
Pak Ruslan ditempatkan di ruang perawatan intensif, para keluarga terpaksa bergantian menengok lelaki yang memiliki 3 istri, 2 anak dan 5 cucu itu. Dari kejauhan Zain melihat melihat keberadaan mamanya yang duduk di kursi roda, didampingi beberapa sanak keluarga lainnya termasuk Agastya.
Hufff, Zain menarik nafas lega. Walaupun sahabatnya itu tidak secara langsung menerima permintaan maaf abahnya, namun keberadaan Agastya di situ sudah menjadi jawaban.
Langkah Zain semakin dekat menuju ruang pak Ruslan, beberapa pasang mata tertuju pada Zain dan Zais.
"Zain, bagaimana istrimu?" Tanya adik pak Ruslan.
"Alhamdulilah, mama Alif sudah melahirkan, anak ke tiga kami, perempuan, paman."
"Alhamdulillah," seru sanak saudara yang sedang duduk di ruang tunggu keluarga pasien.
"Cepatlah ke dalam, dari tadi abahmu mau bicara denganmu," kata paman Zain lagi.
"Ah, jadi abah sudah sadar, ya? Alhamdulillah." Zain lalu menghampiri abahnya ke kamar perawatan, diikuti beberapa anggota keluarga lainnya. Rupanya mereka sudah meminta izin khusus dengan pihak rumah sakit yang semula memberi aturan hanya satu orang keluarga yang boleh masuk ke ruang perawatan intensif itu.
"Abah," ujar Zain pelan, ia mendekat ke arah abahnya sambil mendorong kursi roda mamanya.
"Bagaimana istrimu, nak?"
"Alhamdulillah, sudah melahirkan, bah. Adiknya Alif dan Amar, perempuan."
"Alhamdulillah, nambah cucu 1 lagi. Semoga tumbuh menjadi anak perempuan yang solehah. Ehm ... abah sengaja meminta kalian berkumpul. Abah rasa mungkin saja ajal abah sudah dekat," suara pak Ruslan lemah namun kata-katanya masih terdengar jelas oleg orang-orang yang ada di ruangan itu.
"Sssttt, abah tidak boleh berkata begitu, kita di sini semua mendukung agar abah cepat pulih kembali," ujar Zain.
Lelaki tua itu tersenyum, "Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok, bahkan beberapa menit ke depan, nak. Makanya selagi masih bisa berbicara, abah mau menyampaikan beberapa hal. Pertama aku mohon dimaafkan kesalahanku, lahir dan batin baik yang kusengaja atau pun tidak, terutama padamu Siti," ujarnya seraya menatap istri pertamanya yaitu ibu kandung Zain.
"Terima kasih telah menjadi istri yang baik bagiku, juga ibu yang luar biasa bagi Zain dan juga Zais yang kau asuh sejak bayi setelah ibunya meninggal," lanjut pak Ruslan, yang kemudian menyebutkan nama tiap orang yang berada di ruangan itu, tanpa kecuali Aminah meski tidak nampak batang hidungnya.
__ADS_1
Ibu Siti mengangguk dan membalas perkataan suaminya dengan senyuman.
"Zain, Zais ... meskipun kalian lahir dari ibu yang berbeda, namun aku sungguh bahagia melihat keakraban kalian, tetaplah seperti ini meskipun abah sudah tidak ada di dunia ini nanti, ya dan jangan lupakan Allah baik dalam merencanakan sesuatu atau ketika menjalaninya, ingatkan juga istri, anak dan cucu kalian kelak untuk beribadah."
"Bah, tolong jangan berbicara seperti itu, aku jadi sedih," pinta Zain sambil mengelus pelan lengan abahnya.
"Anakku sayang, tolong mengerti ... abah lakukan ini selagi masih bisa berkata-kata sebab kita tidak tau rencana Allah. Syukur kalau sembuh, tapi kalau pun dalam waktu dekat abah harus berpulang, abah tetap bersyukur sebab artinya tugas abah sudah selesai di dunia ini. Lahamdulillah Allah teramat baik bagi hidup abah. Dan soal Aminah, sungguh pun aku menikahnya berawal karena suatu kesalahan namun biar bagaimana pun, ia sudah mendampingiku dan mengurusku dengan sangat baik, tolong berlakulah adil padanya. Berilah bagian padanya sesuai yang kutuliskan di surat wasiat," pesan pak Ruslan sambil menatap nanar langit-langit kamar.
