rumah itu. Sampai sekarang Isao mungkin belum tahu kalau wanitanya kabur denganku, haha."


Arrabella tampak membuang napas, tidak tahu harus ngomong apa.


"Sebenarnya aku dan Monic memang berniat membawamu keluar dari ianjo sebagai bentuk penyesalan dan permintaan maaf kami. Kami pikir, walaupun luka yang kami buat tidak akan bisa sembuh, tapi setidaknya dengan mengajakmu bersama kami, meskipun hanya dijadikan pengasuh anak tuan Takeshi, bisa mengurangi beban kami. Menurut kami jadi pengasuh lebih baik dari pada kamu harus melayani para lelaki yang menginginkanmu di ianjo."


"Hm, apakah tugasku murni hanya sebagai pengasuh?" tanya Arrabella ragu.

__ADS_1


"Maksudmu, apakah setelah selesai kamu mengurusi Himawari, kamu juga akan mengurusi tuan Takeshi juga?" tanya Ryujo sambil melirik jenaka ke arah tuannya.


Takeshi tampak salah tingkah. Membuat Ryujo menilai ... walaupun baru beberapa saat bertemu, tuannya itu menaruh hati pada Arrabella.


"Ah, tidak Arrabella. Kamu hanya mengurusi Himawari saja, urusan lain-lain ... ah, jika maksudmu adalah hubungan semacam yang kau lakukan pria lain, yah seperti dengan Katsuro, misalnya ... itu tidak akan terjadi ke-kecuali, kita saling jatuh cinta lalu menikah," jawab Takeshi sedikit berbelit namun mampu membuat Aya lega.


"Ya Tuhan, terima kasih. Semoga tuan Takeshi ini tidak membohongiku," rapal Aya dalam hati.


Monic gelisah menunggu kedatangan Aya, sama tidak sabarnya dengan Himawari yang berulang kali menanyakan kapan Sora-nya akan tiba.


Himawari melonjak saat mendengar handle pintu berbunyi 'ceklek'.


"Sora! Kenapa kamu meninggalkanku? Aku merindukanmu," sambut Himawari sambil memeluk lutut Aya.


"Hei Hani, yang penting aku sudah di sini untukmu sekarang," sahut Aya sambil meraih tubuh mungil itu dalam pelukannya.


"Mulai hari ini, kamu jangan pergi lagi ya, Sora. Aku akan menangis jika kamu tak ada," kata gadis kecil itu lagi.


Tidak lama kemudian, Himawari terlelap dalam dekaoan Aya, dengan posisi yang persis anak Koala yang memeluk ibunya.


"Arrabella, maafkan aku," ucap tulus Monic sambil bersimpuh di hadapan Aya.


"Nyonya, tolong jangan begitu."


"Tapi akulah yang menjebakmu sehingga menjadi jugun ianfu," Monic mengemukakan alasannya.


"Tidak, itu tidak sepenuhnya kesalahan nyonya. Semua sudah digariskan untukku, mungkin memang sudah menjadi bagian dari rancangan-Nya untukku," sahut Aya, bijak.


Tiba-tiba Ryujo pun mengambil posisi bersimpuh disamping Monic, istrinya. "Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami menyesal, Arrabella," imbuh Ryijo.


"Sudahlah, tuan ... nyonya, yang sekarang, aku sudah terbebas dari ianjo. Itu berkat tuan Takeshi dan kalian juga."


***

__ADS_1


"Jika kemudian Aya ditebus oleh tuan Takeshi, apakah berarti ... ayahku adalah pria itu?" Gumam Mangata sambil berkaca. "Tapi kok gak ada unsur Jepangnya sama sekali di wajahku, yang ada malah unsur Belanda-nya," ujar Mangata lagi, ia mengusap rambutnya yang sedikit kecoklatan sambil menatap bola matanya yang berwarna hazelnut seperti Geetruida. "Hm apa karena gen mami lebih kuat dari tuan Takeshi?" Mangata menutup novel Arrabella, dan bersiap tidur. Besok lagi dia akan membuka bab baru kisah yang semakin membuatnya penasaran mengenai siapa ayah kandungnya.


__ADS_2