
"Ding, kamu baik-baik saja?" Tanya mama Alif pada Aya saat mereka sudah tiba di rumahnya.
"Hm, iya kak. Maaf lagi-lagi aku jadi merepotkan kalian."
"Tidak, tidak sama sekali, ding. Malah suatu kehormatan bagi kami bisa berbagi dengan sesama, iya kan bang?" Mama Alif meminta persetujuan suaminya.
"Tentu saja. Nah, sekarang kamu tinggal di sini saja bersama kami sampai Aga menyadari kesalahannya," sahut Zain.
"Melihat kejadian tadi, rasanya tipis harapan mas Aga berubah pikiran, bang," Aya menyahut sambil mengedar tatapannya ke langit-langit rumah.
"Sepertinya sih iya, selama aku mengenal Aga ... aku tidak pernah melihat sikap keras kepalanya yang seperti tadi tapi kita tidak tahu, biar waktu yang menjawab, bukankah Allah maha membolak-balikkan hati? Aku mengerti dia seperti itu karena kecewa sebesar cintanya kepadamu," hibur Zain.
"Apakah kamu serius akan menikahi Aya, bah?" Tanya mama Alif.
"Haha, temtu saja tidak. Aku hanya bermaksud menggertak Aga saja."
"Oh, kirain mau mengikuti jejak abah Ruslan."
"Ish, memangnya kamu rela dimadu, sayang?"
"Rela tidak rela, siap tidak siap asalkan untuk kebaikan bersama, aku harus ikhlas."
Zain memghembuskan nafasnya dengan kasar, "Tidak akan, sayang."
"Tapi bagaimana? Aya bukan saudara kita, tapi akan tinggal bersama kita, takut ada fitnah yang ..."
"Kak, bang ... izinkan aku tinggal di sini sementara aku memikirkan langkah selanjutnya," potong Aya.
"Apa maksudmu, ding?"
"Aku tidak mau merepotkan kalian lebih lama lagi, aku akan pergi."
"Tapi kamu akan ke mana, Aya? Kamu tidak punya siapa-siapa lagi. Jangan bilang kamu akan kembali ke wisma Evergreen."
Aya menggeleng, "Aku akan ke Jakarta, mencari kakakku."
"Bagaimana kamu dapat mencari mereka?"
"Entahlah, asalkan aku tidak berada di sini saja. Sebab tiap kali melihat rumah kami dan mas Aga, rasanya hatiku akan kembali tergores," ucap Aya tegar.
"Tidak bisa begitu, setidaknya kamu tunda kepergianmu sampai kita tahu kamu benaran hamil atau tidak," sahut mama Alif.
"Hamil? Ma-maksudmu saat ini Aya sedang hamil?" Zain keheranan.
"Belum pasti bah, tapi Aya nge-flek sebelum waktunya datang bulan, acil Saadah bilang kemungkinan Aya sedang hamil muda."
"Wah, apakah Aga akan berubah pikiran kalau kabar itu benar? Sayang, sebaiknya kamu membawa Aya ke rumah sakit, sekalian memeriksakan kandunganmu," saran Zain.
"Iya bang, rencananya juga begitu. Sebenarnya aku tadi pagi yang menghampiri kalian ke rumah Aga karena mau minta tolong sama abang untuk menemaniku ke rumah sakit. A-aku ... mulai sering kontraksi."
"Ya Allah, kamu kontraksi dan masih sesantai ini? Tidak bisa nanti-nanti, ayo sekarang kita ke rumah sakit. Sebentar aku mau pinjam mobil abah dulu." Zain segera bergegas menuju rumah abahnya.
***
__ADS_1
"Abah, aku mau mengantar mama Alif ke rumah sakit, boleh pinjam mobil?" Tanya Zain pada abahnya yang tampak duduk melamun di beranda rumahnya.
"Tentu, ambil saja kuncinya di atas meja, nak."
Zain pun masuk ke rumah dan mengambil kunci mobil abahnya.
"Abah kenapa? Kepikiran masalah tadi?"
"Iya Zain, a-aku ..."
"Sudahlah, bah. Aku percaya, abah tidak mungkin macam-macam sama Aya. Bah, ayo ikut kami ke rumah sakit, aku lihat wajah abah pucat sekali, kita sekalian periksa."
"Baiklah Zain, dari tadi aku berkeringat dingin dan dadaku sakit, tapi tidak tahu minta tolong dengan siapa."
"Aminah kemana?"
"Dia marah, tadi dia pamit pergi ke rumah abahnya. Katanya abahnya sedang tidak sehat."
"Cih, istri macam apa itu? Lebih mementingkan keluarganya dari pada mengurus suami yang juga sedang tidak baik-baik saja," rutuk Zain.