"Kami berjanji akan melaksanakan apa yang abah mau," ucap Zais sambil menatap lekat abahnya.
"Satu lagi, bisakah kalian memanggilkan Agastya? Meskipun dia bukan keluarga kita tapi abah sudah menganggap Aga dan Aya seperti anak-anak abah juga."
"Sebentar, bah," Zain keluar kamar menghampiri Agastya.
"Ga, maaf. Bisakah kamu temui abahku? Ada yang mau diomongin," ucap Zain sambil berharap.
"Tolong abaikan dulu rasa kesalmu pada abah, aku mohon, Ga."
"Iya, Zain," sahut Aga, ia berdiri lalu mengekori langkah Zain menuju kamar pak Ruslan.
"Assalamualaikum, pak Rusalan ..." kata Agastya pelan.
"Walaikumsallam. Aga, bisakah kau memanggilku abah dan mama pada ibunya Zain?"
Agastya mengangguk, "Baik, bah. Mama ..." Agastya menoleh pada wanita paruh baya yang duduk di kursi roda dekat ranjang pak Ruslan.
Lagi-lagi bu Siti mengangguk dan tersenyum.
"Alhamdulillah, terdengar indah sekali, nak. Ehm, maafkan kesalahan abah, ya. Suatu saat kebenaran itu akan muncul dan kamu akan tahu kalau kejadian tasi pagi hanyalah sebuah kesalahpahaman, sekalian abah juga mau memberi saran ... tolong tarik kembali kata-kata talakmu pada Aya. Tidak kamu berusaha mengerti sedikit saja bahwa apa yang terjadi diantara aku dan Aya sungguh diluar kehendak kami."
__ADS_1
Agastya tertunduk dengan rasa bersalahnya.
"Tidak baik memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi, tanpa melibatkan tuntunan Allah dan memikirkan baik-baik sebelumnya. Jangan melakukan hal yang hanya akan kau sesali setelahnya. Minta maaflah dengan Aya, sebelum istrimu memilih pergi dari sisimu, nak."
"Ta-tapi aku sudah mengusirnya dan bersikap kasar padanya, bah."
"Itulah Ga, pertentangan antar suami istri itu sesungguhnya hal yang wajar tapi 1 hal yang abah sesalkan ... Aya itu wanita yang lembut hati juga tutur katanya, kamu malah tega menuduhnya tanpa menyelidiki terlebih dahulu. Kamu lupa betapa pedihnya harus terpisah bertahun-tahun dengan Aya juga bagaimana usahamu hingga ia bisa berada di sisimu lagi?" Kalimat itu terasa menusuk hati Agastya.
"Ma-maafkan aku, bah," Agastya sambil menahan air mata yang siap meluncur di pipinya.
"Jangan minta maaf padaku tapi Ayalah yang harus kau mintakan maafnya, nak. Hampiri dia segera."
"Ta-tapi aku perlu waktu, bah. Hatiku terlanjur sakit."
"Lalu apa kamu pikir Aya tidak kecewa telah diperlakukan demikian?"
Agastya terdiam sejenak, mencerna apa yang dikatakan pak Ruslan. "Hm, aku akan memperbaiki hubungan kami, bah. Aku akan meminta maafnya dan membatalkan perceraianku dengan Aya," putus Aya.
"Alhamdulillah, jangan sampai kamu menyesali apa yang sudah kamu putuskan hari ini, nak."
"Baik bah, tapi mungkin tidak dalam waktu dekat."
"Tidak masalah, yang penting ada niat ke arah itu, nak. Nah ... sekarang abah sudah tenang, semua sudah abah sampaikan, jadi seandainya terjadi sesuatu dengan abah, sudah tidak ada yang mengganjal lagi. Maaf, aku mau beristirahat, kalian boleh keluar dari ruangan ini, dan tinggalkan aku dengan mamanya Zain saja," ujar pak Ruslan kemudian.
Semua yang berada di ruangan itu pun menuruti permintaan pak Ruslan. Mereka berpamitan dengan pak Ruslan dan bu Siti sebelum keluar dari ruang perawatan.
"Abah, cepat sembuh, ya. Semangat!" kata Zain pada abahnya.
"Tentu, aku masih ingin lebih lama lagi bersama kalian, nak," balas pak Ruslan.
__ADS_1