
Setelah menyelesaikan misi-nya dan berlayar lebih dari 2 bulan, kapal Takeshi merapat pun di dermaga, dimana Himawari dan yang lainnya menetap sementara.
Bagi para penumpang kapal yang memiliki insan terkasih tempat melabuhkan kerinduan, tentu kondisi ini amat dinantikan. Berbeda bagi anggota lain yang single, peraturan Takeshi sungguh seperti hukuman sebab kapal itu merapat di pelabuhan yang kotanya tidak terdapat ianjo di situ.
Duh, tidak tahukah sang pemimpin bahwa mereka butuh hiburan jiwa dan raga sebagai penawar penat? Mereka tidak habis fikir, kenapa tuan Takeshi membuat aturan se-aneh itu, dikira kebutuhan yang satu itu akan terpenuhi begitu saja? Memang, main solo juga bisa tapi efeknya tidak selega jika dilakukan dengan objek hidup yang dapat memuaskan fantasi liar mereka.
"Hei, gadis yang tuan Takeshi tebus dari ianjo itu ... hanya dijadikan pengasuh Himawari saja, kan?" tanya seorang tentara pada temannya.
"Mungkin, tapi mana kita tahu kalau noni Belanda itu juga memenuhi kebutuhan pribadi tuan Takeshi di tempat tidur," sahut tentara 2.
"Ah dari pada penasaran, kenapa tidak mencoba peruntungan saja?" Tentara 3 mengajukan pendapatnya.
"Maksudmu?" Tentara 1 penasaran.
"Coba goda sedikit, kalau gadis itu menanggapi maka akan mudah bagi kita membawanya ke tempat tidur dan menggilirnya," ujar tentara 3 lagi.
"Jangan gila, kamu lupa peringatan tuan Ryujo? Apa kamu ingin nasibmu berakhir tragis seperti Arata?"
"Hah, Arata hanya tidak tahu main cantik sehingga ketahuan dan malah mencelakai dirinya sendiri," timpal tentara yang lain.
"Entah, siapa yang tahu apa yang terjadi di dalam kamar tertutup. Meskipun kita tahu bagaimana tuan Takeshi, tapi ... memang ada pria yang tidak tertarik pada wanita secantik itu yang jelas-jelas adalah wanita penghibur?" tentara 1 berusaha menguatkan asumsi awalnya.
"Kalau begitu, kita ajak saja gadis itu kamar kita nanti, gimana?"
"Aturlah, aku ngikut aja."
"Huh, kalian saja. Aku tidak mau terseret masalah jika berani mengganggu gadis itu," timpal tentara 3.
"Kalau dia juga mau, bukan mengganggu dong ... tapi mau sama mau, asalkan tuan Takeshi tidak tahu saja, aman."
***
"Ryujo ... apa tuan Takeshi masih ingin mengejar cinta Arrabella?" tanya Monic sambil bersandar di dada bidang suaminya.
"Kenapa kamu malah mikirin masalah tuan sih, sayang?" sahut Ryujo sambil mengelus perut Monic yang membundar.
__ADS_1
"Gak gitu juga sih, tapi ... selama kalian berlayar, Agastya tebar pesona dan mereka berpacaran sekarang."
"Yang benar, sayang? Mungkin hanya asumsimu saja barangkali."
"Tidak. Agastya mengatakan itu padaku. Aku tidak tahu, melarang juga tidak mungkin, yang aku fikirin adalah bagaimana reaksi tuan Takeshi nantinya kalau tahu."
"Oh ... ." Ryujo menatap nanar langit-langit kamar mereka. "Tapi Arrabella sudah menerima Agastya jadi pacarnya, kan?" lanjut Ryujo lagi.
"Iya dan waktu itu aku minta mereka menjalani hubungan mereka secara rahasia dulu, jangan terang-terangan agar tidak terendus orang lain setidaknya sampai mereka menyatakan itu pada tuan Takeshi."
"Ah, secinta-cintanya tuan Takeshi pada Arrabella, jika Agastya sendiri yang meminta, pasti beliau tetap akan menepati kata-katanya."
"Kata-kata yang mana?"
"Hm, bahwa ia membebaskan Arrabella memilih dan menerima apapun yang jadi keputusan Arrabella."
"Jadi?"
"Ya sudah, biarkan saja. Aku tahu bagaimana tuan Takeshi. Lagi pula Agastya termasuk orang pilihan tuan, tentu tidak masalah."