"Biarkan saja, aku mengerti kenapa dia bisa semarah itu. Nanti juga baik sendiri."
"Hah, ya sudahlah. Ayo bah masuk ke mobil, kita harus segera berangkat ke rumah sakit," kata Zain sambil berjalan menuju mobil.
***
Sesampai di rumah sakit, Zain langsung mendaftar ayahnya ke poly umum lalu mendaftarkan mama Alif dan juga Aya ke poly kandungan.
"Maaf, jadi harus bergantian begini ya, bah. Mama Alif juga sedang membutuhkanku."
***
Di ruang poly kandungan.
"Kita periksa dalam dulu ya, bu," kata perawat sambil mempersilahkan mama Alif berbaring.
"Iiih," ringis mama Alif pelan.
"Gimana, sus?" Tanya dokter.
"Bukaan 5, Dok."
"Hm, ini anak ke 3 ya bu, berarti ibu langsung rawat inap saja," saran dokter.
"Bapak boleh cari ruangan untuk ibunya."
"Eh, baiklah. Ini dok, adik kami bisa sekalian diperiksa?" Pinta Zain.
"Oh bisa, pak."
"Mari bu, silakan berbaring. Kapan hari pertama haid terakhirnya?" Tanya dokter sambil menunggu perawat menyiapkan alat USG.
"Ehm, sayang ... abang tinggal sebentar, ya. Mau menemani abah sebentar sekalian nyari ruangan untuk kamu," ujar Zain saat melihat Aya yang bersiap berbaring untuk diperiksa.
__ADS_1
"Baik, bah."
***
Zain melangkah gontai menuju bagian tempat memesan ruang ranap inap bagi istrinya. Sekilas ia melihat ke tempat pasien antrian poly umum, berharap bisa melihat abahnya di situ, tapi pak Ruslan tidak nampak di situ.
"Hm, apa abah sedang diperiksa?" gumamnya.
"Maaf, apakah bapak putranya pak Ruslan?" Tanya petugas yang sepertinya mengenal keluarga mereka.
"Iya benar, ada apa?"
"Itu tadi ... pak Ruslan pingsan. Jadi sekarang dibawa ke ruang UGD."
"Astagfirullah. Pak, apa urusan ruangan istri saya sudah beres? Saya mau lihat keadaan abah saya di UGD."
"Oh, sudah beres, pak. 30 menit lagi ibu bisa langsung masuk ke ruangan."
"Baik, terima kasih," ujar Zain sambil bergegas menghampiri abahnya.
"Pasien bernama pak Ruslan di mana?" Tanya Zaib khawatir.
"Di sini, pak," sahut perawat mengarahkan Zain.
"A-abah, ya Allah ... kenapa bisa begini?" ujar Zain yang terkejut melihat pak Ruslan tidak sadarkan diri.
"Beliau mengalami serangan jantung, pak. Sedang kami tangani," ujar dokter memberi penjelasan singkat.
Zain tertegun melihat keadaan ayahnya. Kejadian tadi pagi tentu membuat abahnya kepikiran ditambah lagi abahnya memang memiliki gangguan kesehatan. Tiba-tiba Zain merasa khawatir, tadi saat berpisah di poly umum abahnya tampak normal namun sekarang ... .
"Dok, saya titip abah saya, ya. Saya mau mengabarkan kondisi beliau untuk keluarga," kata Zain sebelum meninggalkan abahnya.
"Baik, pak. Sudah tugas kami."
Lalu Zain bergegas menghampiri istrinya dan Aya yang masih berada di poly kandungan.
"Suster, saya sudah mengurus ruangan untuk istri saya," lapor Zain pada perawat.
"Baik, pak."
"Bang, abah gimana?" Mama Alif dapat menangkap kegelisahan di raut suaminya.
"A-abah pingsan, kena serangan jantung." Jawaban Zain membuat mama Alif dan Aya tersentak kaget.
"Ya Allah, terus kenapa malah abang ke sini? Sana urus abah, aku tidak apa-apa," mama Alif berusaha menenangkan suaminya.
"Aku hanya ingin menyampaikan kabatlr ini untuk kalian. Sebentar aku mau pulang, mengambil keperluanmu sekalian mengabarkan kondisi abah untuk keluarga yang lain."
"Ya, pergilah bang. Jangan khawatirkan aku dan Aya, kami dan bayi kami baik-baik saja."
"Bayi kami?" Zain mengurungkan langkahnya.
"Benar bah, Aya sedang hamil muda. 5 minggu," sahut mama Alif.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Aya jaga diri kamu baik-baik dan tolong temani kakakmu di sini dulu, ya," ucap Zain sebelum meninggalkan poly kandungan.