
"Kalau begitu ... apa bapak tidak keberatan kalau aku minta datang ke wisma evergreen? Ah, akhirnya Agastya berani juga mengatakan hal itu.
"Hah, ngapain aku datang ke situ?"
Dheg! Seketika semangat Agastya merosot. Sirna sudah harapannya, meminta tolong pada pak Ruslan membebaskan Aya dari Evergreen.
Zain yang mengerti situasi berusaha menjelaskan pada ayahnya, "Jadi begini, bah. Abah kan tahu Agastya ini pendatang, walaupun punya uang yang cukup untuk menebus Aya, takutnya Irene tidak akan melepaskan. Pasti beda cerita kalau abah yang ke situ menyampaikan niat abah misalnya ... ingin menebus dan menikahi Aya, begitu.
Pak Ruslan dan Agastya sama-sama terbelalak mendengar penuturan Zain yang apa adanya juga ada benarnya itu.
"Mendatangi lalu menikahi istri Agastya? Kamu kan tahu sendiri abah tidak akan ke tempat seperti itu!" Tegas pak Ruslan.
"Aku juga, bah. Tapi ini demi menolong Agastya, lho. Kalau aku punya nama dan disegani banyak orang seperti abah, tidak perlu abah turun tangan ... aku saja yang mengatasinya," ujar Zain sedikit mengompori ayahnya agar hatinya tersentuh dan berbaik hati.
"Hm, kalau begitu ... coba tolong katakan langkah juga rencanamu itu, Zain." Benar, kini pak Ruslan mulai terbuka fikirannya.
"Abah temui saja pihak penguasa di tempat itu, katakan saja misalnya jika pemilik Evergreen tidak bersedia melepas Aya, maka ... usaha penginapan itu akan ditutup dan bangunannya kita hancurkan."
"Ck, itu sudah masuk ranah kriminal, Zain."
"Belum tentu, bah. Kita kan cuma mengancam, hanya gertak sambal. Jika mereka mau menuruti permintaan abah, maka usaha mereka tetap boleh berjalan."
"Tapi kalau mereka menolak atau tidak mau menuruti permintaan kita, akankah kita laksanakan ancaman kita itu?"
"Haha, rasanya tidak mungkin, bah. Mereka pasti mikir, kenapa abah bisa dekat dengan penguasa setempat dan mereka juga tahu abah punya uang, mereka pastilah bisa membaca kalau abah tidak main-main dengan perkataan abah dan mengira abah akan benar-benar melaksanakan ancaman itu."
Pak Ruslan terdiam, memikirkan ide anaknya.
"Apa ada alternatif lain?" Kini pertanyaan pak Ruslan ditujukan pada Agastya.
"Menculiknya," jawab Agastya perlahan.
"Bagus! Walau itu terkesan lebih kriminal, aku cenderung setuju dengan pendapatmu, Ga," sahut pak Ruslan sembari terkekeh.
__ADS_1
"Jadinya kita pilih alternatif yang mana, biar kita matangin rencananya sekarang. Menurutku kedua pilihan itu tetap saja kita perlu mendekati penguasanya terlebih dahulu. Ga, kufikir kamu tidak akan kena pasal penculikan karena tujuannu ke situ kan untuk menjemput istrimu, asalkan ada bukti saja sudah cukup," Zain mengeluarkan pendapatnya.
"Itulah sayangnya, Zain. Mungkin aku lupa bilang kalau aku dan Aya menikah secara siri saja, karena situasi mendesak dan Aya yang masih dibawah umur, jadi tidak ada bukti tertulis yang ada hanya benerapa foto saat kami menikah dulu saja."
"Nah, itu saja kurasa cukup, kamu bisa tunjukkan foto pernikahan kalian itu saja, bisa dijadikan bukti kalau antara kamu dan Aya benar-benar telah terikat pernikahan."
"Jadi kesimpulannya apa nih, dan kapan kita memulai rencana kita, bah?"