"Meskipun tuan Takeshi pernah meminta Arrabella jadi istrinya?"
"Masa akan semudah itu?"
"Iya, makanya aku bilang biarkan saja. Tuan Takeshi pasti akan memilih mundur."
"Oh, kalau begitu semoga saja mereka berbahagia."
"Nah, mendoakan kebahagiaan orang lain akan lebih baik, darinpada berprasangka. Kita merasa sendiri, bagaimana sakitnya cinta tak bisa bersatu lalu setelah melewati jalan berliku akhirnya dapat bersama, apa yang kamu rasakan?"
"Bahagia, meski mungkin ada yang terluka."
"Benar dan untuk yang terluka itu, kita hanya bisa mendoakan dia mendapatkan pengganti yang lebih baik lagi."
"Ngomong-ngomong, apa Isao sudah mendapatkan penggantiku?"
__ADS_1
"Hei kenapa masih memikirkan lelaki itu, sih?" protes Ryujo cemburu.
"Bukan, aku hanya penasaran saja."
"Hah, penasaran apa kamu masih menyimpan perasaan padanya?" cecar Ryujo pada istrinya.
"Astaga Ryujoooo ... kenapa malah menuduh yang bukan-bukan begitu, sih?"
"Karena kamu lupa kalau aku tidak suka kamu menyebutkan nama pria itu di hadapanku, sayang."
"Jadi kalau menyebut namanya di belakang atau di sampingmu, boleh?"
"Sayang, tampaknya kamu memang harus diberi pelajaran," sahut Ryujo yang langsung beraksi cepat melucuti pakaian Monic.
Monic terkekeh saat tahu tujuan Ryujo, sementara jemarinya sudah lincah bermain di area bawah perut suaminya, "Ampun Ryujo, haha ... baiklah, lakukan tapi jangan sampai menyakiti bayi kita, ok?"
Ryujo tidak menyahut perkataan istrinya, karena hasraatnya sudah hampir meledak, ia ingin segera menuntaskan emosi dan rindu yang tidak terbendung sementara istrinya begitu antusias menggoda adik kecilnya.
"Jadi kamu sudah mengerti pelajaran hari ini, akibat menyebutkan nama lelaki itu, hm?" ujar Ryujo yang masih berada di atas tubuh Monic dan nafas terengah-engah setelah usai mereka saling melepas kerinduan.
"Ya, sayang. Pelajaran yang luar biasa tapi ... kalau tahu hukumannya akan seenak ini, kapan-kapan aku akan ulangi lagi. Aku suka hukumanmu, sayang," goda Monic.
"Dasar gadis nakal. Baik aku akan memberimu hadiah lain. Berbaliklah!"
Monic dengan senang hati mengatur posisi agar Ryujo mudah memasuki intinya dari belakang. "Ah, Ryujo ... kalau begini, aku malah ketagihan, aaah," gumam Monic manja, membuat suaminya semakin aktif menghentak pinggulnya.
***
Usai makan malam, Himawari tampak bercengkrama dengan ayahnya, tuan Takeshi dan Aya membiarkan saja mereka saling berinterkasi, bertukar cerita selama Himawari ditinggal ayahnya bertugas.
Aya memilih memanfaatkan waktu itu dengan membersihkan area dapur, mengumpul sampah dan berniat membakarnya bersama dedaunan kering di bagian belakang rumah utama.
Sambil bersandung kecil Aya melaksanakan tugasnya, tanpa curiga sedikit pun kalau sedari tadi ada sepasang mata sipit yang mengintainya di semak-semak.
Api mulai membakar dedauan, Aya merasa ada seseorang yang mendekatinya. Ia tersenyum saat tiba-tiba ada tangan kekar memeluk perutnya dari belakang. "Ah, mas jangan," Aya melotot, saat menoleh ternyata bukan Agastya.
__ADS_1
"To-" teriakan Aya terhenti saat lelaki itu menaruh secarik kain kecil di hidungnya, seketika tubuhnya limbung, Aya kehilangan kesadaran sehingga dengan mudah lelaki yang semula ia pikir adalah Agastya itu membopongnya menuju kamar barak yang letaknya terpisah dengan rumah utama.
"Haha, ternyata tidak sulit memperdayai gadis manis tuan Takeshi ini. Kita akan melewatkan malam panas yang tidak terlupakan, sayang," seringai lelaki itu.