Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Tasyakuran


__ADS_3

Pagi-pagi sekali rumah baru, kediaman Agastya dan Aya terlihat ramai. Tenda-tenda dan meja untuk tempat para tamu menikmati hidangan sudah disiapkan para tetangga sejak kemarem sore.


"Aya, kamu dandan aja, urusan lain-lain sudah ada yang membereskan," seru mama Alif. "Hei, kamu juga Aga, sana bersiap. Hari ini kalian jadi raja dan ratu sehari, lho. Jangan sampai kelelahan," kata mama Alif pada lelaki yang bolak-balik di halaman sekitar.


Aya dan suamimya pun bergegas memasuki rumah mereka, disitu sudah siap beberapa orang yang akan mendandani Aya.


"Lho, aku harus dandan nih, kak?" Tanya Aya pada mama Alif.


"Iyalah, kalian harus berpenampilan terbaik menerima tamu kalian di hari istimewa ini. Selain syukuran rumah baru acara hari ini juga sekalian penegasan, biar pada tahu kalau Aga yang sempat jadi incaran gadis-gadis tahu kalau dia sudah punya istri," tutur mama Alif dengan rona bahagia.


"Oh, memangnya mas Aga ada yang ngidolain juga?" Tanya Aya.


"Iyalah, bukan cuma para gadis tapi juga para orang tua, beberapa kali mendatangi aku dan abahnya Alif, menyampaikan maksud ingin menjadikan Aga menantu."


"Wow, segitunya ... memang aku tidak salah pilih ternyata, hehe."


"Nah, sudah selesai. Kak Aya yang sudah cantik jadi makin bersinar," puji tukang rias yang dari tadi sibuk memoles wajah Aya. Usai berdandan, tukang rias itu lalu membantu Aya mengenakan pakaiannya.


"Sempurna, istriku cantik sekali," Agastya tidak mampi menyembunyikan kebahagiaannya. Cup ia melabuhkan kecupan di dahi istrinya.


"Terima kasih, mas. Mas juga sangat tampan, serasi sama aku," balas Aya malu-malu.


"Ayo kita ke depan, kita harus menyambut tamu dan menyampaikan sepatah dua patah kata pada mereka yang datang di hari bahagia kita ini," ajak Agastya sambil menyodorkan lengannya untuk digandeng oleh Aya.


"Hei, sebentar dulu. Sebelum kalian menemui tamu dan berkeringat, ayo difoto dulu," cegah mama Alif yang lalu memberi kode pada tukang foto untuk segera mengabadikan momen bahagia Aya dan Agastya.

__ADS_1


Tentu saja Aga dan Aya langsung mengikuti arahan mama Alif serta sang juru foto.


"Senyum, ya begitu. Tahan."


Cekrek, cekrek, cekrek.



Kira-kira begitulah hasil jepretan kamera setelah klise-nya dicuci. Manis dan serasi sekali ya, mereka.


Dengan wajah sunringah, Agastya dan Aya berdiri di teras rumahnya sambil bergandengan tangan, menyapa para tamu.


"Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Agastya memulai kata sambutannya. "Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara dan saudari sekalian yang kami hormati. Pertama-tama kami panjatkan puji syukur yang sedalam-dalamnya kehadirat Ilahi Rabbi yang telah memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita, khususnya kepada kami sekeluarga, sehingga pada saat ini kita bisa berkumpul di rumah kami ini dalam acara tasyakuran sekaligus sebagai perkenalan kami, terutama istri saya Aya, yang baru tiba ke kota ini beberapa waktu yang lalu. Sebagai orang baru di lingkungan ini, sudah selayaknya kami memohon do'a restu dan diberi petunjuk serta nasehat-nasehat mengenai hal-hal yang perlu kami ketahui, sehingga kami bisa hidup berdampingan dan bertetangga secara baik, menjalin kebersamaan bersama warga di sini. Bapak, ibu, saudara dan saudari sekaliam yang kami hormati, tidak lupa pula kami, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada hal-hal yang tidak-berkenan di hati saudara baik itu tempat, jamuan-jamuan atau penghormatan yang kurang berkenan di hati. Sekali lagi kami sekeluarga menyampaikan terima kasih atas kehadirannya dan mohon maaf atas segala kekhilafan dan kurang lebihnya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Sambutan Agastya langsung mendapat tepuk tangan dari para tamu.


