Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Kesepakatan Menyenangkan


__ADS_3

"Nah, makanya waktu itu aku meminta Agastya ke rumah Isao sebab temanku itu kadang bertindak aneh dan konyol meski di saat sulit. Baginya beban negara jangan sampai mengorbankan kesenangan pribadinya," Ryujo menjelaskan dengan raut menahan tawa sekaligus sedih atas kematian Isao.


"Hais ... baiklah, Isao sudah tewas dan Katsuro juga mungkin saat ini sudah kembali ke pelukan anak istrinya di Jepang, berarti sudah pasti, mereka tidak ada hubungannya dengan raibnya Aya dan Aga. Tapi siapa pelakunya? Ke mana mereka pergi?" ucap Takeshi seolah bertanya pada dirinya sendiri.


***


Sementara itu di lain tempat.


Aya merasa pusing sekali, saat merasa tempatnya berbaring bergoyang-goyang seperti di dalam kapal.


Gelap. Matamya tidak bisa menangkap seberkas cahaya pun, kepalanya pusing sekali dan ... hei, kenapa tempatnya tertidur saat ini, mengingatkannya seperti berada di kapal tuan Takeshi dulu.


Aya berusaha menggerakkan tangan dan kakinya. "Oh sial, ternyata tangan dan kakiku terikat. Huh, pasti mataku juga sedang ditutup dengan kain," gumam Aya. Ia berusaha mengingat kejadian sebelum berada di tempat yang asing itu. Ya, benar ... saat ia akan menyelesaikan jam pertama kuliahnya, datang seorang tentara Jepang yang belum dikenalnya mengaku intelijen utusan Takeshi, membawa stempel khusus Angkatan Laut Jepang.


Sempat Aya bertanya di mana keberadaan Agastya, namun orang itu mengatakan pada kondisi negara yang sedang genting akibat pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki, Agastya orang Indonesia yang bekerja pada Takeshi yang perwira Jepang pun sedang terancam keselamatannya. Baik Aya maupun Agastya, sama-sama diincar pihak sekutu dan kaum pejuang kemerdekaan Indonesia, jasi harus segera diamankan.


Meski merasa janggal, karena sebenarnya baik ia dan Aga hanya sebatas pekerja pada Takeshi tidak ada kaitan apapun pada kedua pihak itu, namun karena berpikir semua orang telah menganggapnya sebagai kekasih Takeshi maka ia perlu perlindungan dari pihak Intelijen. Ya, ya ... pemikiran Aya sesimpel itu, segera saja Aya berpamitan pada dosennya, tanpa mengatakan bahwa ia telah di jemput oleh 'pihak intelijen' hanya bilang ajudan tuan Takeshi. Saat di parkiran, Aya sempat melihat mobil Takeshi yang sebelumnya ia dan Aga tumpangi, namun orang itu justru membawa Aya menuju mobil lain dan ... entah bagaimana prosesnya, di tempat asing inilah ia berada kemudian.


Sementara Agastya masih tersekap diruang bawah tanah rumah Isao, setelah beberapa hari keberadaannya ditemukan dan dikirim ke penjara tanpa melewati sidang atau penghakiman.


Setelah Jepang menyatakan kekalahannya, menyerah tanpa syarat, membuat sekutu memiliki hak atas kekuasaan Jepang di berbagai wilayah yang pernah dikuasai Jepang. Sekutu datang ke Indonesia dengan tujuan untuk melucuti tentara Jepang yang kalah dalam Perang Dunia II dan mengembalikan pemerintahan sipil yang telah dijajah oleh Jepang. NICA kemudian membonceng tentara Sekutu untuk kembali ke Indonesia. Tujuannya adalah agar Belanda dapat kembali menguasai Indonesia. Indonesia memang telah memproklamirkan kemerdekaannya, namun tentu saja perjuangan belum selesai, termasuk nasib Aya dan Aga yang harus terpisah, kini juga harus berjuang demi kemerdekaan pribadi untuk bisa kembali bersama, seperti harapan yang mereka doakan tiap waktu, yaitu berkumpul bersama keluarga, menempati rumah yang nyaman bersama anak-anak buah pernikahan mereka. Namun mungkinkah semua itu akan terwujud?


***


Byurrr!

__ADS_1


Aya terkejut dan gelagapan.


"Bangun gadis malas!" Hardik seseorang sambil menyiramkan seember air dingin, membuat tubuh Aya meronta.


