Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Tunggu Saja Giliranmu


__ADS_3

Sampai sejauh ini, Mangata semakin memahami kenapa sampai ayah Amar memintanya membahagiakan Geetruida. Hari menjelang sore, Mangata bersepeda sejenak membeli cemilan sebagai temannya membaca lanjutan kisah Aya.


Bab 15


Malam itu Aya menginap di rumah nyonya Monic, tidur bersama dua pembantu lainnya.


Berbeda dengan sikapnya yang kasar saat menjemput Aya di kamp interniran, nyonya Monic justru memperlakukannya dengan sangat baik. Aya sempat berprasangka kalau tuan Isao dendam atas kejadian tempo hari tapi sykurnya lelaki itu acuh terhadapnya.


Nyonya monic terlihat sangat menjaga Aya dan menyuruhnya Aya keluar kamar untuk bekerja jika tuan Isao sudah tidak ada di rumah. Mungkin nyonya Monic khawatir Aya menggoda suaminya. Ish, nyonya Monic saja yang tidak tahu mengapa sampai Aya menghajar tuan Isao.


"Arrabella, apakah pekerjaanmu sudah selesai?"


"Sudah nyonya," sahut Aya.


"Bagus, ini aku ada sesuatu untukmu. Sini." Aya tepekur sejenak, takut kalau-kalau nyonya Monic akan menyiksanya.


"Iya, nyonya." Aya gegas menghampiri nyonya Monic.


"Aku tadi membeli beberapa potong pakaian untukmu."


Aya lega, ternyata dugaannya keliru.


"Te-terima kasih, nyonya."


"Eh, mau kemana? Ini masih ada lagi." Nyonya Monic mengeluarkan beberapa barang kecil dan menaruhnya di meja.


"Maaf, apa itu, nyonya?"


"Sesuatu untuk mempercantik penampilanmu, biar tidak lecek. Ini ada sabun mandi, sampo, serbuk lulur, lotion, bedak, lipstik dan parfum. Ibumu yang kampungan itu tentu tidak pernah membelikanmu yang seperti ini, bukan? Nanti aku akan mengajarimu menggunakannya."


Aya terperangah, "Te-terima kasih, nyonya," sahut Aya sopan, padahal ingin sekali ia katakan, 'Aih, jangan salah. Justru produk kosmetik yang dimiliki mami, Clay dan Aku lebih lengkap dari ini. Papi yang belikan jika pergi ke Batavia.'


***


"Bawa apa, Arrabella?" tanya mbak Sumi.


"Ehm, baju sama kosmetik. Dikasih nyonya Monic," jawab Aya hati-hati.


"Oh, nyonya Monic emang gitu kalau lagi senang. Kami juga sering dibelikan," timpal mbak Yati.

__ADS_1


"Eh, Arrabella ... beneran, kamu telah menghajar tuan Isao?" mbak Sumi menggali info.


"I-iya,"


"Kenapa?"


Aya tutup mulut dan menggeleng.


"Kenapa, bilang saja. Kami penasaran."


Lagi-lagi Aya tutup mulut.


"Biar aku terka, deh ... pasti karena tuan Isao mencoba menggodamu, kan?" tebak mbak Yati dengan volume suara yang kecil.


Aya menatap keduanya bergantian dan mengangguk pelan. Diluar dugaan, reaksi Aya justru membuat kedua mbak itu terbahak.


"Apa yang kalian tertawakan?" gantian Aya yang bertanya.


"Ah tidak, kamu berani sekali Arrabella. Berbeda dengan kami."


"Maksud mbak Sumi, apa?"


Aya terbelalak mendengar penuturan mbak Sumi.


"Banyak pembantu yang berhenti atau diberhentikan karena ... ada yang tidak mau ditiduri oleh tuan, jadi tuan membuat alasan agar mereka dipecat, ada juga yang diberhentikan karena tuan sudah bosan, si mbaknya ketuaan atau sudah tidak menarik lagi. Tuan bilang ke nyonya, cari pembantu yang lebih muda dan gesit lagi, padahal maksudnya yang lebih gesit melayani hasratnya, haha."


"Tapi, apa nyonya Monic tidak tahu?" Aya tidak habis pikir bagaimana bisa hal itu terjadi.


"Sejauh ini, gak. Mungkin curiga-curiga gitu aja, kan tuan pintar ngomong, jadi nyonya percaya terus. Lagian, jujur kami menikmati juga kok malah sering kangen begituan," balas Sumi sambil tersenyum malu.