Tidak disangka, ternyata tamu yang datang tidak sekedar memberi ucapan selamat saja, sebab mereka juga membawa bingkisan bahkan beberapa orang memberikan amplop yang diberikan saat berjabat tangan.


"Wah, benar-benar kayak di kondangan orang kawinan ya, mas," bisik Aya pada suaminya.


"Sudah terima saja. Itu sebagai wujud kebersamaan, karena mereka turut senang atas kebahagian kita. Kali ini saatnya kita diberi, nanti disaat lain kita yang harus memberi juga," balas Agastya.


"Iya, mas. Jadi ingat dulu saat kita diajak pindah ke Jakarta sama tuan takeshi juga ada acara makan-makan, syukuran menempati rumah baru sekalian perayaan akad nikah kita. Tapi ... waktu itu tidak ada yang memberi hadiah dan amplop begini untuk kita."


"Eish, itu kan karena tuan Takeshi yang mengurus semua, bahkan kita menikah pun berkat beliau. Nah, kalau di sini beda lagi kebiasaannya. Kita yang pendatang tentu saja harus menyesuaikan kultur dan kelaziman di mana pun kita berada."


"Oh iya, dulu papiku juga pernah berpesan untuk kak Clay yang mengikuti bang Yusuf bertugas. Kata papi kita harus berusaha menerima dan beradaptasi dengan tempat yang baru. Kita wajib menghormati adat istiadat setempat, jangan bawa kebiasaan ditempat lama yang mungkin bertentangan dengan lingkungan baru kita dan bisa berakibat buruk untuk kita," imbuh Aya.

__ADS_1


"Itu benar, sayang. Peribahasanya 'dimana bumi di pijak, di situ langit di junjung'"


"Benar mas, mami juga memgatakan istilah itu untuk melengkapi perkataan papi."


"Hehe, udah ah. Kita malah ngobrol sendiri. Tuh lihat, tamu kita masih banyak yang mau bersalaman dengan," Agastya menyenggol lembut lengan istrinya.


"Selamat atas rumah barunya bang Aga dan kak Aya. Pernikahannya juga, semoga sakinah, mawadah, dan wa rahmah," ucap para tamu saat memghampiri pasangan yang berbahagia itu.


"Insya Allah. Syukur, terima kasih sudah datang dan terima kasih atas doanya," balas Aga dan Aya kepada para tamu.


***


"Wah lega ya, acaranya berjalan lancar," ujar Zain saat para tetangga dan teman-teman yang mereka undang sudah kembali ke kediaman masing-masing.


"Iya Zain, ini berkat kalian. Kalau tidak ada kalian maka semua ini tidak akan terlaksana," sahut Agastya.


"Bukan karena kami Ga, tapi karena kemurahan Allah," tukas Zain.


"Iya, alhamdulillah. Alhamdulillah ya, Allah," ujar Agastya lagi.


Benar, Agastya dan Aya memang patut bersyukur atas nikmat yang Allah berikan karena telah diberi kemudahan memiliki rumah baru tanpa harus menumpang pada orang lain lagi.


Belum lagi karena mereka telah melalui cobaan yang berat dalam pernikahan mereka, kini mereka patut berbangga atas kebaikan demi kebaikan serta penyertaan Allah bagi mereka.


Ah, semoga saja mereka bisa terus bersama. Akankah mereka akan terus berbahagia? Siapa pun tentu tahu, selama bumi berputar dan jantung masih berdetak, sesungguhnya tidak seorang pun bisa luput dari masalah dan pergumulan hidup. Ke depannya, mereka akan menghadapi cobaan yang lebih berat lagi, apakah itu? Ikuti terus perjalanan kisah Aya dan Aga.

__ADS_1


__ADS_2