
"Pak Haji Daus, terima kasih banyak atas bantuannya dan kami langsung pulang nih, ya. Sebelum maghrib harus sudah tiba di Banjarmasin lagi," pamit pak Ruslan saat ia dan Aya sudah tiba di kediaman pak Daus.
"Baik, pak Haji Ruslan. Aku turut senang bisa membantu sampeyan. Jangan sungkan bila perlu bantuanku."
"Ok, kami permisi. Assalamualaikum."
"Waalikum salam, hati-hati. Semoga selamat sampai di tujuan," sahut pak Daus seraya menatap iri Aya dan Agastya yang ternyata sangat serasi.
"Semoga kalian berbahagia," gumam pak Daus sambil melambaikan tangannya.
***
"Mas nanti kita tinggal di mana?" Tanya Aya pada suaminya saat mereka sedang diperjalanan ke Banjar Masin.
"Maaf, sementara kita cari kontrakan atau ruamh sewa dulu, ya. Maklum selama ini kan aku bisa dibilang bujangan, gak kepikiran punya rumah sendiri. Kalau di Banjar Masin, aku numpang di rumah Zain," jawab Agastya.
"Eh, apa kamu bilang Ga, cari rumah kontrakan? Tidak, kalian tidak boleh ngontrak," protes pak Ruslan."
"Lho ... Kan enakan ngontrak pak, biar gak ganggu kanan-kiri?"
"Halaaah, biar gak ganggu apa kalian yang tidak mau terganggu? Haha ... abah ngerti, kalian ini sudah lama gak ketemu pasti celengan kangennya udah penuh," goda pak Ruslan.
Agastya dan Aya yang sama-sama mengerti maksud pak Ruslan hanya menunduk sambil tersenyum.
"Abah punya rumah kecil yang biasa didiami pekerja, tidak jauh dari rumah Zain. Sementara kalian bisa tinggal di situ, selama yang kalian mau," tawar pak Ruslan.
"Waduh, aku jadi tidak enak, pak."
"Ck, udah ... dienakin aja, Ga. Kalian bisa tinggal di situ mulai besok. Malam ini menginap saja dirumahku seperti biasa, rumah itu belum dibersihkan karena sudah lama tidak ditempati. Jadi besok saja bersih-bersih, karena nanti pulang pasti sudah lelah. Nah, setelah itu baru kita cari tukang," ucap Zain sambil mengemudikan speed boat yang mereka tumpangi.
__ADS_1
"Tukang, buat apa Zain?"
"Ya, buat bikin rumah kalianlah, Ga. Tadi kan abah sudah bilang kalian boleh tinggal di situ sementara saja, artinya kalian harus punya rumah sendiri, lho."
"Ah, tapi kan aku tidak ..." Agastya urung melanjutkan kata-katanya. Rasanya kok berat mengakui sudah tidak punya apa-apa bahkan harus berhutang demi boleh kembali bersama istri tercinta.
"Tidak apa, maksudmu, Ga?" Pancing Zain.
"A-aku bahkan tidak punya apa-apa sekarang, hehe. Hanya ada yang di kantong saja, itu pun paling cukup untuk keperluan 1 minggu ke depan," ucap Agastya sambil melempar pandangannya pada tepian sungai, dimana hanya ada pohon-pohon hijau yang berjejer rapi.
"Kata siapa?" Tanya Zain sambil tersenyum.
"Em ... ya kata aku-lah, kan barusan aku yang bilang," Agastya menggaruk tekuknya yang tidak gatal.
"Oh iya, benar juga. Abah, tidak ingin menjelaskan sesuatu untuk Aga?" Pertanyaan Zain beralih pada abahnya yang menyimak perbincangan mereka sambil tersenyum.
Aya yang penasaran menunggu lanjutan kalimat pak Ruslan sambil terus menatap punggung pria yang sesekali menoleh ke belakang pada bangku yang ia duduki dengan Agastya.
"Tanah perkebunan milikmu tidak jadi abah jual, jadi itu masih milikmu dan SKT-nya nanti abah kembalikan. Abah hanya menjual tabungan emasmu yang selama ini kamu titipkan pada mamanya Alif saja, kebetulan harga emas sedang bagus, kamu dapat keuntungan 70% dari harga pembelianmu, totalnya kamu dapat 2 juta rupiah, bersihnya, tapi itu tidak abah jual semuanya, maaih abah sisakan 20 gram emas, yang 5 gram berupa batangan kemudian yang 15 gram abah buatkan cincin untuk kamu dan istrimu."