"Begituan gimana?" Aya gak paham.


"Aduh aku lupa, kamu ini badan aja yang gede tapi aslinya masih bau kencur. Begituan Arrabella ... kita dan tuan sama-sama gak pake baju, bobo-bobo manja sambil elus-elusan terus peluk-pelukan, cium-ciuman terus ... ah, kamu tunggu aja deh giliranmu," jelas Sumi dengan wajah memerah.


"Ish, aku gak mau."


"Haha. Gak apa-apa kok Arrabella. Awalnya memang sakit lama-lama enak, lihat aku dan Yati aja betah di sini daripada jadi wanita penghibur di ianjo, status pembantu lebih terhormat, yah ... walaulun sebenarnya pembatu plus-plus."


"Ianjo apaan sih, mbak?" Aya teringat kata-kata yang belum ia ketahui artinya.

__ADS_1


"Itu ... tempat buat begituan sama tentara Jepang. Katanya di sana banyak yang disiksa kalau berani menolak bahkan ada yang sampai dibunuh kalau sampai hamil," terang Sumi pada Aya.


"Ih, kok ada yang beg-"


Tuk. Tuk.


Terdengar suara menyerupai ketukan kecil dari arah dinding belakang. Sumi dan Yati bertatapan penuh arti.


"Aku keluar dulu, ya." Pamit Sumi yang bergegas pergi.


"Mbak Sumi mau kemana malam-malam gini?" tanya Aya pada mbak Yati.


"Biasa, itu tadi sebenarnya kode dari para pengawal tuan. Artinya mereka lagi pengen main dan butuh kehangatan wanita. Nah kalau bunyi seperti tadi dari arah depan kamar, itu kode dari tuan kalau nyonya Monic sudah tidur dan tuan pengen senang-senang sama kita atau mungkin juga lagi ada tamu beliau yang menginap dan ... juga pengen begituan."


"Mbak gak pernah menolak?"


"Boleh menolak kalau lagi datang bulan aja, tapi kalau lagi gak deras tetap aja diajak kuda-kudaan."


"Hm ... biasanya dimana, kok nyonya Monic bisa gak tahu?"


"Kalau main sama tamu ya di kamar tamu, tapi kalau aku dan Sumi main sama pengawal, biasanya di taman belakang atau di pos jaga, jadi gantian kalau selesai dengan pengawal yang satu, istirahat sebentar baru mulai lagi dengan pengawal yang lain. Nah, kalau sama tuan lebih sering di kamar ini atau di kamar mandi yang dekat dapur itu. Kadang-kadang juga di kamar depan kalau pas nyonya Monic tidak tidur di rumah," jelas Yati tanpa rasa malu atau bersalah sedikitpun.


Tuk. Tuk.


Terdengar suara seperti tadi dari arah belakang


"Itu ... kode lagi?" tebak Aya.


"Iya, artinya ada pengawal lain yang sudah tidak sabar menunggu Sumi selesai melayani temannya, haha. Aku pergi dulu ya, Arrabella. Matikan lampu dan kunci ganda pintunya. Aku dan Sumi akan kembali besok subuh."


"Aku takut, mbak."


"Gak apa-apa, tuan tidak akan berbuat macam-macam kamu karena kami lihat, akhir-akhir ini nyonya sangat menjaga kamu."


"Baiklah."


Malam yang hening tanpa mbak Sumi dan mbak Yati, membuat Aya khusuk berdoa, "Ya Tuhan, tolong sampaikan pada mami dan papi kalau aku baik-baik saja, nyonya Monic sama sekali tidak menghukumku. Nyonya Monic hanya memintaku bekerja seperti biasa tanpa dibayar tapi itu tidak mengapa aku anggap itu imbalan yang pantas karena aku tetap diberi makan, nyonya Monic bahkan membelikanku pakaian yang bagus dan kosmetik untuk merawat kulitku. Terima kasih Tuhan, lindungi keluargaku, jauhkanlah kami dari hal-hal buruk ... mami, papi, Gerry, Alderts bahkan Clay dan Yusuf, dan izinkan kami berkumpul bersama lagi di rumah Magelang. Amin,"


'Ish, polos sekali kamu Aya. Hati-hati jebakan beracun, lho,' gumam Mangata gemas setelah membaca bagian itu.

__ADS_1


__ADS_2