Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Training Khusus


__ADS_3

"Tuan, saya minta maaf atas kejadian tempo hari," ucap Aya takut-takut.


"Aku akan terima maafmu jika kamu mau melakukan apapun yang kuminta," sahut Isao. Aya memberanikam diri melihat ke arah Isao.


"Turun dan jangan banyak bicara. Jangan kamu fikir aku akan diam saja jika kamu ulangi kelakuanmu waktu itu, mandat Isao ketika mereka tiba di villa tuan Takeshi.


Aya bergidik ngeri saat membayangkan apa yang akan terjadi, namun ia tetap berfikir positif, tidak mungkin tuan Isao berbuat macam-macam, bukankah tempat di training itu nanti akan ada banyak orang?


Namun Aya keliru ... di situ tidak ada siapa-siapa, bahkan supir yang mengantar mereka tadi pun raib entah kemana.


Isao menyeret Aya ke sebuah kamar dan menghempasnya di tempat tidur. Kemarahan berkilat nyata di bola mata lelaki itu.


"Buka pakaianku!" Perintah Isao. Aya bergeming.


"Hei, apa kamu tuli?" Aya pun mendekati lelaki itu dan mulai melepas kancing baju tuannya.


"Cepatlah, celanaku juga. Lepaskan semua, tanpa tersisa!" Suara itu makin menggelegar. Aya yang ketakutan terpaksa melakukan yang diminta lelaki itu.


"Bagaimana, kamu suka dengan tubuhku?" tanya Isao.


"Ah, tidak kau jawab juga tidak apa-apa. Sebentar lagi kau juga akan menikmati kehangatanku."


Sreeeek.


Isao merobek paksa kemeja yang dipakai Aya.


"Tu-tuan, jangan," mohon Aya.


"Jangan apa? Bukankah tadi kamu mau kumaafkan? Maka aku ajarkan bagaimana cara minta maaf yang benar."


"To-tolong tuan jangan, aku ke sini buat training sebelum aku menempuh pendidikan ke Jepang. Nyonya Monic sendiri yang bilang aku potensial dan ..."


"Pendidikan apa? Potensial apa? Tidak perlu sampai ke Jepang, aku sudah membayar mahal pada Irene agar bisa menikmati tubuh indahmu ini. Tidak perlu repot belajar, aku yang akan memberimu training khusus, tugasmu hanyalah membuka kedua kakimu dan ..."


Happp.


Mulut Isao segera ******* bibiir indah Aya.


Aya memberontak.


"Kalau kamu melawan maka aku akan memaksamu tapi kalau kamu bersikap manis, maka kamu akan ketagihan melakukannya, haha."


"Toloooong," teriak Aya.


"Percuma berteriak, sayang." Isao yang sudah diliputi gairah itu langsung menarik kasar kain penutup tubuh bagian bawah Aya


"Oh ... aku sudah lelah menahan diri dan sangat menantikan saat ini, sayang," ucap Isao sambil mengarahkan pedang tumpulnya ke celah mungil Aya.

__ADS_1


Blesss.


Isao mengumpat karena usaha pertamanya gagal.


Blesss.


Peluru kendali itu masih belum mengenai sasaran.


Blesss.


Jleeeb. Seiring pekik kesakitan Aya, pedang tumpul itu memasuki sarungnya.


"Oh ... oh, astaga. Milikmu sempit sekali sayang, nikmat." Isao terus memompa juniornya sambil mengeraang sendiri tanpa mempedulikan Aya terdiam karena pingsan.


Aya terbangun kedinginan, seluruh badannya terasa remuk, dari bagian kewanitaaanya yang bengkak itu mengalir darah segar. "Apa artinya aku sudah tidak gadis lagi?" gumam Aya dalam hati.


"Makan dulu, kamu pasti lelah habis bercinta denganku," kata Isao yang hanya mengenakan handuk dipinggangngnya.


-"Cih ... bercinta apaan kalau maksa sih namanya perkosaaan, Bambang," gerutu Mangata yang kesal membaca kisah di bab itu.-


Sambil makan Aya menatap ke luar jendela untuk menghindari tatapan liar Isao. Di luar hari sudah gelap dan gerimis, seolah turut menangis bersama Aya.


"Tu-tuan, saya butuh pakaian." Kata Aya takut-takut.


"Kamu kedinginan?"


"Aku siap menghangatkanmu sayang," ujar Isao yang langsung menerkam Aya.


"Tuan jangan, saya masih sakit. Saya berdarah, tuan." Serigala lapar mana mau melepaskan buruannya. Seolah tidak kenal kata puas, Isao mengganyang tubuh Aya secara brutal hampir sepanjang malam. Setiap kali ereksii maka Isao langsung mengarahkan pedang tumpulnya itu ke celah surgawi Aya.