"Ah, pak Ruslan ... harusnya ka-kami tidak perlu cincin emas," sanggah Agastya.
"Ya, setidaknya ada tanda pengikat antara kamu dan istrimu, nak. Abah sengaja tidak menjual habis agar ada kenang-kenangan atas kerja kerasmu sejak bekerja dengan Zain. Kebetulan harga sedang bagus dan yang kita perlukan sudah tercukupi juga. Nah jadi rincian penggunaannya uang hasil penjualan emas-mu itu, 300 ribu abah kasih untuk pak Daus, kemudian yang 1,2 juta abah bayarkan tadi untuk Irene, masih sisa 500 ribu rupiah. Nah yang 500 ribu rupiah lagi nanti abah serahkan padamu buat modal bikin rumah," beber pak Ruslan.
"Astaga, pak ... aku bikin rumah di mana, apa di tanah perkebunan?"
"Memangnya tanah milikmu cuma itu?" Pak Ruslan balik bertanya.
"Iya."
__ADS_1
"Mau bikin rumah di lahan perkebunan, sementara kamu punya lahan di kawasan pemukiman?"
"Eh, a-aku tidak merasa pernah membeli tanah di kawasan pemukiman, pak."
"Oh iya, aku lupa bilang ... pertama kamu datang ke Banjar Masin dulu, kan bawa surat dari tuan Takeshi, nah beliau ada menitipkan uang 700 ribu rupiah. Katanya buat membantumu buka usaha di sini, tapi kan kamu gak memanfaatkan uang itu, malah kerja membatang sama Zain. Jadi, abah belikan tanah kosong yang posisinya bersebelahan dengan Zain. Kebetulan waktu itu ada tetangga yang menjual murah, hanya 200 ribu, suratnya sudah abah urus atas namamu tapi abah sengaja belum memberitahukan padamu," ungkap pak Ruslan panjang lebar.
"Wah, syukurlah. Terima kasih banyak, pak. Sungguh aku tidak menyangka, terima kasih sekali,"
"Sama-sama, nak Aga. Abah mengerti, sebagai pria yang bisa dikatakan lajang saat itu, memang hampir pasti tidak kepikiran membuat rumah atau pun usaha. Bisa makan dan keperluan pribadi saja sudah cukup, karena gak atau belum ada keluarga, jadi tidak semangat. Jadi sekarang pasti pemikiranmu sudah beda, kan? Sudah ada istri, tentunya kamu perlu rumah yang nyaman untuk kalian tempati dengan anak-anak kalian nantinya."
Dheg!
Perkataan pak Ruslan barusan sontak membuat Agastya dan Aya bertatapan sambil tersenyum. Mereka boleh pura-pura lupa akan impian mereka dulu karena keadaan yang sepertinya tidak memungkinkan, tapi Allah tidak karena ternyata Allah memakai 'perantara' pak Ruslan untuk mewujudkan harapan itu.
"Mas, syukurnya apa yang kita impikan sudah di depan mata," bisik Aya haru.
"Iya, alhamdulillah sayang. Allah sungguh penuh kejutan buat kita," balas Agastya tidak kalah harunya.
"Ga, jangan lupa kamu masih punya uang padaku, lho," Zain menimpali.
"Hah, uang apa lagi, Zain?"
"Lah, hasil kerjamu bulan ini. Kamu, kan belum menerima pembayaran. Karena lahan sudah ada dan uang buat beli bahan juga siap, nah upahmu itu buat acara saja, ya?"
"A-acara apa, Zain?"
"Ck, masa istrimu kembali ke pelukanmu terus nanti kalian punya rumah baru, kamu gak pingin merayakannya? Karena sesungguhnya Allah sendirilah yang telah memberkatimu sehingga boleh menikmati rezeki dari-Nya. Tidak perlu besar-besaran, cukup mengundang tetangga sekitar serta kawan-kawan kapal saja," saran Zain.
"Benar yang dibilang Zain itu nak Aga, biar rumah baru yang akan kalian tempati nanti terasa nyaman, aman, dan berkah. Cara kita bersyukur bisa dengan berbagai cara, selain secara pribadi bisa juga seperti yang disarankan Zain tadi. Jangan lupa jika kita bersyukur, maka Allah akan meningkatkan keberkahan lebih banyak lagi," pak Ruslan melengkapi saran Zain dengan nasehatnya.
__ADS_1