"Haha, sudah bangun kau rupanya. Ayo, tugas baru dan menyenangkan sudah menantikanmu," ujar suara itu lagi. Sejenak Aya merasa lega saat tangan dan kakinya dilepas dari ikatan. Pelan-pelan Aya meraih simpul di kepalanya dan ... terkejutlah Aya saat simpul itu terbuka, saat netranya menangkap sesosok pria Jepang yang pernah hampir melecehkannya di kapal tuan Takeshi.


"A-anda ...?" Aya menahan suaranya, berusaha mengingat nama lelaki itu.


"Hai cantik, kamu tidak menyangka kan kalau aku masih hidup? Haha."


"A-Arata?" gumam Aya hampir tidak terdengar.


Benar, lelaki itu adalah Arata. Lelaki yang diceburkan ke laut oleh pengawal Takeshi, untuk diumpankan jadi makanan hiu, sebagai ganjaran telah melecehkan Arrabella.


"Dia sudah bangun?" Tanya suara perempuan yang memasuki kamar temoat Aya disekap. Aya tahu dan sangat kenal suara itu ... mami Irene.


"Sudah, kamu jangan lupa kesepakatan kita, sayang ..." ujar Arata sambil menghampiri Irene dan melabuhkan kecupan singkat di bibir wanita cantik itu.


"Tentu. Aku ini orang yang tahu diri, aku tahu caranya berterima kasih, tapi tolong beri aku waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya," jawab Irene tenang.


"Baik, aku tunggu," balas Arata seraya meninggalkan kedua perempuan itu.


"Ma-mami Irene, ada apa ini?" Aya melemparkan kebingungannya.


"Hai, Arrabella ... banyak hal terjadi diluar kehendak dan rencana kita. Akulah yang membawamu kemari."

__ADS_1


"Di-dimana ini?"


Irene tersenyum, "Sebuah tempat yang jauh dari ianjo juga rumah dinas tuan Takeshi, tempat di mana tidak ada seorang pun orang-orang Takeshi bahkan orang intelijen bisa membuntuti kita, haha."


"Ta-tapi, kenapa?"


"Kenapa? Kamu menyesal keluar dari rumah itu, meninggalkan tuan Takeshi-mu, hm?"


Aya tidak tahu harus berkata apa. Sungguh Aya tidak mampu membaca situasi apalagi menebak apa tujuannya berada di situ.


"Dengar Arrabella, bukan kebetulan kita kembali bertemu, karena aku sengaja menunggu waktu yang tepat untuk membawamu kembali bekerja seperti dulu."


"Hah, bekerja seperti dulu?" Seketika Aya meremang mengingat jenis pekerjaan yang pernah digelutinya itu. Jelas bukan jadi pengasuh Himawari atau tukang masak seperti di tempat tuan Takeshi. Iya apalagi kalau bukan jadi wanita penghibur?


"Tentu saja. Kamu gadis terbaik yang pernah kupunya dan membawa banyak keuntungan bagiku, apa salahnya aku membawamu kembali bekerja padaku? Kerjanya tidak sulit, malah bikin kamu enak, dan aku mendapat keuntungan, ini sebuah kesepakatan yang menyenangkan, bukan?" wajah Aya seketika menjadi pias saat seringai mengerikan menghiasi wajah cantik Irene.


"A-aku, bolehkah aku menolak? Aku mau bekerja apa saja, pekerjaan kasar sekalipun asal jangan menjual diri," Aya mencoba mengatakan keinginannya.


"Asal jangan menjual diri? Haha ... kamu ini lucu, Arrabella entah doktrin apa yang disuntikkan tuan Takeshi di otakmu itu. Hei, jangan-jangan Takeshi tidak pernah menidurimu," tebak Irene.


Aya menunduk sambil mengangguk pelan.


"Apa, jadi benar kalau ... ah, jangan-jangan tuan Takeshi 'tidak normal' masa perempuan secantik kamu dan jelas-jelas sudah ditebusnya, gak dimanfaatkan?"


"A-aku jadi pengasuh Himawari, anaknya."

__ADS_1


"Dia menebusmu dengan sejumlah uang yang besar beserta bonus, tapi hanya menjadikanmu pengasuh anaknya? Aku dengar kamu jadi kekasih, juga menyekolahkanmu tapi tidak ingin menjadikanmu 'pengasuh' pribadinya? Haha, sepertinya tuan Takeshi benar-benar tidak waras."


__ADS_2