Tidur sebentar, bangun, makan, bercinta, bercinta, makan, tidur, seolah menjadi siklus bagi Isao selama di villa bersama Aya dan Isao tidak membolehkan Aya berpakaian, alasannya untuk mempermudah akses masuk sang junior.


-"Junior gundulmu itu! umpat Mangata emosi."-


Aya mengingat percakapannya dengan mbak Sumi dan mbak Yati malam itu ... "Awalnya memang kami takut sekali, lama-lama enak juga karena tuan sering kasih uang buat jajan."


Hm, apakah ini hanya awalnya saja? Aku sudah tidak melawannya tapi kenapa dia kasar sekali terhadapku? Semarah itukah dia?


***


"Arrabella, sayang sekali waktu untuk berduaan denganmu hampir habis sebab aku memenuhi janjiku pada sahabatku. Nanti aku akan sering-sering mengunjungimu ke ianjo. Aku tahu kamu pasti akan merindukanku."


"I-ianjo?" tanya Aya pelan.


"Iya, tempatnya Irene itu kami sebut ianjo, tempat tentara kami dari golongan prajurit hingga perwira tinggi melepas penat dan membebaskan darah putih."


"Darah putih?"

__ADS_1


"Kamu tidak mengerti? Makanya jangan pingsan kalau diajak senang-senang. Terima, maka kamu akan menikmatinya."


Isao dan Aya bertatapan sekilas.


"Kamu masih sakit?"


Aya mengangguk sambil menunduk.


"Baiklah, aku akan melakukannya dengan benar untukmu."


Isao menarik lembut dagu Aya dan melumaat bibiir merah alami itu pelan-pelan.


"Rileks Arrabella, dan lakukan seperti yang kulakukan padamu. Jika lidahku membelai lidahmu, maka balaslah seperti itu, jika tanganku membelai tubuhmu, maka belai juga tubuhku, mengerti?"


Aya mengangguk pelan.


"Aku tahu, para perempuan akan lebih mudah melakukan ini dengan pasangan yang dicintainya, berbeda dengan kami laki-laki yang bisa melakukannya kapan saja dengan siapa saja dengan atau tanpa cinta untuk menyalurkan hasraat kami. Bercinta istilahnya, walaupun ada kata cinta tapi tetap bisa dilakukan walau tanpa cinta," Isao berbicara dengan sangat lembut pada Aya


"Jangan takut, rileks dan nikmati saja, ok?" Isao kembali merangkum bibir Aya.


"Balas," bisiknya. Aya pun berusaha melakukan hal yang diminta Isao. Mereka berciuman sambil berbaring, tangan Isao turun meremaas payudaraa Aya.


"Sakit?"


Aya menggeleng.


"Putiingmu mengeras, kamu mulai menikmati permainan ini, sayang. Ini baru awal," Isao menundukkan tubuhnya menuju aset kembar, menjilatii dan menyesaap bagian ujung yang mengeras, sementara bongkahan yang satunya terus diremaas, bergantian.


"Ah ..." desaah Aya membuat Isao tersenyum dan kembali menguluum bibiir Aya. Isao membawa telapak Aya memegang juniornya, dan mengajari Aya bagaimana memanjakan sesuatu yang sudah keras itu.


"Kamu pasti sangat menikmati permainan kita kali ini, liaangmu basah, Arrabella," kata Isao yang menyelipkan jarinya ke dalam celah sempit Aya.


Lalu Isao bergerak turun, melebarkan kedua pahaa Aya dan menunduk di situ.


"Apa yang anda lakuk- awh ..." lagi-lagi Aya mendesah, merasa benar-benar di manjakan lelaki itu saat liidah hangat tuannya menjelajahi bagian terlarangnya.


"Sakit atau enak?"


"Enhak, tu- ah ..." Isao lagi-lagi tersenyum penuh kemenangan.


"Coba kalau dari awal kamu tidak melawan, tentu kamu tidak akan kesakitan," Isao perlahan bangun dan mengarahkan pedang tumpulnya ke landasan yang sudah licin. Pelan, pelan dan jleb. Isao melihat reaksi gadisnya yang memejamkan mata sambil menggigit bibirnya.


"Kalau mau teriak, teriak saja. Jangan ditahan," bisik Isao sebelum menggoyangkan pinggulnya dan menghujam celah surgawi Aya dengan berbagai ritme.


"Hm ... benar kata mbak Sumi, lama-lama enak juga," benak Aya. Jika malam sebelumnya Isao menyiksanya tanpa kenal ampun, malam ini jauh berbeda karena ... Aya, noni Belanda yang belia itu sudah mulai tahu enaknya dimana.


***

__ADS_1


"Aduh mami ... ini sih tutorial bercinta," gumam Mangata Menghayati bacaan, membuat juniornya menegang dan minta dimanjakan. Main solo lagi, deh.


__ADS_2