Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Keuntungan Ganda


__ADS_3

"Jadi kamu mau terus menerima dan memberikan pelayanan terbaik untuk tamu kita, kan?" tanya Irene.


"Hm, aku tidak punya pilihan lain, mam," jawab Aya lesu.


"Bagus. Memang jawaban seperti itu yang kuharapkan. Sebenarnya lekerjaan ini sama sekali tidak sulit, kok. Jujur saja, sementara di luar sana orang bekerja keras demi mendapat upah yang tidak setimpal dengan tenaga yang kerahkan, kamu di sini justru dibayar mahal cukup melayani tamu dan membuka kedua kakimu. Enak kan?"


Aya menunduk sambil memilin-milin ujung bajunya. "Jangan bilang tidak, Arrabella. Kupingku masih bagus, aku masih bisa mendengar bagaimana kamu mengerang saat para lelaki itu menghentakan senjatanya di intimu. Bahkan ada yang mengatakan padaku ... kamu tidak segan memberi bonus permainan tambahan jika kamu senang atas perlakuan lelaki tertentu."


Aya hanya tersenyum malu, taktik-nya demi mendapat bayaran lebih atas pelayanannya diketahui mami Irene. "Bagaimana pun, kita harus membuat mereka tergila-gila atas permainan kita, dengan begitu kita bisa mempertahankan pelanggan yang secara langsung tentunya mempengaruhi pemasukan untuk Wisma Evergreen," alasan Aya.


"Betul sekali. Aku suka dengan cara berfikirmu yang liar itu, Arrabella. Pekerjaan ini lama-lama jadi kebutuhan, kan? Atau dengan kata lain, kamu membutuhkan pekerjaan ini untuk memuaskan keinginan lahir dan batinmu. Sentuhan pria membuatmu candu dan haus kepuasan lalu mereka yang datang untuk menikmati tubuhmu malah kamu manfaatkan untuk memberikan kelegaan padamu," tutur Irene sambil tersenyum.


"A-aku hanya ..."


"Haha, sudahlah tidak perlu beralasan, Arrabella. Kamu memang pandai mengambil kesempatan. Aku pun begitu, memilih menikmati pekerjaan saat ini, sangat menguntungkan, kok. Tubuh kita mendapat kepuasan kemudian malah dibayar, haha ... tidakkah itu artinya mendapat keuntungan ganda?"


"I-iya."


"Nah, itulah sebabnya aku merubah sedikit pola dalam mengelola usahaku. Jika di ianjo dulu aku dibayar sebagai pengelola tempat oleh pihak Jepang, di sini aku berperan aktif. Selain mengelola, aku juga bekerja, sama sepertimu. Aku sudah lepas dari trauma akibat kekerasan seksual yang kualami dulu karena perlakuan Arata. Arata mengajarkanku bagaimana menikmati hubungan itu dan lama-lama aku tahu, tubuhku membutuhkan sentuhan pria bahkan menjadi candu. Aku ingin dimanja dan merasa tersanjung saat berhasil membuat pria-pria itu mengerang puas atas layanan yang kuberi. Ya sudah, bukankah itu sangat baik ketika hasratt dan dompetku terpenuhi dalam waktu yang sama?" Kata Irene sambil terkekeh senang.


"I-iya, mi," jawab Aya meski tidak sepenuhnya setuju dengan penuturan Irene. Aya tidak segila itu sampai menginginkan apalagi mencandui kehangatan pria sebegitunya. Saat masih bersuami dan pernikahan mereka yang terbilang masih baru pun, mereka tidak tiap ada kesempatan melakukannya.


Yah, pernikahan tujuannya memang tidak semata untuk melegalkan hubungan suami istri saja, tapi untuk mempererat kasih sayang diantara mereka melalui hubungan intim yang sakral itu yang berlandaskan ibadah.

__ADS_1


Sementara di Wisma Evergreen, sudah jelas ... hubungan pribadi antara lelaki dan perempuan di situ semata terjadi demi memuaskan napsu, mengenyangkan hasratt berbalut unsur simbiosis mutualisme antar pasangan sesaat yang tidak terikat pernikahan. Tidak perlu melibatkan kasih sayang berlandaskan ibadah, cukup gairah bertemu gairah ... berpacu menuju puncak kenikmatan, selesai, bayar dan berpisah. Beres, tidak perlu melibatkan perasaan.


Jika pernikahan bersifat mengikat dan saling memiliki, dalam artian 1 wanita hanya untuk 1 pria dalam waktu yang diharapkan selamanya, berbeda dengan sistem dunia percintaan di Wisma Evergreen. Adalah hal yang wajar saat seorang lelaki yang malam tadi bergumul panas dengan Aya, dan besok malam lelaki itu memilih Irene sebagai partner bercintanya, Aya tidak bisa protes karena ia dan lelaki itu saling memiliki hanya untuk sesaat, sesuai bayaran dan urusan lelaki itu dengannya sudah beres bersama uang yang telah diterimanya.