"Yang pasti kalian atur dulu waktunya, biar abah bisa bertemu penguasa di kota A, sambil melihat situasi bafu kita putuskan bagaimana langkah selanjutnya. Memang situasinya lebih cepat kita bergerak, lebih baik tapi sekali lagi kita tidak boleh gegabah mengambil langkah. Abah takutnya rencana kita terendus lalu pengelola wisma itu membawa istri Agastya lagi, tentu akan sangat merepotkan dan Agastya jadinya teramcam gagal bersatu dengan istrinya," papar pak Ruslan.
Agastya lun menimpali, "Wah, benar sekali kata pak Ruslan. Jangan sampai Irene dan Arata curiga lalu menyembunyikan Aya lagi. Aduh bodohnya aku kemaren sempat berselisih dan menggertak Arata."
"Siapa Arata itu?"
"Orang yang mem-backing Irene, dia juga yang membantu Irene menculik Aya
"Oh iya, abah baru ingat ... barusan tadi ada utusan tuan Takeshi membawakan surat untukku," kata pak Ruslan.
"Wah, apa kabar beliau, pak?" Agastya antusias saat mendengar nama tuannya itu disebutkan.
"Oh, jadi ... tuan Takeshi berhenti dari militer?"
"Benar. Sangat disayangkan tapi mau gimana lagi, beliau pasti sudah memikirkan matang-matang. Hm, aku juga menawarkan beliau datang kemari, semoga saja beliau bersedia."
"Maksud pak Ruslan, untuk apa tuan Takeshi kemari?"
"Berlibur, haha ... kan disitu tertulis tuan Takeshi mau bekerja sama. Nah, biar jelas komoditas apa yang mau diusahakan, jadi menurutku lebih baik dia ke sini saja. Sekalian siapa tahu ketemu jodoh, dapat gadis Banjar. Iya kan?"
Agastya tersenyum mendengar pendapat pak Ruslan.
"Sudah bapak balas suratnya, pak?"
"Sudah, langsung tadi aku kirimkan lewat yang ngantar suratnya. Yang bapak antar di depan tasi ketika kalian datang itu."
__ADS_1
"Oh, pemuda yang tadi itu. Kira-kira tuan Takeshi mau tidak ya, kemari?"
"Entah. Semoga saja beliau bersedia," harap pak Ruslan.
"Eh bah, hari mulai siang, nih. Aku dan Agastya mau pulang dulu," ujar Zain.
"Lho, kok buru-buru? Makan siang di sini saja, kan kita lama gak bertemu. Banyak yang mau kita omongin, Zain."
"Tidak bah, lain kali saja. Mama Alif pasti sudah menunggu kami lagi pula kasihan Aminah, kedatangan kami tentu menghalanginya melepas rindu denganmu, haha," canda Zain.
"Ah, sikapnya yang tadi itu, kamu sudah tahu. Mohon dimaklumi saja, Zain."
"Iya, faham bah. Aku dan Agastya pamit dulu, bah. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, titip salam buat istri dan anak-anakmu ya, Nak," pak Ruslan melepas kepergian Zain dan Agastya.
***
"Zain, kenapa kamu memanggil bu Aminah tidak pakai 'mama', kan dia istri abahmu?" Tanya Agastya saat mereka berjalan pulang menuju rumah.
"Tidak tahu, Ga. Mungkin karena aku tidak respek dan tadinya tidak terima abah menikah dengan Aminah yang centilnya gak ketulungan itu jadi ya gitu,deh. Yang penting aku masih menghargainya sebagai istri abahku."
"Hm, iya juga. Mau gimana pun, dia yang bersama abahmu sekarang, mengurus segala keperluan beliau."
"Iya, sih. Meski banyak olengnya, haha."
"Eh, Ga ... menurutmu apa tuan Takeshi mau menolongmu membawa Aya kekuar dari wisma tidak?"
"Mungkin mau, tapi kan kita tidak tahu tuan Takeshi bisa ke sini apa tidak."
"Ah, iya juga. Kita tidak bisa berharap, ya. Semntara kita harus gerak cepat dan harua memikirkan matang-matang rencana kita itu dan tidak boleh gegabah."
"Benar. Ah Zain, rasanya tidak sabar segera berkumpul dengan Aya. Aku pengen punya keluarga yang harmonis sepertimu."
__ADS_1
"Insya Allah, aku juga berharap kebahagianmu disegerakan, Ga," doa Zain.