
Agastya menyelesaikan pekerjaanya, mengecek persediaan kayu di pabrik lalu pulang ke rumah menjelang maghrib.
"Pijatnya sudah, sayang?"
"Sudah, mas."
"Gimana, enakan?"
"Hm, iya."
"Tapi kayaknya kamu masih lemas, deh. Istirahat saja, nanti biar mas siapin makan malam kita."
Aya memberikan senyum manisnya sebagai imbalan perhatian Agastya, "Iya mas, terima kasih."
"Gak boleh bilang gitu, ah. Sudah sewajarnya kulakukan untukmu, sayang. Mau makan apa malam ini, apa mau makan di luar saja?"
"Makan di rumah aja, mas. Aku mau telur ceplok, ditaburi bawang goreng sama kecap manis saja," sahut Aya sambil membayangkan rupa lauk yang baru saja ia sebutkan.
"Kamu kan kurang suka makan telur, sayang. Gimana kalau nasi goreng, nasi kuning dengan masak habang ikan atau mungkin soto ayam? biar mas beliin sebentar."
Aya menggeleng. "Gak mau. Aku mau yang sederhana saja mas, gak usah beli. Lagi pengen makan telur saja dan harus mas yang bikinin."
"Oh, baiklah. Tunggu sebentar," walaupun sedikit heran atas permintaan sang istri, Agastya langsung melesat ke dapur, membuatkan pesanan Aya dan tidak lama aroma telur ceplok yang semerbak membuat Aya meneguk air liurnya berulang kali. Kriuuuk, bahkan perutnya mengeluarkan suara agar segera diisi.
"Sayang, mas mau maghriban dulu, kamu makan saja duluan, selagi masih hangat," kata Agastya seraya meletakkan piring berisi telur ceplok ke atas meja.
"Tidak mau ah, aku maunya makan bareng mas saja. Aku tunggu."
"Astaga, manis banget sih istriku ini. Baiklah, tunggu sebentar ya, sayang." Agastya mengucek pelan rambut Aya sesaat sebelum ia pun mengambil wudhu dan menunaikan sholatnya. Sambil menunggu suaminya, Aya menyiapkan nasi dan air minum untuk mereka.
Agastya melabuhkan kecupan singkat saat melihat Aya yang sudah menunggunya di meja makan. "Kamu kalau sudah lapar, makan saja duluan. Mas mau rebus daun katuk dulu sama bikin sambel tomat."
"Aih mas ini, coba bilang dari tadi kan aku bisa bikinin," rengut Aya.
"Gak apa-apa, tiba-tiba pengen yang hangat-hangat segar gitu, hehe."
"Ya sudahlah. Cepetan mas, keburu lewat laparnya."
"Ya udah sih, kamu makan aja duluan."
"Gak mau, aku dari tadi nungguin mas. Pengen disuapin," sahut Aya masih dengan wajah yang merengut membuat Agastya makin gemas melihat tingkah istrinya yang tidak biasa itu.
__ADS_1
"Tumben, belakangan ini kamu jadi manja gitu, sayang?" Bukan protes, malah Agastya senang karena merasa dibutuhkan oleh istrinya.
"Kalau tidak mau, jangan diledek, mas." Aya berdiri, siap-siap meninggalkan meja makan.
"Eh, kok malah ngambek, sih? Duduk lagi, ayo sini mas suapin," ujar Agastya seraya menarik kursi di sebelah istrinya.
Nyam, nyam, nyam ... Agastya senang sekali melihat Aya makan dengan lahap kali ini, sudah seperti orang yang beberapa hari tidak makan saja.
"Kenapa mas menatapku seperti itu?" Tanya Aya heran.
"Ah, tidak apa-apa. Beberapa hari ini kuperhatikan, kamu tidak berselera makan, tapi sekarang ... lihatlah, meski cuma telur ceplok kamu makannya lahap banget, kayaknya laukmu ini enaaak banget."
"Ish, ini memang enak banget kok, mas. Apalagi karena disuapin jadinya super lezat, hehe," jawab Aya manja.
"Syukurlah." Agastya meyuapi istrinya sambil memakan hidangan yang dibuatnya sendiri. Bisa membuat wanitanya tersenyum meski karena sebab yang sederhana adalah salah satu hal yang sangat membahagiakan Agastya.