***


Sementara Aya berusaha menikmati peran barunya melayani beberapa pria layaknya ia melayani suami, keberadaan Agastya akhirnya ditemukan orang-orang Takeshi dalam keadaan lemah, kekurangan cairan akibat penyekapan yang dilakukan pengawal Isao selama berhari-hari.


Demi keamanan asisten kesayangannya itu, Takeshi memutuskan untuk merawat secara intensif Agastya di rumah dinasnya.


"Syukurlah, kamu sudah sadar," kata Takeshi saat melihat Agastya mengerjapkan matanya.


"Ah, tuan ... terima kasih," jawab Agastya sambil menatap sekeliling kamar yang tidak asing baginya, kamar yang biasa ia tempati bersama sang istri tercinta.


"Siap, tuan."


"Aga, apa yang terjadi sampai kamu disekap di ruang bawah tanahnya rumah Isao?" serang Ryujo yang tidak sabar mengajukan keingintahuannya.


"Ryujo, biarkan Agastya beristirahat dulu," saran Takeshi.


"Tidak apa-apa tuan, bercerita tidak perlu banyak energi, kok," sangkal Agastya.


"Aku tahu, tapi pastinya akan menguras emosimu, Agastya."

__ADS_1


"Ah ... tapi tidak mengapa, tuan. Jadi sore itu, saat tuan sibuk rapat dengan tim persiapan kemerdekaan Indonesia, aku ke rumah tuan Isao menanyakan keberadaan Aya, tapi tuan Isao bilang tidak mengetahui apa pun, singkatnya terjadi perdebatan yang membuat aku terdesak membela diri dan terpaksa menggunakan senjata yang diberikan tuan Takeshi ... aku menembak tuan Isao, lalu aku disekap dan disiksa di ruangan bawah tanah itu," jelas Agastya tanpa merinci semua yang terjadi di kediaman Isao sebelum kejadian itu.


"Iya, kami mendapat kabar Isao ditemukan mati tertembak dalam keadaan tanpa busana. Apa Aya benar-benar tidak ada ditempat itu?" tanya Takeshi.


"Sepertinya tidak ada tuan. Saat aku ke situ, tuan Isao dan beberapa pengawalnya sedang bersenang-sennag dengan 2 perempuan yang tidak kukenal dan tuan Isao saat itu bilang, justru sedang memikirkan cara membawa Aya dan nyonya Monic ke rumah itu. Kata-katanya itu sudah memancing emosiku, aku kesal banget tuan ... disaat rekan seperjuangannya bingung kocar-kacir akibat perpindahan kekuasaan setelah pengeboman di Jepang, eh ... tuan Isao malah bermain gila."


"Haish, dasar perwira tengik! Rupanya dia punya misi pribadi mau mengambil kembali istriku," umpat Ryujo.


"Ryujo, sudahlah," Takeshi menenangkan ajudannya.


"Hah, iya tuan. Ngomong-ngomong terima kasih, Agastya. Aku benar-benar bersyukur Isao sudah mati. Kalau tidak, akulah yang akan membuatnya mati di tanganku," ucap Ryujo sambil menahan emosinya.


"Em ... Agastya, maaf. Semua pengawal Isao sudah ditarik kembali ke Jepang mereka juga sudah melaporkan kalau kamulah yang melakukan penembakan itu. Keberadaanmu tidak aman sekarang, sebab itu aku akan membiarkanmu pergi ke tempat yang aman dari kejaran pihak yang tidak terima atas penembakan Isao. Jujur saja, kondisi saat ini membuatku tidak bisa terus melindungimu," Takeshi mengalihkan perhatiannya pada Agastya


"Aku mengerti, tuan Segera setelah aku pulih aku akan pergi dari sini."


"Iya dan terpaksa kamu harus memulai hidup barumu tanpa kami dan Aya. Sebab ... selain tidak bisa melindungimu, aku juga tidak bisa membawamu bersamaku jika kembali ke Jepang. Aku akan diadili secara militer, sebentar lagi aku akan kehilangan jabatan dan kekuasaanku," kata Takeshi dengan suara bergetar.


"Apa karena peran tuan yang turut mendalangi terwujudnya proklamasi kemerdekaan Indonesia?" tanya Agastya hati-hati.


"Iya, sepertinya itu jadi alasan utamanya. Tapi tidak mengapa, aku puas setidaknya jika pun aku harus di hukum mati, aku bahagia telah melakukan hal terbaik di sepanjang hidupku."


"Jangan bicara seperti itu, tuan. Aku jadi sedih," ungkap Ryujo.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Ryujo. Ini kenyataan yang harus kuhadapi. Kamu, bagaimana rencanamu ke depan? Mau tetap di sini atau membawa Monic dan anak-anak kembali ke Jepang?" Tanya Takeshi pada ajudannya yang setia itu.


__ADS_2