"Sayang, nanti malam mas mau ikut rapat di tempat kepala desa. Kamu mas tinggal sebentar tidak apa-apa, kan? Apa mau nunggu di rumah mama Alif saja? Nanti selesai rapat, kita balik ke rumah. Soalnya aku ke sana dengan Zain juga."
"Gak ah mas, aku mau istirahat saja lagi malas kemana-mana. Ini saja aku merasa sudah mulai ngantuk, mungkin efek pijat tadi. Mas nanti kalau pergi bawa kunci, ya. Takut aku ketiduran pas mas pulang."
"Emang kamu berani sendirian?"
"Beranilah, di rumah sendiri ini. Apa yang kutakutkan, mas?"
"Sayang, mas tinggal dulu, ya," kata Agastya sambil bersiap.
"Mas ..."
"Ya? Kamu berubah pikiran dan mau tinggal di rumah mama Alif saja atau ... mas gak usah ikut rapat, deh."
Aya menggeleng, "Gak. Aku cuma mau peluk mas sebelum berangkat, boleh?"
"Oh ... mau peluk suami sendiri aja pakai minta izin segala. Sini, sayang," Agastya merentangkan kedua tangannya dan membenamkan kepala Aya ke dalam rengkuhannya.
"Baik-baik di rumah ya, sayang. Selamat istirahat," Agastya memberikan bonus kecupan di dahi dan kedua pipi Aya sebelum berangkat.
"Mas juga hati-hati ya, cepat pulang."
Krieeet.
Aya mendengar suara pintu depan terbuka.
__ADS_1
'Perasaan, belum juga 30 menit kok rapatnya sudah selesai?' gumam Aya.
"Mas, kamu sudah pulang?" Tanya Aya yang enggan bangkit dari tempat tidurnya.
Tidak ada sahutan, namun tidak lama kemudian pintu kamarnya terbuka. Pencahayaan kamar yang minim, membuat Aya tidak dapat melihat dengan jelas siapa masuk ke kamarnya, namun melihat postur sosok itu, Aya tahu kalau yang datang bukanlah suaminya.
"Siapa kamu?" Ujar Aya takut-takut, tangannya mencari sesuatu untuk memukul sosok yang tampaknya tidak berniat baik.
"Sssttt ... jangan berisik," sahut sosok yang berjalan semakin dekat menuju tempat tidur.
"Jangan mendekat!" Seru Aya.
"Tenang Arrabella, aku tahu suamimu sedang tidak ada di rumah jadi kita bisa bersenang-senang sebelum Agastya kembali."
"Kurang ajar, kamu ..."
"Iya, akulah lelaki yang pernah kamu puji atas keperkasaanku di ranjang, aku yakin suamimu yang kolot itu tentu tidak akan bisa memuaskanmu dan membuatmu menjerit keenakan, haha."
"Sialan. Pergi kamu!"
"Aku akan pergi, tapi bersamamu." Hup, lelaki itu berhasil mendekat dan menaruh secarik kain ke hidung Aya sehingga dalam waktu singkat, Aya menjadi lunglai tidak berdaya. Membuat Latif dengan leluasa membopong tubuh Aya ke suatu tempat.
"Cepat, bang," kata Aminah pada Latif sambil menahan gerobak.
"Iya dinda, sabar. Kita harus menutupnya serapi mungkin agar tidak ada yang curiga. Sudah kamu jalan duluan di depan." Latif mulai mendorong gerobak itu perlahan menuju ke rumah pak Ruslan.
Bruk.
Latif menghempaskan tubuh Aya di tempat tidur, persis di sebelah lelaki paruh baya suami Aminah yang sudah terlelap.
"Sip. Sudah bang, cepat keluar," perintah Aminah dengan suara kecil.
"Ck, iya sayang."
Begitu Latif sudah berada di luar kamar mereka, Aminah dengan cekatan melepas pakaian Aya satu per satu tanpa tersisa dan melemparkannya ke sembarang arah lalu mengatur posisi kedua tubuh tanpa penutup itu agar saling bersentuhan kemudian menutupi keduanya dengan selimut.
"Beres, bang. Sekarang antarkan aku kembali ke rumah abahku," ujar Aminah.
"Langsung ke situ, gak pengen main cepat dulu, gitu?" goda Latif.
"Ck, tadi kan sudah, bang. Ayolah, aku tadi pamit keluar cuma sebentar sama abahku. Kalau main dulu, nanti kita malah lupa waktu.
__ADS_1
"Hehe, iya dindaku sayang," sahut Latif dengan seringaian.